NovelToon NovelToon
Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: mommy Almira

Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Gugurkan saja kandunganmu

Intan langsung jatuh pingsan begitu mendengar bahwa Ridwan meninggal. Iya, bagaimana Intan tidak syok, baru beberapa jam lalu dia masih ngobrol dengan suami, namun tidak lama kemudian dia mendapat kabar bahwa sang suami kecelakaan dan sekarang dia diberitahu bahwa sang suami sudah meninggal.

Dunia Intan seolah runtuh ditinggalkan oleh suami yang begitu mencintainya dan juga dia cintai. Apa lagi Intan dalam keadaan hamil muda. Rasanya intan tidak tahu harus bagaimana menjalani hari- harinya ke depan tanpa Ridwan di sampingnya.

🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓

"Sudahlah intan... Kamu tidak usah menangisi Ridwan terus.Mau kamu nangis sampai keluar air mata darah sekalipun, Ridwan tidak akan hidup lagi. Jadi buat apa kamu terus- terusan menangis. Tidak ada gunanya..." ucap bu Yuyun sudah muak melihat Intan yang terus- terusan menangisi kepergian Ridwan

Iya, ini adalah hari ke tujuh Ridwan meninggal. Beberapa saat lalu di rumah bu Yuyun telah diadakan tahlilan untuk doakan arwah Ridwan. Setelah tahlilan selesai bu Yuyun bersiap berangkat kerja. Dia memang sudah kembali bekerja di hari ketiga Ridwan meninggal. Bu Yuyun hanya mengambil cuti tiga hari saja karena tidak mau dibilang mertua tidak tahu diri, karena terus bekerja di saat menantu meninggal.

"Sudah diam... Jangan menangis terus, simpan air mata kamu..." ucap bu Yuyun.

"Bu... jangan marahi Intan terus... Dia sedang berduka..." ucap pak Wito dari dalam kamarnya karena dia mendengar sang istri memarahi Intan.

"Memangnya sampai kapan dia terus berduka pa..? Seperti orang tidak ada kerjaan saja, setiap hari menangis terus..." sahut bu Yuyun.

"Hik...hik..hik..." Intan terus menangis.

"Hidup terus berjalan Intan. Kalau kamu nangis terus, bagaimana kamu mau melanjutkan hidup...? Apa jangan- jangan kamu mau menyusul suamimu ke akhirat...?''' sambung bu Yuyun bertambah kesal karena bukannya intan berhenti menangis, tapi dia malah semakin menangis.

"Sudahlah... Ibu capek ngomong sama kamu, dibilangin jangan menangis lagi malah nambah- nambah nangisnya. Nangis saja terus sampai air matamu kering..." bu Yuyun mengambil tasnya lalu dia pergi karena tukang ojek langganannya sudah menunggu di depan rumah dan siap mengantar bu Yuyun ke tempat kerjanya.

"Hik..hik...mas Ridwan... Kenapa mas Ridwan ninggalin Intan mas...hik..hik..." Intan terus menangis.

"Bagaimana Intan bisa menjaga anak kita nanti tanpa mas Ridwan...? Hik...hik..."

"Intan..." panggil pak Wito dari dalam kamar.

"I..iya pak.." Intan segera menghapus air matanya lalu masuk ke kamar sang bapak

Intan lalu duduk di kursi samping tempat tidur pak Wito. Pak Wito menatap sedih wajah Intan yang masih basah karena air mata.

"Kamu yang sabar ya nak...yang kuat... Maafkan bapa... Bapak tidak bisa berbuat apa- apa untuk Intan selain hanya mendoakan Intan supaya selalu kuat. Intan harus menjaga kesehatan, demi calon anak Intan. Bapak percaya, suamimu Ridwan sudah tenang di alam sana karena suamimu orang baik dan soleh..." ucap pak Wito sambil mengusap kepala Intan.

"Iya pak... Hik..hik... Tapi Intan masih sedih... Intan masih belum bisa mengikhlaskan mas Ridwan pergi mendadak seperti ini pak.. Hik..hik..." sahut Intan kembali menangis.

"Iya bapak ngerti nak... Tapi kalau kamu terus menangis, bapak khawatir akan berpengaruh pada calon anakmu. Kamu pasti ingat kan, kalau Ridwan selalu berpesan sama kamu agar menjaga dirimu dan calon anak kalian dengan baik..." jawab pak Wito.

"Iya pak...hik..hik..." sahut Intan lalu menghapus air matanya.

💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝

Di hari ke empat puluh meninggalnya Ridwan, Intan kembali mengadakan tahlilan di rumahnya dengan mengundang bapak- bapak untuk mendoakan arwah Ridwan. Setelah acara tahlilan selesai Intan membereskan ruang tamu dan piring- piring bekas tempat makanan yang disediakan untuk jamaah tahlil.

"Intan...Ibu mau tanya sama kamu..." ucap bu Yuyun sambil duduk di sofa ruang tengah.

Sedangkan Intan baru selesai beres- beres ruang tamu yang digunakan untuk tahlilan. Shaina lalu menghampiri sang ibu dan duduk berhadapan dengannya.

"Ada apa bu...?'' tanya Intan.

"Suamimu ninggalin warisan apa buat kamu dan calon anak kamu...?'' tanya bu Yuyun sambil melirik perut Intan yang masih rata.

Intan terdiam sambil menunduk. Iya, kalau soal warisan, tentu saja Ridwan tidak meninggalkan apapun. Hanya saja di tabungan ada uang sebesar dua puluh lima juta yang rencananya akan digunakan untuk membayar DP rumah. Namun sekarang uang itu sudah berkurang karena sudah intan ambil untuk biaya rumah sakit, ambulan dan biaya pemakaman Ridwan.

Iya, Ridwan mengalami kecelakan ditabrak oleh sesama pengandara motor dari arah belakang. Dan si penabrak melarikan diri. Jadi tidak ada yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang dialami oleh Ridwan dan biaya rumah sakit hingga pemakaman ditanggung sendiri.

Untungnya pihak perusahaan tempat Ridwan bekerja mau berbaik hati dan memberikan sumbangan kepada Intan sebagai uang duka dan diberikan langsung kepada Intan. Jadi Intan bisa menggunakan uang tersebut untuk keperluan yang lain.

"Mas Ridwan memang tidak meninggalkan warisan untuk Intan dan calon anak Intan bu, tapi Mas Ridwan punya tabungan yang bisa Intan pakai untuk keperluan Intan nanti...'' jawab Intan

"Berapa jumlah tabungannya...?'' tanya bu Yuyun.

"Karena kemarin sudah terpakai untuk biaya rumah sakit dan lain- lain , sekarang uangnya sisa lima belas juta di tabungan. Dan ada uang cas lima juta bu..." jawab Intan.

"Jadi suamimu hanya ninggalin uang dua puluh juta...? Dua puluh juta cukup buat apa Intan. Paling juga dua atau tiga bulan uang itu bakalan habis..." sahut bu Yuyun.

Intan pun terdiam. Dan bu Yuyun menghela nafas kemudian menghembuskannya dengan kasar.

"Begini nih kalau kamu tidak nurut sama omongan ibu. Dulu kamu menolak dijodohkan dengan Bobby dan memilih pemuda miskin seperti Ridwan...." ucap bu Yuyun sambil menatap kesal ke arah sang putri.

"Sekarang kamu rasakan sendiri kan...? Suamimu mati, ninggalin anak dalam kandungan, dan hanya ninggalin uang dua puluh juta. Kamu pikir uang segitu cukup buat apa....?" sambung bu Yuyun.

"Setiap bulan kamu harus periksa ke dokter kandungan, trus mempersiapkan biaya lahiran dan mempersiapkan keperluan calon anak kamu. Duit segitu nggak akan cukup Intan...." lanjut bu Yuyun.

Intan menatap wajah sang ibu beberapa saat, kemudian dia menunduk. Iya, Intan juga tahu , uang yang ditinggalkan oleh Ridwan memang tidak akan cukup untuk biaya Intan dan calon anaknya ke depan. Tapi Intan sudah bertekad tidak akan diam saja mengandalkan uang dari almarhum suaminya. Intan juga ada niat untuk bekerja.

"Lebih baik kamu gugurkan kandungan kamu Intan..." ucap bu Yuyun.

"Astagfirulloh... Apa yang ibu katakan..." Intan tentu saja kaget.

"Ibu tega sekali bicara seperti itu bu... Ini calon anak Intan bu, calon cucu ibu..mana mungkin Intan tega melakukan itu bu..." Intan langsung emosi.

Bu Yuyun kembali menghela nafas.

"Eh Intan... Memangnya kamu bakalan mampu menghidupi anak kamu sendiri tanpa adanya suami...? Bisa apa kamu Intan...? Kamu pikir membesarkan anak sendirian itu gampang...? Itu perlu biaya besar..." ucap bu Yuyun.

"Dengar ya Intan... Ibu nggak mau direpotkan sama kamu. Ibu sudah lelah kerja banting tulang buat membesarkan kamu dan juga mengurus bapakmu yang tidak berguna itu. Ibu sudah capek...! Dan ibu tidak mau lagi dibebankan oleh anak kamu nantinya..." sambung bu Yuyun.

Mendengar apa yang dikatakan oleh sang istri, pak Wito yang berada di kamar pun hanya bisa menangis sedih. Iya, pak Wito tentu sadar jika dirinya hanya menjadi beban buat anak istrinya. Pak Wito hanya bisa berbaring di tempat tidur tanpa bisa melakukan apapun. Hidupnya hanya tergantung pada istri dan anaknya.

"Intan tahu itu bu... Intan juga tidak ingin merepotkan ibu. Intan akan usaha kok, Intan mau kerja. Intan mau melakukan pekerjaan apapun asalkan halal untuk membesarkan anak Intan..." sahut Intan.

Mendengar jawaban Intan, bu Yuyun tertawa.

"Intan...Intan...mau kerja apa kamu hah...? Apa lagi kamu dalam kondisi hamil. Siapa yang mau mempekerjakan orang hamil...? Tidak ada..." ucap bu Yuyun.

"Kalau Intan berusaha, insya Alloh akan ada jalannya bu. Yang jelas Intan tidak mau menggugurkan anak dalam kandungan Intan..." jawab Intan.

Bu Yuyun mendengus kesal mendengar jawaban Intan.

"Sudahlah... Percuma ngomong sama kamu. Dengar ya Intan, mulai sekarang kamu jangan lagi merepotkan ibu. Urusi saja hidupmu sendiri...." bu Yuyun segera masuk ke kamar karena dia akan pergi kerja.

🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓

Hari- hari berlalu kandungan Intan memasuki bulan ke empat. Namun Intan masih sering mengalami muntah- muntah setiap pagi. Padahal seharusnya rasa mual itu semakin berkurang di saat kandungannya bertambah besar. Tapi Intan malah semakin parah mualnya.

Mungkin karena keadaan Intan yang masih terus- terusan bersedih karena belum bisa mengikhlaskan kepergian Ridwan. Setiap malam Intan masih terus menangisi Ridwan. Sehingga mempengaruhi janin yang ada dalam kandungannya. Kemarin saat periksa kandungan, dokter juga memberitahu Intan agar tidak terlalu banyak pikiran karena perkembangan janinnya kurang maksimal karena kekurangan asupan makanan.

Ya tentu saja, sejak Ridwan meninggal Intan menjadi tidak berselera makan. Dan sekalinya makan, setelah itu dia muntah- muntah. Tubuhnya pun semakin hari semakin kurus.

Mengetahui hal itu tentu saja bu Yuyun semakin kesal melihat kondisi sang putri. Karena Intan menolak untuk menggugurkan kandungan tapi dia sendiri tidak bisa menjaga calon anaknya dengan baik.

"Hoek...hoek..." suara Intan muntah-muntah di kamar mandi.

"Sampai kapan kamu mau muntah- muntah terus Intan..." ucap bu Yuyun bosan melihat Intan muntah- muntah setiap pagi.

"Namanya juga orang hamil bu, muntah kan hal yang wajar..." sahut Intan begitu keluar dari kamar mandi.

"Apa kamu lupa apa yang dikatakan oleh dokter kandunganmu kemarin. Kamu seperti ini karena kamu banyak pikiran akibat terus- terusan memikirkan Ridwan. Kalau kamu tidak perduli dengan calon anakmu dan lebih memikirkan Ridwan yang sampai kapanpun tidak akan kembali ke dunia, lebih baik kamu gugurkan saja kandunganmu itu..." ucap bu Yuyun.

"Bu... Sampai kapanpun, Intan tidak akan menggugurkan kandungan Intan... Ibu paham kan... Jadi jangan paksa Intan bu..." Intan marah.

Bu Yuyun mendengus kesal. Kemudian dia pergi ke luar rumah.

💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝

Satu jam kemudian bu Yuyun pulang membawa sesuatu di dalam kantong plastik. Dan bu Yuyun segera pergi ke dapur membuatkan teh manis untuk Intan.

"Intan..." ucap bu Yuyun masuk ke dalam kamar intan.

Dan di dalam kamar Intan sedang berbaring di atas tempat tidur karena kepalanya masih pusing dan merasa mual.

"Kamu masih pusing...?'' tanya bu Yuyun.

"Masih bu..." jawab Intan sambil berbaring.

"Ini minum teh manis biar pusingnya hilang..." bu Yuyun memberikan segelas teh manis pada Intan.

Intan lalu bangun dan bu Yuyun membantu Intan meminum teh buatannya.

"Ini teh apa sih bu, kok rasanya beda...?'' tanya Intan yang baru meminum tehnya beberapa teguk.

"Teh herbal, ini bagus buat menyembuhkan sakit kepala dan mual. Ayo minum lagi, habiskan..." jawab bu Yuyun kembali menyodorkan teh manisnya ke mulut Intan.

Intan pun kembali meminumnya hingga habis.

"Istirahatlah lagi... Nanti pasti pusing dan mualnya hilang..." ucap bu Yuyun menyelimuti tubuh Intan menggunakan selimut.

"Iya bu..." jawab Intan lalu memejamkan matanya untuk tidur.

"Oya Intan... Ibu mau berangkat kerja..." ucap bu Yuyun pamit.

"Iya bu...." jawab Intan.

💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝

Satu jam lamanya Intan tertidur lalu dia bangun karena merasa tidak nyaman di bagian perutnya. Iya perut Intan terasa melilit.

"Ya Alloh perutku sakit sekali..." Intan meringis lalu bangun dan duduk di tepi ranjang. Intan kemudian mengambil air di atas nakas lalu meminumnya siapa tahu bisa meredakan sakit perutnya.

Namun perut Intan semakin melilit dan Intan merasakan celana dalamnya basah. Ketika Intan merabanya betapa terkejutnya Intan saat tahu cairan yang keluar dari k*maluannya adalah darah segar.

"Ya ampun... Da...darah..." Intan panik dan rasanya tidak kuat menahan sakit perutnya yang semakin menjadi- jadi.

Intan menangis sambil memanggil ibu dan bapaknya. Namun sang ibu sudah pergi kerja Dan bapaknya Intan yang tidak bisa bangun pun ikut panik mendengar teriakan Intan meminta tolong.

"Intan.... Kamu kenapa nak...?'' tanya pak Wito.

"Bapa... Perut Intan sakit pak, Intan pendarahan...Hik..hik...." jawab Intan sambil menangis memegangi perutnya.

Perlahan Intan bangun dari tempat tidur dan mencoba berjalan dengan tertatih keluar kamar untuk mencari bantuan. Dan untung saja ada salah satu tetangga Intan yang kebetulan lewat depan rumah mendengar terikan Intan.

Tetangga Intan lalu menolong Intan dibantu oleh warga dan membawanya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Intan langsung ditangani oleh dokter. Iya, ternyata Intan mengalami keguguran dan harus melakukan tindakan kuret.

Mengetahui hal itu tentu saja hati Intan hancur karena tidak bisa menjaga anak dalam kandungannya sesuai dengan amanah yang diberikan oleh Ridwan.

Setelah satu jam setelah tindakan kuret, Intan bangun karena efek obat biusnya sudah habis. Di atas tempat tidur pasien, Intan menangis sedih karena kehilangan calon buah cintanya dengan Ridwan. Apalagi dokter mengatakan bahwa akibat kegugurannya adalah karena di dalam rahim Intan ditemukan obat penggugur kandungan.

Tentu saja Intan langsung teringat pada sang ibu yang memberikan teh yang rasanya aneh sebelum dia pergi kerja. Dan Intan yakin bahwa ibunyalah yang sudah mencampur teh tersebut dengan obat penggugur kandungan.

Bersambung...

1
Salsa
Playing victim banget si Fatimah 😄😄
Asmara
Keren ceritanya
Asmara
Umi sendiri yg duluan menghina Intan giliran dibalas sama Intan dia mewek merasa terzolimi ih najis bgt mertua model begitu 😡
Asmara
Pasti si Aldy punya istri lain
Asmara
Hadeh apes amat kamu Intan
Asmara
Suami nyebelin si Aldy😡
Asmara
Sungguh terlalu mertua sama iparmu Intan 😡
Salsa
Ceritanya menarik 🥰🥰🥰
Salsa
Ngeselin ya si Aldy
Salsa
Apes amat nasibmu Intan ,pynsuami nggak tegas, ibu mertua menyebalkan, adik ipar ngeselin , ibu kandung nya jg edan , lengkap SDH penderitaan kamu
Salsa
Aldy sebenarnya cinta SMA intan cuma gengsi saja dia
Salsa
Suka nya ngalahin org lain tuh si Umi.. pdhl anak sndiri jg salah
Salsa
Umi Fatimah itu ciri" orng munafik
Asmara
Akhirnya menikah jg
Asmara
Duhh intan intan kasihan amat hidupmu
Asmara
Ibunya nggak ngotak
Asmara
Hadir Thor ,.
Mommy Almira: Mksih dah mampir 😊
total 1 replies
Salsa
Lanjut Thor, ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!