"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Suami yang Melupakanku
Satu bulan kemudian.
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai sutra di kamar VVIP Mahendra Medical Center. Aroma bunga lili putih—yang setiap hari diganti oleh Clarissa—memenuhi ruangan, mencoba mengusir bau obat-obatan yang tajam.
Clarissa duduk di samping ranjang, tangannya menggenggam jemari Devan yang terasa dingin. Wajahnya tampak sedikit lebih tirus, lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan betapa jarangnya ia beristirahat sejak malam ledakan itu.
"Bangunlah, Iblis Posesif," bisik Clarissa, suaranya serak. "Gedungmu sudah mulai dibangun kembali. Wijaya Group juga sudah stabil. Kau tidak mau melihatku memimpin dunia sendirian, kan? Kau pasti akan cemburu gila-gilaan."
Tiba-tiba, jemari Devan bergerak.
Clarissa tersentak. Jantungnya berdegup kencang saat melihat kelopak mata Devan bergetar, lalu perlahan terbuka. Mata hitam yang tajam itu akhirnya menatap dunia lagi.
"Devan? Kau bangun? Sayang, ini aku!" Clarissa berdiri dengan penuh semangat, air mata kebahagiaan mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia segera menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.
Devan mengerjap beberapa kali, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu. Ia menoleh ke arah Clarissa. Namun, alih-alih senyum hangat atau tatapan posesif yang biasa ia berikan, matanya terasa asing. Kosong. Dingin.
"Siapa kau?" suara Devan parau, kering karena sebulan tidak bicara.
Clarissa membeku. Senyumnya perlahan memudar. "Apa? Ini aku, Devan. Clarissa. Tunanganmu."
Devan mengernyitkan dahi, seolah sedang memproses kata-kata itu sebagai bahasa asing. Ia menarik tangannya dari genggaman Clarissa dengan gerakan kasar yang menyakitkan hati.
"Clarissa? Tunangan?" Devan menatap sekeliling ruangan dengan waspada. "Sekretaris Han! Di mana Sekretaris Han?!"
Pintu terbuka, dan Sekretaris Han bersama tim dokter masuk dengan tergesa-gesa. Begitu melihat Devan sadar, Han langsung membungkuk hormat. "Tuan Muda! Syukurlah Anda sudah sadar!"
"Han, siapa wanita ini? Kenapa dia menyentuhku dan mengaku sebagai tunanganku?" tanya Devan dengan nada memerintah yang sangat dingin—nada yang dulu ia gunakan sebelum ia jatuh cinta pada Clarissa.
Sekretaris Han tertegun, menatap Clarissa dengan pandangan iba, lalu menatap dokter. "Dokter, apa yang terjadi?"
Dokter segera melakukan pemeriksaan kilat pada pupil dan respons saraf Devan. Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, sang dokter mendesah pelan.
"Tuan Mahendra mengalami Retrograde Amnesia parsial akibat benturan keras di kepala dan efek gas saraf. Tampaknya... dia mengingat segala hal tentang bisnis dan hidupnya, kecuali memori dalam satu tahun terakhir. Termasuk... hubungannya dengan Nona Clarissa."
Dunia Clarissa serasa runtuh. Satu tahun terakhir? Itu adalah waktu di mana mereka mulai bertemu, bertengkar, hingga akhirnya saling mencintai. Itu adalah seluruh hidupnya sebagai "Lestari" dan kembalinya dia sebagai "Clarissa".
"Satu tahun?" bisik Clarissa. "Jadi dia ingat tentang Keluarga Grey, ingat tentang Naga Hitam, tapi dia tidak ingat... aku?"
"Maafkan kami, Nona. Memori yang hilang biasanya adalah memori yang paling emosional saat trauma terjadi," jelas dokter.
Devan duduk bersandar di bantalnya, menatap Clarissa dengan tatapan meremehkan. "Clarissa Wijaya? Bukankah Clarissa Wijaya sudah mati dalam kecelakaan lima tahun lalu? Han, kenapa kau membiarkan penipu ini masuk ke kamarku?"
"Tuan, dia bukan penipu. Dia adalah—"
"Cukup!" Devan memotong ucapan Han. "Aku merasa pusing. Keluarkan wanita ini sekarang. Aku tidak suka ada orang asing di dekatku saat aku sedang sakit."
Clarissa berdiri di luar kamar, bersandar pada dinding koridor yang dingin. Air matanya akhirnya jatuh tak terbendung. Rasanya lebih sakit daripada saat mobilnya terjun ke jurang dulu. Dilupakan oleh pria yang baru saja mempertaruhkan nyawa untuknya adalah siksaan yang paling kejam.
"Nona Clarissa... mohon bersabar. Dokter bilang ini mungkin hanya sementara," Sekretaris Han mencoba menghibur sambil menyodorkan tisu.
Clarissa menghapus air matanya dengan kasar. Matanya yang tadinya layu kini kembali berkilat penuh tekad. "Tidak. Aku tidak akan membiarkan si bodoh itu melupakanku begitu saja. Dia pikir dia bisa mengusirku dari hidupnya setelah membuatku jatuh cinta setengah mati?"
"Apa yang akan Anda lakukan, Nona?"
Clarissa menyeringai kecil melalui tangisnya. Seringai licik sang Ratu Wijaya. "Jika dia lupa siapa aku, maka aku akan membuatnya jatuh cinta padaku untuk kedua kalinya. Dan kali ini... aku akan membuatnya merangkak memohon ampun karena sudah mengusirku hari ini."
Keesokan harinya.
Devan sedang membaca laporan keuangan di tabletnya dengan wajah bosan saat pintu kamarnya diketuk.
"Han, aku bilang aku tidak mau dikunjungi siapa pun selain tim medis!" bentak Devan tanpa menoleh.
"Permisi, Tuan Mahendra. Waktunya ganti perban dan minum vitamin."
Suara itu lembut namun memiliki nada yang tegas. Devan menoleh dan tertegun. Di depannya berdiri seorang suster dengan seragam putih yang sangat rapi, masker menutupi setengah wajahnya, dan topi perawat yang sedikit miring. Namun, matanya... mata itu sangat tajam dan berkilauan.
"Kau suster baru? Di mana suster yang biasanya?" tanya Devan curiga.
"Suster yang biasa sedang cuti karena ketakutan melihat wajah galak Anda, Tuan," jawab Clarissa (yang menyamar sebagai Suster 'Lulu'). Ia melangkah maju dengan percaya diri, membawa nampan obat.
Devan menyipitkan mata. "Kau cukup berani bicara begitu padaku. Kau tidak tahu siapa aku?"
"Tentu saja tahu. Anda adalah pasien nomor 101 yang sangat cerewet dan baru saja kehilangan ingatan tentang betapa tampannya Anda saat tidak marah-marah," Clarissa meletakkan nampan itu dengan suara klontang yang sengaja dikeraskan.
Ia mendekat ke arah Devan, membuat Devan refleks mundur sedikit. Aroma parfum vanila yang samar tercium oleh Devan—aroma yang entah kenapa membuat jantungnya berdenyut aneh, seolah-olah sel-sel tubuhnya mengenali aroma itu meskipun otaknya tidak.
"Apa yang kau lakukan? Jangan terlalu dekat!" perintah Devan, namun suaranya sedikit goyah.
"Bagaimana aku bisa mengganti perbanmu kalau aku berdiri di pintu, Tuan Besar?" Clarissa dengan berani membuka kancing kemeja pasien Devan.
Tangan Clarissa yang lembut menyentuh kulit Devan, dan seketika Devan merasakan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sebuah ingatan kilat muncul di kepalanya—sebuah gua dingin, salju, dan kehangatan yang serupa—namun segera hilang begitu ia mencoba menangkapnya.
"Ugh..." Devan memegangi kepalanya yang mendadak sakit.
"Ada apa? Kepalamu sakit?" Clarissa segera menahan bahu Devan, tatapan matanya berubah menjadi penuh kekhawatiran yang tulus. "Jangan dipaksa, Devan. Pelan-pelan saja."
Devan menatap mata 'Suster Lulu' dari jarak dekat. "Kenapa... kenapa kau memanggil namaku tanpa gelar? Dan kenapa matamu terlihat seperti sedang mengasihaniku?"
Clarissa tersadar, ia segera menjauh. "Maaf, Tuan. Saya hanya terbawa suasana. Nah, minum obatmu. Jangan sampai aku harus mencekokimu seperti bayi."
"Kau—!" Devan geram, namun ia tetap meminum obatnya. "Siapa namamu, Suster?"
"Lulu. Tapi kau bisa memanggilku 'Masa Depanmu' jika kau mau," goda Clarissa sebelum berbalik pergi dengan langkah anggun.
Devan terpaku di ranjangnya, menatap punggung suster itu yang menghilang di balik pintu. Ia menyentuh dadanya. Jantungnya berdetak sangat kencang.
"Han!" teriak Devan.
Sekretaris Han masuk dengan gugup. "Ya, Tuan Muda?"
"Cek latar belakang suster bernama Lulu itu. Dia... dia sangat tidak sopan. Aku ingin dia dipecat... atau tidak, jangan dipecat. Pastikan dia yang merawatku besok pagi lagi. Aku harus memberinya pelajaran tentang tata krama."
Sekretaris Han menahan tawa di balik tangannya. Pelajaran tata krama atau Anda cuma ketagihan digoda, Tuan? batin Han.
Di luar kamar, Clarissa melepas maskernya dan bernapas lega. Ia tersenyum penuh kemenangan.
"Permainan dimulai, Devan Mahendra. Kau boleh melupakan namaku, tapi tubuhmu tidak akan pernah bisa melupakan sentuhanku," gumam Clarissa.