"JANGAN GERAK!"
"Siapa!?"
"SHH!! Diam atau kita mati konyol!"
Pertemuan tidak sengaja Noah Christian dengan Billie Ashton di saat hidup kedua nya berada di ujung tanduk ternyata membuat Noah penasaran dan mencari identitas gadis yang membekap mulut nya di malam gelap itu.
Wajah nya tidak begitu terlihat, hanya suara parau dan tangan gemetar serta bau wangi yang membuat Noah tidak bisa melupakan nya. Dia terus mencari, keberadaan gadis yang sembrono dan misterius itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS. 2. Billie back home.
Seminggu berlalu, belum juga ada kemajuan tentang gadis yang sedang di cari Noah. Tentu saja sulit di temukan, selain ciri - ciri nya yang tidak jelas, mustahil juga mereka menemukan gadis yang tangan nya wangi, dan lagi hanya Noah yang tau wangi nya.
"Ini rambut apa an kriwil - kriwil begini." Ucap Noah, dia memandang memandang seorang gadis yang berdiri di depan nya.
"Bergelombang katamu, kan? Ini dia bergelombang, badan nya juga bergelombang." Ucap Vincent dengan pelan di sebelah Noah.
"Ini kribo! Pergi!" Usir Noah, gadis itu kesal di katai kribo, ia lalu pergi.
"Bre, ini udah ke seratus gadis yang kita tangkep.. Tapi semua nya bukan yang lu cari." Ucap Vincent.
'Dimana kamu..' Batin Noah.
"Tetep cari, aku nggak percaya nggak bisa nemuin dia." Ucap Noah, Vincent yang mendengar itu hanya bisa meringis kesal.
Vincent tau, apapun yang di inginkan Noah, harus ada. Noah tidak pernah main - main dengan ucapan nya, dan lagi.. Ini kali pertama dia begitu terobsesi pada satu gadis yang entah dari mana asal nya.
'Gue rasa yang dia cari ini kuntilanak.' Batin Vincent.
Sementara itu di tempat lain..
Seorang gadis sedang berdiri di gazebo yang di bawah nya terdapat kolam ikan koi, wajah nya pucat tapi tatapan nya dingin, Billie..
"Billie.." Panggil seseorang, Billie menoleh.
Billie, bernama lengkap Billie Ashton. Usia 21 tahun tinggi 160 cm, dia cantik, hebat dalam bela diri, menembak, memanah, dan dia anggota dari kelompok gelap tersembunyi. Bukan Mafia yang merajai wilayah, dia adalah anggota pembunuh bayaran.
Kelompoknya sangat rahasia dan berkedok sebagai tempat dimana orang - orang bisa merekrut pengawal yang tangguh, bagaimana pun mereka tinggal di negara hukum, jadi mereka tidak mau mencolok.
"Kamu jangan gegabah, lukamu masih belum pulih total." Ucap seorang pria pada Billie, Lucas.
"Om nggak perlu khawatir, nggak bakal ada yang ngenalin siapa aku." Ucap Billie.
"Tapi dia ini orang yang berbahaya! Om nggak akan biarin keponakan yang om besarin mati konyol di tempat yang sama." Ucap Lucas. Lucas adalah adik kandung dari ibunya Billie, om nya.
"Hehehe, mana mungkin mati konyol. Ayo lah om, ini satu - satu nya kesempatan buat balas dendam, aku nggak terima mama mati sia - sia." Ucap Billie.
"Nak, kamu masih luka." Ucap Lucas.
"Udah aman, please om.." Billie memohon.
"Kamu ahli menembak, tembak aja dari jauh." Ucap Lucas.
"Terus dia akan di kenang selamanya sebagai korban, gitu? Orang - orang akan mendoakan nya sebagai pahlawan, gitu? Aku nggak ikhlas!" Ucap Billie.. Lucas memejamkan matanya frustasi.
"Bunuh musuh terang - terangan tuh nggak seru. Aku mau matiin dia pelan - pelan dari dalam, dia paling peduli sama kehormatan keluarganya kan? Aku pengen bongkar satu persatu kebusukan nya ke publik, biar orang - orang tau muka asli dia." Ucap Billie lagi.
"Oh ya, potong - potong danging mereka juga seru, kasih makan ke Ottan." Ucap Billie lagi.
"Nak, om tau ini dendam kamu.. Tapi.."
"Om.." Billie menatap Lucas dengan tatapan memohon.
"Ya sudahlah, om mana pernah bisa larang kamu. Tapi nak, ingat kamu masih ada orang tua di sini.. jangan konyol kalo sudah kepepet, kabari om." Ucap Lucas, Billie tersenyum.
"Makasih om, hehehe.. Besok aku pergi." Ucap Billie lalu pergi dari sana.
"Ya Tuhan kak, liat anakmu itu. Keras kepalanya sama seperti kamu, semoga dia nggak mengulangi apa yang kamu lakukan." Gumam Lucas sambil menatap langit.
"Keluargaku, aku pulang.." Ucap Billie dengan tatapan dingin.
Dan ke esokan harinya..
Billie sudah siap dengan pakaian formal memakai jas hitam dan rambut bergelombang nya di kuncir kuda, dia berdiri di antara beberpa orang yang juga memakai pakaian formal seperti nya.
"Yang mana yang paling mumpuni dalam bela diri?" Tanya seorang pria yang kira - kira berusia 26 tahun.
"Pak Zico, Ini adalah yang paling jago dalam bela diri." Ucap petugas yang mengurusi data anggota pembunuh bayaran, pak Wang.
Zico, CEO muda dari group MERPATI. Atau bisa di kenal sebagai pria kejam dan tidak berperasaan. Sangat menyayangi keluarga nya dan menjaga nama baik perusahaan, dia tak segan menyingkirkan batu kerikil yang menghalangi jalan nya.
"Dia?" Tanya Zico.
Yang di tunjuk adalah Billie, Billie memasang wajah serius dan tenang selayak nya pengawal yang sedang di seleksi.
"Benar pak Zico, dia pemegang sabuk hitam, cekatan, terlatih." Ucap pak Wang.
Zico berdiri di depan Billie, dan Billie tetap mempertahankan pandangan nya kebawah.
"Adiku suka pergi party, dia juga selalu pergi jalan - jalan, kamu siap ikut kemanapun dia pergi?" Tanya Zico.
"Siap, pak." Sahut Billie.
Zico lalu beralih kembali pada pak Wang, dan saat itu Billie melirik nya dengan tatapan sinis. Tak lama pak Wang kembali dan memberi tahu Billie bahwa dia sungguh di ambil oleh Zico.
"Non Billie, berhasil." Ucap pak Wang senang.
"Jangan panggil non, pak. Panggil Billie.." Ucap Billie, dia melepas jas nya.
"Ah, maaf - maaf, kelepasan." Ucap pak Wang.
"Oh ya, nanti sore jam tiga kamu harus sampai di rumah besar keluarga Varlian." Ucap pak Wang.
"Sip, aku pergi beli persiapan." Ucap Billie, lalu pergi dari sana.
Billie mendatangi satu - satu nya teman dekat nya dari kecil, Valo..
"Temenin gue!" Ucap Billie.
"Bill, katanya lu mau balik ke Varlian?" Tanya Valo, Billie mengangguk sambil senyum.
"Nyari mati!!?" Valo langsung bangun.
"Sshhh! Berisik. Siapa bilang nyari mati, yang ada gue mau matiin orang." Ucap Billie.
"Bill, Zico itu psikopat! Kalo lu ada kelalaian dikit jari lu ilang." Ucap Valo khawatir.
"Terus lu lupa gue apa?" Ucap Billie, Valo tidak bisa berkata - kata.
Valo tau dan sangat tau teman nya itu psikopat juga, tapi Valo tetap khawatir. Bagaimanapun Billie akan masuk ke kandang psikopat, psikopat berkedok keluarga bahagia yang sempurna.
"Udah jangan banyak mikir, buru anterin gue. Jam tiga harus sampe ke sono gue." Ucap Billie, menarik Valo pergi.
Dan akhirnya.. Disinilah Billie berada, di depan rumah keluarga Varlian yang terkenal sempurna itu. Rumah yang pernah menjadi saksi bisu penyiksaan yang di lakukan oleh Bilson Varlian yang merupakan ayah nya.. Kepada ibunya.
'Welcome home..' Batin Billie.
Billie menggunakan jaket hitam, karena di keterangan kontrak tertulis jangan sampai penampilan Billie mencolok dengan pakaian formal. Billie bebas memakai pakaian apapun, selama itu tidak membatasi pergerakan nya sebagai bodyguard.
Ya, Billie akan menjadi bodyguard di rumah nya sendiri, menjaga adik tirinya. Memikirkan nya saja membuat senyum Billie terbit, dia tidak sabar mengacak - acak keluarga yang sempurna itu.
"Kamu Billie?" Tanya seorang laki - laki memakai stelan formal.
"Ya, pak." Sahut Billie.
"Masuk, sudah di tunggu." Ucap pria tadi, Billie mengangguk dan masuk kedalam.
Saat pintu utama di buka, udara dingin AC menyeruak menerpa tubuh Billie. Ruangan itu harum dengan wewangian rasa mint, Billie lumayan suka wangi nya. Billie berjalan menuju ke tempat dimana sekarang ada empat orang yang sedang duduk di sofa dan menatap kearah nya.
'Emang keluarga kaya, ruang tamu pun wanginya mint.' Batin Billie.
'Tapi tetep nggak sekaya om Lucas.' Batin Billie lagi sambil tersenyum sinis.
"Selamat sore pak, bu." Billie langsung berubah mode hormat.
"Cekatan, bersih, dan lugas. Siapa namamu?" Tanya seorang pria paruh baya yang sedang duduk meminum kopi, Bilson.
"Billie, pak." Sahut Billie, Bilson sedikit mengernyit karena nama Billie mirip dengan nya.
"Kamu yakin jago bela diri?" Tanya gadis muda yang duduk di sebelah Bilson, Ziva.
"Nona bisa tes saya." Ucap Billie, lugas.
"Hahahaha.. Memang seorang pembunuh bayaran, tentu saja nggak bisa di remehkan." Ucap perempuan paruh baya tang duduk di sisi kiri sofa, Maya.. Istri Bilson.
"Nyonya terlalu memuji." Ucap Billie.
"Seperti yang aku bilang, tugasmu jaga adikku, Ziva. Ikuti kemanapun dia pergi, jangan lalai, apapun yang dia lakukan, kamu bereskan." Ucap Zico.
"Siap, pak." Ucap Billie.
"Mulai sekarang kamu tinggal di apartemen, gerak gerikmu tidak boleh mencolok. Kamu boleh keluar dan cari pak Irwan untuk mengambil kunci apartemenmu." Ucap Zico lagi.
"Baik pak, terimakasih." Ucap Billie.
"Nanti malam langsung kerja, kamu harus sampai di sini jam sembilan malam." Ucap Ziva.
"Baik non." Ucap Billie lagi.
"Keluar." Ucap Zico, Billie mengangguk lalu pergi dari sana.
"Kakak yakin dia pembunuh bayaran? Badan nya lebih kayak model, apa dia bener bisa banting orang?" Tanya Ziva.
"Dia dari tempat terlatih, nggak mungkin bukan. Kalo kamu ragu kamu boleh tes dia nanti malam, kalo dia gagal.. Tebas." Ucap Zico, lalu bangun dan pergi.
"Keluarga kita harus tetap menjadi keluarga yang terbaik.." Ucap ibunya, dia juga lalu pergi.
Sementara Billie, dia sampai di depan dan bertemu dengan pria yang bernama Irwan.
"Dalam amplop ini ada akses unit apartemenmu, oh.. Pintu di sana menggunakan sandi. Di garasi apartemen sudah ada satu unit mobil dan satu unit motor, kuncinya di dalam." Ucap pak Irwan.
"Baik, pak." Ucap Billie.
"Dan juga, ini kartu.. untuk sewaktu - waktu kamu butuh untuk membereskan apa yang nona Ziva buat, ada sepuluh miliar di dalam nya, sandi nya di balik kartu. Ini hp mu, saat kerja gunakan hp ini, M'banking ada di hp ini." Ucap pak Irwan lagi.
"Baik, pak." Ucap Billie.
"Kamu datang pakai apa?" Tanya pak Irwan.
"Oh, taksi pak." Sahut Billie, pak Irwan menoleh ke kiri dimana ada pria yang juga berpakaian formal sedang berdiri.
"Kamu, antar dia ke apartemen nya." Ucap pak Irwan.
"Baik, pak." Sahut nya, Billie pun pergi dengan pria itu.
'Pengawalan ketat, mereka beneran takut mati.' Batin Billie tersenyum sinis.
...BERSAMBUNG!...
kaya 5 rebu beli kerupuk
ampunn kelakuan horang kayahh
😅