NovelToon NovelToon
The Monster'S Debt

The Monster'S Debt

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Berbaikan
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
​Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
​Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 Abu dan Ambisi Baru

​Musim gugur di Tuscany membawa warna jingga dan merah yang membara ke perbukitan, seolah-olah alam sedang mengenang api yang melahap Villa d'Oro di Danau Como seminggu yang lalu. Di sebuah vila kuno yang tersembunyi di balik barisan pohon cemara, kesunyian menjadi kemewahan sekaligus kutukan. Tidak ada lagi suara tembakan, tidak ada lagi sirene, hanya suara angin yang berdesir di antara dahan zaitun.

​Aruna berdiri di dapur, tangannya yang biasanya memegang pistol kini kembali memegang pisau dapur. Ia sedang mengiris apel untuk Bumi. Namun, gerakannya berbeda. Tidak ada lagi keraguan. Setiap irisan dilakukan dengan presisi yang tajam, matanya tidak lagi kosong, melainkan penuh dengan kewaspadaan yang telah mendarah daging.

​Dante duduk di meja kayu besar di belakangnya. Ia mengenakan kemeja linen putih yang longgar, menutupi balutan perban di perutnya yang kini mulai mengering. Di depannya tersebar beberapa ponsel satelit dan tablet yang terus berkedip. Sejak kematian Julian Thorne, kekaisaran finansial Thorne hancur berantakan, menciptakan lubang besar dalam ekosistem dunia bawah tanah Eropa.

​"Bagaimana kabar Ayah?" tanya Dante, memecah kesunyian.

​"Dia lebih banyak diam di kamar," jawab Aruna tanpa menoleh. "Dia menghabiskan waktunya menulis surat untuk Elena yang tidak akan pernah bisa dikirim. Penyesalan adalah penjara yang paling kejam, bukan begitu?"

​Dante menghela napas. "Kita semua adalah narapidana di penjara itu, Aruna. Aku, kau, dan bahkan si kecil Bumi yang harus kehilangan masa kecilnya."

​Aruna berbalik, meletakkan piring apel di depan Dante. "Bumi tidak kehilangan masa kecilnya. Dia hanya belajar lebih cepat tentang dunia yang sebenarnya. Dia aman sekarang. Itu yang terpenting."

​"Aman adalah kata yang relatif," Dante mengambil satu irisan apel. "Enzo melaporkan bahwa meskipun Julian sudah mati, dewan direksi Aethelgard tidak senang dengan hilangnya data Icarus. Mereka mencari kambing hitam. Dan saat ini, nama Valerius berada di urutan teratas daftar mereka."

​Pukul sepuluh pagi, sebuah mobil Mercedes hitam antipeluru memasuki halaman vila. Enzo turun dari kursi kemudi, wajahnya tampak kaku. Ia membawa sebuah koper hitam kecil yang tersegel secara diplomatik.

​"Tuan, Nyonya," Enzo memberi salam dengan anggukan hormat. "Informasi dari Paris sudah datang. Pemerintah Prancis secara resmi menutup kasus penyerangan di biara sebagai 'pertikaian antar geng'. Beatrice Thorne telah diberikan identitas baru dan dipindahkan ke sebuah lokasi rahasia di Bordeaux. Dia mengirimkan ini untuk Anda, Nyonya."

​Enzo meletakkan koper itu di atas meja. Aruna membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah kunci fisik kuno dan sebuah surat wasiat yang telah disahkan oleh notaris bawah tanah di Swiss.

​"Apa ini?" tanya Aruna.

​"Itu adalah akses ke sisa-sisa aset legal Beatrice yang tidak sempat dicuri Julian," Dante menjelaskan, matanya menatap kunci itu dengan serius. "Dia memberikannya padamu. Itu cukup untuk membangun kembali bisnis garmenmu di tingkat internasional, atau... cukup untuk mendanai pasukan kecil untuk melindungi diri kita selamanya."

​Aruna menyentuh kunci dingin itu. Ia teringat janjinya pada Elena. Ia tidak ingin lagi menjadi korban. Ia tidak ingin lagi hanya bersembunyi di balik punggung Dante.

​"Aku tidak ingin kembali ke mesin jahit, Dante," ucap Aruna dengan suara rendah namun penuh otoritas. "Setidaknya, tidak hanya itu. Aku ingin kita menggunakan aset ini untuk mengubah Valerius. Kita tidak bisa terus hidup sebagai target. Kita harus menjadi institusi yang tidak bisa disentuh oleh dewan direksi manapun."

​Dante menatap Aruna, sedikit terkejut dengan perubahan visi wanita itu. "Kau ingin berpolitik dalam dunia bawah?"

​"Aku ingin memegang kendali. Selama ini kita selalu bereaksi terhadap serangan orang lain. Julian, Marco, bahkan ayahku sendiri. Mulai sekarang, aku ingin kita yang menentukan siapa yang boleh bernapas dan siapa yang harus tumbang."

​Sore harinya, Aruna menemui ayahnya, Hadi, di balkon lantai dua. Pria tua itu tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Ia menatap matahari terbenam dengan mata yang berkaca-kaca.

​"Ayah," panggil Aruna pelan.

​Hadi menoleh, senyum lemah muncul di wajahnya. "Aruna... aku sedang memikirkan hari saat kalian lahir. Kau yang menangis paling keras, dan Elena... dia diam saja, seolah dia sudah tahu dunia ini akan menyakitinya."

​Aruna duduk di samping ayahnya. "Elena menyelamatkan kita, Ayah. Dia membasuh dosa darah Kirana dengan caranya sendiri. Sekarang, giliran kita untuk memastikan pengorbanannya tidak sia-sia."

​"Bagaimana caranya?"

​"Dante akan memindahkan kita ke Amerika Selatan bulan depan. Di sana, kita akan membangun basis baru. Ayah akan membantu Enzo mengatur sistem logistik. Pengetahuan Ayah tentang cara kerja sindikat lama adalah aset yang berharga. Aku tidak ingin Ayah hanya duduk di sini dan menunggu ajal."

​Hadi menatap putrinya dengan rasa bangga sekaligus ngeri. Ia melihat bayangan kakek Aruna dalam cara wanita itu bicara—dingin, strategis, namun tetap memiliki inti emosional yang kuat. "Kau sudah menjadi salah satu dari mereka, Aruna."

​"Aku menjadi apa yang diperlukan untuk bertahan hidup, Ayah."

​Malam itu, di ruang kerja yang diterangi lampu temaram, Dante dan Aruna duduk berhadapan. Mereka sedang menyusun peta kekuatan baru. Dante menjelaskan tentang keluarga-keluarga mafia di Brasil dan Kolombia yang bisa menjadi sekutu potensial.

​"Kita akan membutuhkan wajah baru," kata Dante. "Valerius adalah nama yang terlalu panas di Eropa. Kita akan menggunakan nama perusahaan baru: Kirana Global Holdings."

​Aruna tersenyum tipis. "Nama suamiku sebagai kedok untuk organisasi mafiamu? Satria pasti akan tertawa di kuburannya."

​"Bukan kedok, Aruna. Ini adalah transformasi. Kita akan bergerak di bidang logistik dan teknologi keamanan. Legal di permukaan, mematikan di bawah tanah."

​Tiba-tiba, salah satu ponsel satelit Dante berdering. Dante menjawabnya, dan wajahnya mendadak mengeras. Ia menyerahkan ponsel itu ke arah Aruna dengan mode loudspeaker.

​"Halo, Aruna," sebuah suara wanita yang sangat familiar terdengar dari seberang sana. Suaranya serak, seperti seseorang yang baru saja pulih dari luka bakar hebat.

​Jantung Aruna seolah berhenti berdetak. "Elena?"

​Hening sejenak. Hanya suara napas berat yang terdengar.

​"Jangan pernah percaya bahwa air danau bisa membunuh iblis sesungguhnya, Saudari. Julian Thorne memang sudah mati, tapi dia punya satu 'anak angkat' lagi yang tidak pernah disebutkan di dokumen Icarus. Namanya adalah Leo, dan dia sedang menuju Italia sekarang. Dia tidak menginginkan uang, Aruna. Dia menginginkan kepalamu."

​Sambungan terputus.

​Aruna menatap Dante. Ketenangan yang mereka bangun selama seminggu ini hancur berkeping-keping dalam hitungan detik. Elena masih hidup—setidaknya, suaranya terdengar hidup. Dan musuh baru telah muncul dari balik bayang-bayang Julian Thorne.

​Dante segera berdiri, meski ia meringis menahan sakit di perutnya. "Enzo! Siapkan tim evakuasi! Kita berangkat ke pelabuhan Livorno malam ini!"

​Aruna tidak panik. Ia berdiri, mengambil pistol yang ia letakkan di atas meja, dan memeriksanya dengan gerakan yang sangat lancar. Ia menatap ke luar jendela, ke arah kegelapan hutan Tuscany yang kini tampak mengancam.

​"Biarkan dia datang," ucap Aruna pelan. "Aku sudah bosan melarikan diri."

​Bab 33 ditutup dengan kembalinya ketegangan yang mendebarkan. Harapan akan kedamaian ternyata hanyalah ilusi singkat. Dengan Elena yang kemungkinan masih hidup sebagai informan misterius dan kemunculan Leo, "anak angkat" rahasia Julian, Aruna sadar bahwa perang yang sebenarnya baru saja dimulai. Dia bukan lagi korban; dia adalah permaisuri perang yang sedang menunggu penantangnya di tengah perbukitan Italia yang indah namun berdarah.

1
Nasya Sifa Aura
sampai sini sungguh mengesal kn dante atau labonte sbgai lelaki tdk punya ketegasan
Kusii Yaati
Aruna harus di latih agar menjadi kuat dan tangguh 💪
mama ubay
keren cerita novelnya 💪💪💪lanjut lanjut
mama ubay
berarti aruna sudah jadi kekasih dante yah??
mama ubay
mantap.semoga dante bs jatuh cinta sm aruna
mama ubay
tidak lama lagi d tandai sebagai orang istimewah
mama ubay
selamat tp masuk kandang harimau
mama ubay
emang tdk bs panggil nama apa
mama ubay
keren keren letak tanda baca dan alur cerita tdk membuat bosan 👍👍👍👍👍
mama ubay
aanak yg polos
mama ubay
setiap kebaikan insyaALLAH pasti akan kembali lg ke diri kita👍
mama ubay
andaikan itu aku pasti cari aman
mama ubay
penasaran kenapa dia d tolong
Vanni Sr
di bab bro aruna sm dante nikah?? ko tau² udh kek suami istri aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!