Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinkronisasi Gelembung
Setelah berhasil melewati prosedur sidang pagi dari Rian dan Satya, serta evakuasi darurat dari dorm Luminous menggunakan wig kribo sebagai alat penyamaran, Aruna akhirnya sampai di kosan Mbak Widya dengan selamat. Ia hanya punya waktu sepuluh menit untuk ganti baju tentu saja melepas kaos oversize Javier dengan berat hati dan mengambil rompi asistennya sebelum van agensi kembali menjemputnya.
Hari ini, jadwal Javier adalah syuting iklan untuk parfum edisi terbatas, "Luminous Essence: Scent of an Idol". Lokasinya di sebuah vila mewah bergaya Eropa di kawasan Puncak, lengkap dengan taman labirin dan bak mandi marmer yang sangat luas.
"Ingat protokol hari ini, Aruna,"
Manajer Han memberikan briefing saat mereka dalam perjalanan menanjak ke Puncak.
"Di lokasi ini, kita harus ekstra hati-hati. Ada rumor kalau tim investigasi dari media gosip 'Cari Masalah' sedang berkeliaran. Mereka sedang gencar mencari tahu siapa wanita yang baru-baru ini terlihat keluar-masuk apartemen Javier."
Aruna menelan ludah, menarik napas dalam-dalam hingga rompi asistennya terasa sesak. Ia melirik Javier yang duduk di sampingnya. Pria itu tampak tenang, namun kacamata renang biru yang melingkar di tangannya menunjukkan bahwa mode siaganya sedang aktif.
"Manajer Han, sistem saya mendeteksi bahwa tingkat keamanan di vila ini adalah 85%," gumam Javier dengan nada robotik yang khas.
"Namun, risiko terbesar bukanlah wartawan, melainkan fakta bahwa aroma parfum ini... agak terlalu kuat bagi indra penciuman saya."
"Kuat gimana, Javi?" tanya Aruna polos.
"Aromanya seperti perpaduan mawar yang sedang marah dan kayu cendana yang kelebihan kafein," jawab Javier serius.
"Saya khawatir sensor penciuman Majikan akan terganggu."
Aruna menepuk dahi.
"Fokus, Jang! Kamu itu idola, tugas kamu adalah mencintai parfum itu, bukan menganalisisnya kayak dosen biologi."
Pemotretan berlangsung di sebuah ruang mandi mewah. Javier harus berpose di dalam bak mandi marmer yang penuh dengan gelembung sabun beraroma mawar dan cendana, mengenakan jubah handuk putih yang sedikit terbuka di bagian dada standar operasional prosedur untuk iklan parfum pria kelas atas agar terlihat maskulin namun sensitif.
Aruna berdiri di pojok ruangan, menjaga tumpukan pakaian Javier dan kacamata renang birunya. Tepat saat sutradara berteriak
"Cut! Javier, istirahat lima menit!",
Manajer Han mendobrak pintu dengan wajah pucat.
"KRISIS! SINKRONISASI BERITA PALSU SEDANG TERJADI!" teriak Manajer Han panik namun tertahan.
"Wartawan 'Cari Masalah' berhasil menyelinap lewat pintu belakang! Mereka yakin wanita misterius itu ada di sekitar sini!"
Aruna panik.
"Terus gimana, Pak? Aku harus ke mana?! Lemari bajunya penuh!"
"Masuk ke sini!" seru Javier.
Tanpa menunggu jawaban, ia menarik tangan Aruna dengan gerakan cepat.
"Gelembung sabun ini cukup tebal untuk melakukan prosedur kamuflase tingkat tinggi! Gelembung sabun ini adalah Awan Enkripsi kita!"
"Masuk bak mandi?! Aku pake baju lengkap, Javi! Aku bawa HP, bawa catatan revisi!" bantah Aruna dengan mata membelalak panik.
"Tidak ada waktu! Anggap saja ini prosedur waterproofing darurat!"
Javier menyeret Aruna masuk ke dalam bak mandi mewah itu.
BYUR!
Gelembung sabun yang melimpah seketika menutupi Aruna hingga ke leher, menyembunyikan rompi asisten dan seluruh tubuhnya di balik tumpukan busa putih yang tebal. Aruna terkesiap saat merasakan air hangat meresap ke balik pakaiannya, namun yang lebih membuatnya berdebar adalah posisi mereka yang kini sangat rapat di dalam bak sempit tersebut.
"Javi, ini gila! Kalau wartawannya lihat busanya bergerak-gerak gimana?" bisik Aruna sambil berusaha menyeimbangkan diri agar tidak tenggelam.
"Diamlah, Majikan," bisik Javier sambil menarik Aruna lebih dekat ke dadanya agar posisinya semakin tersembunyi.
"Sistem saya akan melakukan pengalihan perhatian. Sekarang, masuk ke mode hibernasi dan jangan mengeluarkan suara sedikit pun, kecuali suara detak jantung Anda yang sedang sinkron dengan saya."
"Detak jantungku nggak bisa disuruh diam, tahu!" balas Aruna pelan dengan wajah merah padam, sementara wajah Javier hanya berjarak beberapa inci darinya, tersembunyi di balik gunungan busa.
"Bagus," gumam Javier dengan senyum miring yang nakal.
"Itu artinya sensor cinta Anda berfungsi 100%."
Cklek!
Pintu terbuka paksa. Dua wartawan dengan kamera berlensa panjang menyerobot masuk.
"Javier! Kami punya bukti Anda sedang bersama seorang wanita! Di mana dia?" teriak salah satu wartawan, kamera mereka langsung mengarah ke bak mandi yang berbusa lebat.
Javier mendongak perlahan. Ia meraih kacamata renang birunya dari pinggir bak dan memakainya dengan sangat tenang, memberikan kesan eksentrik yang sulit dibantah namun tetap terlihat sangat tampan.
"Permisi," suara Javier terdengar dingin dan tajam.
"Saya sedang melakukan sinkronisasi dengan konsep iklan ini. Apakah Anda bagian dari tim properti yang bertugas mengecek kualitas gelembung sabun? Karena kehadiran Anda sangat mengganggu frekuensi estetik saya."
Wartawan-wartawan itu tertegun, bingung melihat idola internasional yang biasanya tampil sempurna kini memakai kacamata renang di dalam bak mandi.
"Kami tahu ada wanita di sini, Javier!"
"Wanita?"
Javier tersenyum miring, sebuah senyum meremehkan yang mematikan.
"Satu-satunya yang ada di sini adalah saya dan aroma parfum yang sedang saya dalami. Jika Anda tidak segera keluar, saya akan meminta agensi untuk melakukan prosedur penuntutan atas pelanggaran privasi tingkat tinggi. Dan percayalah, pengacara saya jauh lebih menyeramkan daripada busa sabun ini."
Setelah Manajer Han berhasil mengusir wartawan-wartawan itu keluar, keheningan menyelimuti ruangan. Aruna berusaha bangkit dari bak mandi dengan canggung. Namun, air sabun yang sangat licin di dasar marmer membuatnya kehilangan keseimbangan.
"Aduwh…!"
Aruna terpeleset, dan ia berakhir mendarat tepat di pelukan Javier yang masih bersandar di dinding marmer. Suasana konyol seketika berubah menjadi keintiman yang menyesakkan dada.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa milimeter. Napas Aruna yang terengah-engah karena panik kini menggelitik leher Javier. Tangan Javier secara otomatis melingkar di pinggang Aruna, menahan gadis itu agar tidak jatuh kembali ke dalam busa. Rambut perak Javier yang basah meneteskan air yang dingin di pipi Aruna yang panas.
"Sistem melaporkan adanya kegagalan prosedur evakuasi," bisik Javier serak. Matanya menatap bibir Aruna dengan intensitas yang lebih kuat dari sebelumnya.
"J-javi, lepas. Aku basah kuyup," bisik Aruna, meski jantungnya sedang melakukan dance break yang sangat liar.
Javier tidak melepaskannya. Sebaliknya, ia menarik Aruna sedikit lebih dekat, membiarkan gelembung sabun menutupi mereka sekali lagi, menciptakan ruang kecil yang hanya milik mereka berdua di bawah aroma mawar yang kuat.
"Tentang yang tadi malam, di dorm," bisik Javier lagi, suaranya kini sangat lembut, hampir seperti gumaman di dekat telinga Aruna.
"Saat saya bilang Anda cantik saat memakai kaos oversize saya. Sistem saya masih menyimpan data itu dalam memori jangka panjang."
Javier menatap wajah Aruna yang merah padam.
"Dan sekarang, dalam balutan gelembung sabun ini... Anda terlihat sangat berbahaya bagi stabilitas sistem saya. Anda terlihat sangat... menggoda, Aruna."
"Javi! Jangan mulai deh!"
Aruna memukul bahu Javier pelan, mencoba menyembunyikan baper yang sudah meluap-luap di balik omelan.
Javier tertawa tulus, sebuah tawa rendah yang terasa hangat di dada Aruna. Ia melepas kacamata renangnya dan menempelkannya di dahi Aruna sebagai ganti mahkota.
"Jangan takut. Selama saya ada di sini, tidak ada wartawan yang bisa menemukan Anda. Anda adalah satu-satunya realitas yang ingin saya simpan di balik gelembung ini."
Aruna terdiam, ia menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Javier yang basah, mengabaikan rompinya yang kini berat karena air sabun. Di tengah situasi yang absurd ini, ia sadar bahwa menjadi asisten pribadi kloningan gila ini adalah petualangan paling berisiko sekaligus paling indah yang pernah ia jalani.