Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.
Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.
Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2
Seusai makan Peno dan Dimin pun menuruti apa perintah bapak, mereka masing masing memanggul gulungan daun singkong untuk dibawa pulang, berdua jalan beriringan dengan Dimin yang berjalan didepan diikuti Peno dibelakangnya.
"aku duluan ya No, jangan lupa nanti malam kamu ditantang main catur oleh pak Supri!" ucap Dimin saat sampai didepan gang menuju rumahnya.
"iya Min, nanti kamu jemput aku ya, soalnya motor bapak mau dipakai buat kondangan!" jawab Peno langsung melanjutkan perjalanannya pulang.
Sesampainya dirumah Peno langsung menuju kolam ikan milik bapaknya, ya keluarga Peno punya kolam ikan dibelakang rumah sebanyak empat petak kolam, semuanya diisi ikan bawal, Peno yang sudah jadi pengangguran sejak lulus SMA mempunyai kesibukan merawat kolam kolam ikan itu.
Air didesa tempat tinggal Peno memang sangat berlimpah, irigasi sangat lancar dari hulu ke hilir, maka dari itu sebagian besar penduduk desa memiliki mata pecarian sebagai petani, ada yang sawahnya atau lahannya ditanami padi ada juga yang dimanfaatkan untuk budidaya ikan.
Seperti sawah milik pak Waluyo bapaknya Peno juga menanam padi dan hanya satu petak saja yang ditanami singkong, selain untuk fariasi tanaman pak Waluyo juga punya tujuan agar pakan untuk ikan gampang nyarinya.
Setelah memberi makan ikan ikannya Peno masuk rumah lewat pintu belakang, lalu ia segera mandi dan berganti pakaian, sebab tadi basah kuyup akibat dilempar oleh Dimin ke petak sawah berlumpur.
"sudah pulang kamu No?' tanya mamak yang sedang menyetrika pakaian saat melihat anak sulungnya mau masuk kamar.
"sudah mak, ini mau ganti baju, tadi basah dan kotor, habis ini mau kesawah lagi buat angkut singkong kerumah!" jawab Peno lalu masuk kamarnya dan berganti pakaian.
"mau diangkut pakai apa No singkongnya, banyak ga?" ucap mamak lagi saat Peno keluar dari kamarnya.
"tadi ada sekitar empat karung mak, ini Peno mau pinjam gerobaknya pak Darman!" jawab Peno lalu pergi keluar rumah untuk meminjam gerobak.
"aku ikut mas!" ucap Peni adiknya Peno, seketika ponsel yang dari tadi ia pegang sambil rebahan langsung ia letakan dan berdiri mengikuti Peno.
"asalamualaikum pak!" ucap Peno saat sudah sampai depan rumah pak Darman tetangganya.
"waalaikumsalam, eh kamu No, mau kemana kok bareng adikmu!?" jawab pak Darman dan bertanya balik pada Peno.
"mau kesini pak, disuruh bapak pinjam gerobak buat angkut singkong!" kata Peno menyampaikan niatnya.
"oooh, itu disamping rumah ambil saja, banyak No panen singkongnya!?" ucap pak Darman.
"alhamdulillah pak lumayan, gerobaknya saya bawa pak, permisi!" jawab Peno langsung mendorong gerobak milik pak Darman menuju sawah dengan Peni sudah naik diatasnya.
"iya No, hati hati!" kata pak Darman kembali melanjutkan kegiatannya.
Peno pun mendorong gerobak menyusuri jalan kampung yang belum pernah tersentuh aspal sama sekali menuju sawah milik bapaknya, sampai disana empat karung singkong sudah tertata dipinggir jalan siap diangkut.
"turun Ni, ucap Peno menyuruh adiknya turun dari gerobak, Peni pun segera turun Peno menaikan karung berisi singkong satu persatu, setelah keempat karung naik semua keatas gerobak Peno segera menarik gerobak sendirian menuju rumah dengan Peni mendorong dibelakang.
Sampai dirumah disambut mamak membantu menurunkan singkong hasil panen sawah mereka, Peno berpamitan untuk mengembalikan gerobak, mamak tak lupa memberi ongkos sewa gerobak dan meletakan singkong di gerobak untuk tanda terimakasih pada yang punya.
"assalamualaikum pak, mau mengembalikan gerobak!" ucap Peno pada pak Darman yang masih sibuk dengan pekerjaannya membuat bangku dari kayu.
"walaikumsalam, kembalikan ditempat semula saja No, memangnya sudah selesai!?" kata pak Darman.
"sudah pak, ini uang sewanya terimakasih dan digerobak ada sedikit singkong bisa digoreng buat teman ngopi!" jawab Peno lalu memberikan uang lima ribu pada pak Darman.
"ah iya No, terimakasih juga buat singkongnya, nanti biar digoreng sama istri saya!" kata pak Darman sambil menerima uang pemberian Peno.
Peno pun pamit pada pak Darman dan langsung segera pulang kerumah, sampai dirumah bapak juga sudah pulang dari sawah sedang membantu mamak membagi singkong dengan plastik untuk dibagikan pada para tetangga, disitulah tugas Peni dimulai, mengantar singkong pada para tetangga dekat mereka.
Malam harinya sehabis maghrib teman teman Peno mengajak peno untuk tanding catur di warung kopi milik yu Warni, sebab mendapat tantangan dari pak Supri, pak Supri adalah seorang ASN dikabupaten yang menjadi ASN karena prestasi main caturnya yang sampai juara ditingkat provinsi, tiga hari yang lalu dia sesumbar mencari lawan yang bisa mengalahkannya, jika ada yang bisa mengalahkannya dalam adu strategi di permainan catur akan dia beri hadiah.
Makanya teman teman Peno langsung saja membujuk Peno untuk mau bertanding dengan pak Supri, sebab mereka tahu Peno sangat pandai dalam bermain catur.
"pak Supri belum datang yu?" tanya Dimin pada yu Warni pemilik warung kopi, warungnya memang biasa untuk nongkrong kaum laki laki desa tersebut.
"belum, paling nanti sehabis isya biasanya, bapak bapak yang lain juga belum datang, ditunggu saja sambil ngopi!" jawab yu Warni.
"ya sudah yu, kami pesan kopi empat!" kata Maman salah saru sahabat Peno, lalu mereka pun mencari tempat duduk untuk ngobrol.
"kamu sudah siap kan No?" tanya Eko pada Peno.
"belum Ek, kan papan catur sama musuhnya belum ada, he he he he.......!" jawab Peno santai.
"ah kamu No, jawabnya selalu diluar prediksiku, maksudnya sudah berlatih belum!?" ucap Eko, protes dengan jawaban Peno.
"he he he he..... ngga perlu latihan Ek, yang penting main saja sambil mikir strategi!" jawab Peno lagi.
"kamu tenang saja Ek, Peno kan jagonya strategi catur, aku yakin nanti Peno akan menang lawan pak Supri!" ucap Maman ikut menambahi sambil meminum kopinya.
"memang kalau menang hadiahnya berapa sih?" tanya Peno pada teman temannya.
"lima ratus ribu No, lumayan kan bisa buat jajan!" jawab Dimin.
"ya wis, nanti kalau aku menang uangnya buat kita makan makan saja!" jawab Peno singkat lalu berdiri dan melangkah ke arah warung.
"yu, rokoknya dong satu batang!" ucap Peno.
"memang kamu sudah ngrokok No?" tanya yu Warni yang setahu dia Peno.belum merokok sambil menyerahkan satu batang rokok pada Peno.
"ya sudah yu, sejak lulus malahan, cuma ya ga begitu sering!" jawab Peno sambil menerima rokok dan menyalakannya.
Tak berselang lama pak Supri pun datang ditemani satu orang temannya yang biasa ikut nongkrong di warung yu Warni.
Setelah pak Supri memesan kopi dan duduk Dimin pun menghampirinya.
"pak, main catur lawan temanku?" ucap Dimin.
"jago apa engga, nanti cuma bisa bisaan saja!?" jawab pak Supri.
"dijamin jago pak, dan kalau temanku menang, pak Supri harus menepati janji ya!?" ucap Dimin lagi.
"pasti akan aku kasih hadiah kalau aku bisa dikalahkannya!" jawab pak Supri lagi.