NovelToon NovelToon
Jatuhkan Talakmu, Gus

Jatuhkan Talakmu, Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:635.1k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Ruang keluarga ndalem utama pagi itu mendadak menjadi tempat yang sangat mencekam. Kyai Ahmad duduk di kursi utamanya dengan wajah yang sangat tegas namun menyembunyikan duka yang mendalam. Di sampingnya, Bu Nyai Khadijah duduk dengan mata sembab yang membengkak akibat menangis sepanjang malam. Disisi lain ruangan, Arsyaka duduk mendampingi Naya yang tampak tenang di atas sofa kayu.

Reyhan, duduk bersimpuh di atas karpet di tengah ruangan. Wajahnya yang masih lebam sisa dari pukulan Kyai Ahmad.

Sementara di atas sofa kayu, Naya duduk bersedekap dengan punggung tegak. Wajahnya begitu tenang, namun dari sorot matanya yang jernih dan berjarak, terpancar keteguhan yang tak lagi bisa digoyahkan oleh ratapan atau penyesalan.

Di samping Naya, Arsyaka duduk pasang badan, menyilangkan kaki dengan tatapan sekeras batu karang.

"Assalamu’alaikum..."

Suara pelan dan bergetar mengalihkan perhatian semua orang ke ambang pintu. Mbak Zaenab dan Mbak Mala melangkah masuk, memandu seorang santriwati berbalut gamis abu-abu dan jilbab putih yang menunduk dalam-dalam. Rani. Langkah kakinya begitu pelan, terseret seolah tiap incinya memikul beban seberat gunung.

Saat mata Rani terangkat sebentar dan bertabrakan dengan sosok Reyhan yang bersimpuh di tengah karpet—wajahnya lebam pucat dengan napas memburu—gadis itu makin merapatkan himpitan jemarinya. Rani berlutut beberapa meter di samping Reyhan, tak berani menatap Kyai Ahmad maupun Naya.

"Sudah lengkap semuanya," ujar Kyai Ahmad dengan suara parau yang amat berat.

Beliau menatap putranya, lalu beralih pada Rani. "Rani... kamu santriwati senior di Al-Anwar. Kamu dididik dengan kitab akhlak dan kami membesarkan pesantren ini dengan asas kejujuran. Kamu santri yang kami sayangi, kami beri kepercayaan. Kenapa kamu melakukan kebohongan sejauh ini bersama Reyhan?"

Rani semakin menundukkan kepala. Bahunya mulai terguncang pelan. "M-mohon maaf, Kiai... Bu Nyai... Rani salah... Rani bersedia menerima hukuman apa saja dari pondok... Tapi demi Allah, Rani tidak pernah ada niat merusak rumah tangga Ning Naya... Rani cuma... Rani cuma mau menjaga kehormatan karena perasaan ini..."

"Kehormatan?" Arsyaka memotong dengan nada dingin yang langsung menyayat udara pagi. Tawa sinis terpancar tipis dari sudut bibirnya. "Kamu bicara soal kehormatan setelah sebelas bulan menjadi benalu dalam pernikahan adik saya? Kamu berlindung di balik kata 'cinta karena Allah', padahal kamu dengan sengaja memanfaatkan celah celah ego seorang pria yang merasa hebat!"

"Gus Syaka, tolong..." Reyhan mencoba menyela dari posisinya di karpet, suaranya serak dan memohon. "Jangan salahkan Rani sepenuhnya. Saya yang mendatangi dia. Saya yang mengajaknya—"

"Tutup mulutmu, Reyhan!" bentak Kyai Ahmad, menepuk lengan kursi jati hingga menimbulkan dentuman keras yang bergema di seluruh ruangan.

Bu Nyai Khadijah memejamkan mata rapat-rapat, tak sanggup melihat kejatuhan moral putra tunggalnya.

Kyai Ahmad menatap putranya dengan pandangan menghukum. "Kamu pikir Abi membawakan ilmu dari Mesir untuk kamu pakai membohongi istri sahmu? Kamu menyia-siakan Naya, menolak menyentuhnya dengan alasan pensucian spiritual, sementara di belakangnya kamu membagi raga dan perhatianmu untuk wanita lain? Di mana letak akal sehat dan imanmu, Muhammad Reyhan Al-Fatih?!"

Reyhan menunduk dalam-dalam, menekan dadanya yang ngilu teramat sangat. Kata-kata sang ayah menghantam egonya hingga hancur berkeping-keping.

Namun, yang paling membakar jiwanya bukanlah kemarahan sang ayah atau makian Arsyaka, melainkan keheningan dari Naya. Wanita yang selama satu tahun ini selalu menyambutnya dengan senyum lembut, yang selalu menyiapkan teh kapulaga hangat di malam-malam dingin Pacet, kini menatapnya seperti menatap orang asing yang tak bernilai. Tidak ada benci di mata Naya, hanya ada kekosongan total. Dan kekosongan itulah yang membuat Reyhan merasa benar-benar telah mati.

Naya lalu menatap Rani. "Rani... aku tidak akan menyalahkanmu sepenuhnya. Karena tepukan tangan tidak akan berbunyi jika hanya satu orang yang mengayunkan."

Kemudian, Naya beralih menatap Reyhan yang matanya merah dan sembab. Ia memajukan tubuhnya sedikit di atas sofa, menatap mertuanya dengan sopan.

"Abi, Umi..." suara Naya mengalun tenang, bening tanpa ada getaran emosi yang meledak-ledak. "Naya berterima kasih atas seluruh kebaikan, kasih sayang, dan ilmu yang Abi serta Umi berikan sejak Naya pertama kali menginjakkan kaki di Al-Anwar saat SMP. Kasih sayang Umi sudah Naya anggap seperti kasih sayang ibu kandung Naya sendiri."

Bu Nyai Khadijah kembali terisak mendengar tutur kata menantunya yang begitu anggun di tengah terluka.

"Namun," Naya melanjutkan, matanya kini lurus menghujam netra Reyhan yang memerah, "pernikahan dibangun di atas fondasi kejujuran dan rasa hormat. Ketika kejujuran itu dihancurkan oleh kebohongan yang dirancang berbulan-bulan, dan rasa hormat itu mati karena pengkhianatan... maka tidak ada lagi alasan bagi Naya untuk bertahan."

"Naya... saya mohon, Nay..." Reyhan merangkak beberapa inci mendekati sofa Naya, air matanya menetes jatuh melintasi lebam di pipinya. "Saya mengaku salah. Saya khilaf. Tolong beri saya kesempatan... saya akan lepaskan Rani hari ini juga! Saya akan selesaikan pernikahan siri itu! Tolong jangan minta cerai, Nay..."

Rani menoleh kaget menatap Reyhan saat mendengar kata-kata 'lepaskan Rani hari ini juga'. Ada kilat kekecewaan dan kecemasan yang melintas sekejap di mata santriwati itu.

Naya hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh keprihatinan. "Mas Reyhan... kamu melipat gandakan dosamu sendiri. Dulu kamu berjanji melindunginya atas nama pernikahan siri, lalu sekarang dengan mudahnya kamu ingin membuangnya saat posisi dan egomu terancam? Itu bukan khilaf. Itu bukti bahwa kamu hanya mencintai dirimu sendiri."

Kata-kata Naya bagai belati tumpul yang menguliti kesombongan Reyhan sampai habis. Pria itu terpaku, lidahnya mendadak kelu. Penyesalan dahsyat merayapi dadanya—ia baru menyadari betapa dalam dan cerdasnya cara berpikir Naya, wanita yang selama ini ia sepelekan dan ia anggap sekadar pasangan hasil perjodohan.

"Abi," Naya beralih pada Kyai Ahmad. "Naya memohon ridho Abi dan Umi untuk merestui perpisahan ini. Hari ini Naya akan pulang bersama Mas Syaka. Surat gugatan cerai akan diserahkan oleh pengacara keluarga kami minggu ini."

Kyai Ahmad mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca. "Abi ridho, Naya... Abi mengikhlaskan keputusanmu. Maafkan Abi dan Umi yang tidak bisa menjaga amanah ini."

"Abi! Tidak, Abi!" Reyhan berteriak histeris, mencoba bangkit namun tubuhnya yang lemas membuat ia kembali tersungkur di atas karpet.

“Tolong, jatuhkan talakmu, Mas.”

"Abi..." suara Reyhan terdengar serak, memecah hening yang melingkupi ruangan tersebut. "Reyhan tidak mau menceraikan Naya... Reyhan mohon, Abi... Jangan paksa Reyhan ikrar talak..."

Kyai Ahmad menatap putranya tanpa ada lagi sisa kepedulian atas rengekannya. "Keputusan ini bukan di tanganmu lagi, Reyhan. Kamu sudah membuktikan bahwa kamu tidak layak memegang amanah sebagai suami bagi wanita seperti Naya."

Kyai Ahmad lalu menatap Naya dengan pandangan mata seorang ayah yang meminta maaf.

"Naya, anakku..." suara Kyai Ahmad bergetar tipis. "Abi atas nama pribadi, atas nama pengasuh Pesantren Al-Anwar, dan atas nama ayah dari Reyhan... memohon maaf yang sebesar-besarnya atas luka berat yang sudah ditorehkan putra Abi padamu. Hari ini, Abi sendiri yang akan menjadi saksi atas kembalinya hakmu sebagai wanita bebas."

Naya menundukkan kepala perlahan. "Nggih, Abi... Naya sudah memaafkan semuanya secara pribadi. Tapi pernikahan ini harus selesai hari ini juga."

"Naya! Tidak, Naya!" teriak Reyhan histeris, mencoba merangkak mendekati Naya, namun Arsyaka langsung berdiri pasang badan memblokir pandangannya.

"Jatuhkan talakmu sekarang, Reyhan," perintah Kyai Ahmad dengan nada yang tidak menerima bantahan sedikit pun. Suaranya bergema di seluruh ruangan, memancarkan wibawa pimpinan tertinggi Al-Anwar yang tak bisa diganggu gugat.

"Ucapkan kata itu di depan Abi, Umi, dan kakak kandung istrimu. Jangan buat Abi makin malu memiliki putra seperti kamu!"

Reyhan menggelengkan kepalanya hebat. Airmata bercampur keringat dingin menetes deras dari pelipisnya. Pria yang biasanya fasih melantunkan ayat-ayat suci itu kini mendadak seperti kehilangan lidahnya.

"Saya... saya tidak bisa, Abi... Naya, tolong..." tangis Reyhan pecah, dadanya naik turun menahan keputusasaan yang luar biasa.

"Ucapkan, Muhammad Reyhan Al-Fatih!" bentak Kyai Ahmad, menepuk meja kayu di sampingnya hingga berdentum nyaring.

Di tengah tekanan sang ayah, keputusasaan yang mendalam, dan tatapan mata Naya yang begitu dingin tanpa ada lagi sisa cinta di dalamnya, Reyhan akhirnya membuka mulutnya yang bergetar hebat.

"D-demi Allah..." suara Reyhan tercekik, air matanya jatuh tak terbendung. "H-hari ini... saya... saya jatuhkan..."

Kalimat ikrar itu menggantung di udara subuh Pacet.

***

1
Mimin Rosmini
innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un
Allohummaghfirlaha warhamha waafihi wafuanha
mas Reyhan jodohmu dengan Naya sudah selesai.apakah kalau Rani tidak meninggal kamu akan melamar Naya.? ga kan? jadi terima nasibmu.Naya sudah dilamar Zeyad
Nurminah
Dan buat si gua Reyhan nggak layak dapet maaf laki-laki pengecut berlindung dibalik agama dengan berpoligami
nikah sirih sah tapi faktor dan dampak perbuatan bisa jadi halal apalagi dimulai dengan perzinahan dan perselingkuhan
wanita waras mana diajak poligami tanpa ilmu wanita berkelas seperti naya berhak bahagia dengan laki-laki sepandan bukan laki-laki yg belum selesai dengan ego nya dan mantan yg udah menorehkan luka terdalam selamat menyesal kayaknya si gus Reyhan memang seneng si Rani meninggal
Sani Srimulyani
emang gila si Reyhan, dikira Naya itu ban serep apa.....😏
Nurminah
innalillahi wainnailaihi raji'un dan Alhamdulillah akhirnya sampai akhir hayat tidak mendapatkan kebahagiaan dari hasil mencuri karena azab dunia akhirat memang pantas untuk pelaku jangan menormalisasi perzinahan perselingkuhan Rasulullah saja melaknat nya hukumannya saja dirajam sampai mati jadi bukan tidak berempati tapi setiap perbuatan layak mendapatkan balasan terlepas dari Allah Maha Pengampun Dosa dengan manusia layak mendapatkan balasan setimpal
Sani Srimulyani
berani2nya dia mau lamar Naya lagi, ga cukup apa penderitaan yang sudah dia berikan sama Naya...... ternyata Reyhan masih tetap jadi laki2 yang egonya tinggi. kalo dia emang sadar sudah banyak salah sama Naya dia ga akan berani untuk lamar Naya lagi, palagi dia tau kalo Naya itu calon istrinya zeyad. yang mana zeyad lebih segalanya dibandingkan dia.😡
Elina thea
trus kenapa kalo Rani dah meninggal Rayhan, berharap kembali sama Naya...jgn mimpi dech...liat di sampingmu ada laki-laki yg jauh lebih baik darimu dan yg pasti Naya juga dah ada rasa sama zeyad,jadi gak mungkin Naya mau kembali sama orang yg dah nyakitin dia di masa lalu...
Lembang Azam
Thor bukannya Naya di Dubai baru setahun yah, kok Rani meninggal udh 14 bulan thor/Shy/
Dokkan Battle
HAHAHAHA HAHAHAHA 🤣
Mukeseh
gus giendeng
Machmudah
baguslah Rani dibuat meninggal, krn. dibuat hidup malah kasian, biar reyhan hidup dgn kesendirian nya.....nanti kl Naya menerima reyhan kembali, dia pasti akan sombong lagi
dyah EkaPratiwi
nggak tau malu Reyhan istri hasil selingkuh habis melahirkan meninggal trus lamar lagi yg di selingkuhi hila memang
Dokkan Battle: EMANG GILA
total 1 replies
Agnezz
Innalilahi.... gak menyangka tokoh Rani ditamatkan sama otor. Aku merasa rumah tangga Rani dan Rayhan tidak bisa diaelamatkan karena sudah tidak ada kehangatan dan cinta dari Rayhan. Kupikir Rani yg akan minta cerai. Ternyata takdir berkata lain.
Rasanya gak pas kalo Rayhan kembali bersama Naya. Jodoh Naya sekarang adalah Zeyad. Semoga dengan kematian Rani, Rayhan akan lebih dewasa dan menemukan wanita lain yg bisa mengerti dan mendukung Rayhan.
Nurminah: alhamdulillah meninggal dengan keadaan baik bukan digiling
dan Reyhan nggak layak dapet naya lagi sebodoh nya wanita mana mau ama mantan yg menorehkan luka terdalam apalagi ada sosok laki-laki hebat yg siap berdiri disamping nya dan insya Allah membawa kebahagiaan
total 1 replies
Wak Coy
Bukannya nggak bisa nolak perjodohan tapi pada dasarnya laki2 itu SERAKAH inginnya dua2 nya biar merasa hebat
Sri Murtini
Innalilahi wainna illaihi rojiun
smg rani diampuni dosa kesalahannya.takdir membawa sependek itu umurnya.
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Hhmm
Rini Maryani
lanjut naya semangat thoor
Wak Coy
Biadab laki2 jelmaan binatang ngakunya paham agama tapi kelakuannya kayak iblis yg memang nggak punya hati
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
/Cry//Cry/ Nokoment ah
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Seruuu cerita na 🤗🥰
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Kesan na serem amat ya 🤔 gunung berkabut cuaca yg dingin 👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!