Mawar adalah anak ke 2 yang di paksa harus selalu mengalah dengan adik nya, Mawar di bedakan oleh ibu nya.
Mawar harus selalu mengalah demi sang adik, Mawar di perlakukan seperti anak tiri. Penderitaan Mawar semakin pedih saat ayah nya meninggal dunia, sikap ibu nya semakin menjadi terhadap diri nya.
Untung saja kakak laki - laki Mawar bisa melindungi diri nya, sebagai sang kakak dia tidak rela melihat penderitaan sang adik.
Sang kakak bahkan rela menolak beasiswa nya di sebuah universitas ternama karena dia tidak ingin meninggal kan Mawar sendirian.
Ikuti kisah Mawar dalam mengarungi kehidupan di bawah tekanan sang ibu dab juga adik nya, bisa kah ibu nya Mawar menyayangi Mawar seperti dia menyayangi putri bungsu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02
Mawar sedang duduk di depan salah satu warung yang ada di dekat sekolah nya, dia sedang menunggu sang kakak yang belum pulang sekolah.
Jam sekolah Mawar berakhir pada jam 12:30, sedang kan jam sekolah Farhan berakhir pada jam 13:30. Itu arti nya Mawar harus menunggu kakak nya terlebih dahulu selama 1 jam.
Mawar membeli minuman dengan menggunakan uang pemberian kakak nya, dia tidak menghabis kan semuanya. Mawar menyimpan nya sebagian untuk jaga - jaga jika dia ada kebutuhan mendadak.
Tin, tin.
Suara klakson motor mengagetkan Mawar dari lamunan nya, dia segera berlari ke arah motor yang di kendarai kakak nya.
"Kamu udah makan?" Tanya Farhan pada Mawar.
"Nanti aja kak, makan di rumah aja!" Jawab Mawar singkat.
Kedua kakak beradik itu langsung pulang ke rumah, setelah berganti pakaian Mawar dan Farhan menyantap makan siang mereka. Hanya makan siang ini lah Mawar bisa makan dengan tenang, karena saat ini sang ibu masih berada di kebun.
"Kakak keluar dulu ya, kamu jangan lupa istirahat!" Farhan mengingat kan Mawar setelah dia selesai makan.
"Iya kak!" Jawab Mawar sambil mengangguk kan kepala nya.
Farhan segera pergi ke luar rumah, tanpa orang tua nya ketahui Farhan sengaja bekerja apa saja setelah pulang sekolah agar bisa mendapat kan uang. Farhan melakukan semua itu untuk Mawar, karena dia tahu seperti apa kehidupan adik nya tersebut.
Mawar yang di bedakan, tidak pernah mendapat kan hak - hak nya dengan layak. Bahkan semua pakaian yang melekat di tubuh Mawar adalah pakaian bekas dari sepupu nya. Bu Munah hanya mementingkan semua keinginan Indah saja.
"Heemmm, mata ku ngantuk banget, pengen tidur siang. Tapi kalau aku tidur semua pekerjaan ini tidak akan selesai!" Guman Mawar sambil memperhatikan rumah yang dalam keadaan berantakan.
Mawar segera menepis keinginan nya untuk tidur siang, dia segera menyapu dan mengepel rumah hingga bersih. Setelah itu dia melanjutkan dengan mencuci semua piring - piring kotor.
"Alhamdulillah, sudah selesai. Tinggal masak untuk makan malam nanti, aku istirahat saja dulu!" Mawar langsung melangkah kan kaki nya menuju kamar nya untuk sekedar merebah kan tubuh nya sejenak.
Baru saja Mawar memasuki kamar nya, Indah pulang ke rumah setelah puas seharian bermain bersama teman - teman nya.
Entah apa yang di lakukan oleh Indah, sehingga rumah kembali berantakan. Seberang kertas kecil - kecil kembali memenuhi lantai, bahkan barang- barang lain pun tampak berserakan kembali.
"Indah, aku lelah Indah! Kenapa kau membuat semua nya berantakan seperti ini?" Tanya Mawar pada adik nya.
"Terserah aku dong, tugas mu membersih kan semua nya!" Teriak Indah dengan kasar.
Indah bahkan sengaja menaburi pasir di dalam rumah hingga rumah kembali kotor, dia tersenyum puas setelah melihat semua nya kembali berantakan.
"Bereskan semua nya, atau kau akan di pukul sama ibu!" Ujar Indah sambil mengejek Mawar dengan senyum sinis nya.
Setelah Indah keluar dari rumah, Mawar menangis tersedu di dalam rumah.
Mau tidak mau dia harus membereskan semuanya kembali, jika semua nya belum beres hingga bu Munah kembali dari ladang nanti. Mawar akan menerima hukuman berupa pukulan dengan sapu di kaki nya.
"Ya Allah, kuat kan lah aku!" Mawar berdoa sambil kembali membereskan rumah.
Hari sudah sore, Mawar segera memasak untuk makan malam. Dia tidak punya waktu untuk beristirahat lagi, dia harus mengerjakan semua nya sebelum ibu nya kembali.
******
"Mawar, kakak mu mana?" Tanya pak Harto pada Mawar setelah sholat magrib, karena hingga saat ini putra sulung nya tersebut belum pulang ke rumah.
"Mawar gak tahu pak, katanya tadi sepulang sekolah dia pamit keluar. Tapi gak bilang mau kemana!" Jawab Indah dengan jujur.
"Oh, ya udah biasanya bentar lagi dia pulang!" Ujar pak Harto sambil menghisap rokok nya.
Benar saja, Farhan muncul dari pintu depan dan langsung masuk ke dalam rumah. Dia bergegas mandi karena sebentar lagi waktu nya makan malam.
"Bu, nanti belikan aku tas baru ya, tas ku udah jelek!" Ujar Indah ketika mereka sedang makan malam.
"Iya, nanti ibu belikan!" Jawab Bu Munah pada anak nya.
"Kamu kan udah kelas 6, sebentar lagi mau masuk SMP. Nanggung beli sekarang, jadi nanti aja sekalian beli seragam buat SMP. Mawar juga akan masuk SMA, sekalian nanti pas beli seragam!" Pak Harto buka suara.
"Mawar gak usah beli seragam baru pak, pake aja seragam bekas Erin juga masih bagus kok!" Jawab Bu Munah cepat.
"Bu, Lebih baik beli yang baru aja. Kalau seragam bekas Erin itu untuk sekali - sekali pas darurat saja!" Pak Harto tidak setuju jika Mawar memakai seragam bekas sepupu nya yang satu kelas dengan Farhan.
"Udah lah pak, seragam bekas uja sama aja tetap seragam. Lebih penting Indah, dia baru mau masuk SMP!" Bu Munah tetap bersikeras tidak mau membeli seragam untuk Mawar.
Mawar hanya diam sambil menunduk menahan agar air mata nya agar tidak jatuh, hati nya hancur bagai di remas- remas. Ibu nya selalu berbuat tidak adil pada nya, mengutamakan Indah tapi mengabaikan diri nya.
Pak Harto hanya bisa geleng - geleng kepala melihat sikap istri nya, sejak kelahiran Indah Bu Munah berubah. Mawar di perlakukan seperti anak tiri oleh ibu nya.
Mawar bahkan dewasa sebelum waktu nya, dia di paksa untuk dewasa dengan usia nya yang masih belia. Sejak umur 4 tahun, Mawar di paksa mengerjakan pekerjaan rumah.
Di mulai dari mencuci piring, membereskan rumah, hingga memasak dan menyiapkan keperluan keluarga nya. Bu Munah hanya fokus memanjakan Indah dengan menuruti segala keinginan nya.
"Biar kakak bantu!" Farhan dengan sigap mengambil piring - piring kotor itu dari tangan adik nya.
"Gak usah kak, biar Mawar aja yang cuci piring nya!" Mawar menolak bantuan kakak nya.
Karena menurut Mawar mencuci piring adalah pekerjaan perempuan, dan jika sampai bu Munah tahu bahwa Farhan membantu nya. Dia akan di marahi dan di maki oleh ibu nya.
"Gak papa, kamu yang cuci kakak yang bilas sekalian nyusun nya!" Pemuda kelas 2 SMA itu dengan sigap membantu adik nya.
"Farhan, apa yang kamu lakukan? Itu bukan tugas mu, itu tugas nya Mawar!" Bu Munah sangat marah ketika dia pergi ke dapur dan melihat putra nya sedang membantu Mawar mencuci piring.
"Sudah lah bu, jangan marah - marah terus dengan Mawar. Jika ibu tidak mau aku membantu Mawar, sebaik nya suruh Indah membantu Mawar, dia itu perempuan!" Farhan membela Mawar di hadapan ibu nya.
"Indah itu masih kecil, dia belum pantas mengerjakan pekerjaan rumah!" Bu Munah menolak jika Indah membantu Mawar.
'Indah bukan lagi anak kecil bu, dia sudah 12 tahun. Lalu bagai mana dengan ku yang sejak usia 4 tahun sudah harus mengerjakan semua nya!' Batin Mawar di dalam hati.
"Udah, jangan melamun. Cepat selesai kan pekerjaan mu agar kau segera istirahat!" Farhan berkata hingga membuyar kan lamunan nya.
Mawar mengangguk kan kepala nya, dia sangat bersyukur sekalipun ibu dan adik nya memperlakukan diri nya dengan buruk, tapi Ayah dan kakak nya sangat menyayangi diri nya. Dua laki - laki akan selalu melindungi nya jika dia ada di rumah.