NovelToon NovelToon
ALVEGAR

ALVEGAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yunie Afifa ayu anggareni

Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.

AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 : The Queen's dan Misi Rahasia

Maura melangkah cepat menuju kantin sekolah, napasnya masih memburu akibat face-off barusan dengan Arazka. Tumpukan kertas di map merah jambu itu ia peluk erat. Bukan hanya kertas biasa, ini adalah proposal acara amal terbesar di Dirgantara yang harus diajukan hari ini.

"Dasar cowok es! Sombongnya gak ketulungan!" gerutu Maura pelan. Entah kenapa, Arazka selalu punya cara buat bikin emosinya meledak, sekaligus bikin jantungnya deg-degan aneh.

"Wohooo! Ada apa nih? Pagi-pagi udah mukanya ditekuk aja, kayak baju belum disetrika," sambut Fanila yang sudah duduk di bangku kantin, sibuk mengunyah batagor.

Di sebelah Fanila, Yasmin—cewek paling modis—sedang sibuk membetulkan letak bando mahalnya sambil melihat ke layar ponsel. Kinara Putri Santosa, si cewek manis yang agak polos dan lemot, menatap Maura dengan mata berbinar. Sementara Keysha, yang selalu pendiam dan irit bicara, hanya menggeser tempat duduknya sedikit, memberi ruang untuk Maura.

Mereka berlima—Maura dan The Queens (sebutan informal geng ceweknya)—adalah lawan sepadan ALVEGAR dalam hal kepopuleran dan kekuasaan di ranah non-fisik (akademik dan organisasi).

"Gue ketemu kutub utara tadi," kata Maura sambil menjatuhkan diri di kursi.

Fanila langsung mengerti. "Si Arazka lagi? Ngapain lagi dia? Mau gue gebuk pake map?" tanyanya, galak dan bar-bar seperti biasa.

"Biasalah. Drama sok berkuasa. Gue jatuhin map, dia injak, terus nyuruh gue minta maaf. Gue diemin lah," jelas Maura.

Yasmin akhirnya mengangkat kepala dari ponsel. "Gila. Lo keren, Maur. Cuma lo doang yang berani ngelawan dia terang-terangan gitu."

"Dia itu cowok paling nyebelin di muka bumi," tegas Maura.

Kinara, yang dari tadi fokus pada batagornya, mendadak nyeletuk polos. "Tapi... Arazka ganteng lho, Maura."

Semua mata langsung tertuju pada Kinara. Fanila bahkan hampir tersedak batagor.

"Kinara! Lo ini polos apa lemot sih?" semprot Fanila. "Ganteng sih ganteng, tapi kelakuannya kayak lord dari neraka!"

"Tapi dia perfect banget. Kayak manekin mahal," ujar Kinara dengan mata innocent.

Keysha, yang biasanya diam, bergumam pelan, "Dia memang sempurna. Terlalu."

Maura menghela napas. "Udah, jangan bahas badboy itu. Mending bahas misi kita. Proposal acara amal ini harus gol hari ini. Misi A: ketemu Pak Bima, deal dana sponsor."

Di sisi lain sekolah, geng ALVEGAR sudah berkumpul di markas mereka: sebuah ruang fitness pribadi yang hanya bisa diakses oleh mereka.

"Ketua, seriusan loe biarin cewek itu pergi gitu aja?" tanya Miko, masih tidak percaya. "Biasanya loe langsung bekuin dia di tempat!"

Arazka, yang sedang mengambil handuk, menoleh. Wajahnya kembali dingin, menyembunyikan sisa-sisa amusement dari kejadian tadi. "Gue gak mau buang waktu gue cuma buat adu bacot sama cewek keras kepala, Miko."

"Cewek keras kepala yang bikin loe senyum tipis tadi?" goda Asean sambil memasang smirk khas playboy-nya.

Arazka melemparkan tatapan mematikan, membuat Asean langsung pura-pura sibuk membetulkan tali sepatu.

Rangga, yang dari tadi diam, akhirnya bicara. "Kita punya urusan lebih penting. Urusan kompetisi antar-geng motor. Rider dari Black Cobra udah nantang balap liar lagi minggu depan."

"Mereka gak ada kapoknya," ujar Danis, nada suaranya tetap ramah tapi ada ketegasan di sana.

"Kita terima. Tapi gak usah balap liar. Kita tantang di sirkuit resmi," potong Arazka. "Kita ALVEGAR. Mainnya elegan, bukan sampah jalanan."

"Setuju, Ketua," jawab Rangga.

Miko yang mulai bosan dengan topik balap, tiba-tiba melihat ke luar jendela. Ia melihat tiga cewek berjalan menuju gerbang depan sekolah. Salah satunya adalah Fanila, cewek yang terkenal galak dan bar-bar.

"Eh, Fanila sama gengnya mau ke mana tuh? Kayaknya buru-buru banget," tunjuk Miko.

"Mereka pasti lagi urus acara amal atau apalah itu. Cewek-cewek pinter kan hobinya begitu," kata Asean.

"Ngomong-ngomong, Kinara tadi pagi lucu banget pas lagi ngumpul di kantin," ujar Danis tiba-tiba. Wajahnya yang selalu ceria terlihat sedikit lebih berseri.

Miko langsung menyenggol lengan Danis. "Wih! Danis mode salting! Loe suka sama si polos, Dan?"

Danis tersenyum malu. "Dia cewek paling baik yang pernah gue lihat. Polos banget."

Arazka mendengarkan sambil mengeringkan rambut. Tiba-tiba, ia teringat dengan proposal yang dibawa Maura. "Rangga, loe cek agenda Pak Bima. Pastikan gak ada yang ganggu pertemuan kita nanti siang."

"Pertemuan apa?" tanya Rangga.

"Urusan bisnis keluarga. Tapi gue yakin, si Maura pasti lagi ngejar Pak Bima buat proposal gak pentingnya itu," kata Arazka sinis. "Gue gak mau jadwal gue bentrok sama cewek itu. Apalagi sampai kalah cepat."

Di balik nada sinis Arazka, ada semangat persaingan yang menyala. Ia tidak mau mengakui, tetapi ia selalu ingin berada selangkah di depan Maura.

Saat jam istirahat kedua, Maura, Fanila, dan Kinara sudah berada di lorong kantor guru, siap menemui Pak Bima.

"Oke, Fanila, loe jaga pintu. Kinara, loe jangan ngomong apa-apa, loe cuma bawa map merah jambu ini," instruksi Maura.

"Siap, Maura!" jawab Fanila tegas.

"Siap! Map merah jambu," ulang Kinara, polos.

Tepat saat Maura akan mengetuk pintu, langkah kaki tegas terdengar dari ujung lorong. Muncul Arazka, sendirian, dengan wajah yang sudah menunjukkan tanda-tanda tidak sabar.

"Minggir, Maura," ujar Arazka tanpa basa-basi.

"Loe duluan yang minggir. Gue udah janji sama Pak Bima jam ini," balas Maura, melotot.

"Gue gak peduli. Urusan gue lebih penting. Ini masalah perusahaan bokap gue," desak Arazka.

"Urusan amal lebih penting dari bisnis keluarga loe yang sombong itu!" balas Maura sengit.

Saat keduanya sibuk saling melotot, Kinara yang polos tiba-tiba maju. Dengan mata innocent, dia menatap Arazka.

"Kak Arazka, Kak Maura cuma mau bantu orang lho. Kasihan nanti Pak Bima nunggu lama," ujar Kinara lembut.

Arazka, yang sedang dalam mode perang dengan Maura, mendadak tertegun. Ekspresi dinginnya sedikit melunak melihat Kinara yang polos dan manis.

Di saat itulah, Fanila yang bar-bar memanfaatkan kesempatan. Dengan gerakan cepat, dia mendorong Arazka menjauh dari pintu.

"Udah ah! Loe kelamaan! Masuk, Maur!" seru Fanila.

Maura, terkejut namun sigap, langsung masuk ke ruangan Pak Bima. Arazka hanya bisa terpaku, tidak percaya dia baru saja kalah cepat dari dorongan bar-bar Fanila dan ucapan lembut Kinara.

TO BE CONTINUED

Bersambung....

1
Anggi Anggara
semanagtt💪
Anggi Anggara
masih baru dan blum banyak yang baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!