NovelToon NovelToon
Gadis Montok Sang Don

Gadis Montok Sang Don

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Asmara / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Lenardt

Setiap pagi, Laras melayani pelanggan pertamanya di kedai kecil itu: seorang pria bermata biru yang selalu memanggilnya "Cantik". Hanya itu. Karena di rumah, ayah dan kakaknya memperlakukannya seperti sampah, dan lelaki setampan itu tak akan pernah melirik gadis gemuk sepertinya.

Yang tidak Laras tahu, pria itu adalah Satria Kusuma, Don 'Ndrangheta, bos mafia yang ditakuti, dan ia punya waktu enam bulan untuk menikah atau kehilangan takhtanya. Satu malam, setelah melihat sendiri bagaimana Laras diperlakukan, Satria mendatangi rumahnya dan menawarkan kesepakatan yang tak bisa ditolak ayah Laras: utang dilunasi, dan Laras menjadi istrinya.

Laras mengira ajalnya sudah dekat. Ia punya rahasia yang menurut hukum mafia pantas dibayar nyawa. Tapi pria yang ia takuti justru menyediakan sofa, selimut, dan kesabaran tanpa batas, dan perlahan menunjukkan padanya bahwa ia boleh hidup, boleh dicintai, bahkan boleh menjadi kuat.

Sementara itu, di balik pesta dan perjodohan, keluarga Kusuma menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan semuanya. Dan Bianca, adik Satria yang tajam lidahnya, sedang bermain api dengan satu-satunya lelaki yang tak boleh ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenardt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Satria Kusuma

Begitu Bianca meninggalkan markas, tak lama aku menerima kabar bahwa pernikahan terkutuk itu sudah ditetapkan. Entah kenapa aku kaget, padahal aku tahu ini akan terjadi, tahu kami tidak punya jalan lari.

Kukirim pesan ke Rendra, kuminta dia menemuiku di ruanganku. Aku perlu bicara, aku perlu semua kekacauan dalam hidupku ini berhenti sebentar. Pernikahanku sendiri sudah dekat, dan alih-alih membantu persiapan yang dikerjakan Mama dan Nenek bersama Laras, aku di sini menerima kabar buruk demi kabar buruk.

Rendra tidak lama datang. Kurasa dia memang sudah dalam perjalanan ke markas waktu aku menelepon.

"Ada apa, Bang? Gue bisa denger kekhawatiran di suara lo."

"Gue capek, Rendra. Kabar sialan datang terus satu demi satu, sialan."

"Buruan ngomong, bro, ada apa?" Dia duduk di depanku.

"Pernikahannya. Udah ditetapkan."

"Wah, keren, Bang. Gue seneng lo nggak bakal kehilangan posisi lo. Kita emang jarang ngobrol dan gue juga belum kenal ceweknya, tapi kayaknya lo suka banget sama dia, itu yang penting."

"Bukan pernikahan itu yang gue maksud, Rendra. Gue ngomongin pernikahan Bianca." Wajah Rendra memucat, sampai seputih kertas-kertas di mejaku.

Aku tahu semua ini memukulnya, meski dia tidak mau mengakuinya. Dia sayang Bianca sama seperti kami semua, dan dia juga tidak setuju dengan kekacauan yang diputuskan Papa.

"Nggak ada cara buat nyegah? Dia nggak boleh nikah sama orang itu, Satria. Gimana kalau dia nikah sama orang lain?"

"Lo tahu betapa rumitnya kontrak-kontrak kayak gini. Banyak hal terlibat, dan membatalkan perjanjian ini sekarang risikonya terlalu besar. Bukan cuma buat posisi gue sebagai Don, tapi juga buat semua yang lain. Dewan bakal menghakimi keluarga kita dan kita bisa kehilangan segalanya, itu pun kalau kita dibiarkan hidup. Ini bukan kontrak sembarangan, Rendra, dan lo tahu itu. Ini salah satu mafia terbesar yang ada, dan beraliansi dengan mereka itu mimpi 'Ndrangheta sejak jauh sebelum kita lahir. Papa dipuji-puji karena berhasil mendapatkan kontrak sialan ini, dan membatalkannya sekarang sama saja menandatangani hukuman mati."

Rendra berdiri dan mondar-mandir, dia kalut, dan percayalah, aku juga. Calon suami adikku orang yang mengerikan. Kami pernah mendengar cerita soal dia dan mendiang istri-istrinya, yang bikin mual dan murka. Dan sekarang adikku jadi yang berikutnya. Aku juga tidak tahu apakah wataknya Bianca yang seperti itu membantu atau tidak, karena dia akan melawan, atau dia akan lebih menderita justru karena sifatnya itu. Mungkin dengan membuat Bianca lebih mandiri, aku malah menandatangani hukuman untuk adikku sendiri.

"Dia di mana?" tanya Rendra, mengalihkan topik.

"Dia lagi menjalankan misi pribadi."

"Misi pribadi?"

"Gue bakal cerita, Rendra, karena gue percaya banget sama lo dan karena gue perlu ngobrol. Gue nggak mau ada orang lain yang tahu soal kekacauan ini, tapi gue mungkin butuh bantuan buat melenyapkan dua bajingan dari muka bumi."

Rendra duduk lagi dan memperhatikanku, menunggu penjelasanku.

"Laras, tunangan gue, diperkosa kakaknya sendiri dan dipukuli bapaknya. Belum hal-hal lain yang nggak perlu dibahas. Yang perlu lo tahu cuma dia hidup di neraka dunia selama bertahun-tahun."

"APA-APAAN INI?" Rendra berdiri kalut. Dia meninju tembok, dan aku tidak perlu menoleh untuk tahu matanya meluap amarah dan kebencian.

Rendra pernah melewati neraka bersama orang tuanya. Dia dilecehkan, dipukuli, disiksa. Dia tidak punya kuku di satu tangan dan di semua jari kakinya karena penyiksaan itu. Dia juga punya bekas luka dan sayatan yang bikin putus asa hanya dengan melihatnya, belum lagi bekas puntung rokok yang tak terhitung, karena sejak bayi rokok dipadamkan di tubuhnya. Dia datang tinggal bersama kami waktu masih kecil, setelah Papa tahu apa yang terjadi padanya dan langsung melenyapkan orang tuanya. Dua bajingan yang bekerja di rumah kami dan membesarkan Rendra di dekat sana, tanpa ada yang tahu apa-apa, bahkan tidak ada yang tahu mereka punya anak, karena Rendra tidak pernah keluar rumah dan kadang berminggu-minggu dirantai.

"Gue tahu ini berat buat lo dengar, pasti bikin lo teringat banyak hal, makanya gue pikir lo bisa bantu gue."

"Kadang gue lupa masih ada keluarga busuk lain kayak keluarga gue di luar sana."

"Keluarga lo itu kami. Gue, Mama, Papa, Nenek, dan adik kita." Begitu kuucapkan itu, dia menatapku aneh.

"Satria, kita perlu ngomong, ada yang harus gue sampein."

"Nanti aja. Gue baru inget Bianca pasti udah di gudang. Ayo kita tonton cewek gila itu beraksi dan lihat dia mampu apa."

Kulihat Rendra termenung, tapi dia tidak memaksa, dan aku sedang terlalu fokus melihat dua bajingan itu menderita. Jadi kuambil laptopku dan kubuka rekaman kamera.

"Gue siap bantu, Bang. Kalau terserah gue, siapa pun yang menyentuh orang kayak gitu pantas menderita. Tapi kenapa lo kirim Bianca?"

"Kalau gue yang mulai, gue nggak bakal bisa berhenti, dan gue nggak mau cepat. Gue mau yang menyakitkan dan pelan-pelan, penderitaan hari demi hari. Gue nggak kirim lo karena gue nggak yakin lo bakal berhenti, sama kayak gue."

"Lo benar. Penderitaan yang cepat itu kurang."

Kuputar rekamannya. Bianca sedang mengurus Erwin, dan harus kuakui aku mengharapkan lebih, tapi untuk hari pertama kurasa dia lumayan. Dengan Hartono kurasa lebih bagus, meski aku sendiri bisa lebih parah. Tapi ya begitulah, kalau mau dengan caraku, aku sendiri yang akan pergi.

Kuputar ulang video-videonya sekali lagi, karena melihat mereka menderita rasanya terlalu enak untuk ditonton cuma sekali. Rendra diam. Dia tampak menikmati apa yang dilihatnya, dan sesaat aku bertanya-tanya apakah dia menikmatinya karena melihat bajingan seperti itu menderita, atau karena melihat Bianca begitu hebat.

"Nggak adil cuma karena dia cewek, dia nggak bisa jadi bagian mafia secara aktif kayak yang lain."

"Gue lakuin semua yang gue bisa buat dia. Gue lihat potensi besar di adik gue, tapi ini rumit. Realitas seksis nggak hilang dalam sehari."

"Lo benar, tapi tetap aja, luar biasa lihat dia bertindak seolah itu alami buat dia, gimana dia bisa punya dua wajah. Gadis manja yang ke mal ngabisin duit gila-gilaan pakai kartu lo, dan psikopat sialan yang cantik banget dan kurang ajar." Dahiku berkerut menatapnya, berusaha mengerti ke mana arah omongannya. Tapi aku tidak sempat memikirkannya lama, karena Bianca masuk lewat pintu.

Memang benar kami sudah menonton videonya lebih dari sekali, tapi dia tiba di sini cepat sekali.

Aku hanya bisa berterima kasih pada adikku atas apa yang dia lakukan, tapi aku tahu aku harus memberitahunya tanggal pernikahannya sudah ditetapkan. Tentu saja dia tidak memberiku kesempatan. Yang membuatku heran bukan reaksinya, tapi reaksi Rendra. Aku kakaknya sama seperti dia, tapi reaksinya tidak sesuai dengan itu.

* * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!