Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam adalah bertahan
“Sore bapak, perkenalkan ini terapis yang akan membantu Kanara.”
Nura melangkah maju. Matanya membulat seketika.
Di depannya, berdiri gadis kecil yang tadi siang menangis di tempatnya bekerja. Kanara.
“Kamu?” suara rendah, dalam dan tegas, menyapanya.
Suara ayah Kanara.
Mba Tita memandang mereka bergantian. “Maaf, kalian saling kenal?”
Nura tersenyum, “Iya, kami pernah ketemu.”
“Halo, Kanara,” sapa Nura pada gadis kecil itu. “Masih ingat aku?”
Kanara mengangguk kecil. Ia masih menggunakan pakaian yang sama seperti tadi siang.
“Kita main sama-sama, yuk!” Nura tersenyum ceria.
Kanara tidak bergerak.
“Di mana ruangannya?” tanya ayah Nura, suaranya masih dingin dan tegas.
“Di sebelah sana,” tunjuk Nura. “Maaf, dengan bapak…”
“Saya Elang,” jawabnya singkat.
“Saya Nura. Silakan lewat sini, Pak,” Nura memimpin jalan.
“Ayo, Kanara!” Elang menarik Kanara dengan tiba-tiba.
Nura melihat tubuh Kanara menegang ketika tangan Elang menyentuh lengannya. Namun, ia tetap mengikuti langkah ayahnya.
Nura membukakan pintu, ketiganya lalu masuk ke dalam ruangan.
Elang dan Kanara duduk di tengah karpet sementara Nura membaca berkas dan catatan pasien.
Kanara Aulia Azzahra. Usia 6 tahun.
Diagnosa awal: Selective mutism dengan indikasi trauma kompleks.
(Cat: Gangguan kecemasan yang membuat seseorang, biasanya anak-anak, tidak mampu berbicara dalam situasi sosial tertentu)
Nura menghela napas, menutup map biru di tangannya. Ia sudah menduganya sejak pertemuan tadi siang.
Kasus seperti ini tidak jarang. Tapi yang jarang adalah catatan kecil di bawahnya.
Pasien menunjukkan respon positif pada figur perempuan dewasa non-keluarga.
Nura mendekati keduanya. Kanara otomatis memeluk lututnya, sebagai tanda melindungi diri.
“Kanara…,” panggil Nura lembut.
Bahu kecil itu sedikit menegang.
Kanara mundur ke sudut ruangan. Posisi duduknya masih sama, memeluk lutut. Tatapannya kosong tapi siaga, siap lari.
Nura tidak memaksa interaksi.
Ia duduk di lantai mulai menyusun puzzle bergambar princess. Tidak ada kata-kata.
Sementara Elang mengamati dari kursi sudut, dengan pandangan tidak yakin.
“Kanara tidak perlu main kalau tidak mau,” ucap Nura tenang, tanpa menoleh. “Kak Nura di sini.”
Kanara melirik sekilas, hanya satu detik.
Namun, bagi Nura itu cukup sebagai data. Ia mencatat di kepalanya, respons visual disingkat, tanpa distress.
Sesi pertama cukup kaku. Hingga sesi berakhir, Kanara masih tetap di tempatnya. Meskipun bahunya mengendur, dan tubuhnya terlihat rileks, Kanara belum mau mendekati Nura dan ikut bermain.
“Wah, gak terasa waktunya mainnya sudah habis,” Nura berseru dengan nada ceria. “Ternyata nyusun puzzle bisa bikin lupa waktu.”
Elang berdiri lebih dulu, mendekati Nura yang sedang merapikan puzzle.
“Apakah… ini berhasil?” tanyanya.
Nura menjawab dengan jujur, “Ini baru perkenalan.”
**********
Nura baru menjatuhkan dirinya di atas sofa di depan ruang admin. Ia meregangkan tangan dan kakinya.
“Huaaa,” serunya sambil memijat bahu kanan kiri bergantian.
“Kak Nura, dipanggil Bu Maya,” ujar mba Tita memberitahu.
“Hah? Ada apa?” tanyanya dengan mata melebar. “Aku bikin kesalahan?”
Mba Tita mengangkat bahu.
Nura melangkah menaiki tangga menuju lantai dua, tempat Bu Maya, psikolog dan dokter sekaligus pemilik klinik.
Tok tok tok
Nura mengetuk pintu, perlahan. Dadanya berdegup kencang. Tumben-tumbenan Bu Maya memanggilnya. Biasanya hanya terapis yang membuat kesalahan atau melanggar aturan yang menginjakkan kaki di lantai dua.
“Masuk.”
Naura mendengar sahutan dari dalam.
Nura membuka pintu. Di dalam, terlihat seorang wanita berumur 40-an duduk di belakang meja. Rambutnya dicepol tinggi, wajahnya di make up tipis, kacamata bertengger di hidungnya.
“Permisi Bu,” ucap Nura melangkah masuk. “Kata Mba Tita, Ibu mencari saya?”
Bu Maya melihat Nura dari balik kacamatanya.
“Ah, iya Nura,” Bu Maya mengalihkan pandangannya dari kertas di mejanya. “Duduk.”
Ruang konsultasi bu Maya lebih sunyi dari Raung terapi. Lampunya hangat. Tidak ada mainan. Hanya meja kayu dan dua kursi.
Nura menggeser kursi persis di depan Bu Maya. Ia duduk tegak. Tangannya terlipat di pangkuan.
“Kamu udah melakukan sesi dengan Kanara?” tanya Bu Maya langsung pada inti pembicaraan.
Nura mengangguk.
“Gimana hasilnya? Ada penolakan.”
Nura menggeleng, “Tidak ada penolakan, Bu. Cuma Kanara belum mau ikut main.”
“Masih diam?”
Nura mengangguk kecil.
Bu Maya tidak langsung melanjutkan pembicaraan. Ia berdiri, melangkah menuju meja kopi dan teh di sudut ruangan.
Ia membuat dua cangkir teh, lalu mendorong satu ke arah Nura. Sesuatu yang biasa ia lakukan ketika akan membahas hal berat.
“Kanara bukan anak yang tidak bisa bicara,” ucapnya kemudian. “ Dia bisa bicara tapi ia tidak merasa aman untuk bicara.”
Nura mengangguk pelan.
“Diagnosis utamanya Selective mutism,” lanjutnya lagi. “Tapi itu bukan akar masalahnya, tapi gejala.”
Nura mengangkat pandangannya. “Trauma?”
Giliran bu Maya mengangguk. “Banyak orang menganggap trauma anak selalu berupa kekerasan fisik,” jelasnya. “Pada Kanara, lukanya datang dari kombinasi kehilangan mendadak, ketakutan dan pengabaian emosional.”
Nura menelan ludah.
“Pemicunya adalah kehilangan ibunya,” Bu Maya menjelaskan.
“Meninggal?” tanya Nura.
“Iya.”
Hati Nura tersentuh. Anak sekecil itu sudah harus kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupnya.
“Setelah itu, Kanara hidup dalam kondisi tidak stabil. Ayahnya hadir secara fisik, tapi emosionalnya tidak ada.”
Nura membayangkan Elang yang tegas, dingin dan kaku.
“Tubuh Kanara selalu dalam mode siaga,” Bu Maya masih menjelaskan. “Ia selalu menunggu sesuatu yang buruk terjadi. Bicara, bagi dia, berarti menarik perhatian. Dan perhatian, dalam pengalaman traumatisnya, adalah sesuatu yang berbahaya.”
Nura terdiam cukup lama.
Bu Maya menyesap tehnya.
“Lalu,” Nura bersuara. “Ketakutannya pada cermin?”
Bu Maya mengangkat alisnya. “Kamu tahu mengenai itu?”
Nura mengangguk. Ia kemudian menceritakan peristiwa di pusat bermain anak, tempat di mana ia untuk pertama kalinya bertemu dengan Kanara.
Sepanjang Nura bercerita, Bu Maya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Cermin sering memicu anak-anak dengan trauma yang melibatkan rasa bersalah atau kebingungan identitas. Ada kemungkinan Kanara menyaksikan sesuatu… atau merasa bertanggung jawab,” kata bu Maya setelah Nura selesai bercerita.
Nura menarik napas panjang. “Jadi… diam adalah caranya bertahan,” gumamnya.
“Betul,” balas bu Maya.
“Apa yang paling dia butuhkan sekarang?” tanya Nura.
Bu Maya menatapnya serius. “Konsistensi. figur dewasa yang tidak memaksa, tidak pergi, dan tidak mudah emosional.”
Nura terdiam. Dadanya terasa sesak. Bukan hanya karena Kanara, tapi karena ia tahu betapa berat beban itu.
“Karena itulah kenapa,” lanjut Bu Maya. “Aku meminta kamu untuk jadi terapis tetapnya.”
Nura menutup mata sejenak, lalu membuka kembali dengan napas yang lebih tenang. ia mengangguk pelan. "Saya akan melakukannya."
Bukan karena ia merasa mampu. Tapi karena ia tahu, anak seperti Kanara tidak akan bertahan jika kembali ditinggalkan.
Dan di titik itu, Kanara menyadari sesuatu. Terapi ini bukan tentang membuat Kanara berbicara. Melainkan untuk meyakinkannya kalau dunia tidak sepenuhnya berbahaya.
Setelah beberapa saat, Nura berdiri mengambil tasnya.
kasian kl tiba2 histeris
Aku seneng bacanya, aku seneng membaca cerita yg seolah nyata tdk terlalu terasa Fiktif. Semoga Karya Author terus bisa kami nikmatii ... 😍😍