NovelToon NovelToon
Mendapatkan Hati Sang Antagonis

Mendapatkan Hati Sang Antagonis

Status: tamat
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Time Travel / Tamat
Popularitas:449.9k
Nilai: 5
Nama Author: sang senja

Karya pertama ku. jangan ada plagiat di antara kita❌❌❌


Apa jadinya, jika sang putri mafia, bertransmigrasi ke dalam sebuah novel cinta remaja. Menjadi tokoh figuran sebagai sahabat sang Antagonis wanita.
Yang akan mati di bunuh oleh sang Antagonis pria.
Sang antagonis pria, yang di gambar kan sangat terobsesi dengan sang protagonis wanita.
Dia yang akan membunuh sang antagonis wanita beserta kedua sahabat nya.
Namun sang Antagonis pria pun mendapat kan akhir yang buruk.
Mampu kah sang penjelajah waktu ini, merubah alur novel asli?
Atau, dia akan mati sama seperti di novel yang pernah ia baca?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amelia marta Sudibyo

Setelah mendengar penjelasan sang dokter, tiba-tiba kepala Amelia terasa sangat sakit.

Rasa nyeri itu datang begitu mendadak.

Seolah ada seseorang yang menghantam kepalanya menggunakan benda keras berkali-kali.

"Sakit..."

Amelia meringis sambil memegangi kepalanya.

Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi.

Bersamaan dengan itu, ingatan-ingatan asing mulai membanjiri benaknya.

Satu demi satu.

Potongan-potongan kenangan yang bukan miliknya.

Wajah-wajah yang tidak pernah ia kenal.

Tempat-tempat yang belum pernah ia datangi.

Serta berbagai peristiwa yang tidak pernah ia alami.

Semuanya berputar-putar di dalam kepalanya.

Membuat Amelia merasa seolah otaknya akan pecah kapan saja.

"Akh..."

Tubuhnya sedikit membungkuk.

Kedua tangannya mencengkeram rambutnya erat.

Dokter yang melihat keadaan itu langsung panik.

"Nona Amelia!"

Dokter segera menghampirinya.

"Tenang, Nona. Tarik napas perlahan."

Namun Amelia hampir tidak bisa mendengar suara dokter tersebut.

Terlalu banyak ingatan yang masuk secara bersamaan.

Hingga akhirnya...

Semua kenangan itu mulai tersusun dengan sendirinya.

Membentuk sebuah kehidupan baru yang sama sekali berbeda dari kehidupan Amelia Marta Geraldi.

Beberapa menit kemudian, rasa sakit itu perlahan mereda.

Napas Amelia masih memburu.

Wajahnya pucat pasi.

Peluh dingin membasahi dahinya.

Perlahan ia mengangkat kepala dan menatap dokter yang sedang memandanginya dengan penuh kekhawatiran.

"Maaf, Dok..."

Suaranya terdengar lemah.

Sangat berbeda dibandingkan sikap agresifnya saat pertama kali sadar.

"Bisakah saya ditinggalkan sendiri sebentar?"

Dokter tampak ragu.

"Kepala saya masih cukup sakit."

Amelia menelan ludah sebelum melanjutkan.

"Pemeriksaannya bisa dilanjutkan nanti saja."

Dokter mengernyit.

"Tapi, Nona."

"Sepertinya kondisi Anda cukup serius."

"Saya khawatir ada gangguan pada fungsi ingatan Anda."

"Sebaiknya saya melakukan pemeriksaan lebih lanjut terlebih dahulu."

Amelia menggeleng pelan.

Wajahnya masih pucat.

"Dok..."

"Saya benar-benar butuh waktu sendiri sekarang."

"Tolong."

Tatapan memelas itu akhirnya membuat dokter mengalah.

Ia menghela napas panjang.

"Baiklah."

"Tapi jika terjadi sesuatu, segera tekan tombol darurat di samping tempat tidur."

Amelia mengangguk pelan.

"Terima kasih, Dok."

Dokter itu pun keluar dari ruangan bersama para perawat.

*

*

Begitu pintu terbuka, sepasang suami istri yang sejak tadi menunggu di luar langsung menghampirinya.

"Bagaimana keadaan putri kami, Dok?"

Suara wanita paruh baya itu bergetar menahan cemas.

Dokter tersenyum tipis.

"Syukurlah, Nona Amelia sudah melewati masa kritisnya dan berhasil sadar."

Mendengar kabar tersebut, mata wanita itu langsung berkaca-kaca.

Sementara sang suami terlihat mengembuskan napas lega.

"Namun..."

Senyum dokter perlahan menghilang.

"Ada kemungkinan terjadi gangguan pada ingatannya."

"Kami masih perlu melakukan pemeriksaan lanjutan."

Pasangan suami istri itu langsung kembali tegang.

"Apakah berbahaya, Dok?" tanya sang ayah.

"Belum bisa dipastikan."

"Saat ini Nona Amelia meminta waktu untuk sendiri."

"Mungkin dia masih syok akibat kecelakaan yang dialaminya."

Dokter berusaha menjelaskan dengan hati-hati.

Mereka hanya bisa mengangguk.

Meski lega karena putri mereka telah sadar, rasa khawatir tetap memenuhi hati keduanya.

Sementara itu, di dalam ruangan.

Amelia sedang duduk diam di atas ranjang rumah sakit.

Tatapannya kosong menatap dinding.

Pikirannya masih berusaha mencerna semua hal yang baru saja terjadi.

Kini ia mengerti.

Ingatan asing yang tadi membanjiri kepalanya bukanlah halusinasi.

Itu adalah ingatan asli milik tubuh yang sekarang ia tempati.

Tubuh seorang gadis bernama...

Amelia Marta Sudibyo.

Dan yang membuat bulu kuduknya meremang adalah...

Semua ingatan itu sama persis dengan isi novel yang baru saja ia baca semalam.

"Jadi..."

"Gue beneran masuk ke dalam novel?"

Amelia memegangi dahinya.

Sulit dipercaya.

Namun semua bukti mengarah ke satu kesimpulan yang sama.

Ia benar-benar telah berpindah ke dunia novel.

Dunia yang beberapa jam lalu ia hina habis-habisan.

Amelia Marta Sudibyo.

Anak kedua dari pasangan Gracia Sudibyo dan Baskara Adi Sudibyo.

Ia memiliki seorang kakak laki-laki bernama Arsean Brandon Sudibyo.

Keluarga Sudibyo sendiri merupakan salah satu keluarga terpandang yang memiliki pengaruh besar di kota ini.

Dalam ingatan Amelia asli, keluarganya sangat menyayangi dirinya.

Setidaknya sebelum kehadiran seseorang.

Seseorang yang menjadi pusat seluruh cerita dalam novel.

Shofia Arcadia Mahesa.

Tokoh utama wanita.

"Astaga..."

Amelia langsung memijat pelipisnya.

Bahkan mengingat nama itu saja sudah membuatnya kesal.

Dalam novel, Shofia adalah sepupu Amelia yang datang dan tinggal bersama keluarga Sudibyo.

Awalnya semua berjalan normal.

Namun perlahan-lahan perhatian keluarga mulai beralih kepada Shofia.

Sikap lembut, kepolosan, dan berbagai kesialan yang dialaminya membuat semua orang merasa iba.

Termasuk keluarga Sudibyo.

Tanpa sadar, Amelia asli mulai merasa tersisih.

Perasaan itulah yang akhirnya berubah menjadi kebencian.

Kebencian yang semakin besar seiring berjalannya waktu.

Amelia menghela napas panjang.

"Kalau dipikir-pikir..."

"Sebagian memang salah Amelia sih."

Meskipun ia tidak menyukai karakter Shofia, Amelia Marta Geraldi harus mengakui bahwa Amelia Sudibyo juga bukan orang baik.

Ia sering melontarkan kata-kata tajam kepada Shofia.

Bahkan beberapa kali mempermalukannya di depan banyak orang.

Namun yang paling parah adalah...

Amelia tidak melakukannya sendirian.

Ia memiliki dua sahabat yang selalu berada di sisinya.

Aurora Isadora Wardana.

Dan Jenifer Odelia Edward.

Aurora adalah gadis ceria, sedikit centil, suka bergosip, dan terkadang berpikir lambat.

Namun kesetiaannya kepada sahabat-sahabatnya tidak perlu diragukan lagi.

Sementara Jenifer...

Amelia langsung mendecak pelan.

Jenifer adalah antagonis wanita dalam novel.

Tunangan Alexio Beraldik Sanjaya.

Tokoh utama pria.

Karena merasa posisinya terancam oleh kedekatan Alexio dan Shofia, Jenifer mulai merundung gadis itu.

Dan Amelia serta Aurora ikut terlibat di dalamnya.

"Kombo manusia bermasalah."

Amelia mengusap wajahnya.

Tidak heran mereka bertiga dibenci para pembaca.

Namun masalah terbesar bukanlah itu.

Yang benar-benar membuat Amelia merinding adalah keberadaan seseorang.

Seseorang yang jauh lebih berbahaya daripada Jenifer.

Lebih berbahaya daripada seluruh antagonis dalam novel ini.

Ardiansyah Alfarizki William.

Sang antagonis pria.

Sahabat masa kecil Shofia.

Dan seorang psikopat yang terobsesi melindungi gadis itu.

Dalam pandangan Ardiansyah, Shofia adalah gadis paling baik di dunia.

Suci.

Lembut.

Tidak bersalah.

Karena itu, siapa pun yang menyakitinya akan dianggap sebagai musuh.

Dan Amelia Sudibyo berada di urutan pertama dalam daftar musuh tersebut.

Termasuk kecelakaan mobil yang dialami Amelia.

Itu bukan kecelakaan biasa.

Itu adalah percobaan pembunuhan.

Direncanakan dengan sangat rapi oleh Ardiansyah.

Pria itu ingin menyingkirkan Amelia dari kehidupan Shofia.

Selamanya.

Dan yang paling mengerikan...

Rencana itu berhasil.

Amelia Sudibyo yang asli memang sudah mati pada hari kecelakaan itu.

Hanya saja tubuhnya kini ditempati oleh jiwa Amelia Marta Geraldi.

"Brengsek..."

Amelia menatap langit-langit kamar rumah sakit.

"Jadi begitu ceritanya."

Sekarang ia memahami satu hal.

Dirinya bukan lagi Amelia Marta Geraldi.

Melainkan Amelia Marta Sudibyo.

Seorang karakter figuran yang seharusnya sudah mati.

Dan lebih parahnya lagi...

Ada seorang psikopat berbahaya yang mungkin sedang menunggu kesempatan kedua untuk membunuhnya.

Memikirkan hal itu, sudut bibir Amelia perlahan terangkat.

Bukan karena takut.

Melainkan karena tertantang.

"Sayangnya buat lo, Ardiansyah."

Tatapan Amelia berubah tajam.

"Dulu mungkin Amelia Sudibyo gampang dibunuh."

"Tapi sekarang yang ada di tubuh ini adalah Amelia Marta Geraldi."

Putri mafia yang sejak kecil dibesarkan di tengah ancaman, senjata, dan berbagai upaya pembunuhan.

"Kalau lo mau main..."

Senyum Amelia semakin lebar.

"Gue bakal temenin sampai puas."

1
Rosmianti
Amel jodoh yg lebih dewasa Thor CEO mgkn😁
Erna Ladi Yanti
mampir thor🙏
Indah Rahayuni
Ok
shesil
obsesi bukan opsesi
shesil
vila bukan fila
Sashimi Bee
kakak, klo ada bahasa asing baiknya dicek di kamus biar penulisannya benarrr 💪
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ: terimakasih saran nya Kaka 💕
total 1 replies
Restu
good
Restu
terimakasih thor ceritanya.👍👍
Restu
mampir'. thor
Hadi Mulyono
ceritanya bagus cuma agak lama berbelit .endingnya jg kurang pas agak ngambang .tp suka nikmati ceritanya
Hadi Mulyono
yg cewek foto Lusi yg cowok dilan wang
Hadi Mulyono
Amelia tunjukkan siapa dirimu sebenarnya
Hadi Mulyono
ayo sesama mafia bertemu ..blm tau Amelia anaknya mafia jg
Hadi Mulyono
benci banget SM Sofia ..ga tau diri
Dyta Kusnani
jujur crta awal nyampe akhir bagus bgt ,, TPI kok ending jelek ya ,, hrusnya ending nya pernikahan Amelia n Ardiansyah
cowettttttt
yg aku aneh itu sama otak cowok nya kan tau emang si Sofie bukan anak Mereke dan masih ortu ..klu d usir wajar ..atau kasih lah kemewahan sama si Ardi ini bukan malah mau harta org
cowettttttt
gila nya ini iklan d NT banyak banget sekarang
Siti Aisyah
/Puke/
Kikin
ok
Diana Wati
jujur aja alurnya bagus, tapi banyak banget typo dan tanda baca yg nggk sesuai, pengolahan katanya juga kurang. semoga untuk selanjutnya lebih bagus dan rapi lagi thor 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ: terimakasih kaka atas masukannya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!