Isabella Laurent adalah definisi sempurna dari kecantikan yang mampu mencuri perhatian siapa pun. Wanita berdarah Spanyol itu memiliki tinggi 169 sentimeter, wajah menawan, tatapan mata yang memikat, serta pesona elegan yang membuat banyak pria berusaha mendapatkan hatinya. Namun, di balik kecantikannya, Isabella bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada keinginan orang lain. Ia memiliki harga diri, keberanian, dan prinsip yang tidak akan pernah ia korbankan demi seorang pria.
Sayangnya, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah memasuki kehidupannya.
Dominic Lorenzo Imanuel.
Seorang pria yang namanya cukup untuk membuat para pengusaha besar kehilangan keberanian. Ia bukan sekadar pria kaya raya dengan kekuasaan tanpa batas, melainkan seorang mafia berbahaya yang mengendalikan dunia gelap dengan tangan dingin. Kejam kepada musuh, tidak mengenal belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Mengubah Segalanya
Malam itu, aku tidak pernah menyangka bahwa sebuah pesta mewah akan menjadi awal dari kehancuran sekaligus perubahan terbesar dalam hidupku.
Namaku Isabella Laurent. Aku adalah putri dari keluarga Laurent, keluarga terpandang yang memiliki sejumlah perusahaan besar di Spanyol. Sejak kecil, aku terbiasa hidup di antara kemewahan, gaun mahal, pesta eksklusif, dan orang-orang yang selalu tersenyum di hadapan keluargaku. Namun, di balik semua itu, aku tahu bahwa dunia orang kaya tidak selalu seindah yang terlihat. Terkadang, senyuman hanyalah topeng untuk menyembunyikan niat buruk.
Malam ini, aku berdiri di depan cermin besar di kamarku, memperhatikan pantulan diriku sendiri.
Gaun hitam panjang dengan belahan elegan membalut tubuhku. Rambut cokelat gelapku dibiarkan tergerai melewati bahu, sementara sepasang anting berlian menghiasi telingaku. Dengan tinggi 169 sentimeter dan riasan tipis yang mempertegas mataku, aku terlihat cukup menawan untuk menghadiri acara makan malam para pengusaha ternama di Madrid.
Aku menghela napas panjang.
“Isabella, kau sudah siap?” Suara ayah terdengar dari balik pintu.
“Sebentar, Ayah!”
Aku mengambil tas kecil berwarna hitam, menyemprotkan parfum favoritku, lalu melangkah keluar kamar.
Ayah sudah menungguku di lorong. Pria berusia lima puluh tahun itu mengenakan setelan jas abu-abu yang membuatnya tampak berwibawa.
“Kau terlihat cantik malam ini,” katanya sambil tersenyum.
Aku tersenyum kecil. “Terima kasih, Ayah.”
“Jangan terlalu lama menghilang. Ada beberapa orang penting yang ingin Ayah perkenalkan kepadamu.”
Aku memutar bola mata. “Ayah, kumohon. Jangan bilang Ayah akan mengenalkanku kepada putra salah satu rekan bisnis Ayah lagi.”
Ayah tertawa pelan. “Kau selalu tahu apa yang ingin Ayah katakan.”
“Karena Ayah selalu melakukan hal yang sama.”
“Suatu hari nanti, kau akan mengerti.”
Aku tidak menjawab. Aku hanya meraih lengannya dan berjalan bersamanya menuju mobil yang telah menunggu.
Sejujurnya, aku tidak terlalu menyukai pesta semacam ini. Semua orang datang dengan pakaian terbaik mereka, membicarakan saham, investasi, dan kesepakatan bisnis sambil berpura-pura menjadi sahabat. Namun, sebagai putri keluarga Laurent, aku tidak punya banyak pilihan selain menghadiri acara-acara tersebut.
Aku hanya ingin malam ini cepat berakhir.
Sayangnya, aku tidak tahu bahwa keinginanku itu tidak akan pernah terkabul.
Hotel tempat pesta diselenggarakan berdiri megah di pusat kota Madrid. Lampu kristal menggantung di langit-langit ballroom, memantulkan cahaya keemasan ke seluruh ruangan. Alunan musik klasik terdengar lembut, bercampur dengan suara percakapan para tamu yang memenuhi tempat itu.
Begitu memasuki ballroom, aku langsung merasakan beberapa pasang mata tertuju kepadaku.
Aku sudah terbiasa dengan hal tersebut. Beberapa pria bahkan tidak berusaha menyembunyikan kekaguman mereka. Salah satu dari mereka mendekat, mencium punggung tanganku dengan sopan, lalu memuji penampilanku.
Aku membalas dengan senyum seperlunya.
Bagiku, perhatian seperti itu tidak pernah terlalu istimewa.
“Isabella, kemarilah.”
Ayah melambaikan tangan dari dekat meja minuman. Aku menghampirinya dan mendapati seorang pria paruh baya berdiri di sampingnya.
“Kenalkan, ini Tuan Alessandro,” ujar Ayah. “Beliau adalah salah satu mitra bisnis kita.”
Aku mengulurkan tangan dan menyambutnya dengan ramah.
Percakapan mereka segera beralih pada urusan perusahaan. Aku mengambil segelas jus dari pelayan yang melintas, lalu perlahan menjauh ketika pembicaraan mereka mulai terasa membosankan.
Aku berjalan menuju balkon yang menghadap ke jalanan kota. Udara malam menyentuh kulitku, memberikan sedikit kelegaan dari suasana ballroom yang ramai.
Aku baru saja mengangkat gelas ketika suara percakapan dua wanita di dekat pintu balkon menarik perhatianku.
“Katanya dia datang malam ini.”
“Siapa?”
Wanita pertama merendahkan suaranya.
“Dominic Lorenzo Imanuel.”
Tanganku berhenti di udara.
Aku pernah mendengar nama itu sebelumnya. Bahkan, hampir semua orang di kalangan bisnis mengenalnya. Dominic Lorenzo Imanuel adalah seorang pengusaha dengan jaringan bisnis internasional yang luar biasa luas. Namun, rumor tentang dirinya jauh lebih mengerikan daripada pencapaiannya.
Konon, dia memiliki hubungan dengan dunia kriminal. Dia dikenal sebagai pria yang tidak pernah memberikan kesempatan kedua kepada musuhnya. Banyak perusahaan besar memilih menuruti keinginannya daripada mengambil risiko berhadapan dengannya.
Dan tentu saja, ada satu hal lain yang selalu menjadi bahan pembicaraan para wanita.
Wajahnya.
“Katanya, dia sangat tampan,” bisik wanita kedua.
“Tampan? Itu tidak cukup untuk menggambarkannya. Aku dengar tatapannya bisa membuat wanita kehilangan kata-kata.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Sungguh berlebihan.
Bagiku, pria setampan apa pun tetaplah manusia biasa. Aku tidak pernah memahami mengapa sebagian wanita begitu mudah terpesona hanya karena wajah dan kekayaan seseorang.
Aku menghabiskan jusku, lalu memutuskan kembali ke ballroom.
Saat itulah suasana mendadak berubah.
Bukan karena musik berhenti, melainkan karena percakapan di beberapa sudut ruangan perlahan mereda. Para tamu mulai mengarahkan pandangan mereka ke pintu utama.
Aku mengikuti arah tatapan mereka.
Seorang pria baru saja memasuki ballroom.
Dia mengenakan setelan jas hitam yang dijahit sempurna, dengan kemeja gelap tanpa banyak aksesori. Tubuhnya tinggi dan tegap, bahunya lebar, sementara langkahnya tenang seolah-olah seluruh tempat itu memang miliknya.
Rambut hitamnya tertata rapi, memperlihatkan wajah dengan garis rahang tegas dan hidung mancung. Namun, yang paling menarik perhatianku adalah matanya.
Tajam.
Dingin.
Seperti elang yang sedang mengamati mangsanya.
Dia tidak perlu tersenyum untuk membuat orang-orang menyingkir dari jalannya. Kehadirannya saja sudah cukup untuk mengubah suasana ruangan.
Lalu, pria itu tersenyum tipis ketika seseorang menyapanya.
Senyum yang tampak begitu mudah, tetapi menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Aku mengerti sekarang mengapa banyak wanita membicarakannya.
Namun, aku segera menggelengkan kepala, berusaha menyingkirkan pikiran itu.
Tidak istimewa, Isabella. Dia hanya pria tampan dengan reputasi menakutkan.
Sayangnya, seolah mendengar pikiranku, pria itu mengangkat wajahnya.
Tatapan kami bertemu.
Hanya sesaat.
Namun, entah mengapa, aku merasa seperti baru saja berdiri di hadapan seseorang yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya.
Aku tidak menunduk. Aku membalas tatapannya dengan tenang sebelum memalingkan wajah.
Di sudut ruangan, Dominic Lorenzo Imanuel berhenti berbicara.
Salah satu pria yang mendampinginya mengikuti arah pandangannya.
“Tuan, apakah ada sesuatu?”
Dominic tidak langsung menjawab.
Matanya masih tertuju kepada wanita bergaun hitam yang berdiri beberapa meter darinya. Berbeda dari para wanita lain yang berusaha mencuri perhatiannya, wanita itu justru memalingkan wajah seolah-olah kehadirannya tidak berarti apa-apa.
Sesuatu yang jarang terjadi.
“Siapa wanita itu?” tanyanya akhirnya.
Pria di sampingnya mengikuti arah pandang Dominic.
“Isabella Laurent, Tuan. Putri keluarga Laurent.”
Sudut bibir Dominic terangkat sedikit.
“Laurent?”
“Benar, Tuan.”
Dominic mengambil segelas minuman dari pelayan yang melintas, tetapi perhatiannya tidak pernah benar-benar beralih dari Isabella.
“Cari tahu lebih banyak tentang dia.”
“Apakah ada masalah dengan keluarganya?”
Dominic menatap anak buahnya sekilas.
“Apakah aku mengatakan ada masalah?”
Pria itu langsung menundukkan kepala. “Tidak, Tuan.”
“Kalau begitu, lakukan saja.”
Di sisi lain ballroom, aku sedang berusaha menghindari seorang pria yang terus mengajakku berbicara. Aku tidak tahu bahwa sejak beberapa menit lalu, seseorang telah menjadikan namaku sebagai satu-satunya hal yang menarik di tengah pesta tersebut.
“Boleh aku meminta waktumu?”
Aku menoleh ketika sebuah suara berat terdengar di belakangku.
Pria itu berdiri tidak jauh dariku.
Dominic Lorenzo Imanuel.
Dari jarak sedekat ini, wajahnya terlihat jauh lebih tampan daripada yang kubayangkan. Matanya berwarna gelap, tatapannya tajam, dan ada sesuatu dalam ekspresinya yang membuatku sulit menebak apa yang sedang dipikirkannya.
Aku mengangkat alis.
“Untuk apa?”
Sepertinya dia tidak terbiasa mendapatkan pertanyaan seperti itu. Beberapa detik berlalu sebelum senyum tipis muncul di wajahnya.
“Biasanya, orang tidak menanyakan alasannya ketika aku mengajak mereka berbicara.”
“Kalau begitu, mungkin sudah waktunya kau bertemu seseorang yang berbeda.”
Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat perubahan kecil pada ekspresinya.
Dia tertawa pelan.
Bukan tawa yang keras, melainkan suara rendah yang terdengar begitu asing di tengah suasana formal.
“Menarik,” gumamnya.
“Apa yang menarik?”
“Kau.”
Aku mendengus pelan. “Kau bahkan tidak mengenalku.”
“Belum.”
Dia mengucapkan kata itu dengan begitu tenang hingga aku tidak tahu apakah harus merasa tersinggung atau justru geli.
Aku menyilangkan tangan di depan dada.
“Kalau begitu, perkenalkan dirimu dengan benar. Meskipun kurasa aku sudah tahu siapa dirimu.”
Dominic mengulurkan tangannya.
“Dominic Lorenzo Imanuel.”
Aku memandang tangannya sesaat sebelum menyambutnya.
“Isabella Laurent.”
“Aku tahu.”
Aku segera menarik tanganku.
“Kalau begitu, kau tidak perlu bertanya siapa aku.”
Senyumnya melebar sedikit. Senyum yang mungkin telah membuat puluhan wanita menyerah tanpa perlawanan.
Sayangnya bagiku, senyum itu justru membuatku semakin waspada.
“Isabella,” katanya, menyebut namaku seolah sedang mencoba mengingat bunyinya. “Aku yakin kita akan bertemu lagi.”
Aku menatapnya lurus-lurus.
“Jangan terlalu percaya diri, Tuan Imanuel.”
Setelah mengatakan itu, aku berbalik dan meninggalkannya.
Aku tidak melihat ekspresi Dominic setelahnya. Aku juga tidak tahu bahwa pria itu tetap berdiri di tempatnya, memperhatikan langkahku dengan tatapan yang tidak lagi sekadar penasaran.
Malam itu, aku pulang dengan keyakinan bahwa pertemuan tersebut tidak lebih dari percakapan singkat dengan seorang pria arogan.
Aku salah.
Sebab ketika mobil keluargaku meninggalkan hotel, sebuah mobil hitam mengikuti kami dari kejauhan.
Dan di dalam mobil itu, seseorang sedang menerima telepon.
“Ya, Tuan Imanuel. Kami sedang mengawasi keluarga Laurent.”
Jeda singkat.
“Tidak, Tuan. Nona Isabella belum mengetahui apa pun.”
Di ujung telepon, suara Dominic terdengar rendah dan dingin.
“Pastikan tidak ada yang menyentuhnya.”
Panggilan itu terputus.
Dominic bersandar di kursinya, memandang cahaya kota yang berkelebat di balik jendela.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ada seseorang yang berhasil membangkitkan rasa ingin tahunya tanpa melakukan apa pun untuk menarik perhatiannya.
Isabella Laurent.
Wanita yang berani menatap matanya tanpa rasa takut.
Wanita yang tidak terpesona oleh kekuasaannya.
Wanita yang seharusnya tidak memiliki tempat dalam kehidupannya.
Namun, Dominic belum mengetahui satu hal.
Bahwa ketertarikan yang dimulai malam itu akan menyeret mereka berdua ke dalam rahasia, pengkhianatan, dan bahaya yang tidak pernah mereka bayangkan.
Dan kelak, ketika Isabella mengetahui siapa Dominic sebenarnya, mungkin semuanya sudah terlambat.
Karena malam itu bukan sekadar malam ketika mereka bertemu.
Itulah malam ketika takdir mulai mempermainkan mereka.
jangan lupa mampir kakk..🤭