✨Rilis episode setiap hari Senin, Rabu, dan Jum'at, pukul 19.00 wib ✨
Di dunia lamanya Ren Akasa adalah pria kantor yang di perlakukan buruk oleh atasan dan juga rekan kerjanya.
Tekanan kerjaan yang gila, gaji yang sering di tunda juga rekan kerja yang manipulatif. Suatu ketika ia di tarik ke dunia lain, BUKAN untuk menjadi PAHLAWAN melainkan untuk menjadi RAJA IBLIS.
Antara menjadi penyelamat yang bijak, atau menjadi penguasa tirani yang dingin, mengingat selama hidupnya di dunia nyata ia diperlakukan bagai pecundang.
dengan kekuatan yang Ren miliki, apakah dunia lain akan menjadi pelampiasannya akibat perlakuan dari dunia lamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorenzo Leonhart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Raja Yang Kalian Cari
Ren Akasa berdiri mematung di tengah panggung batu yang dingin. Jantungnya masih berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari rusuknya. Ia baru saja lolos dari maut di toilet kantor, namun pemandangan di depannya jauh lebih tidak masuk akal. Enam pasang mata merah menyala di kegelapan, menatapnya dari balik bayangan pilar-pilar batu yang besar. Suasana mencekam itu membuat bulu kuduknya berdiri, jauh lebih menyeramkan daripada tatapan tajam Ibu Vina saat menagih laporan.
Tiba-tiba, salah satu dari enam pasang mata merah itu bergerak maju. Suara langkah sepatunya yang beradu dengan lantai batu terdengar sangat berwibawa, bergema di seluruh aula katedral kuno itu. Perlahan, sosok itu menampakkan wujudnya di bawah cahaya obor singa yang berpijar biru.
Ren terkesiap. Muncul seorang wanita yang luar biasa cantik, namun penampilannya agak tidak manusiawi. Sepasang tanduk merah melengkung elegan terlihat dari sela-sela rambut hitamnya yang terurai panjang hingga ke pinggang. Ia mengenakan pakaian ksatria wanita berwarna merah dengan aksen emas yang berkilau dan relief singa menganga pada dekat perutnya, dengan perlahan menghampirinya.
Aaaarrrg ada setaaaan! Tolong!" Teriak Ren dengan suara serak. Ia refleks melangkah mundur, hampir tersandung kaki wastafel imajiner yang ia kira masih ada di belakangnya.
Wanita itu tidak berhenti. Ia justru mempercepat langkahnya, wajahnya tampak tersenyum sangat bahagia, bahkan terlihat sedikit penuh haru dan pemujaan. Kedua tangannya terbuka lebar seolah ia ingin memberikan pelukan hangat yang sudah ribuan tahun ia simpan.
"Ja-jangan mendekaaat! Aku tidak punya apa-apa untuk memberimu! Gaji saja belum cair!" Ren berteriak lagi, menutup wajahnya dengan kedua tangan, meringkuk ketakutan.
"Tuanku... akhirnya kami berhasil memanggilmu" ucap wanita itu dengan suara yang sangat lembut dan merdu, hampir seperti melodi yang menghanyutkan jiwa.
"Hah?" Ren menurunkan tangannya sedikit. Ekspresinya berubah menjadi aneh dan bingung. Dalam hatinya berkata,
'Tuanku? Siapa yang dia panggil tuan?'
Namun, sebelum wanita bertanduk merah itu sempat menyentuh Ren, sebuah bayangan kecil menyerobot masuk ke area panggung dengan kecepatan luar biasa. Seorang gadis pendek berambut twintail lilac dengan dua tanduk kecil yang mencuat di sela poninya muncul entah dari mana. Ia mengenakan pakaian blush dengan rok hitam lucu dengan lambang kalajengking emas di depan roknya.
Tanpa permisi, gadis itu langsung menggenggam kedua tangan Ren dengan sangat erat.
"Tuanku! Syukurlah kami berhasil memanggil Anda kembali! Akhirnya, masa indah kita akan terulang lagi... yaaa, hanya kita berdua saja, tidak perlu ada gangguan dari wanita merah yang membosankan itu" ucap si gadis berambut lilac itu dengan rona merah di pipinya.
Suasana di sekelilingnya seolah-olah berubah menjadi romantis dengan aura berbunga-bunga yang aneh.
Ren menatap gadis itu dengan tatapan kosong. Kepalanya yang pening karena kurang tidur dan kelaparan semakin berdenyut. 'Ngapain ini bocah? Ini anak siapa sih? Apa aku sedang berada di tengah syuting film kolosal?' batinnya penuh keheranan.
BLETAK!
Suara jitakan keras bergema di aula luas itu, memutus suasana romantis sepihak tadi.
"Aduh! Sakit tahu!" teriak gadis pendek itu sambil memegangi kepalanya yang terkena serangan fajar.
"Apa yang kau lakukan, Alice?! Berani sekali kau mendahuluiku menyapa Tuan Leon, dasar boncel tidak tahu sopan santun!" bentak wanita berbaju merah tadi. Wajah cantiknya kini memerah karena emosi yang meluap.
Seketika, gadis yang dipanggil Alice itu menangis sesenggukan. Ia langsung memeluk Ren, menyembunyikan wajahnya di kemeja kantor Ren yang sudah kusut masai.
"Huaaaaaaaaa... Tuan Leon! Lihatlah, dia memukul kepalaku yang berharga ini! Dia sangat jahat, mentang-mentang tubuhnya lebih besar dariku, Huaaaaahahaaaaaa!" Alice menangis dengan air mata yang bercucuran deras, namun jika dilihat lebih dekat, ia sedang menjulurkan lidahnya dengan licik ke arah wanita berbaju merah itu.
Melihat "anak kecil" diperlakukan kasar, jiwa kemanusiaan Ren yang biasa tertindas oleh Toni dan Ibu Vina tiba-tiba bangkit.
"Eh, kau keterlaluan sekali! Jangan kasar sama anak kecil dong! Biarpun dia salah, tidak perlu pakai kekerasan fisik seperti itu!" ucap Ren dengan nada tegas yang jarang ia gunakan, sembari mengusap-ngusap lembut kepala Alice untuk menenangkannya.
"Huaaaaaaaaa," Alice melanjutkan tangisnya yang dibuat-buat, merasa mendapat pembelaan dari sang "Raja".
Wanita berbaju merah itu ternganga, matanya membelalak tak percaya. "Ta-tapi, Tuan Leon... dia itu sudah dewasa! Dia itu Alice Wildblood, iblis vampir yang umurnya sudah 1300 tahunan! Aku saja lebih muda 152 tahun darinya! Jangan tertipu oleh wujud mungilnya itu!"
Ren mengerutkan keningnya, semakin yakin bahwa orang-orang di depannya ini sedang berhalusinasi kolektif.
"Hah? Ngomong apa kau ini? Mana ada orang umurnya sampai 1300 tahun? Jangan ngayal kamu, apalagi dia ini masih kecil begini. Makin jelas bohongnya kamu," ujar Ren dengan nada kesal, teringat bagaimana Toni sering membohonginya dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal.
"Udah-udah, jangan nangis ya, cup-cup-cup," lanjut Ren mencoba menenangkan Alice, mengabaikan protes si ksatria wanita merah.
PROK... PROK... PROK... PROK... Suara tepuk tangan yang lambat dan berirama terdengar dari arah bawah panggung batu.
Semua mata menoleh ke sumber suara. Muncul seorang pria yang mengenakan pakaian butler (kepala pelayan) hitam putih yang sangat rapi dan licin. Ia memakai kacamata dengan bingkai tipis dan sarung tangan putih yang tampak sangat steril.
"Bisa kita sudahi drama panggung yang tidak bermutu ini? Nona Shallan Zephyra," ia menatap wanita berbaju merah tadi dengan tatapan dingin.
"Nona Alice Wildblood," lanjutnya menatap gadis pendek yang masih menempel pada Ren layaknya koala.
"Saya rasa Tuan Leon masih sangat kebingungan dan belum mengerti situasinya sekarang ini. Jadi, tolong jangan buat dia semakin pening dengan kelakuan kalian yang kekanak-kanakan," ucap pria itu dengan suara yang berat dan sangat tertata.
Alice yang tadi berpura-pura menangis tiba-tiba berhenti seketika. Ia melepaskan pelukannya dan berdiri tegak dengan wajah datar, seolah emosinya tadi hanyalah saklar lampu yang bisa dimatikan kapan saja. Shallan juga langsung terdiam dan merapikan jubah ksatrianya.
Ren menarik nafas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
"Dengar ya... dari tadi kalian ini menyebut nama Leon terus. Apa kalian menganggap aku ini orang itu? Aku bukan Leon, namaku adalah Ren Akasa. Aku hanya pegawai kantor yang ingin pulang dan tidur di kosan. Kalian pasti salah orang... Jadi, bisakah kalian tunjukkan jalan keluar dari tempat ini? Aku tidak ingin berurusan dengan sekte atau apa pun ini."
Mendengar itu, pria butler tersebut tersenyum tipis, sebuah senyum profesional yang mengingatkan Ren pada resepsionis hotel bintang lima. "Tuan Leon, mohon maaf sebelumnya. Izinkan saya memperkenalkan diri... nama saya adalah Silas Blackwood."
"Saya adalah kepala pelayan di istana ini, sekaligus merangkap sebagai ahli siasat perang untuk pasukan Anda". lanjutnya sambil membungkuk hormat elegan ala butler.
Ren mulai menghubungkan titik-titik kejadian gila ini. Kejadian di toilet, portal cahaya violet, hingga panggung dengan obor singa setinggi 2 meter ini. Seketika matanya terbuka lebar, pupilnya mengecil karena terkejut yang luar biasa.
"Apa aku... benar-benar terlempar ke dunia lain? Seperti cerita isekai (dunia lain) yang sering dibaca rekan kantorku?" gumamnya tak percaya.
PLAK!
Ren menampar pipinya sendiri dengan kekuatan penuh. Suaranya bergema sangat keras di aula yang sunyi itu. Seluruh iblis yang ada di sana berjengit, terkejut melihat "Raja" mereka melakukan aksi masokis.
"Sakit sekali..., ini bukan mimpi!" Ren memegangi pipinya yang berdenyut. Rasa sakit ini jauh lebih nyata daripada rasa melilit di perutnya tadi.
"Tuan Leon, sepertinya Anda mengalami syok hebat akibat proses pemanggilan dimensi yang tidak sempurna. Mari, izinkan saya mengantar Anda ke kamar pribadi Anda. Anda butuh tempat yang layak untuk mencerna semua ini," ucap Silas dengan suara menenangkan.
Ren yang sudah tidak punya energi lagi untuk mendebat akhirnya hanya bisa mengekor di belakang Silas. Ia berjalan melewati koridor-koridor istana yang menjulang tinggi, dihiasi ukiran makhluk-makhluk mitologi yang tampak hidup.
Sesampainya di depan sebuah pintu kayu ek besar dengan ukiran singa perak, Silas membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah ranjang yang sangat megah dengan kelambu sutra. Ruangan itu terasa hangat berkat perapian sihir yang menyala stabil, memberikan aroma kayu cendana yang menenangkan.
"Wah... beneran nih aku jadi raja? Masih gak percaya aku. Kamar ini bahkan lebih luas daripada satu lantai kantor tempatku kerja," teriak Ren dalam hati dengan binar mata yang mulai muncul.
"Di dalam kamar ini terdapat kamar mandi pribadi yang luas lengkap dengan bak mandi marmer dan air hangat yang mengalir terus-menerus. Tuan bisa membersihkan diri terlebih dahulu," Silas menjelaskan sambil menunjukkan sebuah pintu geser di sudut ruangan.
"Oh iya, saya juga akan segera menyiapkan makan malam untuk Anda. Apakah Tuan Leon ingin menyantap hidangan khusus malam ini?"
Ren merasa perutnya kembali melilit, kali ini murni karena lapar. "Wah kebetulan sekali, aku benar-benar kelaparan. Bayangkan saja, tiga hari terakhir aku cuma makan mie instan terus karena gajiku ditahan Ibu Vina..." batinnya miris.
"Eh, Si.. Siil..."
"Silas, Tuan."
"Ah... iya, Silas. siapkan saja apa pun yang menurutmu baik dan mengenyangkan. Aku tidak pilih-pilih makanan."
"Terima kasih ya sudah menyambutku dengan baik," ucap Ren dengan tulus sambil tersenyum tipis.
Pandangan Silas langsung terpaku. Ia mematung di ambang pintu, kacamata-nya sedikit merosot. Di dalam pikirannya, Silas berteriak penuh keheranan. 'Dari delapan Raja Leon yang pernah kami panggil sebelumnya, semuanya adalah penguasa tiran yang bahkan tidak sudi melihat wajah pelayan. Tapi pria ini... dia mengucapkan terima kasih? Apakah proses pemanggilan ini benar-benar membawa orang yang sama?'
Mencoba untuk tetap profesional, Silas membungkuk. "Itu sudah menjadi kewajiban saya, Tuan Leon. Saya mohon permisi untuk menyiapkan perjamuan Anda," ucapnya sebelum menutup pintu dengan pelan.
Sementara itu, di aula pemanggilan yang luas, Shallan dan Alice masih berdiri di sana, menatap kegelapan koridor.
"Apa kau merasakannya, Alice?" tanya Shallan dengan nada yang sangat serius, tidak ada lagi jejak emosi konyol tadi.
"Ya... Raja Leon kali ini terasa sangat... lembut? Atau mungkin lemah?" jawab Alice sambil menyilangkan tangannya di dada. "Seharusnya, Raja Leon adalah sosok yang tegas, tidak kenal ampun, dan hanya peduli pada penaklukan. Tapi dia tadi malah membelaku seolah aku benar-benar anak kecil yang lemah. Ini sangat aneh."
"Dia adalah Raja Leon ke-9 yang kita panggil," lanjut Shallan sambil menatap telapak tangannya. "Dari semua raja sebelumnya, tidak ada yang memiliki aura se-manusiawi pria ini. Apa kita salah merapal mantra? Ataukah portal itu mengambil jiwa dari garis waktu yang salah?"
Tiba-tiba, dari balik bayangan pilar yang gelap, muncul sosok raksasa dengan armor abu tua yang memancarkan hawa panas. Kepalanya menyerupai naga dengan urat-urat lava yang menyala di sekitar leher, lengannya hingga ke badannya. Behemoth, sang Jenderal Pelindung, akhirnya menampakkan diri sepenuhnya.
"Tidak peduli seperti apa perilakunya, Tuan Leon tetaplah Tuan Leon. Tandanya sudah jelas di punggung tangannya tadi" pungkas Behemoth dengan tenang. "Dalam situasi sekarang ini, Entah dia lembut atau keras, dia adalah satu-satunya harapan kita".
Semua iblis di ruangan itu terdiam, menundukkan kepala mereka ke arah lantai batu, seolah-olah sedang merapalkan doa pada takdir yang tidak pasti.
Namun, keheningan itu pecah seketika oleh sebuah suara yang datang dari lantai atas, tepatnya dari arah kamar raja.
"AAAAAAAAAARRRRRRRRGGGGGG!"
Sebuah teriakan histeris yang penuh dengan rasa ngeri membelah kesunyian istana
"Bukankah itu suara Tuan Leon?!" Alice tersentak kaget.
Sontak, Silas yang baru saja ingin ke dapur, Shallan, Alice, dan Behemoth langsung melesat menuju kamar raja dengan kecepatan penuh. Mereka takut ada musuh yang berhasil menyelinap masuk melalui celah sihir.
Bersambung.