Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.
Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.
"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."
River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takhta, Debu, dan Arus
Satu kampus tahu: Every Riana dan River Armani adalah air dan api.
Bagi Every Riana, menjadi ketua BEM wanita pertama setelah 25 tahun adalah pembuktian harga diri. Sebagai penerus imperium tekstil terbesar di Asia Tenggara, ia terbiasa memimpin dengan tangan besi dan aturan yang kaku.
Namun, bagi River Armani, Every hanyalah gadis manja yang berlindung di balik jabatan dan kekayaan ayahnya. Sebagai pemberontak dan pewaris tunggal Armani Group yang mendunia, River memimpin gerakan anti-BEM dengan aturan yang kaku demi satu tujuan: meruntuhkan dominasi Every.
River membenci aturan. Every adalah aturan itu sendiri.
Every—tegas dan bermulut tajam namun tetap punya integritas dan rasa empati. Itu kenapa semua aturannya terasa kaku.
Hari Pertama Every menjabat
Kantor BEM masih berbau cat baru saat Every Riana masuk dengan langkah yang menggema. Di hari pertamanya, sebuah krisis sudah menanti: banjir bandang di wilayah pinggiran kota.
Every menatap papan anggaran dengan dahi berkerut. "Hanya segini dana darurat yang tersisa dari periode sebelumnya? Murahan sekali," desisnya tajam ke arah jajaran anggota BEM yang tertunduk lesu.
"Kita butuh sepuluh kali lipat dari ini dalam 24 jam. Kalau kalian cuma bisa diam seperti patung pajangan, lebih baik lepas almamater kalian dan pulang," lanjut Every tanpa ampun. Kata-katanya menyengat, tapi matanya menunjukkan kekhawatiran yang nyata pada berkas foto para korban bencana.
"Tapi Kak Every, penggalangan dana di lampu merah atau pasar butuh waktu berminggu-minggu—"
"Siapa bilang kita akan mengemis di lampu merah?" Every memotong dengan suara angkuh. "Kita akan mengadakan lelang barang mewah dan donasi eksklusif malam ini. Saya akan menyumbangkan sepuluh persen keuntungan perusahaan tekstil keluarga saya bulan ini sebagai pemantik. Sekarang, bergerak!"
Namun, rencana Every membentur dinding besar. Sore harinya, ia mendapat laporan bahwa akses logistik ke wilayah bencana ditutup oleh kepolisian karena medan yang berbahaya, dan hanya kendaraan taktis atau komunitas motor tertentu yang diizinkan masuk untuk menyalurkan bantuan cepat.
Dan penguasa jalanan itu hanya satu orang, River Armani.
Every terpaksa melangkah ke area belakang kampus, tempat gudang otomotif yang menjadi "markas" River. Bau oli dan raungan mesin menyambutnya.
"Minggirkan rongsokan ini dari jalan gue," perintah Every pada dua pria yang sedang mengutak-atik motor.
River muncul dari balik kap mobil jeep terbuka, menyeka keringat di keningnya dengan punggung tangan yang kotor. "Ketua BEM kita yang baru ternyata tahu jalan ke tempat sampah," sindir River dengan nada tenang yang memprovokasi.
Every menarik napas panjang, menahan diri untuk tidak memaki. "Gue butuh armada lo. Sekarang. Ada warga yang butuh bantuan logistik dan tim gue punya dananya, tapi nggak punya akses masuk."
River turun dari kap mobil, berjalan perlahan mendekati Every hingga gadis itu terdesak ke dinding gudang. "Lo minta tolong? Dengan nada memerintah kayak gitu?"
"Gue nggak minta tolong, River. Gue menawarkan kerja sama. Lo mau dianggap pahlawan atau cuma jadi beban kampus yang hobi bikin bising?" Every menatap mata River dengan berani. "Orang-orang di sana kedinginan. Gue punya kain, gue punya obat-obatan, dan gue punya uang. Lo punya kendaraan. Kalau lo masih punya nurani di balik jaket kulit bau oli lo itu, lo bakal gerak sekarang."
River terdiam, menatap Every cukup lama. Ia melihat kilatan tulus di mata Every yang berusaha disembunyikan oleh mulut ketusnya.
"Sepuluh armada motor dan lima jeep siap dalam tiga puluh menit," kata River tiba-tiba, suaranya berubah serius.
Every sedikit terkejut, namun segera menguasai diri. "Bagus. Jangan terlambat, atau gue bakal pastikan bengkel ilegal lo ini ditutup permanen."
River justru menyeringai, ia menarik kerah almamater Every pelan agar gadis itu mendekat. "Gue gerak bukan karena ancaman lo, Eve. Gue gerak karena gue suka cara lo marah demi orang lain. Tapi ingat satu hal..."
River berbisik di telinga Every, "Di medan bencana nanti, nggak ada karpet merah. Kalau lo nggak siap kotor, mending duduk manis di kursi empuk lo dan biarkan gue yang kerja."
Every menyentakkan tangan River, merapikan almamaternya dengan angkuh. "Gue bisa beli satu gunung kalau gue mau, River. Tanah dan lumpur nggak akan bikin gue takut. Sampai ketemu di titik kumpul, Loser."
Every berbalik pergi, sementara River menatap punggungnya dengan senyum tipis. Hari pertama, dan sang Ketua BEM sudah mulai menunjukkan bahwa takhta esnya punya fondasi yang kuat.