Demi menyelamatkan kembarannya dari pernikahan dengan pemimpin Yakuza yang paling ditakuti, Stella Rossi nekat menyamar menjadi Luna dan berjalan ke altar.
Takeo Akira, Kumicho berdarah dingin, memilih Luna karena mengira perempuan lembut itu paling mudah dikendalikan. Pernikahan ini hanyalah langkah pertama dari balas dendamnya pada keluarga Lombardi, dan begitu pewarisnya lahir, istrinya tak lagi berguna.
Tapi malam pertama membongkar penyamaran itu. Dan perempuan yang terbaring di ranjangnya sama sekali bukan bidak penurut yang dia bayangkan.
Satu dikurung dalam gelap. Satu bersumpah tak akan pernah menunduk.
Antara dendam yang membara dan debar yang tak mau padam, siapa yang sebenarnya sedang memerangkap siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Tembakan Kebenaran
Takeo
Sebulan.
Tiga puluh hari cukup untuk menempatkan semua keping persis di tempat yang seharusnya. Anak buahku sudah menyusup, pengiriman tiba tanpa memicu curiga, dan prajurit Fasal sudah mendarat di Italia. Semuanya berjalan sesuai rencana yang kususun bertahun-tahun.
Perang akhirnya tak lagi sekadar rencana.
Ia akan menjadi kenyataan.
Aku duduk di balik meja ruang kerja sambil mengamati peta bercahaya di layar laptop. Isamu berdiri di depanku, bersama-sama meninjau detail terakhir operasi.
"Prajurit Fasal yang terakhir sudah mendarat di Italia," kataku tanpa mengalihkan mata dari layar. "Mereka tersebar di kota-kota utama. Tak ada yang curiga."
Dia hanya mengangguk.
Kuulurkan tangan dan kututup laptop.
Keheningan menguasai ruang kerja beberapa detik.
Lalu Isamu menatapku.
"Dan apa yang akan kau lakukan terhadap perempuan-perempuan keluarga Lombardi, Takeo?"
Tak ada keraguan.
Tak ada ragu.
Jawabanku sudah ada sejak lama.
Kuangkat mataku perlahan sampai bertemu matanya.
"Membunuh mereka."
Suaraku dingin.
Tak berubah.
"Tak seorang Lombardi pun akan tersisa hidup, Isamu."
Adikku mengamatiku beberapa saat.
Wajahnya mengeras.
"Bahkan Stella pun?"
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Kusilangkan tangan.
"Begitu Stella memberiku pewaris pertama... aku akan membunuhnya juga."
Kata-kata itu keluar tanpa emosi.
"Rencanaku tak berubah. Tak pernah berubah. Stella hanya inkubator pewarisku. Setelah menjalankan peran itu... dia tak berguna lagi."
Hening yang menyusul begitu berat.
Isamu mengatupkan rahang.
Dia tampak ingin mengatakan sesuatu.
Tapi sebelum sempat...
Terdengar dentuman di lorong.
Kami berdua mengangkat kepala bersamaan.
Seseorang menabrak sesuatu.
Isamu langsung bangkit.
"Tetap di sini."
Dia mencapai pintu dan membukanya sekaligus.
Pandanganku mengikuti gerakannya.
Lalu aku melihatnya.
Stella.
Dia berdiri di luar.
Wajahnya sama sekali tanpa warna.
Matanya membelalak.
Air mata mengalir bebas di pipinya.
Dia menggeleng berulang kali, seakan menolak percaya pada apa yang baru dia dengar.
Dadanya naik-turun cepat, berusaha mencari udara.
Sesaat...
Waktu berhenti.
Dia menatap langsung ke arahku.
Di matanya tak ada amarah.
Ada sakit.
Sakit yang begitu dalam sampai hening pun tampak tak sanggup menanggungnya.
Mulutnya terbuka, tapi tak ada kata yang keluar.
Dia hanya terus menggeleng sementara air mata membasahi wajahnya.
Isamu melirik kami berdua bergantian.
Dia langsung paham apa yang terjadi.
Dia mendengar.
Mendengar setiap kata.
Setiap janji kematian.
Setiap dusta yang kupertahankan sebulan penuh.
Dan, untuk pertama kalinya sejak kami bertemu...
Kulihat Stella memandangku persis sebagai diriku yang sebenarnya.
Seorang monster.
Aku melangkah ke arahnya.
"Stella..."
Dia mundur dua langkah.
Ketakutan di matanya lebih menyakitkan dari peluru mana pun.
Dia menggeleng, air mata mengalir tak terkendali, dan tiba-tiba berbalik.
Lari.
"Kembali, Stella!" teriakku.
Tapi dia tak menoleh.
Dia menaiki tangga nyaris tersandung, putus asa. Aku berlari mengejarnya. Pintu kamar kami terbanting ke dinding saat dia masuk.
Dia menyeberangi kamar dan menghilang ke dalam ruang ganti.
Jantungku berdegup kencang.
Begitu kulewati pintu ruang ganti, kulihat dia berlutut di lantai, mengaduk-aduk sebuah tas dengan panik.
Lalu dia menemukannya.
Saat dia berdiri...
Sebuah pistol ada di tangannya.
"Jangan mendekat!" teriaknya.
Tangannya gemetar begitu hebat sampai senjata itu bergetar.
Meski begitu, larasnya tetap terarah ke dadaku.
Aku melangkah lagi.
"Stella... turunkan senjatanya. Kau salah paham."
Dia tertawa pecah, sama sekali berbeda dari tawa mana pun yang pernah kudengar darinya.
Tawa seseorang yang baru kehilangan segalanya.
"Aku mengerti semuanya, Takeo..."
Setetes air mata lagi mengalir.
"Aku mendengarmu bilang akan membunuh seluruh keluargaku."
Dia menarik napas dengan susah payah.
"Aku mendengarmu bilang... setelah aku memberimu anak... kau juga akan membunuhku."
Suaranya pecah.
"Aku hanya inkubator bagimu."
Hening.
Dia mempererat cengkeraman pada senjata.
"Tapi sebelum kau membunuhku..."
Dia mengangkat dagu.
Mata merahnya bertemu mataku.
"Akulah yang akan membunuhmu."
Kulihat jarinya menekan pelatuk.
Gema tembakan menggelegar di kamar.
Rasa sakit meledak di dadaku.
Benturannya melemparku tiga langkah ke belakang.
Udara menghilang dari paru-paruku.
Kuturunkan pandangan.
Darah mulai menodai kemejaku.
Stella membelalak.
Pistol terlepas dari jari-jarinya dan jatuh ke lantai dengan bunyi logam.
Dia menutup mulut dengan kedua tangan.
Putus asa menggantikan amarahnya.
"Aku..."
Suaranya keluar sebagai bisikan.
"Aku membunuhmu..."
Pintu kamar terbuka dengan keras.
"TAKEO!"
Isamu menerobos masuk.
Matanya menemukan darah lebih dulu.
Lalu menemukan aku.
Wajahnya kehilangan seluruh warna.
"Anjing..."
Dia berlari ke arahku, memegang lenganku agar aku tak jatuh.
"Dia menembakmu, Takeo!"
Dia memandang noda merah yang melebar di kemejaku.
"Sialan... kau berdarah!"
Lalu matanya beralih pada Stella.
Dia tetap tak bergerak.
Membeku.
Menangis.
Isamu maju selangkah ke arahnya, dikuasai amarah.
"Dasar kau..."
Kupegang lengannya sekuat tenaga yang tersisa.
"Jangan, sialan!"
Dia langsung berhenti.
"Tapi dia..."
"Jangan sentuh dia."
Suaraku serak.
Lemah.
Aku bernapas dengan susah payah sementara darah terus mengalir.
Kupegang wajah adikku agar dia hanya memperhatikanku.
"Bawa Stella pergi dari sini..."
Dia menggeleng, masih terguncang.
"Sebelum yang lain datang."
Isamu memandangku, lalu Stella.
Dia masih hancur total, menatap darah di pakaianku seakan dunia baru saja runtuh di depan matanya.
Sesaat, tak ada yang bergerak.
Satu-satunya bunyi di kamar adalah napas Stella yang tak teratur... dan darah menetes pelan di lantai kayu.
Kakiku lemas.
Tenaga meninggalkan tubuhku sekaligus.
Aku terhuyung ke belakang sebelum jatuh berat ke lantai ruang ganti. Benturan itu membuat sakit peluru menembus dadaku bagai api.
Setiap tarikan napas terasa merobek paru-paruku.
Darah mengalir makin deras.
Kuangkat kepalaku dengan susah payah.
Stella masih berdiri.
Tangannya menutupi mulut sementara dia menangis tersedu.
Matanya terpaku padaku.
Benar-benar syok.
"Aku... aku tidak bermaksud..." bisiknya di sela isak.
Pandanganku mulai kabur.
Kurasakan Isamu memegang bahuku, berusaha menahan pendarahan.
"Tetap bersamaku, Takeo! Jangan tutup matamu, sialan!"
Kupegang lengannya dengan sisa tenaga.
"Sekarang... Isamu..."
Suaraku lemah.
Nyaris tak terdengar.
"Bawa... Stella... pergi."
Dia menatapku tak percaya.
"Aku tak akan meninggalkanmu sendirian!"
Kucengkeram kemejanya.
"Sekarang!"
Perintahku bergema di kamar.
Isamu mengatupkan rahang.
Sesaat, dia ragu.
Lalu berdiri.
Dia mendekati Stella, yang masih sepenuhnya lumpuh.
Dia masih menatapku seakan tak percaya pada apa yang dia lakukan.
"Tidak..." gumamnya. "Takeo..."
Isamu memegang lengannya.
"Ayo."
Dia melawan.
"Tidak!"
Air matanya tak berhenti.
Isamu memegangnya lebih erat.
"Stella, ikut aku!"
Suaranya pecah menjadi tangis putus asa.
"TAKEO!"
Gambaran terakhir yang kumiliki adalah dia.
Menangis.
Menjerit namaku.
Pintu itu lenyap dari pandanganku.
Sakit di dadaku menjauh.
Suara di sekelilingku meredam.
Napasku melemah.
Kegelapan perlahan memenuhi penglihatanku.
Dan hal terakhir yang kulihat...
Adalah wajah Stella-ku.
Hancur sepenuhnya.
Putus asa.
Lalu...
Semuanya gelap.