Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.
Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.
Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Erlan terdiam beberapa saat setelah mendengar kalimat terakhir Naya. Di seberang meja, wanita itu mencoba tersenyum, tapi sudut matanya sudah berkaca-kaca. Tanpa banyak berpikir, Erlan meraih tangan Naya yang tergeletak di atas meja. Jari-jarinya menggenggam lembut, memberi tekanan yang menenangkan, lalu ia menatap langsung ke mata Naya yang mulai basah.
“Aku masih sahabatmu, Nay,” ucapnya pelan, suara rendah dan penuh keyakinan. “Kalau kamu butuh seseorang untuk bersandar, aku selalu ada. Kamu tidak sendiri. Kamu pasti bisa melewati ini semua.”
Kalimat itu dimaksudkan untuk menenangkan. Tapi justru sebaliknya. Bendungan yang selama ini Naya jaga dengan ketat akhirnya retak. Air mata yang sudah lama ia tahan, di apartemennya yang kosong, di malam-malam sunyi, di depan cermin ketika rindu dan marah bercampur, kini menetes satu per satu. Lalu semakin deras.
Naya menunduk, bahu mulai bergetar. “Aku tidak tahu salahku apa, Er…” suaranya pecah, terisak. Ia memegang dada dengan tangan bebasnya, seolah mencoba menahan rasa sakit yang naik ke tenggorokan. “Bertahun-tahun aku diabaikan. Masakan yang aku buat tidak pernah dia makan. Aku menunggu, aku sabar, aku diam. Sampai akhirnya… aku melihat sendiri dia menikahi wanita lain di belakangku.”
Isaknya semakin keras. Air mata mengalir bebas di pipi, menetes ke pangkuan. Di restoran yang ramai, Naya berusaha menahan suara, tapi getaran di bahunya tidak bisa disembunyikan.
"Aku sudah mengalah, aku rela mengubur semua mimpiku demi mengabdi padanya, tapi dia malah mengecewakan ku"
Erlan tidak tahan melihatnya seperti itu. Tanpa ragu, ia bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja, lalu berdiri di samping Naya. Ia membungkuk sedikit dan menarik wanita itu ke dalam pelukan. Kedua lengannya melingkar erat di punggung Naya, satu tangan menumpu belakang kepala, membiarkan Naya menundukkan wajah di dadanya.
“Sudah… sudah,” bisiknya pelan di antara rambut Naya. “Tidak usah ditahan lagi. Menangislah.”
Naya mencengkeram kemeja Erlan di bagian depan. Tubuhnya bergetar dalam pelukan itu, isak tangisnya tertahan di dada Erlan.
Erlan tidak berbicara banyak. Ia hanya berdiri di situ, memegang Naya dengan stabil, membiarkan wanita itu mengeluarkan semua yang sudah terlalu lama dipendam. Telapak tangannya mengusap punggung Naya pelan, gerakan yang menenangkan, tidak tergesa.
Beberapa pelayan sempat melirik, tapi Erlan tidak peduli. Ia sedikit memutar tubuh, melindungi Naya dari pandangan orang lain, memberi ruang privat di tengah restoran yang ramai.
Pelan-pelan, isak Naya mulai mereda. Bahunya masih naik-turun, tapi napasnya sudah tidak lagi tersengal. Ia masih bersandar di dada Erlan, wajah basah, tangan masih mencengkeram kemeja pria itu seolah takut dilepaskan.
Erlan menunduk sedikit, suaranya sangat pelan. “Kamu tidak salah, Nay. Kamu tidak pernah salah. Dia yang memilih mengkhianatimu. Bukan kamu.”
Naya tidak menjawab. Ia hanya mengangguk lemah di dalam pelukan itu, membiarkan dirinya bersandar untuk pertama kalinya sejak tiba di Australia. Di pelukan sahabat lama yang tiba-tiba muncul kembali, ia merasa untuk sesaat—tidak harus kuat sendirian.
Dan Erlan, sambil terus memegangnya, hanya bisa berharap bahwa pelukan ini cukup untuk mengingatkan Naya: ia tidak lagi sendirian di negeri orang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aslan duduk di ruang kerjanya di rumah dengan lampu meja yang menyala redup. Di atas meja tergeletak setumpuk dokumen dari pengacara, undangan sidang, berita acara mediasi yang kosong, dan jadwal sidang putusan yang sudah ditetapkan untuk besok pagi. Ia sudah membaca kertas itu berkali-kali sejak sore, dan setiap kali membacanya, rahangnya semakin mengeras.
Tiga kali sidang mediasi. Tiga kali kursi di sisi penggugat kosong.
Tiga kali ia datang tepat waktu, duduk menunggu, lalu pulang dengan tangan kosong dan wajah yang semakin panas.
Naya tidak pernah muncul. Tidak ada surat izin, tidak ada keterangan resmi, tidak ada telepon. Seolah proses perceraian itu tidak cukup penting untuk membuatnya hadir.
Aslan menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu tertawa kecil, tawa yang pendek, pahit, dan penuh kesal. Ia meraih ponsel, menatap daftar panggilan ke nomor Naya yang semuanya berakhir di kotak suara, lalu melemparkannya kembali ke meja.
“Sampai kapan kau bisa hidup tanpaku, Naya?” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada bayangan wanita itu di udara. Senyum dingin tersungging di sudut bibirnya. “Kau tidak punya keluarga. Tidak punya pekerjaan. Lama-kelamaan uang yang kamu bawa akan habis. Dan saat itu juga… aku pastikan kamu akan datang padaku, lalu berlutut meminta maaf.”
Ia mengucapkan kalimat itu dengan keyakinan yang dipaksakan. Di kepalanya, skenario itu sudah tersusun rapi. Naya akan kehabisan uang di negara orang. Beasiswa tidak akan cukup. Hidup di Australia mahal. Wanita itu tidak punya siapa-siapa. Tidak punya sandaran juga.Cepat atau lambat, ia akan menyerah, membeli tiket pulang, lalu muncul di depan pintu rumah ini dengan wajah lelah dan suara gemetar, memohon agar semuanya dikembalikan seperti semula.
Aslan mengetuk ngetuk meja kerjanya dengan pulpen, sambil terus menggerutu.“Kamu pikir bisa bertahan sendiri?” lanjutnya, seolah Naya ada di seberang kaca. “Kamu pikir bisa hidup tanpa uangku, tanpa namaku, tanpa rumah ini? Aku yang membesarkanmu setelah orang tuamu meninggal. Aku yang memberimu segalanya. Jangan sombong.”
Tapi di balik kata-kata itu, ada getaran yang tidak ia akui. Dia geram karena merasa di abaikan terus oleh Naya. Sidang putusan besok akan berjalan tanpa kehadiran Naya, dan itu berarti proses perceraian semakin mendekati akhir tanpa ada kesempatan baginya untuk berbicara langsung, membujuk, atau bahkan menekan.
Ia mengepalkan tangan di atas meja.“Besok, putusan itu akan diucapkan. Tapi aku tidak akan kalah begitu saja. Aku masih bisa banding. Aku masih bisa buat hidupmu sulit dari jauh.”
Di ruang tamu, suara Liza dan Ranti terdengar samar sedang berbincang. Aslan tidak bergabung. Ia tetap berdiri di depan jendela, menatap bayangannya sendiri di kaca.
Senyum sombong masih tertahan di wajahnya, tapi matanya tidak sepenuhnya yakin. Karena di balik semua keyakinan yang ia ucapkan, ada satu ketakutan kecil yang mulai tumbuh.
Bagaimana jika Naya benar-benar tidak pernah kembali? Bagaimana jika wanita itu memang sudah menemukan cara untuk hidup tanpanya?
Aslan mengusap wajahnya kasar, lalu mematikan lampu mejanya. Ia menolak memikirkan kemungkinan itu lebih jauh. Di dalam kepalanya, hanya ada satu versi akhir yang ia terima.
Naya pasti akan kembali. Dan saat itu terjadi, ia akan memastikan wanita itu menyesali semua keputusan yang diambilnya.
Tak lama terdengar ruang kerjanya di buka dari luar.
Ceklek.....
Aslan menoleh ke asal suara.
"Sayang, besok jadwalku kontrol. Aku ingin kamu menemaniku" pinta Liza.
"Tidak bisa. Besok aku harus ke pengadilan. Kamu minta di antar mama mu saja" jawab Aslan.
"Tapi aku ingin kamu yang mengantarnya. Nanti aku undur jadwal periksanya" maksa Liza.
"KALAU AKU TIDAK BISA, YA...TIDAK BISA" sentak Aslan membuat Liza terlonjak kaget.