"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktunya Menagih Hutang
Di ruang rapat Perusahaan miliknya, Candira Anandini dengan anggun memimpin. Sebagai CEO sekaligus pemilik Perusahaan, tentu saja Dira mempunyai kecerdasan untuk memajukan dan mengembangkan Perusahaannya.
Dira memegang saham 75% sedangkan sisanya adalah milik para investor. Perusahaan Dira bekerja di bidang infrastruktur yang sering bekerja sama dengan proyek-proyek milik Pemerintah.
"Selamat Pagi, terima kasih sudah hadir tepat waktu." Ucap Dira.
"Agenda hari ini, saya selalu CEO ingin merombak dewan direksi. Seperti yang Anda semua tahu, jika saya memperkerjakan suami dan Adik Ipar di Perusahaan ini. Tapi jika dalam pekerjaannya mereka melakukan kesalahan, apa boleh jika saya menurunkan jabatan mereka berdua?"
Bisik-bisik terdengar begitu sumbang, ada yang merespon dengan wajah lega ada juga yang mencibir. Dan Dira tahu, jika semua ini tidak akan berjalan mudah. Karena salahnya sendiri sudah memelihara ular berbisa, yang kini racunnya sudah membuat sebagian karyawannya melawan. Tapi, Dira bukan perempuan biasa yang mudah diremehkan oleh mereka.
Meskipun sudah Dira akui, jika selama dua tahun ini buta. Hanya karena tawaran kata cinta dan iming-iming kehangatan keluarga. Dira melonggarkan sistem pertahanan hidupnya, tapi sekarang Tuhan telah membuka mata dan telinganya lebar-lebar. Siapa yang dia pelihara selama ini dengan seluruh harta kekayaannya. Maka sekarang waktunya menagih hutang.
Dira tidak bicara omong kosong, karena setelah mengetahui kenyataan sebenarnya. Subuh tadi, Dira langsung terbangun dan seketika mencari borok Suaminya. Selama ini karena cinta, Dira percaya seratus persen dengan Agung. Tapi kepercayaan itu telah tergadai, dan tidak sulit bagi Dira untuk menelusuri jejak kecurangan yang sudah dilakukan Agung dan Arimbi.
Layar proyektor menyala, di sana Dira membeberkan kebocoran dana perusahaan. Yang ternyata sudah terjadi sebulan setelah dia menikah dengan Agung. Awalnya nilai yang diambil hanya jutaan hingga puluhan juta saja. Tapi sejak 3 bulan yang lalu, uang yang dicuri nilainya berkali-kali lipat tanpa ada kejelasan ke mana dana mengalir.
"Jadi, kerugian Perusahaan sudah mencapai hampir 100 Miliar selama setahun. Sedangkan di akhir bulan lalu, Agung atau Suami saya sudah mengambil uang 500 juta lagi. Yang hingga kini tidak ada laporan keuangan yang transparan dari Arimbi selaku Manager Keuangan Perusahaan. Jadi menurut Anda sekalian bagaimana? Dibiarkan supaya semakin hancur, atau..."
Braakkk
Pintu dibuka kasar dari luar, Arimbi datang dengan nafas yang setengah hidup setengah mati.
Wajahnya berkeringat dan karena dempulnya terlalu tebal maka... yang terlihat kini bagaikan badut pasar malam.
"Maaf... Saya datang terlambat, itu karena..." Ucapan Arimbi dipotong sepihak oleh Dira yang melambaikan tangan, pertanda Arimbi harus stop berbicara.
"Tidak perlu basa basi Arimbi, silahkan duduk dan sampaikan pembelaanmu tentang dana perusahaan yang hilang. Bukti-bukti sudah saya sertakan, semua dewan direksi sudah melihatnya. Saya beri waktu 30 menit untuk membuat pembelaan, sebelum Polisi datang membawa kamu ke Kantornya." Ucap Dira tegas menatap datar.
"Apa maksudnya, uang apa sih..."
"Nona Arimbi, tolong kerja samanya. Anda sudah terbukti menggelapkan dana, bekerja sama dengan Tuan Agung." Ucap seorang pria bernama Tuan Bramantyo, seorang yang dituakan di Perusahaan karena dedikasinya yang tinggi.
"Ini fitnah, saya tahu ada yang sengaja ingin menjatuhkan saya dan Kakak saya supaya diusir dari Perusahaan ini." Kekeh Arimbi.
"Siapa yang ingin menjatuhkanmu, Arimbi? Tidak ada! Justru kamu yang telah membuat dirimu jatuh di lubang paling hina, yakni MENCURI! Sekarang akui saja semua perbuatanmu, maka saya akan pikirkan ulang untuk melaporkan kejahatanmu ke Polisi." Ucap Dira tersenyum penuh misteri.
"Benarkah? Jadi aku tidak akan masuk penjara?" Tanya ulang Arimbi.
"Tentu saja setelah kamu memberi kesaksian di depan para dewan direksi dan pemegang saham Perusahaan." Ucap Dira tanpa riak emosi.
"Baiklah, aku akan katakan kebenarannya." Ucap Arimbi tidak sadar telah masuk jebakan yang dibuat Dira.
Dengan penuh percaya diri, Arimbi berdiri di depan dan menjelaskan detail semua aliran dana Perusahaan.
"Jadi uang 100 Miliar dalam kurun waktu setahun sudah dapat apa saja? Bisa kamu sebutkan aset apa yang sudah kamu beli bersama keluargamu?" Tanya Dira.
"Mama minta satu set perhiasan berlian, lalu Ambar minta beli tas limited edition, dan aku tentu saja aku beli rumah yang mewah melebihi rumah kamu..."
"Sedangkan Mas Agung, dia... Ah biar dia jelaskan sendiri saja. Yang penting urusanku denganmu selesai." Ucap Arimbi dengan senyum sombongnya.
"Baiklah, semua sudah jelas ya Bapak... Bapak... Ibu... Ibu... sekalian, jika Arimbi mempergunakan uang Perusahaan untuk kepentingan pribadinya dan keluarganya. Jadi, untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya karena Arimbi tidak mau dihukum masuk ke dalam sel tahanan. Maka, saya dengan resmi menarik kembali wewenang dia di Perusahaan dan semua aset akan disita..."
"TIDAK! Kamu sudah berjanji untuk membebaskanku dari hukuman, kenapa masih mau menyita barang yang sudah aku beli untuk keluargamu juga. Ibuku adalah Ibumu, aku dan Ambar adalah adikmu." Ucap Arimbi.
"Memang benar, kamu adalah keluargaku. Tapi urusan bisnis, tidak ada hubungan dengan keluarga atau bukan. Sudah waktunya kamu mengembalikan semua yang telah kamu ambil dariku. Perusahaan punya aturan yang wajib dipatuhi oleh siapa pun yang masih butuh bekerja di sini. Jadi, serahkan semua aset yang kamu beli dengan uang Perusahaan..."
"Kamu punya waktu sampai besok pagi, dan yah... semua pernyataanmu, kesaksianmu telah saya rekam dan sebagai jaminan supaya kamu segera mengembalikan HUTANG KAMU DI PERUSAHAANKU. Atau, bisa jadi rekaman ini akan meluncur ke Kantor Polisi." Ucap Dira masih dengan wajah datar, sama sekali tidak menunjukkan emosi saat berbicara dengan Arimbi.
"Ka... Kamu... Kenapa jahat sekali. Jangan mentang-mentang kamu Kakak iparku, seenaknya kamu ingin menjatuhkanku. Aku tidak terima perlakuanmu ini. Akan aku laporkan pada Ibu, dan Mas Agung pasti menceraikanmu..."
"Mau menceraikanku? Yakin dia mau? Bukankah kamu dan keluargamu hidup bergantung dengan uang yang aku berikan? Tapi urusan hutang, berbeda."
"Sekarang, mau tunggu apa lagi? Kamu kembalikan yang kamu ambil, kamu juga tidak aku pecat. Tapi..." Ucapan Dira dipotong Arimbi.
"Baik, aku ambil semuanya sekarang. Asal kamu janji tidak memecatku." Ucap Arimbi kemudia berbalik keluar.
"Aku memang tidak memecatmu, tapi aku tidak akan memberimu gaji dari setiap pekerjaanmu." Gumam Dira.
Rapat berakhir, kini tinggal Dira seorang diri berdiri menatap hamparan luas dari atas gedung Perusahaannya.
Baginya, pengkhianatan adalah penghinaan atas harga dirinya yang akan dia tagih sebagai HUTANG DIBAWA MATI. Bukan dengan mengusir, tapi dengan mengembalikan semua secara perlahan-lahan. Supaya mereka tahu bahwa Candira Anandini bukan perempuan disabilitas biasa.
padahal sedang suka sukanya baca kisah si mbim 😂
mbim panggilan yg manis menurutku 😂
biarkan semua berjalan sebagai bagian dari alur yang memang harus dijalani
jangan menghindar atu menjauh, rasakan setiap rasa yang datang, marah kecewa kesal sakit hati sebagian bagian dari alur
sulit memang tapi justru itu membuat kita nyaman karena kita jujur .✌️💪
Dalam budaya Indonesia, konsep pulang seringkali dikaitkan dengan kampung halaman, keluarga, dan akar identitas. Pulang bukan sekadar aktivitas berpindah tempat, tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam. Pulang bisa berarti kembali pada nilai, kembali pada Tuhan, kembali pada diri sendiri, atau bahkan kembali pada tujuan hidup yang sejati.
Pulang memiliki makna universal, tetapi setiap individu menginterpretasikannya dengan cara yang berbeda. Ada yang memaknai pulang sebagai sebuah perasaan lega setelah perjalanan panjang, ada yang melihatnya sebagai jalan kembali ke akar budaya, dan ada pula yang menganggapnya sebagai pertemuan kembali dengan diri yang hilang. Makna pulang selalu melekat dengan rasa aman, damai, dan penerimaan...😊👍💪