Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu
Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.
“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPPL 2
Drak.
Drak.
Suara senjata yang terangkat terdengar begitu jelas, memecah udara pagi yang sebelumnya terkendali. Beberapa laras yang semula mengarah ke tersangka, kini beralih mengarah lurus ke depan Zaidan.
Zaidan membeku sepersekian detik.
Di hadapannya berdiri seorang perempuan muda. Tangannya menggenggam senjata laras panjang—
jenis yang sangat ia kenali. Moncong senjata itu mengarah tepat ke kepala tersangka.
Namun yang paling menusuk perhatian Zaidan bukanlah senjatanya. Melainkan mata gadis itu.
Sepasang mata yang penuh luka, amarah, dan keputusasaan. Mata seseorang yang sudah terlalu lama menyimpan penderitaan.
Zaidan menoleh cepat ke sekeliling, mencari dari mana gadis itu masuk. Pandangannya menyapu barikade, formasi anggota, hingga akhirnya ia menemukan jawabannya.
Ada celah.
Sebuah kelengahan kecil yang cukup bagi seseorang yang nekat untuk menyusup. Dan senjata itu… Zaidan mengatupkan rahang saat menyadari satu hal lain.
Seorang anggota kehilangan senapannya.
“Sial…” gumam Zaidan pelan, menahan amarah pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya lengah di momen sepenting ini.
Ia kembali menatap gadis itu. Perlahan, Zaidan mengulurkan satu tangannya ke depan, dengan telapak terbuka, dan gestur damai.
“Mbak… tenang,” ucapnya rendah namun tegas. “Tolong turunkan senjatanya.”
Tidak ada jawaban.
Gadis itu tetap mengacungkan senjata, bahkan jarinya nyaris menyentuh pelatuk. Tangannya bergetar hebat, napasnya memburu, wajahnya memerah menahan luapan emosi yang nyaris tak terkendali.
Zaidan tahu secara teknis, ia bisa saja melumpuhkan gadis itu dalam hitungan detik. Namun di depannya adalah warga sipil. Seorang korban. Dan satu kesalahan kecil saja bisa merenggut nyawa.
“Mbak…” panggil Zaidan lagi, kali ini lebih pelan.
“Kau masih mengingatku?”
Suara itu akhirnya keluar. Serak, bergetar, namun bukan ditujukan kepada Zaidan.
Gadis itu menatap lurus ke arah pria yang duduk diborgol di emperan ruko. Anehnya, pria itu masih tampak tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang berada di ujung maut.
“Aku tanya,” ulang gadis itu, suaranya meninggi karena amarah, “kau masih ingat aku?”
Ia tertawa pendek, sebuah tawa pahit yang menyakitkan.
“Enak banget hidupmu, ya. Setelah kau hancurkan hidupku, kau masih bisa tertawa, jalan ke sana-sini. Sedangkan aku… keluargaku… harus menanggung malu dan sakit seumur hidup!”
Pria itu akhirnya menegakkan duduknya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum menjijikkan.
“Oh…” katanya santai. “Aku ingat sekarang. Kau, ya?” Ia menyipitkan mata, seolah menikmati ingatannya sendiri. “Astaga… ternyata kau tumbuh jadi sangat cantik,” tambahnya setelah melihat gadis itu dari atas hingga bawah layaknya menelanjangi dengan tatapannya itu.
Tubuh gadis itu bergetar semakin hebat.
“Kau sudah dewasa sekarang,” lanjut pria itu tanpa rasa bersalah. “Dulu kau cuma bisa menangis di bawahku, minta aku berhenti. Aku masih ingat… semuanya.”
Ucapan itu seperti pisau.
Zaidan bisa melihat perubahan itu.Mata gadis itu memerah, rahangnya mengeras, dan jari di pelatuk semakin menekan.
Di saat itulah Zaidan benar-benar paham dengan situasi ini.
Bukan sekadar dendam. Ini luka lama. Luka yang ditinggalkan oleh kekerasan, yang tidak pernah sembuh.
Gadis itu bukan ancaman.
Ia adalah korban.
Dan jika Zaidan salah langkah sedikit saja, pagi ini akan berubah menjadi tragedi.
Tentu saja Zaidan tidak menginginkan hal itu. Dan satu lagi… ia tidak ingin menulis panjangnya laporan akibat hal ini.
“Tanda lahir itu… masih di tempatnya, ‘kan?” ucap pria itu santai, bahkan terdengar menikmati setiap kata yang keluar dari mulutnya. “Astaga, lucu sekali bentuknya. Asli… kamu tambah cantik sekarang.”
Ia terkekeh pelan. “Aku jadi ingin mencobanya lagi. Versimu yang sekarang pasti jauh lebih mengasyikkan.”
Kepalan tangan Zaidan mengeras. Rahangnya mengatup kuat. Jika bukan karena situasi saat ini dan tanggung jawab yang melekat padanya, pria itu sudah tumbang sejak kalimat pertama.
“DIAM!”
Teriakan gadis itu memecah udara. Matanya merah, air mata mengalir deras membasahi pipinya tanpa bisa dibendung.
“Berhenti!” suaranya pecah. “Berhenti keluarkan kata-kata menjijikkan itu!”
Senapan di tangannya terangkat lebih tinggi. Bidikannya kini benar-benar mantap, lurus ke kepala pria yang telah menghancurkan hidupnya.
“Mbak… tolong,” suara Zaidan tetap rendah, menenangkan, meski dadanya ikut bergejolak. “Turunkan senjatanya. Ini berbahaya.”
“Nggak!” teriak gadis itu histeris. “Dia harus mati! Dia harus mati!”
“Iya,” Zaidan mengangguk pelan. “Dia akan dihukum. Dia tidak akan lolos. Hukuman paling berat sudah menantinya.”
“Tidak!” gadis itu menggeleng keras. “Dia harus mati di tanganku!”
Zaidan melangkah setengah tapak ke depan, tetap menjaga jarak aman.
“Jangan kotori tanganmu untuk orang seperti dia,” ucapnya lembut namun tegas. “Biarkan hukum yang menghabisinya.”
“Kau nggak tahu apa yang kami rasakan!” isak gadis itu. Suaranya melemah, tenggelam dalam tangis. “Kau nggak tahu… sejak hari itu, ibuku sakit-sakitan. Aku nggak punya siapa-siapa selain dia…”
Tangannya yang memegang senapan mulai mengendur. Napasnya tersengal. Zaidan merasakan peluang itu, satu celah kecil di tengah badai emosi.
Namun pria itu… belum selesai.
“Kau tidak perlu takut,” katanya sambil menyeringai. “Aku bisa menjadikanmu istri ketigaku. Hidupmu bakal enak. Dan aku…”
Ia tertawa pendek. “Bisa kembali menikmati tubuhmu.”
“BAJINGAN!” teriak salah satu anggota, nyaris menerjang.
Gadis itu kembali menegang. Senapan terangkat. Jarinya tepat di depan pelatuk.
Sedikit lagi.
Sedikit lagi dan segalanya akan berakhir.
“Mbak!” Zaidan berseru keras.
Ia menatap gadis itu lurus-lurus.
“Tolong… pikirkan ibumu. Apa yang akan ia rasakan jika Mbak membunuh orang ini?”
Suara Zaidan bergetar, bukan karena takut melainkan karena empati. Ia bisa merasakan kesakitan yang dirasakan oleh gadis ini.
“Mbak akan menjadi kriminal. Bayangkan… betapa hancurnya hati ibu Mbak kalau kehilangan Mbak.”
Gadis itu terdiam.
Zaidan melangkah pelan, setapak demi setapak.
“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi, Mbak,” bisiknya. “Dia sudah cukup menderita.”
Tubuh gadis itu bergetar hebat. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi. Jari-jarinya semakin melonggar.
Dalam satu gerakan cepat dan terukur, Zaidan menyergap. Senapan direbut, dilempar ke arah anggota.
“Amankan!” perintahnya.
Gadis itu limbung. Tubuhnya merosot. Zaidan langsung menangkapnya sebelum jatuh ke lantai.
Ia pingsan dengan masih terisak, wajahnya basah oleh air mata, dan matanya tertutup.
“Mbak…” Zaidan menepuk pelan pipinya. “Mbak…”
Tidak ada respons.
Zaidan mengangkat tubuh lemah itu, menggendongnya dengan hati-hati menuju mobil.
“Hati-hati,” suara menjijikkan itu terdengar lagi. “Jangan sampai lecet tubuh indahnya.”
Langkah Zaidan terhenti.
Ia menoleh perlahan.
Tatapannya dingin. Sangat dingin.
Beberapa anggota sudah memukul tersangka itu, meluapkan amarah yang sejak tadi tertahan.
“Kau…” suara Zaidan rendah namun penuh ancaman.
“Tunggu aku nanti.”.