NovelToon NovelToon
Bukan Simpanan Biasa

Bukan Simpanan Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Putri asli/palsu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Starla, putri kandung seorang pengusaha kaya yang tidak disayang memutuskan menerima tawaran seorang pria untuk dijadikan simpanan. Setelah empat tahun berlalu, Starla pun memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak diantara mereka lagi. Starla meninggalkan Nino begitu saja. Hingga pada akhirnya, Nino ternyata berhasil menemukannya dan mulai terus membayanginya dengan cara mendekati Kanaya, kakak tiri Starla. Nino, pria yang terbiasa dipuja-puja oleh banyak wanita, jelas tidak terima dengan perbuatan Starla. Seharusnya, dia yang meninggalkan wanita itu. Namun, justru malah Starla yang meninggalkannya.
Berbekal dendam itu, Nino awalnya berniat untuk mempersulit Starla. Siapa sangka, di tengah rencananya mendekati Kanaya, Nino menemukan sebuah fakta bahwa selama ini Starla tak pernah merasakan bahagia. Sedari kecil, hidupnya selalu dirundung kesusahan. Hak-haknya bahkan direbut.
Berawal dari rasa penasaran, Nino justru mendapati bahwa perasaannya terhadap Starla ternyata sudah berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

"Akhirnya, aku bisa kembali," lirih Starla saat dia sampai di negara asalnya.

Sudah empat tahun dia 'dibuang' oleh sang Ayah ke luar negeri dengan dalih menuntut ilmu.

Padahal, semua itu hanya alasan untuk menyingkirkan Starla yang dianggap sebagai batu sandungan untuk putri tiri sang Ayah yang akan menjadi satu-satunya pewaris lelaki paruh baya itu.

Sejak tinggal di luar negeri, Starla seolah dilupakan begitu saja. Sang Ayah memutus semua kontak dengannya. Uang bulanan serta uang untuk membayar biaya pendidikan juga tak pernah diberikan.

Alhasil, Starla hampir menjadi tunawisma dan terancam putus kuliah andai tidak sengaja bertemu dengan Gionino Roberts saat dia bekerja sebagai pelayan di sebuah klub malam.

Saat itu, Starla hampir dilecehkan oleh seorang tamu yang sedang mabuk.

Dan, pria itulah yang menyelamatkannya. Memberinya kehidupan layak serta biaya untuk meneruskan pendidikan. Tentunya, dengan imbalan yang juga harus setimpal.

Starla harus menjadi penghangat ranjang untuk Nino, kapanpun pria itu butuh. Tak boleh ada penolakan.

Dan, kini hubungan saling bertukar keuntungan itu akhirnya selesai juga. Starla memilih untuk mengakhiri segalanya.

"Nona Starla?!" pekik seorang wanita paruh baya yang sedang menyiram tanaman dihalaman depan sebuah rumah sederhana saat Starla datang.

"Bibi Wirda," sapa Starla. Dia berlari memeluk perempuan paruh baya itu.

"Akhirnya, Nona Starla kembali juga," lirih perempuan paruh baya itu sambil menangis penuh haru.

"Bibi Wirda apa kabar?" tanya Starla setelah pelukan mereka akhirnya terlepas.

"Saya baik-baik saja," jawab Bibi Wirda, asisten rumah tangga yang selalu setia kepada mendiang Ibu kandung Starla dari awal hingga akhir. "Bagaimana dengan Nona? Apa Nona baik-baik saja?"

"Ya, aku baik-baik saja," angguk Starla.

Perempuan paruh baya itu mengusap air matanya. Dia benar-benar sangat senang. Akhirnya, anak majikannya kembali juga.

"Nona, apa Nona sudah tahu jika perusahaan sudah diberikan sepenuhnya kepada Nona Kanaya?"

Starla tampak tertegun. Walaupun, sudah menganggap sang Ayah tak ada artinya lagi, namun tetap saja Starla merasa sedikit nyeri didalam dadanya.

Bagaimana mungkin, seorang Ayah bisa lebih mencintai anak tirinya dibanding anak kandungnya sendiri?

Bahkan, Starla sengaja disingkirkan demi kenyamanan sang anak tiri. Starla diperlakukan lebih buruk dari orang asing. Hak-hak Starla bahkan direbut begitu saja.

"Aku baru tahu hari ini," ucap Starla sambil menarik napas panjang. "Tapi, tidak apa-apa. Kalau itu memang pilihan Papa, tidak masalah. Aku tidak akan menuntut apapun darinya. Aku hanya ingin mengambil barang peninggalan milik Mama ku saja."

"Nona Starla ingin kembali ke rumah itu?" tanya Bibi Wirda dengan ekspresi khawatir.

"Ya," angguk Starla. "Aku harus mengambil semua barang milik Mama dari pelakor itu."

Setelah beristirahat sebentar, Starla akhirnya bersiap menuju ke rumah sang Ayah. Dia sudah siap untuk berperang. Dan, kali ini, Starla tidak akan mudah untuk ditumbangkan lagi.

Begitu sampai, hal yang pertama kali Starla dengar adalah suara tertawa bahagia keluarga baru sang Ayah dari arah ruang makan.

Starla melangkah sambil tersenyum sinis. Hari ini, dia harus mendapatkan apa yang menjadi haknya. Yaitu, barang-barang peninggalan milik sang Ibu.

"Wah, wah, wah! Sepertinya, obrolan kalian seru sekali. Boleh aku bergabung?"

Degh!

Gerakan tiga orang yang sedang makan sambil bercengkrama hangat di meja makan tersebut langsung terhenti.

Mereka menoleh secara bersamaan dan tampak sangat terkejut saat melihat sosok Starla yang sekarang sedang melangkah mendekat dan duduk di salah satu kursi, tepat disamping perempuan yang sudah merebut Ayahnya dari sang Ibu.

Starla tersenyum sangat manis lalu berkata," kenapa kalian semua malah terdiam? Kaget, ya? Atau... Kalian malah tidak senang melihat kehadiran ku di sini?"

"Kapan kamu kembali?" tanya sang Ayah yang bernama Arlo Alexander. Wajahnya mulai menggelap. Jelas sekali, dia tidak suka dengan kepulangan sang putri kandung.

"Tadi siang," jawab Starla. "Kenapa ekspresi Papa seperti itu? Papa sepertinya tidak terlalu senang dengan kepulangan ku."

"Papa belum meminta mu untuk kembali. Kenapa kamu malah pulang secara tiba-tiba, hah?"

"Kuliahku sudah selesai. Jadi, wajar jika aku kembali, kan?"

Sang Ayah terdiam sejenak. Ternyata, sudah empat tahun, ya? Jujur saja, Arlo sama sekali tidak ingat. Waktu sudah berlalu begitu banyak. Pantas saja, putri kandungnya kini terlihat sangat berbeda.

Starla tampak jadi lebih dewasa dan semakin cantik. Selain itu, sosok gadis penakut sekaligus penurut yang dulu pernah ia lihat, kini sudah berganti dengan sosok perempuan yang jauh lebih hebat dan terlihat sangat tangguh.

"Sudah empat tahun ternyata," gumam Arlo.

"Ya, sudah empat tahun. Dan, selama empat tahun itu, aku hidup dengan keadaan sulit setiap harinya. Sementara, yang aku lihat, kehidupan Papa dan keluarga baru Papa sepertinya sangat baik-baik saja. Disaat aku memakan makanan sisa milik orang lain, kalian malah makan makanan semewah dan semahal ini."

Prang.

Semua makanan diatas meja langsung terbuang ke lantai saat Starla menarik taplak meja dengan seluruh kekuatannya. Piring pecah berhamburan.

Menciptakan suara gaduh yang membuat seluruh pelayan langsung berlari mendekat untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.

"STARLA!!!" hardik sang Ayah marah. "Apa yang sedang kamu lakukan, hah?"

"Tidak ada," jawab Starla. "Aku hanya sedang balas dendam. Masalahnya, makanan-makanan enak itu seperti sedang mengejekku."

"Mengejekmu bagaimana, hah?"

Starla tersenyum miring. "Apa Papa sedang berpura-pura? Mustahil Papa tidak tahu bagaimana sulitnya aku bertahan hidup di negara orang. Aku bahkan pernah memungut makanan basi dari tong sampah hanya demi bisa bertahan hidup."

Suara Starla terdengar meninggi di akhir kalimat.

"Jangan mengarang cerita di hadapan ku! Kau pikir, aku akan percaya, hah?" timpal sang Ayah. "Mana mungkin kamu memungut makanan dari tong sampah hanya demi bertahan hidup? Bukankah, biaya hidup yang aku kirimkan sudah lebih dari cukup?"

"Biaya hidup? Untukku?" Starla menunjuk diri sendiri kemudian tertawa. "Benarkah? Kapan? Aku tidak pernah menerima sepeserpun uang kiriman dari Papa."

Degh.

Mata Arlo seketika membulat. Dia tak menyangka jika putrinya bisa terlantar begitu saja tanpa bantuan finansial dari dirinya.

"Tidak mungkin. Papa selalu rutin mengirimkan uang untuk biaya hidup dan kuliahmu. Jadi, tolong berhenti berbohong! Papa sedang tidak ingin bertengkar denganmu, Starla."

Otak Starla berpikir dengan sangat cepat. Dalam waktu yang singkat, dia sudah bisa membaca situasinya.

Seketika, tatapan tajamnya langsung tertuju lurus ke arah sang Ibu tiri. Telunjuknya mengarah langsung ke wajah perempuan perebut suami orang itu.

"Ini ulahmu, kan?" tanya Starla dengan nada memvonis.

Sang Ibu tiri reflek menggeleng. Wajahnya sudah mulai pucat.

"Ti-tidak," ucapnya dengan suara terbata.

"Oh, jadi kamu yang selama ini memakan uang yang seharusnya menjadi hak ku?" tanya Starla sambil berkacak pinggang.

"A-aku tidak pernah melakukannya. Setiap bulan, aku selalu mengirimkan uang kepada Starla tepat waktu. Percayalah, sayang!" kata sang pelakor sambil memeluk lengan suaminya.

Plak!

Starla menampar pipi sang Ibu tiri dengan sangat kencang. Dia benar-benar murka. Gara-gara pelakor inilah, dirinya terpaksa harus jual diri demi bertahan hidup di negara orang.

"Starla, apa yang kau lakukan?" tegur sang Ayah tak terima.

"Apa Papa tidak lihat? Aku sedang memberi pelajaran pada pelakor serakah ini," tukas Starla.

"Beraninya kamu sentuh Mama ku!" Kanaya yang sedari tadi jadi penonton akhirnya berani untuk maju menampar Starla.

Sayangnya, belum sempat tangannya mendarat di pipi Starla, Starla sudah lebih dulu menendang perutnya hingga jatuh terduduk di lantai.

"Sa-sakit," lirih Kanaya.

Sementara, Starla hanya tersenyum miring.

"Rasakan," ujarnya penuh kepuasan.

"Starla, beraninya kamu menyakiti Kanaya," ujar sang Ibu tiri tak terima.

"Siapa suruh dia sok ikut campur," timpal Starla.

"Starla, sebenarnya apa maumu? Kenapa kamu tiba-tiba datang kemari dan malah membuat masalah, hah?" tanya sang Ayah. "Papa minta maaf jika ternyata kamu tidak pernah menerima uang kiriman dari Papa. Tapi, itu semua pasti karena tidak disengaja. Mungkin, Mama Grace hanya lupa."

Dia benar-benar terkejut dengan perubahan putrinya. Gadis yang dulu selalu terlihat lemah dan mengharap belas kasihan darinya, hari ini telah menjelma menjadi orang lain.

Dia bukan sosok yang Arlo kenali lagi.

"I-itu benar. Ma-Mama hanya lupa. Ya, lupa," sahut Grace membenarkan.

"Lupa sampai empat tahun?" Starla tertawa sumbang sambil bertepuk tangan. "Hebat sekali. Benar-benar luar biasa."

Melihat tindakan Starla yang terang-terangan mengejek dirinya, Grace langsung merengek pada Arlo untuk diberi pembelaan.

"Sudahlah, Starla. Tidak perlu dibahas lagi! Toh, semua sudah berlalu. Walaupun hidupmu pernah susah, tapi kamu berhasil lulus kuliah dan kembali dengan selamat, kan? Jadi, tidak perlu mempermasalahkan hal-hal yang sudah lewat. Sesama keluarga, seharusnya tidak perlu menyimpan dendam seperti ini."

Mendengar itu, emosi Starla seperti gunung berapi yang bersiap menyemburkan lahar panas.

Enteng sekali sang Ayah berbicara. Seolah-olah, penderitaan Starla tidak berarti apa-apa dimatanya.

"Hebat sekali. Anda benar-benar orang yang adil, Tuan Arlo Alexander!" ucap Starla dengan geram.

Arlo memejamkan matanya sesaat. Dia menghela napas berat, kemudian menatap kembali wajah Starla.

"Sebenarnya, kamu datang kemari untuk apa? Cepat katakan! Papa tidak ada waktu untuk meladeni anak tukang merajuk sepertimu."

Starla tersenyum kecut. Sudah semarah ini, dan sang Ayah hanya mengira jika dirinya sedang merajuk? Munafik sekali.

"Aku kemari untuk mengambil semua barang peninggalan mendiang Mama ku. Termasuk, seluruh perhiasan yang melekat di tubuh perempuan simpanan Papa."

"Tidak. Tidak boleh. Jangan sentuh perhiasan ku. Semua ini milikku," seru si pelakor sambil memegang erat kalung yang dikenakannya.

1
Yulia Dhanty
bagus n menarik
mery harwati
Bagus Starla 👍
Buang laki² yang demi gengsi & ego tinggi hanya untuk merendahkan dirimu😠
Nino pikir di dunia hanya ada dia saja tanpa ada orang lain yang masih baik untuk menolongmu Starla 💪
mery harwati
Nino sama tolol & bodohnya dengan Arlo bila cara berpikirnya Starla akan datang & minta pertolongan sama dia, padahal Starla jelas² sudah bilang tak mau barang bekas Kanaya (termasuk Nino)
Starla bangkit & cari kebahagianmu tanpa Arlo & Nino, masih banyak orang yang baik padamu Starla 💪
Wiwit Manies
mana ini lanjutan nya /Pooh-pooh/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!