NovelToon NovelToon
Titik Penghubung

Titik Penghubung

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:202
Nilai: 5
Nama Author: prasetya_nv

sebuah kehancuran adalah sebuah derita bagiku, seperti kutukan akan kelakuan berat masa laluku. nyatanya itu hanyalah sebatas prasangka. _Ailavati Keysa Maharani.

wajah datar tampak acuh adalah penguat ku, aku terlalu takut untuk dikasihani sebagai alasan pertemanan ku. hidupku telah luluh lantah atas kehancuran.~Alga Mahensa Putra

Di sinilah kisahku dimulai.
Aku Aila Putri cantika yang memiliki trauma akan masalalu, yang di pertemukan dengannya Alga Mahensa Putra.

Pria yang memiliki parasa tampan dan berwajah datar.
Akankah Aku bisa bersamanya?
Apakah ego kita yang akan sama sama menyakiti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetya_nv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kembalinya Aksara

Temaramnya lampu kota dan sunyinya hari ini. di bawah sinar rembulan yang indah. Aku melihat bayangan yang tampak nyata berdiri di sana. Aku berada di balkon kamar memandang bintang bintang yang di temani rembulan di langit yang gelap ini. Rasa penasaran ku membawaku kepada suatu kebenaran yang indah. Di sana, berdiri orang yang sangat ku kenali.

Aku mematung, pandanganku terpaku padanya. Seakan ini adalah mimpi.  Badanku gemetar untuk sekedar melangkah.

Di bawah lampu temaram itu, dia tersenyum. Senyum yang aku rindukan. Dia Aksara, dia yang selama ini aku rindukan. Tanganya melambai padaku.

Ku kira ini hanyalah bunga tidurku, karena terus memikirkannya. Tetapi dia memang kembali.

"Kak Ak... Sa. " Aku bicara dengan terbata. Mataku membola seakan tidak percaya ini. Aku berlari turun tanpa memikirkan apapun. Langkahku terlalu berbahaya hanya untuk sekedar menuruni tangga. Aku begerak segitu kencangnya tanpa aku saudarinya.

Kini aku berdiri di depannya. Dia merentangkan tangan membuatku menubruknya dengan pelukan kerinduan yang begitu hebat.

"Ak... Ku.. U rindu. " Aku berkata di tengah isak tangisku yang pilu. Ku pukul dada itu sebagai pelampiasan amarahku. Dia hanya diam akan tetapi pelukannya yang semakin erat adalah isyarat perasaannya.

Aku melepas pelukan ini dengan tiba tiba. Dan menatapnya lama.

"Kosong bukan?" Aku bertanya lirih. Dia menatapku terheran. Mengapa pelukan ini aku melepaskannya.

"Kenapa? " Dia mengeluarkan suaranya.  Isak tangisku kini berhenti. Aku menatapnya dengan datar. Rasa ini yang menyakitkan meluap dengan tiba tiba.

"Sama halnya dengan kamu yang pergi tanpa pamit. " Aku menjawabnya, rasa rindu itu mengapa menghilang. Hanya ada rasah marah yang tertinggal. Aku berlalu meninggalkannya tanpa mendengar pembelaannya.

"Maaf" Satu kata terdengar darinya saat aku berada di ambang pintu. Aku berhenti, enggan menoleh hanya untuk melihatnya. Kali ini aku ingin menghukumnya. Biarlah dia merasakan   sesuatu dalam diri yang menyiksa.

Lain halnya Aksara sekarang, dia terpaku menatap Sang adik yang pergi meninggalkannya. Rasanya sama sepertinya yang pergi meninggalkan rumah ini dahulu.

"Rasanya seperti tertusuk Ai, akan tetapi tiada luka. Bagaimana cara mengobatinya Ai. " Aksara membatin sambil menatap adiknya.

Disinilah aku sekarang, di tepi ranjang kamarku aku duduk dengan bergetar hebat. Kini aku harus kembali seperti ini lagi. Aku kembali terluka hanya karena rasa takutku.

Suara langkah kaki mendekat ke arahku, aku mendongak melihat mama datang ke arahku. Dia diam, duduk di sampingku. Aku menjatuhkan kepalaku di bahunya. Mama melakukan hal sederhana yang mampu menenangkanku. Tanganku yang bergetar hebat di genggamnya dengan lembut.

Aku terasa tenang, air mataku mulai jatuh menyalurkan perasaanku yang menyiksa. Mama sadar aku menangis dia mengusap kepalaku dengan tulus.

"Aila, sesakit apapun itu kamu harus menghadapinya. Jangan lari! " Mama berkata dengan hati hati.

"Sa.. kit ma" Hanya kata itu yang mampu terucap dari bibirku ini.

"Kamu bisa. Hadapi La, kalau tidak sekarang kapan? " Mama sepenuhnya menghadap ku dengan menatapku penuh dengan keyakinan.

Aku mengangguk, mungkin ini waktunya. Aku harus menyelesaikannya. Aku harus bisa berdamai. Dengan tertatih aku bangkit dan melangkah menemui Aksara di kamarnya.

Langkahku semakin melambat saat aku melihat pintu kamarnya yang tertutup. Aku ragu untuk sekedar melangkahkan kakiku kedepan sana. Aku sempat terdiam sebentar saat ingin menarik ganggang pintu di depanku. Mataku ku pejamkan sebentar mengatur nafasku yang kembali memburu. Aku membukanya.

Rasanya seperti ada hal lain yang ku rasakan saat aku melihatnya. Dia di sana berdiri tidak tenang. Dia terlihat acak acakan. Sepertinya dia sedang gusar.

"Kak Ak... " Aku memanggilnya lirih. Suaraku yang lirih sepertinya tidak di dengarnya. Dia masih sama, berdiri gusar di sana. Aku melangkah mendekatinya. Ku pegang pundaknya dengan pelan. Dia berjingkat, kaget melihatku.

"Aila, maaf. Kakak salah, rasanya kosong saat kamu tinggalkan. " Dia berkata dalam satu tarikan nafas membuatku terpaku.

"Mengapa dirinya? " Batinku bertanya dengan kelakuannya.

Aku mencoba menenangkan ya. Ku raih tangannya yang telah lama tidak ku genggam. Kini tangan itu bisa ku genggam kembali di saat aku gusar.

"Maaf, Aila tidak tahu harus seperti apa. Aila sayang kakak, akan tetapi Aila marah." Aku berkata dengan jujur mengutarakan rasa yang membuatku bingung.

"Aila berhak marah, jangan di tahan" Dia membelai rambutku lembut. Air mataku luruh tanpa bisa ku cegah. Dia memelukku erat sambil menenangkanku yang mulai menangis.

"Kakak jangan pergi. Aila takut" Aku berkata sesenggukan. Aku dan Aksara berpelukan erat melampiaskan masa rinduku. Malam ini, aku ingin berada di dekatnya. Aku takut dia akan pergi kembali dariku.

" Kak Ak, selama kakak pergi kakak ada di mana? " Aku bertanya. Dia memandangku dan tersenyum. Sekarang ini kami lagi menonton TV di ruang kamarku. Kami melihat serial drama yang sedang naik daun.

"Tinggal di rumah Aldi" Dia menjawab dengan cengiran khasnya.

Aku terheran dengan jawabanya. Kemana aku selama ini dia sedekat itu. Mengapa aku tidak bisa menemuinya. Reihan pun sebelum pergi tahu di mana kakakku.

"Ternyata rasanya di bohongi orang sekitar itu sakit ya." Aku mengucapkan kalimat itu dengan mata memandang langit kamarku. Ku tahan air mata ini agar tidak kembali jatuh.

"Maaf, waktu itu aku belum bisa menemuimu" Dia kembali berucap dengan memalingkan wajahnya. Seakan kembali menutupi sesuatu.

"Mengapa? " Aku meminta kejelasannya. Dia hanya tersenyum pahit memandangku. Aku memandangnya dengan rasa penasaran. Akan tetapi, dia diam tanpa mau mejawabku.

"Janji kamu baik baik saja" Dia mengucapnya dengan serius. Dia memastikan kondisiku. Aku mengangguk diam menunggu dia berkata.

"Kaki kakak patah tulang, kakak harus menggunakan kursi roda." Dia menjawabku alasannya mengapa dia tidak pernah kembali. Dia menyembunyikan semua itu dariku.

"Lantas kenapa kakak tidak kembali? " Mataku berkaca kaca mendengarkan semua itu.

"Kakak tidak ingin kamu melihat kakak seperti itu Ai, rasanya kakak melihatmu dengan versi itu kakak takut. " Dia memberikan alasan yang tak pernah ku duga. Aku berpikir mereka semua egois. Tanpa mengingatku. Tapi nyatanya mereka semua terlalu pintar menyembunyikan semuanya. Mereka semuanya masih mendekapmu dengan kekhawatiran. Mereka tidak meninggalkanku, tapi mereka mengawalku. Aku hanya berpikir hal yang terlalu jauh.

"Kak Ak, maaf aku sempat berpikir hal lain tentang kakak. " Aku berkata sambil meminta maaf atas semua pikiran yang selalu berisik di kepala.

" Tidak apa. Dek, kamu mau kan menemui dokter Inggita lagi? " Kak Aksa bertanya dengan sedikit was was. Aku mengangguk mengiyakan. Aku ingin berjalan selayaknya. Aku ingin melangkahkan kakiku ke depan tanpa ragu. aku tidak menginginkan hidup dalam kekhawatiran yang tanpa ujungnya. aku ingin merasakan bahagia

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!