NovelToon NovelToon
Anak Dukun Di High School

Anak Dukun Di High School

Status: tamat
Genre:Misteri / Persahabatan / Hantu / Horor / Spiritual / Teen Angst / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: RAS( BY.AR)

Astra tak pernah mau meneruskan pekerjaan Ibunya. Di bandingkan menjadi dukun, dia ingin hidup normal sebagai gadis pada umumnya.

Demi bisa terlepas dari hal-hal gaib di desa, Astra nekat melanjutkan study nya di kota. Dengan beasiswa yang susah payah dia raih, dia memasuki sekolah terkenal di kota "High School" dari namanya saja sudah keren bukan?

Astra bermimpi untuk belajar seperti siswa pada umumnya, memiliki teman dan bekerja setelah lulus. Namun kenyataan menampar nya, High School tidak sebaik yang di pikir kan.

Kemanapun dia pergi, kabut gelap selalu terlihat di tubuh setiap orang...

Permainan gaib, nyawa dan kekuasaan menjadi mainan bagi mereka. Sisi baiknya, tidak ada satupun orang yang mengetahui hal gaib lebih baik darinya di sekolah ini...

#25Desember2025

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Langkah kaki Astra yang tergesa-gesa membelah sunyi malam di jalan setapak desa Sulo. Udara dingin pegunungan yang biasanya menenangkan kini terasa mencekam, seolah alam pun ikut menahan kepergiannya.

Dia berlari tanpa menoleh ke belakang, membiarkan tas sekolah yang berisi impian dan sedikit pakaian itu memukul-mukul punggungnya.

Jantungnya berdebar bukan karena lelah, melainkan karena campuran rasa bersalah karena meninggalkan ibunya dan tekad yang membara untuk membuktikan dirinya.

Setelah satu jam berlari, Astra tiba di jalan raya utama, tempat bus malam antar kota biasa melintas. Ia duduk di halte reyot, mencoba mengatur napas. Di tangannya, amplop tebal berisi uang dari Ucup, Mbak Ayu dan Ijo terasa hangat, sebuah pengingat bahwa ia tidak sepenuhnya sendirian.

Teman-teman gaibnya telah memberinya bekal untuk memulai hidup baru, sebuah ironi yang menyakitkan. Ia kabur dari pekerjaan mistis ibunya, namun bekalnya justru berasal dari pekerjaan mistis teman-temannya.

Astra duduk di sebuah jongko pinggir jalan, dia berlari dari rumah saat tengah malam tiba dan sudah satu jam setelah dia berlari. Dia harus menunggu dua jam lagi karena bus pagi muncul saat jam 3 pagi.

Astra melihat Hp butut nya yang berukuran tidak lebih besar dari telapak tangan nya. Dia mengeluarkan kamera untuk berfoto, ini adalah kenangan yang tak pernah akan dia lupakan. Kabur dari rumah dan meninggalkan desa.

Ckrek~

Saat hasil jepretan nya dia lihat, cukup bagus. Namun ada sesuatu yang lain di sana, Astra segera menoleh ke belakang. Hamparan pohon dan jalan hutan.

"BAAA!"

Astra menatap dengan wajah datar sosok yang barusan dia lihat di kamera Hp nya.

"Ah, teu resep si Astra mah. Rewas saeutik atuh!" Raka duduk di samping Astra. [Ah, gak seru Astra mah. Kaget dikit kek! ]

Astra menatap Raka dengan sedikit curiga. "Ngapain?"

"Shutt" Seolah kejutan, Raka mengeluarkan isi dari keresek yang di bawanya. "Yeuh" lalu menyodorkan nya pada Astra.

"Iyeu teh ti Abah, jang sarapan Astra. Terus ieu Weh duit Oge ti abah," [ Ini dari Kakek, buat sarapan Astra. Terus ini uang juga dari Abah ]

Raka memberikan dua kresek hitam, satu berisi gorengan dan lepet satu lagi berisi uang yang di ikat.

Astra buru-buru melihat uang itu, dan dia merasakan sedikit rasa sesak. Rumah Raka berdekatan dengan rumah nya, sama sepertinya yang hanya hidup dengan Ibunya--- Raka juga hanya hidup dengan Kakek nya yang bekerja sebagai penebang kayu.

Dulu dia sering main di rumah Raka dan berbicara dengan Kakeknya, Kakeknya orang yang baik dan Ramah, Astra masih sangat ingat itu.

Meskipun tidak banyak, beberapa lembar uang merah. Namun jumlah ini sangat banyak untuk seorang profesi tukang kayu.

Astra menutup kembali uang itu dengan kresek. "Ambil balik, bilang ke Abah Astra udah ada"

Raka menggeleng. "Meskipun teu loba, tapi Abah bener-bener hayang mere Jang maneh. Cik atu tarima we, lumayan jang ongkos." [ Meskipun gak banyak, tapi Kakek sungguh-sungguh ingin memberikannya untukmu. Ambil ajalah, lumayan buat ongkos]

Setelah mengatakan itu, Raka mengusap kepala Astra kemudian dengan cepat langsing kabur. Astra hanya terdiam, menatap Raka yang lari sampai tertelan kegelapan dengan nanar.

Bus malam tiba, mengeluarkan kepulan asap diesel yang pekat. Astra naik, memilih kursi di dekat jendela, dan menatap desa Sulo yang perlahan menghilang di balik kegelapan.

Perjalanan itu memakan waktu hampir sepuluh jam. Ketika Astra turun dari bus di terminal kota, ia disambut oleh hiruk pikuk yang memekakkan telinga.

Klakson mobil, teriakan pedagang, dan lautan manusia yang bergerak cepat. Kontrasnya begitu tajam dengan ketenangan mistis desa Sulo.

Di sini, energi yang ia rasakan bukanlah energi gaib dari pepohonan tua atau sungai keramat, melainkan energi kekacauan dan ambisi yang berputar-putar di udara.

Astra segera mencari kos-kosan yang sudah ia tandai di peta lama milik temannya. Ia berhasil mendapatkan kamar kecil di lantai dua sebuah rumah kos yang padat, letaknya tidak jauh dari sekolah barunya.

Setelah membayar untuk tinggal satu tahun, Astra tiba di rumah kost an barunya. Kamar sempit, berbau apek, dan yang paling penting, kosong. Tidak ada aura gaib yang melekat, tidak ada penunggu, hanya dinding beton yang dingin. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Astra merasa benar-benar terputus dari dunia yang selama ini ia kenal.

Malam pertama di kota, Astra tidak bisa tidur. Ia merindukan suara jangkrik dan aroma tanah basah. Ia merindukan bisikan Mbak Ayu dan rengekan Ucup. Ia bahkan merindukan tatapan tajam Mbah Jing.

Ia mengeluarkan surat beasiswa itu. Sekolah barunya, SMA Bhakti Kencana, adalah sekolah elit yang terkenal dengan disiplin ketat dan prestasi akademiknya. Astra tahu, ia harus beradaptasi cepat.

Sementara itu, di desa Sulo, Mbah Jing memasuki kamarnya. Ia membuka sebuah kotak kayu tua yang tersembunyi di bawah lantai papan. Di dalamnya, terdapat sebuah cermin perak yang permukaannya beriak seperti air.

"Bagaimana, Ijo?" bisik Mbah Jing, suaranya kini tidak lagi cuek, melainkan penuh perhitungan.

Sosok Ijo muncul di pantulan cermin, wajahnya yang besar dan hijau tampak muram. "Dia sudah sampai di kota, Mbah. Rumah kostan nya sudah saya bersihkan dari penunggu. Tapi... Dia terlihat rapuh. Saya kasihan Mbah..."

Mbah Jing tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah dilihat Astra. "Rapuh? Itu bagus. Kota itu keras, Ijo. Ia akan mengasah Astra menjadi berlian. Kau pikir kenapa Emahnya tiba-tiba mengingkari janji?"Ijo terdiam.

"Astra terlalu kuat di Sulo. Potensi nya terlalu besar, dia bisa menjadi lebih dari Mbah. Tapi di kota, di tengah hiruk pikuk modernitas, kekuatannya akan diuji. Dia akan belajar bahwa personal branding yang Emah maksud bukan hanya soal klien di desa, tapi soal jangkauan."

Mbah Jing membelai cermin perak itu. "Beasiswa itu hanyalah pancingan. Emah sudah mengatur agar Astra mendapatkan beasiswa itu sejak setahun yang lalu. Emah tahu, Astra tidak akan pernah mau meneruskan bisnis keluarga jika Emah memintanya secara baik-baik. Tapi jika Emah melarangnya..."

"Maka Astra akan memberontak dan pergi ke sana dengan tekad bulat," sambung Ijo, mulai mengerti.

"Tepat sekali. Di kota itu, ada banyak klien baru yang lebih besar, lebih kaya, dan lebih berbahaya. Klien yang tidak bisa Emah jangkau dari desa terpencil ini. Astra adalah aset terbaik Emah, Ijo. Dia adalah kunci untuk meningkatkan jangkauan bisnis kita ke level nasional, bahkan internasional." Ucap Mbah Jing dengan terdengar seperti gurauan di kalimat-kalimat akhir.

Mbah Jing menutup kotak kayu itu dengan bunyi klik yang tegas."Biarkan dia menikmati sekolahnya sebentar. Biarkan dia merasa bebas. Sebentar lagi, kota itu akan menunjukkan wajah aslinya, dan Astra akan menyadari bahwa ia tidak bisa lari dari takdirnya."

Pagi harinya, Astra bangun, merasa sedikit lebih segar. Ia bersiap untuk hari pertamanya di SMA Bhakti Kencana. Saat ia mengenakan seragam barunya, ia merasakan ada yang aneh di dalam tas sekolahnya.

"Kartu apa ini?"

Astra mengambil kartu hitam dengan kilauan emas yang indah. Ini aneh, padahal sebelumnya dia tidal memiliki ini dan tidak memasukkan ini. Siapa orang gabut memasukkan kartu yang lebih besar dari kartu Axis miliknya?

Setelah di lihat lagi isi tas nya, Astra menemukan sebuah surat.

"Selamat! Anda kena prank! Kabur dari rumah pengalaman yang mendebarkan bukan? Kartu hitam itu namanya Blackcard, anak leweng, kamu pasti tidak tahu kan? Pin nya 123**** "

"Setelah di kota, jangan lupa promosikan bisnis Emah ya sayang (⁠ ⁠╹⁠▽⁠╹⁠ ⁠)"

Astra meremas kertas itu. "Emah pake kertas sekolah Astra lagi, Astra kan udah bilang. Harga buku itu mahal! Mana Emah kalo ambil kertas suka sama druk-nya kebawa. Rusak kan buku Astra..."

Astra melihat dengan sayang salah satu buku tulis yang masih baru namun sudah terlepas dari jilid itu.

1
Paramitha Tikva
Padahal seru malah di end kan
Boncab dong Thor
Rindi Zie ⍣⃝కꫝ 🎸
hahhh... kok end
Huang Haing: Maaf ya, retensi nya ancur... Motivasi author buat lanjutin ilang~
total 1 replies
Nixc~
yahhh..... 😔😔😔 sayang bgt udah end.... padahal ceritanya seru loh😤😤🥺🥺🤧🤧
Huang Haing: Maaf banget yaa 😞
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
yaaaaahhhhh kok end sihhhh thorrrr😭😭😭😭😭😭😤
Huang Haing: Maaf yaaa 😭🫣
total 1 replies
↳。˚ 🖇️')auh∆di♪♪⁠┌┘⁠♪
Semoga cepat naik retensinya nan, semangat
我爱你: Tidak masalah 😙 Akunmu juga sangat menarik, maukah kamu bertukar akun denganku? Aku punya akun dengan banyak pengikut.
total 6 replies
💝F&N💝
kopi susu manis untukmu, thor
semangat menjalani harimu

ayo up lagi malam ini.
aku suka banget ceritanya.
bagus
dan semakin bikin aku penasaran akan kelanjutannya.

ayooooooooo up lagiiiiiiiiiiiiiiii
Huang Haing: MAAF YA, SEMALAM AUTHOR BARU PULANG LDKS, CAPEK+NGANTUK VANGET 😭🫣
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ceritanya keren banget, semoga Astra bisa melawan mahluk itu💪💪
Huang Haing: Siap, makasih!
total 1 replies
Rindi Zie ⍣⃝కꫝ 🎸
semangat semoga cepet naik bagi Aaamiin
Huang Haing: Aaamiiiinnn 🤧🤧🤧
total 1 replies
Rindi Zie ⍣⃝కꫝ 🎸
wahhh... anjlok knp Thor pasti ada sebab nya kan 🤭
Huang Haing: Iya kak
total 3 replies
💝F&N💝
ayo thor, mana up nya hari ini
kenapa kok gak ada semangatnya.
Huang Haing: Gak keburu, tapi insyaallah hari ini
total 1 replies
💝F&N💝
hai..... mana up nya hari ini
Huang Haing: Sabar yaaa😭
total 1 replies
Rindi Zie ⍣⃝కꫝ 🎸
fiiihhh irit pisan...............
Kristiana Subekti
tuuuh kaaaan d gantung lagi ky jemuran g kering kering,,,, jidi pinisirin Iki tiiiih🥰😘
Kristiana Subekti: udah kak🥰😘
total 3 replies
chaa
lanjutt 👍
Huang Haing: Insyaallah
total 1 replies
Nixc~
ayo thor lanjut------💃🏻💃🏻💃🏻💃🏻
semoga author dapet ide-ide bagus buat lanjutin Babnya, biar gak terlalu pendek-pendek amat ceritanya kalo tamat😊🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Huang Haing: Ha-ha-ha a-min 😭
total 1 replies
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
padahal seru lo thor...

semoga semangat mubgak kendor ya thor. jangan putuskan hubungan ini... eh, novel ini di tengah jalan thorkuuuu....
Huang Haing: Yaa... Tapi yang baca nya setengah² retensi nya gak nyampai 😭🫰
total 1 replies
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
kelas XII ya thor? persiapan snbp snbt dooong....

semoga lolos ya thooor
Huang Haing: Hahaha, author gak ikut SNBP Karen telmi
total 1 replies
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
thooor....

🎶Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan🎶
Huang Haing: Sampai Ajal menjemput mu 🎶
Cinta ku ini baru kan tumbuh 🎶
total 1 replies
Rindi Zie ⍣⃝కꫝ 🎸
ahh meni teu karaos kedik pisan 🤭
Huang Haing: Hahaha 🫣🫰
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
yaaa bagusss kok, masssaaaaa pendek sihhhh😭😭😭😤😤😤
Huang Haing: Tahan lama bacanya yaaa
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!