NovelToon NovelToon
Dicintai Ugal-Ugalan Oleh Suami Amnesia

Dicintai Ugal-Ugalan Oleh Suami Amnesia

Status: sedang berlangsung
Genre:Berbaikan / Suami amnesia / Perjodohan / CEO
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.

Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.

Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 2.

Hujan turun sejak sore, membasahi halaman rumah dengan suara yang ritmis namun terasa menyedihkan.

Milea duduk di ruang keluarga, menonton televisi tanpa benar-benar memperhatikan isi layar. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Biasanya, pada jam ini Rangga belum tentu pulang.

Dan malam ini pun sama.

Ponsel di genggaman Milea menyala, sebuah pesan masuk.

Rangga:

[Aku akan menginap di apartemen, rapat belum selesai.]

Tak ada penjelasan lebih lanjut.

Milea menatap pesan itu lama, jari-jarinya gemetar. Apartemen itu adalah tempat Rangga sering menginap, seolah menjadi simbol jarak di antara mereka. Ia mengetik balasan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, menghapus lagi.

Akhirnya, ia hanya menulis satu kata.

Milea:

[Baik.]

Wanita itu meletakkan ponsel dan bersandar di sofa. Dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menekan tanpa ampun. Ia menutup mata, membiarkan air mata mengalir tanpa suara.

Bukan karena Rangga tak pulang.

Tapi karena... ia merasa lelah.

Keesokan paginya, Milea menghadiri makan siang keluarga di rumah mertuanya.

Ia duduk rapi di ruang makan besar, mengenakan gaun sederhana warna pastel. Di seberangnya, Nyonya Atalia, ibu Rangga, menatapnya dengan senyum tipis yang sulit ditebak artinya.

“Rangga sibuk sekali akhir-akhir ini ya?” tanya Nyonya Atalia sambil mengaduk sup.

Milea tersenyum kecil. “Iya, Mah. Proyeknya banyak.”

“Sebelum menikah, Rangga memang pekerja keras. Dan setelah menikah... dia makin ambisius,” sambung Ayah Rangga datar. “Kamu harus bisa maklum sebagai istri.”

Milea mengangguk, meski hatinya terasa seperti ditusvk.

Maklum.

Selalu maklum.

Tak ada yang bertanya bagaimana perasaannya, tak ada yang menyadari bahwa selama ini ia sendirian mempertahankan pernikahan.

“Biarkan suamimu fokus pada kariernya, soal perasaan... nanti juga terbiasa.” Ucap Nyonya Atalia seolah tahu, jika putranya belum mempunyai perasaan pada sang menantu.

Terbiasa... itu juga yang dikatakan para orang tua saat menjodohkan keduanya.

Milea menunduk, jemarinya mencengkeram serbet. Ia ingin berkata... bahwa ia lelah. Bahwa ia juga manusia, bukan perabot rumah tangga yang cukup ditinggal begitu saja.

Namun suaranya terkunci.

Malamnya, Rangga akhirnya pulang. Ia masuk ke kamar dengan wajah lelah, melepaskan jas dan dasinya. Milea yang sedang duduk di tepi ranjang menoleh.

“Kamu pulang,” ucap Milea pelan.

“Iya.”

Rangga membuka kancing kemejanya, lalu berjalan ke kamar mandi.

Milea berdiri. Kali ini, ia tak ingin diam lagi.

“Rangga,” panggilnya.

Rangga berhenti di depan pintu kamar mandi, menoleh.

“Kita bisa bicara sebentar?”

“Nanti saja, aku capek.”

“Aku juga capek,” jawab Milea spontan.

Rangga menatap istrinya. Ada jeda singkat, lalu pria itu menghela napas dan menutup pintu kamar mandi tanpa berkata apa-apa. Bukan penolakan yang keras, tapi pengabaian yang jauh lebih menyakitkan.

Milea berdiri terpaku. Tangannya mengepal, tubuhnya bergetar.

Air mata itu jatuh lagi.

Milea berjalan ke lemari, membuka laci bawah, dan menarik sebuah map cokelat. Di dalamnya ada beberapa berkas penting, termasuk satu dokumen yang selama ini tak pernah berani ia sentuh.

Surat pengajuan perceraian, namun belum ditandatangani. Milea menatap kertas itu lama, dadanya terasa perih.

“Kalau memang aku tak pernah benar-benar ada di hidupmu, lalu untuk apa aku bertahan?” ucap wanita itu lirih.

Di balik pintu kamar mandi, Rangga berdiri di bawah shower tanpa menyalakan air, wajahnya menunduk dengan mata terpejam.

Ia mendengar semuanya.

Namun, seperti biasa…

Pria itu memilih diam.

Dan tanpa dia sadari, diam itulah yang perlahan menghancurkan segalanya.

Pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya.

Milea terbangun dengan mata sembab. Bantal di sampingnya masih rapi, tanda bahwa Rangga tidak tidur di kamar semalam. Ia sudah menduganya. Setelah kejadian tadi malam, kemungkinan besar suaminya memilih menghabiskan malam di apartemen pribadinya.

Ia bangkit perlahan, duduk di tepi ranjang, memeluk dirinya sendiri.

Empat tahun.

Empat tahun ia bangun setiap pagi dengan perasaan yang sama. Kosong, berharap, lalu kecewa.

Milea berjalan ke kamar mandi, menatap pantulan wajahnya di cermin. Wanita itu masih terlihat cantik, rapi, dan tenang dari luar. Namun hanya dirinya yang tahu betapa rapuh isi dadanya.

“Apa aku yang salah?” gumamnya.

Ia sudah mencoba segalanya.

Menjadi istri yang patuh.

Menjadi pendengar yang baik.

Menjadi rumah yang hangat.

Namun Rangga tak pernah benar-benar pulang, bahkan ketika tubuh pria itu ada di rumah ini.

Siang itu, Milea memutuskan keluar rumah. Ia menuju sebuah kafe kecil tak jauh dari rumah, tempat yang dulu sering ia kunjungi sebelum menikah. Di sana ia bertemu Alya, sahabatnya sejak kuliah.

“Aku kaget kamu ngajak ketemu siang gini,” ujar Alya sambil menyeruput minumannya. “Biasanya kamu selalu menolak bertemu, dengan alasan sibuk ngurus rumah.”

Milea tersenyum hambar. “Aku cuma butuh keluar sebentar.”

Alya menatapnya lebih saksama. “Kamu kelihatan capek.”

Kalimat sederhana itu membuat Milea hampir menangis.

“Aku lelah, Alya,” ucapnya akhirnya. “Capek pura-pura baik-baik saja.”

Alya terdiam, lalu menggenggam tangan Milea. “Masih tentang Rangga?”

Milea mengangguk. “Empat tahun menikah, tapi aku seperti… nggak pernah benar-benar punya suami.”

Milea menceritakan semuanya. Tentang sikap dingin Rangga, tentang hari-hari yang sepi, tentang surat cerai yang tersimpan di laci.

Alya menarik napas panjang. “Mil, pernikahan itu bukan cuma bertahan. Kamu juga berhak bahagia.”

“Aku tahu,” jawab Milea lirih. “Tapi aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut kalau semua yang aku perjuangkan ini… ternyata sia-sia.”

Alya menatapnya dengan serius. “Yang lebih menakutkan itu, bertahan di tempat yang salah... terlalu lama.”

Kata-kata temannya menancap begitu dalam.

Sore hari, Rangga pulang lebih cepat dari biasanya.

Milea yang sedang di dapur terkejut mendengar suara pintu terbuka. Ia menoleh, mendapati suaminya berdiri di sana, wajahnya tampak lelah namun tetap tenang seperti biasa.

“Kita perlu bicara,” ucap Rangga singkat.

Jantung Milea berdegup kencang.

Mereka duduk berhadapan di ruang keluarga. Jarak di antara mereka terasa begitu nyata meski hanya dipisahkan meja.

“Aku rasa,” Rangga memulai dengan suara datar, “Pernikahan kita tidak berjalan seperti seharusnya.”

Milea menatap wajah suaminya, berusaha menahan air mata. “Kamu baru sadar sekarang?”

Rangga terdiam sejenak. “Aku sudah memikirkannya sejak lama.”

Kalimat itu terasa seperti pisau.

“Lalu?” tanya Milea dengan suara bergetar.

“Kita sama-sama tidak bahagia,” lanjut Rangga. “Dan aku tidak ingin terus menjalani hubungan tanpa perasaan.”

Milea tertawa kecil, getir. “Tanpa perasaan? Sejak kapan kamu punya perasaan dalam pernikahan ini, Rangga?”

Tatapan Rangga mengeras. “Aku tidak ingin berdebat.”

“Aku juga tidak,” jawab Milea. “Aku hanya ingin jujur. Empat tahun ini, aku berusaha mencintaimu sendirian.”

Rangga terdiam.

“Aku menunggumu pulang, aku menyiapkan semua makanan kesukaanmu. Aku menyesuaikan hidupku dengan jadwalmu. Tapi kamu? Kamu bahkan tidak pernah menoleh, apalagi menghargai semua usahaku dalam mempertahankan pernikahan kita.”

“Aku bekerja keras untuk keluarga ini.” Rangga menekan ucapannya.

“Salah, kau bekerja keras untuk perusahaanmu,” potong Milea pelan. “Bukan untuk kita.”

Keheningan menyelimuti ruangan.

Rangga berdiri. “Aku akan minta pengacara menyiapkan berkasnya.”

Itu saja.

Tak ada permintaan maaf.

Tak ada keraguan.

Milea menunduk, air mata jatuh satu per satu.

“Baik,” jawabnya lirih.

Malam itu, Milea mengurung diri di kamar. Ia membuka kembali map cokelat yang selama ini ia simpan. Surat cerai itu kini terasa lebih nyata dari sebelumnya.

Tangannya gemetar saat menyentuh kertas itu. “Empat tahun, apa semuanya benar-benar sia-sia?”

Ia teringat hari pernikahannya, senyum Rangga yang sopan namun dingin. Janji yang diucapkan tanpa getar. Milea menutup matanya, mungkin ia memang terlalu berharap.

Di tempat lain, Rangga mengemudi sendirian menuju apartemennya. Lampu kota menyala di sekeliling, namun pikirannya kosong.

Ia teringat wajah Milea saat tadi mereka bicara, penuh rasa sakit tapi wanita itu tetap terlihat tenang. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, namun ia menepisnya.

Ini keputusan paling logis, pikirnya.

Tak ada yang tahu, bahwa malam itu adalah malam terakhir sebelum segalanya berubah. Tak ada yang tahu, bahwa keputusan yang mereka ambil dengan kepala dingin… akan diuji oleh takdir.

*

*

*

Bersambung.

1
Miss Typo
oh ngilang karna lumpuh dan dibawa ke luar negeri, tapi harusnya ngabarin Milea hadeh
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
Desyi Alawiyah
Ternyata Ethan juga mengalami lumpuh yah.. Tapi, kenapa Ethan ngga memberi kabar ke Milea sih.. Ya minimal lewat chat atau apa gitu... 😅
Desyi Alawiyah: Cowok mah gitu Kak, suka ngilang pas lagi sayang-sayangnya... 😅😅🤭
total 2 replies
Desyi Alawiyah
Ethan kamu mundur aja deh, jangan deketin Milea lagi... Dia udah jadi istri orang, jangan sampe kamu jadi pebinor.. 😌
Tiara Bella
obsesi bahaya itu bt milea....semoga, Rangga, Arga,sm jenny bs ngadepin Nathan ya....
tinie
oooh jadi dia juga sama ,TPI kenapa orang tuanya tidak memberi kabar sampai sekarang
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Rita
alasannya kshn juga sih salahnya disini dia obsesi,Milea jg sdh bahagia sama Rangga harusnya bs merelakan
Rita
bagus biar kmunya g merasa sendiri aplg ini menyangkut mantan ma sahabat
Aditya hp/ bunda Lia
ooh, ... jadi ternyata si Ethan juga parah yah saat kecelakaan dia lumpuh
Miss Typo
ceritakan semua ke Rangga dan Arga ya Jen, biar ada solusi. Ethan gila dia bener² msh terobsesi ke Milea
Nie
baru juga bahagia udh ada aja yg mengganggu ,ayo Jen,kasih tau Arga ma Rangga dan Milea mulai saat ini ga boleh sendiri ya
tinie
si sethan 🤔🤔🤔
Rita
duhhh kurang ajar nih S ethan😜😂😂😂😂
Rere💫: Setan kagak tuh 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nadiyah1511
trbuka sama Rangga+milea Jen cari solusinya sama2...jgn bertindak gegabah
Desyi Alawiyah
Jangan mau Jen.. Jangan mau kamu diperalat sama Ethan..

Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌
Aditya hp/ bunda Lia
👍👍👍
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍
Aditya hp/ bunda Lia
apa hubungan si Ethan sama keluarga Vano?
Tiara Bella
Ethan bener² terobsesi sm milea...segala cara dilakuin sm dia bt misahin milea sm Rangga
Aditya hp/ bunda Lia
waduh Ga tahan dulu dong jangan langsung esmosi gituuuuu ... buahayaaa
Rita
waduh Rangga awas ada masa lalu ma fans baru istrimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!