Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelaminan kacau
Riuh rendah bisik-bisik di dalam gedung pernikahan itu terdengar seperti dengungan lalat yang sangat mengganggu di telinga Alice Sabrina Catrine. Cesa mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas pangkuan, hingga kuku-kukunya yang dihiasi nail art indah memutih. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah kursi kosong di sebelahnya yang seharusnya ditempati oleh sang suami baru, Devano Alvian Mahendra.
Laki-laki brengsek, tengil, dan tidak punya otak itu benar-benar pergi. Tepat setelah kalimat "Saya terima nikahnya..." selesai diucapkan dan disahkan oleh para saksi, Devan langsung berdiri, melepas jas pengantinnya, melemparkannya ke lantai, lalu berjalan santai keluar gedung seolah-olah dia baru saja menyelesaikan taruhan balap liar, bukan sebuah ikatan suci pernikahan.
Kini, Cesa duduk sendirian di atas pelaminan megah yang terasa seperti panggung eksekusi. Lampu gantung kristal yang mewah di atasnya seolah-olah sedang menertawakan nasib sial gadis bersumbu pendek itu.
"Kasihan ya, baru sah lima menit langsung jadi janda perawan," bisik seorang tamu di barisan depan yang suaranya sengaja dikeraskan.
Cesa menoleh lambat, matanya berkilat tajam menatap ibu-ibu sosialita dengan sanggul setinggi menara yang baru saja berbicara. Cesa tersenyum manis, sangat manis sampai-sampai terlihat mengerikan.
"Daripada Tante, sudah puluhan tahun nikah tapi suaminya hobi jajan di luar sampai Tante harus pakai susuk sewajan biar kelihatan muda. Ops, keceplosan!" balas Cesa dengan suara lantang yang langsung membuat area depan pelaminan mendadak hening.
Muka ibu-ibu itu langsung berubah abu-abu monyet karena rahasia dapurnya dibongkar di depan umum.
Belum sempat Cesa menghela napas, sebuah langkah kaki berdentum mendekatinya. Bram, ayahnya, berjalan dengan wajah merah padam menahan amarah, diikuti oleh Lidia, ibu tirinya yang berwajah palsu.
"Cesa! Jaga bicaramu! Kamu ini bikin malu keluarga saja! Kenapa kamu tidak bisa diam dan bersikap anggun sedikit? Ini semua karena kakakmu kabur, dan kamu malah memperkeruh suasana dengan mulut lancangmu itu!" omel Bram tanpa memikirkan perasaan putrinya yang baru saja ditinggal kabur suami.
Lidia maju, mengusap lengan Bram dengan gerakan lembut yang dibuat-buat, lalu menatap Cesa dengan pandangan prihatin yang amat palsu. "Sudahlah, Pa. Jangan marahi Cesa. Cesa kan memang dari dulu emosian, tidak seperti kakaknya yang lembut dan penyabar. Wajar kalau Devan kaget dan langsung kabur setelah melihat wajah Cesa di pelaminan. Kalau kakaknya yang ada di sini, pasti Devan akan betah."
Sumbu pendek di kepala Cesa langsung terbakar habis. Ledakan emosinya sudah mencapai ubun-ubun. Cesa berdiri dari kursinya, membuat gaun pengantin brokat yang pres body itu mengetat di tubuhnya.
"Heh, wanita bermuka dua!" Cesa menunjuk tepat ke hidung Lidia. "Nggak usah sok prihatin deh. Muka Tante itu kalau dilap pakai tisu basah, dosa pencitraannya kelihatan semua! Lagian Papa juga, kenapa malah ngomeli aku? Yang kabur itu anak kesayangan Papa si wanita suci itu! Yang nikah dan menyelamatkan muka Papa sekarang siapa? Aku! Terus sekarang si berandalan itu pergi, Papa malah nyalahin mulut aku? Mikir dong pakai otak, jangan pakai urat!"
"Cesa! Kurang ajar kamu!" bentak Bram.
Sebelum Bram sempat menamparnya, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas mahal melangkah maju menghampiri mereka. Pria itu adalah Papa dari Devan, sang mertua. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah dan amarah yang mendalam terhadap anak laki-lakinya yang kurang ajar itu.
"Bram, Lidia, tolong maafkan anak saya," ucap Papa Devan dengan suara berat. Beliau kemudian menatap Cesa dengan tatapan penuh penyesalan. "Cesa, Papa benar-benar minta maaf atas kelakuan Devan yang agak gila dan tidak punya sopan santun itu. Papa berjanji akan memberinya pelajaran. Rumah besar di kompleks perumahan elite sudah Papa siapkan untuk kalian berdua. Mulai hari ini, kamu adalah menantu sah di keluarga Mahendra. Apapun yang kamu butuhkan, katakan pada Papa."
Mendengar kata 'rumah besar' dan 'apapun yang kamu butuhkan', otak cerdas Cesa langsung berputar cepat. Sebuah rencana balas dendam yang sangat kejam, manis, dan mematikan mulai tersusun rapi di kepalanya. Emosinya yang tadinya meledak-ledak kini berganti dengan seringai licik.
Namun, ketenangan Cesa kembali diuji ketika sepupu tirinya yang paling menyebalkan, Adelia, tiba-tiba muncul sambil membawa segelas sirup dengan gaya centil. "Duh, Cesa. Kasihan banget sih. Memang benar kata orang-orang ya, Devan itu cuma cocok sama kakakmu yang anggun dan berkelas. Kalau sama kamu yang bar-bar begini, ya pantes aja cowok sekeren Devan langsung ilfeel dan kabur di hari pertama. Kamu tuh ibarat ban serep yang gagal fungsi."
Beberapa kerabat yang memang tidak menyukai Cesa sejak dulu langsung mengangguk-angguk setuju, terang-terangan membandingkan Cesa dengan kakaknya yang telah kabur.
Cesa menarik napas dalam-dalam. Cukup sudah menahan emosi sepanjang hari ini. Gadis itu maju satu langkah, merebut gelas sirup dari tangan Adelia, lalu tanpa ragu menyiramkannya tepat ke atas kepala Adelia yang berambut sanggul modern.
"AAAKKKK! Rambut gue! Gaun gue!" jerit Adelia histeris.
"Itu biar otak lu yang isinya gosip murahan bisa agak adem!" bentak Cesa, matanya menatap tajam ke arah kerabat yang tadi membanding-bandingkannya. "Dan buat kalian semua yang hobi banding-bandingin gue sama kakak gue... denger ya! Kakak gue yang kalian puji-puji anggun itu nyatanya kabur sama pacar rahasianya dan ninggalin utang malu buat keluarga ini! Sementara gue? Gue di sini berdiri tegak! Kalau Devan gak cocok sama gue karena gue bar-bar, bagus dong! Berarti dia sadar diri kalau dia gak selevel sama cewek mahal kayak gue! Jadi, mending kalian tutup mulut sebelum mulut kalian gue sumpel pakai sepatu hak tinggi gue!"
Suasana gedung benar-benar sunyi senyap. Tidak ada satu pun kerabat atau tamu yang berani berkutik lagi melihat kegilaan Cesa.
Cesa membalikkan badannya, merasa gerah dan tidak nyaman dengan gaun pengantin pres body berwujud gaun putri duyung yang menempel ketat di tubuhnya. Sulit untuk bergerak bebas. Tanpa memedulikan tatapan syok ratusan orang, Cesa berjalan ke arah meja katering, mengambil sebilah gunting besar yang tergeletak di dekat meja dekorasi bunga.
Sreeeeet! Sreeeeet!
Dengan gerakan cepat dan tanpa ragu, Cesa menggunting bagian bawah gaun pengantin mahalnya yang menjuntai di lantai. Ia memotongnya tepat di atas lutut, mengubah gaun pengantin pres body yang anggun itu menjadi mini dress kasual yang compang-camping di bagian ujungnya agar ia gampang bergerak dan melangkah petantang-petenteng.
"Nah, begini baru enak buat nyari ribut!" gumam Cesa puas.
Setelah memotong gaunnya, Cesa tidak langsung pergi. Perutnya lapar setengah mati karena menahan emosi sejak pagi. Ia berjalan menuju meja hidangan penutup yang menyajikan kue pengantin bertingkat lima serta berbagai macam makanan mewah.
Tanpa menggunakan sendok, Cesa mengambil piring besar lalu mulai melakukan aksi mukbang di tempat. Ia menyendok kue pengantin cokelat berukuran besar dengan tangannya, melahap pasta, mencicipi dimsum, hingga mengunyah daging steak dengan gaya yang sangat bar-bar. Mulutnya belepotan krim kue, tetapi ia sama sekali tidak peduli. Para tamu undangan hanya bisa melongo menyaksikan pengantin wanita yang ditinggal kabur suaminya itu justru asyik mukbang seperti orang kelaparan di tengah gedung pernikahan.
Setelah kenyang dan merasa energinya pulih seratus persen, Cesa mengambil tasnya, menatap Bram dan Lidia dengan tatapan meremehkan, lalu berjalan keluar gedung dengan langkah petantang-petenteng.
"Gue pergi dulu ya, keluarga penuh drama. Mau menempati istana baru gue!" seru Cesa sambil melambaikan tangan