Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'
Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Teman Belajar
"Yakin kamu tidak apa-apa sendirian di rumah?" tanya Sasa setelah tiba di depan rumah Yumna.
"Iya, tan. Ada bibi kok di rumah. Terimakasih sudah antar aku." Yumna memaksakan senyumnya di depan sang Tante. Padahal dia masih merasa pusing dan lemas. Ditambah lagi dengan rasa tak nyaman pada hidungnya.
"Ya sudah. Langsung istirahat. Kalau ada apa-apa telepon Tante ya." pesan Sasa sebelum pergi.
Bi Nuri segera memapah Yumna, saat menyadari kondisi Yumna sedang tidak baik-baik saja.
"Apa yang terjadi, non?" tanya bibi sambil menyelimuti tubuh Yumna.
"Tidak pa-pa, bi. Tolong buatkan minuman hangat ya bi. Dingin sekali." ujar Yumna.
"Baik, non. Tunggu sebentar ya."
Si bibi bergegas keluar dari kamar Yumna. Lalu membuatkan segelas teh hangat sesuai permintaan Yumna. Tak lama kemudian bibi kembali ke kamar.
"Non Nasya menyakiti nona lagi?" terka bibi.
Dengan diamnya Yumna, itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaan bi Nuri.
"Apalagi yang dia lakukan?" geramnya.
"Bibi..., jangan bicara apapun. Jangan pernah mencoba untuk membelaku lagi di depan mereka. Atau nanti bibi akan jadi target berikutnya. Bibi mau mendengarku, dan percaya padaku. Itu sudah lebih dari cukup." tutur Yumna seolah memohon pada pembantunya itu.
Bibi Nuri adalah satu-satunya pembantu yang percaya dengan Yumna. Karena dia melihat sendiri bagaimana kelakukan Nasya pada Yumna.
"Nona kenapa bisa sesabar ini..." mata bibi berkaca-kaca.
"Menurut bibi, selain sabar, memangnya aku harus gimana...?" sahut Yumna sambil berusaha menahan air matanya.
Namun, air mata itu lebih kuat dalam menerobos pertahanan Yumna. Sehingga Yumna kembali meneteskan air matanya, dan membasahi pipinya. Saat mengingat begitu banyak kejadian yang dia alami beberapa tahun ini. Sejak dia dan sang adik mulai beranjak remaja. Yumna bisa merasakan ketidakadilan itu. Orang tuanya mulai pilih kasih. Nasya pun mulai berubah. Selain semakin manja, Nasya juga sering menjebaknya. Membuatnya selalu tersudut. Dia tidak merasa melakukan apapun, tapi selalu disalahkan. Dia sebagai anak pertama dituntut untuk selalu mengalah, dan menyerahkan apapun miliknya yang diinginkan oleh adiknya. Dia yang selalu menerima sanksi, atas kesalahan yang tidak pernah dia perbuat.
Bibi Nuri tak bisa berkata-kata. Dia hanya memeluk Yumna dan mengusap punggungnya dengan lembut.
"Ya Tuhan..., tunjukkanlah keadilanMu. Saya tidak minta banyak. Saya hanya ingin nona Yumna bahagia..."
___
Keesokan paginya, Yumna sudah bersiap pergi menemui seseorang yang menawarkan sebuah pekerjaan. Ketika tiba di ruang makan, dia bertemu dengan papanya.
"Bagus sekali. Adikmu sedang berbaring lemah di rumah sakit. Tapi kamu, pagi-pagi sudah berdandan begini. Untuk apa? Mau pergi bersenang-senang di bawah kesakitan adikmu. Iya...?!!" ujar papanya sarkas.
Alih-alih menanyakan kondisi Yumna, yang sama-sama jatuh ke dalam kolam malam itu. Pak Jodi justru melontarkan kalimat yang terdengar pedas di telinga Yumna.
"Aku ada janji sama seseorang, pa. Ada yang butuh tenaga pengajar untuk putri mereka." jawab Yumna sebisanya.
Yumna tidak berniat membela diri. Dia tidak akan ngotot lagi seperti sebelum-sebelumnya. Semalam dia benar-benar merasa akan kehilangan nyawanya dalam kolam renang itu. Tapi apa yang terjadi?? Jangankan menangisinya. Meliriknya pun tidak. Yang dapat dia simpulkan adalah, bahkan nyawanya sudah tidak berarti lagi bagi orang tuanya.
"Kamu tidak boleh pergi!!" sahut pak Jodi. "Kamu harus ke rumah sakit, minta maaf sama Nasya. Lalu menjaga dan merawatnya selama dia di sana!" titahnya.
"Aku akan pergi setelah urusanku selesai." balas Yumna. "Aku pamit, pa."
Yumna mengulurkan tangannya untuk menyalami papanya. Tapi pak Jodi tak berniat sedikitpun untuk mengangkat tangannya.
"Papa kecewa sama kamu Yumna. Ini sudah menyangkut nyawa. Dan kamu dengan seenaknya bermain-main dengan hal itu." ujar pak Jodi tanpa melihat sosok putri pertamanya.
Yumna tidak membalasnya. Dia memilih pergi dengan air matanya yang terus memaksa keluar dari pertahanannya.
"Menyangkut nyawa. Bermain-main dengan nyawa. Iya itu benar, papa. Tapi aku nggak seberani itu untuk melakukannya." batinnya.
Yumna ingat betul, dia pernah beberapa kali ingin mengakhiri hidupnya. Karena segala tuduhan dan hukuman yang sudah tidak sanggup dia pikul. Tapi hati kecilnya selalu mencegahnya untuk melakukan itu. Dia masih memiliki rasa tidak rela, kalau harus pergi dengan segala fitnah yang melekat pada dirinya. Dia masih ingin melihat orang tuanya sadar kalau dia tidak pernah melakukan semua yang Nasya tuduhkan padanya. Meski dia tak tahu pasti kapan itu terjadi. Dan bagaimana caranya.
Yumna tersenyum miring, seolah sedang menertawakan dirinya sendiri yang selalu salah di mata orang tuanya. Yumna berjalan menuju pintu gerbang, karena taksi yang dia pesan sudah menunggu di depan rumahnya. Ada dua mobil di rumahnya, tapi dia tidak tertarik untuk memakainya. Apalagi minta supir mengantarnya.
"Nirwana Regency, jalan Cempaka nomor 25." Yumna menyebutkan sebuah alamat pada driver yang akan mengantarnya.
___
Taksi yang mengantar Yumna berhenti di depan sebuah pintu gerbang bercat hitam yang menjulang tinggi. Salah satu bangunan megah di komplek itu. Yumna mengatur nafasnya sebelum memencet bel.
"Mau cari siapa?" tanya security setelah membuka pintu.
Yumna menunjukkan isi chat yang dia terima, sesuai instruksi orang yang menawarinya pekerjaan.
"Oh, mari." security itu langsung mempersilahkan Yumna masuk. "Tunggu sebentar. Saya antar tamu nyonya dulu." ujarnya pada rekannya.
Yumna dibawa masuk ke sebuah ruangan yang dipenuhi dengan buku. Bukan ruang kerja, karena bukunya terlalu banyak. Lebih mirip perpustakaan, tapi ini terlihat lebih mewah dari perpustakaan pada umumnya.
"Yumna ya...?" sapaan dari seseorang membuatnya kembali fokus pada tujuan.
"Ah, iya." jawabnya.
"Silahkan duduk." kata perempuan yang tadi menyapanya. Namanya Bu Kartika.
"Ratna bilang kamu kerap mencari pekerjaan freelance." ujarnya setelah memperkenalkan diri.
"Iya, nyonya. Bu Ratna benar." balas Yumna.
"Jangan panggil nyonya, ah. Tidak enak sekali didengar." sahut Bu Kartika.
Yumna hanya menirukan panggilan security tadi untuk Bu Kartika. Tapi ternyata Bu Kartika merasa tak nyaman dengan itu.
"Maaf, Bu." kata Yumna kemudian.
"Itu lebih baik." Bu Kartika tersenyum padanya.
"Langsung saja ya, Yumna. Saya punya cucu perempuan. Namanya Aluna. Umurnya sudah empat tahun. Tapi dia tidak mau sekolah. Dia maunya sekolah di rumah. Kami kesulitan membujuknya. Kami juga belum menemukan guru privat yang cocok. Cucu saya itu sulit sekali beradaptasi dengan orang-orang baru." tutur Bu Kartika.
Yumna masuk dalam mode pendengar. Tak ingin menyela untuk menanyakan apapun.
"Lalu Ratna yang tiba-tiba berkunjung, merekomendasikan kamu. Dia bilang kamu salah satu mahasiswinya yang mungkin akan cocok untuk pekerjaan ini." Bu Kartika berhenti, seolah ingin memberi kesempatan Yumna berbicara.
"Iya, saya memang pernah berpesan seperti itu pada Bu Ratna. Bu Ratna adalah dosen yang paling dekat dengan saya. Tapi maaf sebelumnya, bu. Saya tidak tahu akan cocok apa tidak dengan kriteria Bu Kartika. Tapi saya akan berusaha sebaik mungkin." kata Yumna.
"Terimakasih, Yumna. Besok kamu bisa mulai bekerja. Nanti saya akan kirim jadwal buat kamu." kata Bu Kartika.
"Terimakasih Bu."
Hati Yumna begitu lega, karena dia sudah mendapatkan pekerjaan lain. Selain sebagai guru les di lembaga kursus yang dia geluti sejak lulus kuliah. Sudah lebih dari satu tahun Yumna lulus. Tapi dia tidak pernah lolos dalam interview. Sekalinya dia terima, baru seminggu sudah mengundurkan diri. Lantaran seniornya berusaha mendekatinya, dan terkesan sangat agresif. Yumna jadi merasa tidak nyaman. Seniornya itu seperti sebuah ancaman besar. Dia memilih menghindarinya.
Sebenarnya dia sudah ditawari pekerjaan oleh om dan tantenya. Tapi dia tidak mau menerima tawaran itu. Dia memilih jalannya sendiri. Tak ingin terlibat dengan bisnis keluarga besarnya. Termasuk bisnis orang tuanya. Sejak orang tuanya tak lagi peduli pada dirinya dan kehidupannya. Yumna berusaha mandiri dengan kemampuannya sendiri.
"Apa Aluna di rumah sekarang?" tanya Yumna. Dia berniat bertemu Aluna untuk sekedar memperkenalkan diri.
"Iya. Kamu mau bertemu dengannya?" tanya Bu Kartika menawarkan.
"Tentu saja, kalau diizinkan saya ingin bertemu dengannya sebelum pulang." Yumna tersenyum pada Bu Kartika.
"Gadis ini, senyumannya kenapa adem sekali..." batin Bu Kartika.
Bu Kartika kemudian mengajak Yumna menemui Aluna.
___
Di sebuah kamar...
"Oma cari guru lagi ya sus?" celetuk Aluna sambil menatap pantulan dirinya di cermin.
"Iya benar. Katanya sudah datang Bu guru barunya." jawab Vivi, suster yang mengasuh Aluna.
"Bu guru??!!" Aluna langsung memutar tubuhnya, hingga berhadapan dengan Vivi yang sedang memasang jepit rambut pada Aluna.
"Perempuan lagi..." gumam Aluna. "Ya ampun...!!!" lalu dia menepuk jidatnya. "Pasti mau ambil papa Bara dariku!!" kali ini dia berdiri sambil berkacak pinggang.
"Nona..., belum tentu seperti itu. Yang sekarang lebih cantik dan sepertinya baik." balas Vivi yang memang sempat melihat Yumna sebelum menemui Aluna.
"Sus Vivi tahu...?? Semakin cantik itu semakin bahaya. Bisa-bisa papa Bara mau diajak pergi sama dia." celotehnya.
Vivi hanya menggelengkan kepalanya. Dia tak habis pikir, bocah seumuran Aluna bisa berpikir demikian. Meski dia menyampaikan dengan bahasa anak kecil, tapi Vivi sangat memahaminya.
Siapa sangka, rupanya obrolan Aluna dan sang suster didengarkan oleh Bu Kartika dan Yumna. Bu Kartika menoleh pada Yumna. Lalu Yumna menggelengkan kepalanya. Sebagai isyarat kalau dia mengurungkan niatnya bertemu dengan Aluna.
Saat mereka hendak melangkah pergi, pintu kamar itu justru terbuka. Membuat keduanya menoleh ke belakang. Sosok gadis cantik yang lucu keluar sambil berkacak pinggang. Menatap Yumna dengan tatapan marahnya seorang anak. Sangat menggemaskan menurut Yumna.
"Cucu Oma..." sapa bu Kartika sambil mendekati Aluna.
"Aku sudah bilang, aku nggak mau ada guru lagi. Apalagi perempuan!!" Aluna kembali menatap Yumna.
"Sayang..., dengarkan Oma. Ini namanya Bu Yumna. Bu Yumna itu baik lho..." ujar Bu Kartika.
"Aku nggak mau, pokoknya nggak mau!!" seru Aluna. "Aku belajar sama sus Vivi saja."
Yumna kemudian melangkah mendekati Aluna. Dia memberikan senyum terbaiknya.
"Halo Aluna..." sapanya.
Bocah itu tidak merespon, dia justru memalingkan wajahnya.
"Bu Yumna datang justru untuk belajar sama Aluna." ujarnya.
Aluna, Bu Kartika, dan Vivi terkejut mendengarnya. Mereka tidak paham apa tujuan Yumna mengatakannya.
"Kamu kan guru. Kenapa belajar lagi?" sahut Aluna, dan kini dia menatap Yumna.
"Siapa bilang guru tidak belajar?" balas Yumna. "Guru tetap harus belajar. Karena nilai Bu Yumna belum bagus. Bu Yumna belum bisa naik kelas lagi. Aluna mau kan jadi teman ibu belajar. Biar nilai ibu bagus." tuturnya.
Aluna beralih pada Oma dan susternya. Omanya menganggukkan kepala. Begitu pula dengan Vivi.
"Aku mau bicara sama kamu!" Aluna kemudian balik badan, dan kembali masuk kamar.
Bu Kartika dan Vivi memberi jalan pada Yumna, agar bisa mengikuti Aluna.
"Bocah itu, gayanya sok sekali mirip Bara." gumam Bu Kartika.
Vivi hanya tersenyum mendengarnya. Karena dia juga memiliki pemikiran yang sama.
Di dalam kamar itu, Aluna sudah duduk di tepi kasurnya yang dibalut seprai biru muda dengan motif bunga-bunga. Dia menyilangkan tangannya layaknya seorang bos versi mini.
"Kamu tidak bohong kan?" tanya Aluna.
Yumna hanya menggeleng.
"Kamu tidak datang untuk papa Bara?" tanya Aluna lagi.
"Ibu saja tidak mengenal papa kamu. Sama oma kamu saja, ibu baru tadi berkenalan." balas Yumna.
Aluna menatap Yumna, seperti menilai Yumna dari ujung rambut hingga ujung sepatunya. Aluna menyukai penampilan itu. Meski dia tidak tahu itu jenis gaya seperti apa. Tapi menurutnya nyaman dilihat.
"Aku suka bajumu. Kalau besok datang lagi ke sini. Jangan pakai yang segini ya...!!" tuturnya sambil membuat garis dengan jari pada pahanya.
"Ah, anak ini mungkin tidak suka pakai yang terbuka." batin Yumna.
"Lipstik juga. Itu aku suka." Aluna menunjuk bibir Yumna. "Jangan yang meraaaah sekali. Mirip badut!!" celetuknya.
"Baik...!!" sahut Yumna sambil mengacungkan jempolnya. "Apa ini artinya..., ibu boleh belajar sama Aluna?" katanya lagi.
"Em!!" Aluna mengangguk beberapa kali, sangat lucu.
"Tapi..., apa kamu yakin...?" Aluna terlihat bingung. "Bukannya orang dewasa PR-nya susah-susah ya...? Aku mana bisa?" gumam Aluna kemudian dengan ekspresi polos khas anak kecil.
"Papa Bara saja kalau banyak PR suka pusing, kata Oma."
"Makanya, Aluna bantuin ibu ya...! Mau kan? Kata Oma, Aluna anak pintar."
"Baiklah..." jawabnya, meski dia sendiri tidak mengerti bantuan apa yang bisa dia berikan pada Yumna.
Begitulah diskusi antara guru privat dan anak didiknya. Bu Kartika dan Vivi saling lempar senyum. Obrolan seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka sama-sama memiliki firasat baik dengan kehadiran Yumna.
Setelah menyelesaikan urusannya di rumah bu Kartika, tujuan Yumna berikutnya adalah rumah sakit. Dia merasa harus melihat kondisi Nasya. Bukan karena rasa bersalah. Dia hanya tidak ingin ingkar janji pada papanya.
......................