Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Malam makin larut, langit gelap tanpa bintang, namun hati Raya dan Arya justru semakin ramai oleh pikiran masing-masing. Di kamarnya, Raya memeluk bantal sambil menatap layar ponsel. Di tempat berbeda, Arya duduk bersandar di sofa kamarnya, menatap ponselnya yang terus-menerus ia putar-putar di tangan.
Akhirnya, Arya membuka pesan baru dan mulai mengetik. Jarinya sempat berhenti, ragu, namun ia menekan tombol kirim juga:
"Maaf soal tadi siang. Aku terlalu emosi."
Di saat yang hampir bersamaan, Raya baru saja membuka layar ponselnya, berniat menghubungi Arya terlebih dahulu. Namun belum sempat ia mengetik, notifikasi pesan dari Arya muncul. Ia membuka dan membacanya perlahan, senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Ia lalu membalas:
"Aku mengerti, Arya. Aku juga minta maaf... mungkin aku terlalu terbawa perasaan."
Balasan itu segera diterima Arya, yang langsung membacanya dengan napas lega. Ia pun mengetik lagi:
"Besok siang, makan siang bareng? Aku mau bicara soal perubahan rencana kita. Tapi jangan khawatir, nggak akan ada ancaman lagi, aku janji."
Raya membaca pesan itu dengan mata sedikit berkaca. Hatinya terasa lebih ringan. Jari-jarinya bergerak menulis balasan:
"Baik. Aku akan siap-siap besok."
Tak ada kata manis, tak ada ungkapan rindu.
Tapi percakapan singkat itu cukup membuat malam mereka yang penuh sesak terasa sedikit lebih tenang. Keduanya memejamkan mata... dengan satu nama yang sama terlintas di doa mereka.
Arya.
Raya.
Dan esok... mungkin akan menjadi awal dari arah baru hubungan mereka.
Baru saja Arya hendak memejamkan mata, dering ponselnya memecah keheningan kamar. Ia melirik layar nama Irsyad terpampang jelas. Dengan sedikit rasa malas, Arya menggeser ikon hijau.
"Ada apa lagi, Syad? Udah tengah malam,"
gumam Arya sembari menguap pelan.
Namun suara Irsyad terdengar penuh antusias dan serius, "Maaf ganggu, Bos. Tapi ini penting. Anak buahku baru saja laporan. Keluarga Hartawan barusan makan malam sama Pak Yandris. Dan yang lebih parahnya lagi-Pak Yandris udah tanda tangan kerja sama sebagai investor buat perusahaan mereka."
Mata Arya langsung terbuka lebar. Ia bangkit dari ranjangnya, duduk tegak.
"Apa?" tanyanya tegas. "Kamu yakin?"
"Yakin, Bos. Anak buahku ada di sana, langsung pantau. Dan... yang mereka gunakan buat meluluhkan hati Pak Yandris itu... adiknya Daffa. Si Lestari. Gadis itu duduk manis di samping Pak Yandris sepanjang makan malam. Senyumnya, sikapnya jelas banget dia dijadikan umpan."
Arya terdiam sesaat. Lalu, perlahan, sebuah senyum sinis terukir di wajahnya.
"Bagus," ucap Arya pelan namun penuh makna.
"Kalau begitu, biarkan mereka menikmati kemenangan semu mereka. Biarkan mereka percaya kalau mereka sudah menang."
Irsyad hanya diam karena mengerti dengan ucapan Bosnya
Arya berdiri, berjalan ke arah jendela kamarnya dan menatap gelapnya malam. Suaranya kini lebih dingin dan mantap.
"Biarkan mereka ikut proyek itu. Biarkan mereka masuk ke permainan ini lebih dalam... Karena saat waktunya tiba, kita bukan cuma akan menghancurkan keluarga Hartawan. Tapi juga Pak Yandris. Sekalian."
Irsyad terdiam, lalu terkekeh kecil. "Baik Bos."
"Biarkan mereka merasa aman. Biarkan Daffa merasa menang. Semakin tinggi mereka terbang... semakin keras jatuhnya nanti."
Telepon ditutup.
Arya menyandarkan tubuhnya di kursi.
Wajahnya terlihat tenang, tapi sorot matanya menyimpan badai. Dalam hati, ia bergumam pelan.
"Keluarga Hartawan baru saja masuk ke permainan. Semoga Raya masih mau ikut dalam permainan ini," ucapnya kemudian naik kembali ke ranjangnya.
Pagi itu, suasana ruang makan keluarga Atmajaya terasa berbeda dari biasanya. Aroma soto ayam dan roti panggang tersaji menggugah selera, namun tak satu pun dari mereka tampak menikmati sarapan seperti biasa.
Raya duduk di sebelah kanan Arya, menyendok perlahan kuah sotonya, sesekali mencuri pandang ke arah laki-laki yang kini duduk kaku di sebelahnya. Tak ada lelucon, tak ada ejekan menggoda seperti pagi-pagi sebelumnya. Hanya sunyi. Hening. Membeku.
Padahal semalam mereka sudah saling meminta maaf, bahkan bersepakat untuk makan siang bersama hari ini. Tapi pagi ini, Arya justru terasa begitu jauh, seperti kembali jadi sosok dingin yang tak peduli. Sesuatu dalam dada Raya terasa mengganjal.
Raya menghembuskan napas pelan, menunggu... berharap Arya membuka percakapan. Tapi tidak. Lelaki itu hanya menunduk sedikit, menyendok makanannya, lalu menyuapnya perlahan.
Bu Atika dan Pak Harun saling pandang, alis mereka naik hampir bersamaan. Keduanya bisa merasakan ketegangan halus di antara dua anak muda itu. Tidak biasanya Arya setenang ini, tidak biasanya juga Raya terlihat sependiam itu.
Akhirnya, Arya meletakkan sendoknya di atas piring. Ia bangkit dari kursi dan mengambil jas kerjanya yang tersampir di kursi belakang. "Saya berangkat kerja dulu," ucapnya datar, nyaris tanpa intonasi.
Raya mendongak. Tak ada candaan. Tak ada kalimat seperti "Jangan rindu, nanti aku nggak tahan." atau "Kalau kamu kangen, jangan lupa telepon, ya." yang biasanya selalu ia dengar. Hari ini, hanya kalimat formal. Datar. Tanpa ekspresi.
Seketika itu juga, Bu Atika memotong, "Lho, kamu nggak pamit ke Raya, Arya?"
Arya berhenti sejenak, menoleh ke arah Raya, lalu berkata tanpa melihat langsung matanya, "Saya berangkat kerja."
Raya hanya mengangguk pelan, "Hati-hati..."
Pak Harun yang biasanya suka menggoda ikut bersuara, "Lho, masak cuma gitu? Biasanya manis banget pamitnya. Coba ulang, yang lebih manis."
Namun sebelum suasana mencair, Arya menyela dengan nada datar namun tajam, "Kita belum muhrim, Yah. Jangan terlalu manis nanti dosa."
Seketika suasana jadi kaku. Pak Harun dan Bu Atika langsung terdiam. Saling lirik.
Arya pun melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Setelah pintu tertutup, Pak Harun menoleh ke arah Raya yang kini terlihat menunduk, menatap sotonya yang sudah dingin. "Raya..."
Namun belum sempat dia melanjutkan kalimatnya, Raya bangkit perlahan dari kursi.
"Pak, Bu... saya sudah selesai makan. Saya mau ke kamar dulu ya," ucapnya pelan, lalu bergegas sebelum ada yang bisa menahan.
Begitu Raya menghilang dari pandangan, Bu Atika mendengus pelan.
Setelah Raya kembali ke kamarnya, suasana meja makan kembali sunyi. Bu Atika menatap ke arah tangga, lalu mengalihkan pandangannya pada suaminya yang juga tampak termenung.
"Yah," ucap Bu Atika pelan, "kamu ngerasa ada yang aneh nggak sama Arya pagi ini?"
Pak Harun mengangguk sambil menyesap teh hangatnya. "Iya. Bukan cuma aneh. Dia... dingin. Biasanya kan kalau pamit, sempat-sempatnya dia godain Raya. Sekarang? Diam. Seolah mereka nggak saling kenal."
"Masalah apa sih kira-kira? Masa iya sampai segitunya?" Bu Atika menatap suaminya, mengernyit.
Pak Harun mengangkat bahu. "Aku nggak tahu. Tapi dari cara Arya bersikap tadi... jelas dia sedang menahan sesuatu. Biasanya dia paling cerewet kalau pamit. Sekarang? Kaku banget. Dan Raya juga kelihatan kecewa."
Bu Atika menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, "Mungkin... cuma masalah kecil. Tapi Arya itu... kadang terlalu keras kepala. Nggak ngerti perasaan perempuan, apalagi perempuan hamil. Dia itu nggak sadar kalau ibu hamil itu sensitifnya berlipat-lipat. Kadang tersinggung hanya karena hal sepele."
"Mungkin bukan Raya yang salah. Mungkin Arya yang salah paham. Kamu tahu sendiri anak kita itu keras kepalanya minta ampun."
Bu Atika tertawa tipis. "Iya, nurun dari ayahnya."
Pak Harun terkekeh pelan. "Aku juga jadi ingat waktu kamu hamil Arya dulu. Kamu marah hanya karena aku makan semangka duluan."
Bu Atika menjitak pelan lengan suaminya, "Itu beda! Aku ngidam, terus kamu makan bagian tengahnya. Emosi wajar itu!"
Keduanya tertawa kecil. Namun tawa itu cepat mereda saat kembali mengingat ekspresi kaku Arya pagi ini.
"Tapi bener, Yah," Bu Atika melanjutkan, "aku khawatir Arya nggak tahu cara menghadapi Raya. Kalau Arya terus bersikap dingin begini, Raya bisa merasa tidak dicintai."
Pak Harun menatap istrinya dalam-dalam. "Apa kita perlu bicara langsung ke Arya?"
"Belum saatnya. Nanti malah dia tambah menutup diri." Bu Atika menunduk, memikirkan cara terbaik. "Aku cuma khawatir... kalau dibiarkan begini terus, Raya bisa merasa diabaikan. Dan kamu tahu sendiri, perempuan hamil itu perasaannya lebih peka dari biasanya."
"Kamu dulu juga begitu," celetuk Pak Harun dengan senyum nakal.
Bu Atika menatap suaminya tajam lalu mencubit pelan lengannya. "Itu bukan peka. Itu namanya sayang. Aku cuma butuh perhatian lebih."
Pak Harun mengusap lengannya sambil tertawa kecil, "Iya, iya... dan sekarang aku paham, Raya juga pasti butuh itu dari Arya."
Suasana kembali sunyi beberapa saat. Bu Atika menatap sisa sarapan di meja, lalu menatap ke arah jendela.
"Aku harap anak kita cepat sadar. Karena kalau tidak, dia akan menyia-nyiakan perempuan yang tulus mencintainya."
Pak Harun tersenyum kecil. "Dan menyia-nyiakan kesempatan jadi ayah yang luar biasa."
Keduanya saling bertatapan, berbagi kekhawatiran yang sama. Sementara itu, di lantai atas, Raya sedang duduk bersandar di dinding kamarnya, tangan mengelus perutnya yang mulai membuncit, dan hati bertanya-tanya... apakah cinta bisa tumbuh dari sesuatu yang awalnya hanya sebuah perjanjian?