NovelToon NovelToon
WAGE

WAGE

Status: tamat
Genre:Horor / Spiritual / Selingkuh / Mata Batin / Kutukan / Hantu / Tamat
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Dayang Rindu

Diambil dari cerita weton Jawa yang populer, dimana seseorang yang lahir di hari tersebut memiliki keistimewaan di luar nalar.
Penampilannya, sikapnya, serta daya tarik yang tidak dimiliki oleh weton-weton yang lain. Keberuntungan tidak selalu menghampirinya. Ujiannya tak main-main, orang tua dan cinta adalah sosok yang menguras hati dan airmata nya.
Tak cukup sampai di situ, banyaknya tekanan membuat hidupnya terasa mengambang, raganya di dunia, namun sebagian jiwanya seperti mengambang, berkelana entahlah kemana.
Makhluk ghaib tak jauh-jauh darinya, ada yang menyukai, ada juga yang membenci.
Semua itu tidak akan berhenti kecuali Wage sudah dewasa lahir batin, matang dalam segala hal. Dia akan menjadi sosok yang kuat, bahkan makhluk halus pun enggan melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fitnah

Lima tahun sudah berlalu, kini Ratih kembali melahirkan anak laki-laki. Kekhawatiran Rudy akan Wulan pun tidak begitu terasa, karena hari-hari yang mereka lalui pun tampak biasa saja.

Saat itu Wulan sudah mulai belajar menulis dan menghapal angka-angka persiapan masuk sekolah. Namun beberapa hari ini Wulan demam tinggi sehingga membuat orang tuanya khawatir.

"Mas, tolong jemput Mbah Mirah, aku takut Wulan kenapa-napa." ucap Ratih khawatir, mengelus kening Wulan yang terasa panas. Tapi tak bisa maksimal mengurus Wulan karena Dia baru saja melahirkan.

"Baiklah Dek, kamu jaga Jaka dan Wulan. Aku akan segera kembali bersama Mbah Mirah."

Ratih mengangguk, dan berangkatlah Rudy menjemput Mbah Mirah, dukun beranak yang sudah dianggap sebagai orangtuanya sendiri.

Tak berapa lama kemudian, tibalah si Mbah di rumah panggung itu. Perempuan tua itu menenteng kantong plastik hitam di tangannya.

"Mbah!" Wulan bangkit, duduk di ranjangnya melihat Mbah Mirah datang.

"Nduk, kamu kenapa? Demam?" si Mbah memeluk gadis kecil itu, erat sambil mengelusnya.

Wulan mengangguk, wajahnya pucat.

"Minum dulu ya Nduk." Mbah Mirah membuka tutup botol yang di keluarkan dari kantong plastik.

"Dingin Mbah, langu." kata Wulan, setelah meneguknya beberapa.

Mbah Mirah tersenyum, sambil meminta Wulan kembali tidur dan menyelimutinya. "Ini air temu hutan yang Mbah ambil di dekat jembatan, supaya Wulan Ndak demam lagi, panasnya hilang." ucap Mbah Mirah.

Wulan mengangguk, kemudian kembali memejamkan matanya.

"Rud, ini di rendam saja pakai air matang yang dingin. Nanti kalau Wulan bangun bisa minum lagi." titah Mbah Mirah, menyerahkan potongan tumbuhan mirip bambu, namun seratnya seperti tebu itu kepada Rudy. Tumbuhan yang berkhasiat menurunkan demam.

"Iya Mbah."

Pasangan suami istri itu sungguh lega dengan kedatangan Mbah Mirah. Bukan pasal dia seorang dukun, tapi pengetahuannya tentang obat-obatan sungguh mumpuni.

Namun sepertinya ketenangan Ratih dan Rudy tak berlangsung lama.

"Mbah, jangan pulang." suara cempreng tapi lembut milik Wulan terdengar hingga keluar kamar, Ratih pun masuk ke kamar anaknya, ada apa gerangan hingga Wulan merengek kepada si Mbah.

"Mbah nginap saja malam ini." pinta Ratih.

Ternyata mbah Mirah sedang mengemas kain jarik, memasukkan ke dalam kantong plastik yang tadi di bawahnya.

"Mbah harus pulang Nduk. Perasaan Mbah Ndak enak, kepikiran Mbah Nang mu." kata si Mbah, memang sejak sore terlihat gelisah.

"Tapi ini sudah malam." kata Ratih.

"Nganu Nduk_"

Tiba-tiba suara pintu di ketuk beserta panggilan cukup keras.

"Rudy! Ratih! Buka pintunya!"

Ketiga orang dewasa itu saling pandang seketika, Ratih melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul 21:50 Hampir jam sepuluh, siapakah yang datang?

Rudy segera beranjak dari duduknya, membukakan pintu. "Lho! Mas Anam?"

"Rud, apakah Mbah Mirah ada di sini?" tanya Anam.

"Ada Mas, ada." jawab Rudy, kemudian Mbah Mirah dan Ratih pun keluar melihat siapa yang datang.

"Anam, ono opo?" tanya Mbah Mirah.

"Itu Mbah! Si Wati Mbah." jawab Anam.

"Wati?" tanya Mbah Mirah heran.

"Iya Mbah, dia melahirkan di tengah jalan menuju rumah si Mbah. Tapi..."

"Tapi opo Nam?" desak Mbah Mirah, dia sungguh gugup dan khawatir, pastilah sudah terjadi hal tak baik sampai Anam mencari dirinya.

"Dia sudah meninggal." Jawab Anam.

"Inalillahi... Ya Allah." serentak ketiganya berkata.

"Ayo! Kita ke rumah si Mbah." kata Mbah Mirah.

"Aku antar Mbah." Rudy pun ikut bersama Mbah Mirah.

Perjalanan mereka cukup jauh. Rumput mulai berembun karena cuaca malam, sarung dan celana panjang tak lagi bisa menahan rasa dingin yang menyergap kaki mereka. Namun kaki tua Mbah Mirah tak mau kalah, bahkan jalannya begitu cepat setengah berlari.

Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketiga orang itu ketika sampai di rumah Mbah Mirah.

"Dar?" lirih Mbah Mirah menyebut nama seorang wanita yang memeluk Wati di teras gubuknya sambil menangis.

"Itu Dia! Perempuan tua yang sudah membuat anak ku mati!" teriak perempuan paruh baya itu menunjuk Mbah Mirah.

"Maksud kamu opo? Aku baru datang karena di jemput Anam?" jawab Mbah Mirah, Melihat sekeliling sudah banyak warga yang berkumpul. Padahal jarak rumah mereka masing-masing cukup jauh, mengingat mereka ada di area perkebunan dan hutan.

"Jangan percaya! Dia sengaja pergi karena tidak mau menolong anak ku. Dia berpura-pura tidak tahu, dia sengaja agar Wati anak ku mati!" perempuan bernama Darminah itu berteriak, menangis sejadi-jadinya.

"Dar! Koe ngomong opo? Mana mungkin aku menginginkan Wati mati! Dia itu keponakan ku!"

"Keponakan kata mu? Kenapa kamu tidak datang, Mas Rohman sudah memintamu datang sejak pagi!"

Mbah Mirah Semakin tercengang. "Rohman Ndak pernah datang! Tadi pagi aku ada di rumah." tegas Mbah Mirah.

"Bohong! Dia bilang, dia tidak mau datang. Dia bilang, dia tidak Sudi menolong Wati karena Wati itu wanita kotor! Dan hamil anak haram!" kata Rohman, suami Darminah.

"Man! Kamu jangan fitnah aku! Aku tidak pernah pergi dari rumah ini sebelum sore tadi Rudy menjemput ku." marah Mbah Mirah.

"Aku tidak fitnah! Aku saksinya!" jawab Rohman.

Jadilah semua warga berbisik-bisik marah, melirik Mbah Mirah dengan sinis.

"Tenang Pakde, tapi Mbah Mirah tidak mungkin seperti itu." bela Rudy.

"Halah! Kamu berkata seperti itu karena dia pilih kasih! Kamu tidak tahu saja, dia menyukai anakmu untuk di wariskan ilmu sesat suaminya!"

Semakin tercengang pula semua orang mendengar ucapan Rohman. Seolah mereka mengetahui rahasia Mbah Mirah dan suaminya yang selalu baik kepada keluarga Rudy selama ini. Semua itu tak lebih seperti kata pepatah, ada udang di balik batu. Meski ada kebaikan, tapi dengan maksud tertentu.

"Rohman! Tutup mulutmu!"

Suara bentakan terdengar memecah keributan, akhirnya suami Mbah Mirah datang. Pria itu baru saja pulang membawa seekor kijang kecil hasil buruannya.

"Nah! Ini dia pria berilmu sesat itu! Lihatlah tangannya penuh darah! Dia sudah membunuh anaknya Wati! Dia sudah menumbalkan anaknya Wati!"

"Benarkah itu?" tanya Pak De Suryo yang sejak tadi hanya diam mendengarkan. Diapun penasaran.

Suami Mbah Mirah tersenyum tipis, lalu melemparkan hewan hasil buruannya yang sudah tak berdaya itu ke Tanah.

"Tidakkah kalian lihat kalau aku baru saja menombak Menjangan muda ini?" ucapnya.

^^^Menjangan \= Kijang^^^

"Itu hanya alasan! Tadi ku lihat lampu rumah ini menyala! Lalu saat aku kembali sudah padam dan anaknya Wati menghilang. Tali pusarnya terputus seperti di potong orang yang sudah ahli. Padahal aku hanya memanggil Anam meminta bantuan. Jangan-jangan, dia berikan kepada hewan junjungannya!"

"Rohman!" teriak Mbah Suro itu mulai naik pitam, dia benar-benar tidak tahu perihal bayinya Wati. "Seburuk-buruknya penampilan ku, aku tidak pernah membunuh manusia!"

1
🍒⃞⃟🦅Benassir
Aamiin ....maturnuwun thor, sudah menyuguhkan cerita yang menarik dan pencerahan tentang penanggalan jawa.
tetap semangat dengan cerita2 yang akan datang.

untuk Bara , urip kui mung sawang - sinawang.
hargai apa yang kita punya ,jangan membandingkan hidup
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
sampai lupa makan kan belah duren butuh tenaga juga kels dion hadehh
Dayang Rindu: /Facepalm//Facepalm/ jadi istrinya harus banyak sabar, dan kuat!
total 8 replies
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
woalah jd akan di kembalikan juga batu itu yaa
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅: seru tp tegang juga lho bacanya tant dehh
total 2 replies
☠ SULLY
semoga setelah ini
cinta terakhir dan selamanya untuk Wulan & Dion
Dayang Rindu: ada sih, jotos-jotosannyaa. 👻👻👻
total 3 replies
🍒⃞⃟🦅Benassir
semoga setelah ini tidak ada badai lagi.
semua sudah kembali ketempatnya
kepemiliknya..
tinggal merajut kebahagiaan, beranak pinak bercucu cicit
Dayang Rindu: yess! Betul sekali, menua bersama-sama sampai ajak menjemput
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
hahaha menyesal nanhis darah dah tak da guna bar.. noh istri mu mlh bersikap kenkanakn
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
jd batu2 itu masih ada dan ttp mengintil sama wulan ya
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅: kyk dia yaa ngintil terus 🤣🤣🤣🙈
total 2 replies
☠ SULLY
dlm masa pingitan Wulan
jgn beri waktu bara
biarpun itu membicarakan sedikit masa lalu kalian istri ke 2 bara lebih garang
ga guna di ladeni pun
☠ SULLY
bukannya bapak ibu ,Jaka
nungguin Wulan di saat ngigau
stlh Wulan bangun apa langsung
bangun trs pergi mandi ?
seperti tdk ada orang di dlm kamar nya...
apa Ndak heran itu bapak ibu juga Jaka
dgn tingkah Wulan ,
Dayang Rindu: di singkat kak. 👻👻
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
ehhh gendeng iki bara ya
gono mempan ora ajian semar mesem lah jaran goyang lah
wis mboh2 tok pakakne eman ora bar.. oh bara bere menyesal tak da guna ya kan🤣🤣🤣🤣
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅: ohh pgn di bakar agaka nya biar ada sambel nya dan lalapam biar lengkap 🤭
total 4 replies
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
wess dion g sabaran dehh🤭🙈🙈🙈
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅: ehhh kae kan sing di tendang2 neng jero ruangan too kk dayang
total 2 replies
Ai Emy Ningrum
Aku lahir hari minggu .. weton nya Pon...beda dgn Wage yg betah di keramaian,aku paling ogah sendiri ditengah keramaian..takut ada copet..comot dompet 😌😌👹
Ai Emy Ningrum: kapan kapan nya entah kapan 😂😂 yg penting silaturahmi ga terputus 😚
total 6 replies
🍒⃞⃟🦅Benassir
aahh terlalu jauh khayal 😂 kukira dion akan menerkam dan menggeram di atas tubuh wulan😁.
terkesan murahan banget ini halu🤭.
Dayang Rindu: wkwkwk.. sabar... masih di tahan. 👻
total 1 replies
🍒⃞⃟🦅Benassir
Sabar ....sabar ....masa begitu saja menyerahkan keperjakaanmu dion😂.
Dayang Rindu: jadi berasa balik ke jaman baru nikah. 🙈
total 1 replies
🍒⃞⃟🦅Benassir
Memang terkadang sombong itu diperlukan😂, biar orang gak selalu menginjak nginjak harga diri kita.
sombong dalam hal ini di maklumi ,sebab mayang sudah menghasut orang2 untuk membenci wulan.
padahal wulan dah gumoh sama bara lho mayang, ngapain cari penyakit lagi ...
ingat pas wulan diloloh elinya bara ,ikut jijik dan muak serta sakit hati banget ...
kalau kamu kan suka rela loloh lolohan eli bara😂😂
Dayang Rindu: iya kali, apalagi kalau bukan itu.. /Facepalm/
total 3 replies
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
mayang gila
maling mlh treak maling mkne bar jgn pula kau gunakan ajian semar mesem mu mkne skrg mulut nya blong
nahh rasakan sndri kau bar itulah mayang bukan wulan yaaa 🤣🤣🤣🙈
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅: kui koes plus mbk ning🤣🤣
total 4 replies
☠ SULLY
beda anak beda rejeki Buu
yg pergi tak kembali ,yg ada harus di jaga
Dayang Rindu: yang paling di sayang pulang duluan.... 😢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
wehhh jadi ini kek terikat gtu ya

dan memang sengaja di smbunyikan kah itu makam nya di cari smpe kek mana pun g nemu
wis skrg kek mana coba
Dayang Rindu: Iyah mbak e
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
jadi ini siapa lagi coba
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅: ohh pulu2 ada di negri sebrang jauh nnti tengelem dlu sblm nyebrang
total 4 replies
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
uuuuhh suka kalo wulan udah di batas ini seru dag dig dug bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!