NovelToon NovelToon
Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:435.3k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.

Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.

Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Erlan terdiam beberapa saat setelah mendengar kalimat terakhir Naya. Di seberang meja, wanita itu mencoba tersenyum, tapi sudut matanya sudah berkaca-kaca. Tanpa banyak berpikir, Erlan meraih tangan Naya yang tergeletak di atas meja. Jari-jarinya menggenggam lembut, memberi tekanan yang menenangkan, lalu ia menatap langsung ke mata Naya yang mulai basah.

“Aku masih sahabatmu, Nay,” ucapnya pelan, suara rendah dan penuh keyakinan. “Kalau kamu butuh seseorang untuk bersandar, aku selalu ada. Kamu tidak sendiri. Kamu pasti bisa melewati ini semua.”

Kalimat itu dimaksudkan untuk menenangkan. Tapi justru sebaliknya. Bendungan yang selama ini Naya jaga dengan ketat akhirnya retak. Air mata yang sudah lama ia tahan, di apartemennya yang kosong, di malam-malam sunyi, di depan cermin ketika rindu dan marah bercampur, kini menetes satu per satu. Lalu semakin deras.

Naya menunduk, bahu mulai bergetar. “Aku tidak tahu salahku apa, Er…” suaranya pecah, terisak. Ia memegang dada dengan tangan bebasnya, seolah mencoba menahan rasa sakit yang naik ke tenggorokan. “Bertahun-tahun aku diabaikan. Masakan yang aku buat tidak pernah dia makan. Aku menunggu, aku sabar, aku diam. Sampai akhirnya… aku melihat sendiri dia menikahi wanita lain di belakangku.”

Isaknya semakin keras. Air mata mengalir bebas di pipi, menetes ke pangkuan. Di restoran yang ramai, Naya berusaha menahan suara, tapi getaran di bahunya tidak bisa disembunyikan.

"Aku sudah mengalah, aku rela mengubur semua mimpiku demi mengabdi padanya, tapi dia malah mengecewakan ku"

Erlan tidak tahan melihatnya seperti itu. Tanpa ragu, ia bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja, lalu berdiri di samping Naya. Ia membungkuk sedikit dan menarik wanita itu ke dalam pelukan. Kedua lengannya melingkar erat di punggung Naya, satu tangan menumpu belakang kepala, membiarkan Naya menundukkan wajah di dadanya.

“Sudah… sudah,” bisiknya pelan di antara rambut Naya. “Tidak usah ditahan lagi. Menangislah.”

Naya mencengkeram kemeja Erlan di bagian depan. Tubuhnya bergetar dalam pelukan itu, isak tangisnya tertahan di dada Erlan.

Erlan tidak berbicara banyak. Ia hanya berdiri di situ, memegang Naya dengan stabil, membiarkan wanita itu mengeluarkan semua yang sudah terlalu lama dipendam. Telapak tangannya mengusap punggung Naya pelan, gerakan yang menenangkan, tidak tergesa.

Beberapa pelayan sempat melirik, tapi Erlan tidak peduli. Ia sedikit memutar tubuh, melindungi Naya dari pandangan orang lain, memberi ruang privat di tengah restoran yang ramai.

Pelan-pelan, isak Naya mulai mereda. Bahunya masih naik-turun, tapi napasnya sudah tidak lagi tersengal. Ia masih bersandar di dada Erlan, wajah basah, tangan masih mencengkeram kemeja pria itu seolah takut dilepaskan.

Erlan menunduk sedikit, suaranya sangat pelan. “Kamu tidak salah, Nay. Kamu tidak pernah salah. Dia yang memilih mengkhianatimu. Bukan kamu.”

Naya tidak menjawab. Ia hanya mengangguk lemah di dalam pelukan itu, membiarkan dirinya bersandar untuk pertama kalinya sejak tiba di Australia. Di pelukan sahabat lama yang tiba-tiba muncul kembali, ia merasa untuk sesaat—tidak harus kuat sendirian.

Dan Erlan, sambil terus memegangnya, hanya bisa berharap bahwa pelukan ini cukup untuk mengingatkan Naya: ia tidak lagi sendirian di negeri orang.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Aslan duduk di ruang kerjanya di rumah dengan lampu meja yang menyala redup. Di atas meja tergeletak setumpuk dokumen dari pengacara, undangan sidang, berita acara mediasi yang kosong, dan jadwal sidang putusan yang sudah ditetapkan untuk besok pagi. Ia sudah membaca kertas itu berkali-kali sejak sore, dan setiap kali membacanya, rahangnya semakin mengeras.

Tiga kali sidang mediasi. Tiga kali kursi di sisi penggugat kosong.

Tiga kali ia datang tepat waktu, duduk menunggu, lalu pulang dengan tangan kosong dan wajah yang semakin panas.

Naya tidak pernah muncul. Tidak ada surat izin, tidak ada keterangan resmi, tidak ada telepon. Seolah proses perceraian itu tidak cukup penting untuk membuatnya hadir.

Aslan menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu tertawa kecil, tawa yang pendek, pahit, dan penuh kesal. Ia meraih ponsel, menatap daftar panggilan ke nomor Naya yang semuanya berakhir di kotak suara, lalu melemparkannya kembali ke meja.

“Sampai kapan kau bisa hidup tanpaku, Naya?” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada bayangan wanita itu di udara. Senyum dingin tersungging di sudut bibirnya. “Kau tidak punya keluarga. Tidak punya pekerjaan. Lama-kelamaan uang yang kamu bawa akan habis. Dan saat itu juga… aku pastikan kamu akan datang padaku, lalu berlutut meminta maaf.”

Ia mengucapkan kalimat itu dengan keyakinan yang dipaksakan. Di kepalanya, skenario itu sudah tersusun rapi. Naya akan kehabisan uang di negara orang. Beasiswa tidak akan cukup. Hidup di Australia mahal. Wanita itu tidak punya siapa-siapa. Tidak punya sandaran juga.Cepat atau lambat, ia akan menyerah, membeli tiket pulang, lalu muncul di depan pintu rumah ini dengan wajah lelah dan suara gemetar, memohon agar semuanya dikembalikan seperti semula.

Aslan mengetuk ngetuk meja kerjanya dengan pulpen, sambil terus menggerutu.“Kamu pikir bisa bertahan sendiri?” lanjutnya, seolah Naya ada di seberang kaca. “Kamu pikir bisa hidup tanpa uangku, tanpa namaku, tanpa rumah ini? Aku yang membesarkanmu setelah orang tuamu meninggal. Aku yang memberimu segalanya. Jangan sombong.”

Tapi di balik kata-kata itu, ada getaran yang tidak ia akui. Dia geram karena merasa di abaikan terus oleh Naya. Sidang putusan besok akan berjalan tanpa kehadiran Naya, dan itu berarti proses perceraian semakin mendekati akhir tanpa ada kesempatan baginya untuk berbicara langsung, membujuk, atau bahkan menekan.

Ia mengepalkan tangan di atas meja.“Besok, putusan itu akan diucapkan. Tapi aku tidak akan kalah begitu saja. Aku masih bisa banding. Aku masih bisa buat hidupmu sulit dari jauh.”

Di ruang tamu, suara Liza dan Ranti terdengar samar sedang berbincang. Aslan tidak bergabung. Ia tetap berdiri di depan jendela, menatap bayangannya sendiri di kaca.

Senyum sombong masih tertahan di wajahnya, tapi matanya tidak sepenuhnya yakin. Karena di balik semua keyakinan yang ia ucapkan, ada satu ketakutan kecil yang mulai tumbuh.

Bagaimana jika Naya benar-benar tidak pernah kembali? Bagaimana jika wanita itu memang sudah menemukan cara untuk hidup tanpanya?

Aslan mengusap wajahnya kasar, lalu mematikan lampu mejanya. Ia menolak memikirkan kemungkinan itu lebih jauh. Di dalam kepalanya, hanya ada satu versi akhir yang ia terima.

Naya pasti akan kembali. Dan saat itu terjadi, ia akan memastikan wanita itu menyesali semua keputusan yang diambilnya.

Tak lama terdengar ruang kerjanya di buka dari luar.

Ceklek.....

Aslan menoleh ke asal suara.

"Sayang, besok jadwalku kontrol. Aku ingin kamu menemaniku" pinta Liza.

"Tidak bisa. Besok aku harus ke pengadilan. Kamu minta di antar mama mu saja" jawab Aslan.

"Tapi aku ingin kamu yang mengantarnya. Nanti aku undur jadwal periksanya" maksa Liza.

"KALAU AKU TIDAK BISA, YA...TIDAK BISA" sentak Aslan membuat Liza terlonjak kaget.

1
Rini Maryani
lanjut thoor semangat
Cicih Sophiana
semoga bahagia Naya lupakan masa lalu mu bersama si Aslan... sosong masa depan mu bersama Erlan..
Cicih Sophiana
masih kurang tuh penderitaan Aslan dan si Liza seharus nya anak nya tdk selamat... kan kasian sama anak nya krn dia jd anak haram...
Cicih Sophiana
hak kamu apa Liza? nikah pun nikah siri yg gak punya hak... anak nya pun gak ada hak krn tdk terdaftar di negara... kamu mau nuntut siapa ? gak akan bisa biar kepengadilan pun
Cicih Sophiana
semoga yg jahat mendapat balasan yg setimpal... yg baik kedepan nya bahagia
Cicih Sophiana
yah awasin aja terus....
Cicih Sophiana
nih Aslan Liza..🤛🤛
Sholawat Nariyah
AUTHOR GUOBLOK membiarkan tokohu utamanya tdk tegas, dan tenggelam dlm kebodohan yg berlarut 👎
Cicih Sophiana
knp selamat... dulu Naya di larang punya anak... seharus nya keguguran dong si pelakor nya jgn di kasih bahagia mereka
Cicih Sophiana
terus lah begitu semakin hancur, rumah tdk terbayar, si Liza keguguran 😂 si Aslan bangkrut
Cicih Sophiana
sukur lah akhir nya rumah itu terjual... wah si Liza klo tau langsung stres dan langsung keguguran
Cicih Sophiana
untuk si Aslan cobalah sadar diri... itu emang sdh hak nya Naya... dia bukan merehut tp menganmbi hak nya Aslan..
Cicih Sophiana
hancur kan mereka... mereka yg serakah dan mereka yg zolim sama istri sah tapi mereka sll menyalah kan Naya...
Cicih Sophiana
perempuan yg aneh dia yg merebut kok di tuduhkan Naya yg merebut 😂😂😂😂😂
pake so kuasa pula... Naya bertahun tahun pernikahan nya yg hanya di jadikan pembantu gratisan... dia yg tinggal enak nya doang menikmati... nikah pun hanya nikah siri sekarang so kuasa
Cicih Sophiana
eh pelakor kamu tuh cuma nikah sirih jd gak ada tuh undang undang nya mendapat kan harta gono gini... anak kamu pun gak akan bisa mendapat kan apa apa... sekarang gigit jari aja yah sampe putus 😂😂😂
Cicih Sophiana
wah ternyata aset nya si Aslan banyak... pantesan dia ngamuk gak rela Naya ngambil...
Cicih Sophiana
ayo bahagialah kalian... karena kalian pantas untuk mendapat kan nya...
Cicih Sophiana
susah Nay cari mertua yg langsung baik seperti mama Erlan... mulai sekarang jgn menyia nyiakan nya...
Cicih Sophiana
wah ini sih langsung di terima jadi menantu kesayangan mama...😊😍😍
Cicih Sophiana
aneh banget si pelakor... ya wajar lah Naya dapat 50 % wong yg mendampingi si Arlan selama ini kan Naya... klo kamu siapa? kamu cuma pelakor yg di pungut setelah si Arlan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!