Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Jalan Tikus Menuju Pasar
"Tunggu, Ibu"
"Ada apa lagi, Wan-er?"
"Sebelum kita berangkat ke pasar, aku ingin bertanya satu hal penting," ucap Wanru dengan nada berbisik. "Apakah ada jalan lain untuk keluar dari desa ini... jalan memutar yang tidak harus melewati jalan utama desa? Aku tidak mau melewati kawasan rumah Nyonya Liu."
Mendengar nama Nyonya Liu disebut, raut wajah Nyonya Lin langsung berubah pucat. Wanita paruh baya itu teringat bagaimana wanita tambun tersebut memperlakukan putrinya kemarin sore dan menyewa preman untuk memukulnya.
"Jalan lain...?" Nyonya Lin merenung sejenak, lalu matanya berbinar kecil. "Ah! Ada! Memang ada jalan setapak tua di balik bukit belakang gubuk kita, jalan para pemotong kayu zaman dulu yang melipir menembus pinggiran tebing hutan."
Tapi, Nyonya Lin memperingatkan dengan nada cemas, "Tapi jalan itu jauh lebih sepi, jalurnya sempit, berbatu tajam, dan memutar lebih jauh dari biasanya. Warga desa sudah tidak pernah menggunakannya lagi karena takut tersesat."
Mendengar penjelasan itu, sudut bibir Wanru justru terangkat membentuk senyuman penuh kelegaan.
"Jalur sempit, berbatu, dan memutar? Sempurna!" seru Wanru tanpa ragu sedikit pun. "Justru itu jalur terbaik. Aku tidak punya waktu untuk meladeni omong kosong wanita kampret itu atau menjadi tontonan warga desa yang suka bergosip. Kita ambil jalan itu!"
Tanpa membuang waktu sedetik pun, keputusan telah diambil. Nyonya Lin dengan cepat menitipkan Lin Bao kepada seorang tetangga lansia yang baik hati di ujung gang, seorang nenek renta yang tidak ikut campur dalam kelompok gosip Nyonya Liu, dengan alasan hendak pergi ke ladang sebentar.
Dengan membawa kantong kain usang berisi komoditas herbal dan jamur liar di bahu Wanru, ibu dan anak itu akhirnya melangkah meninggalkan gubuk reyot mereka.
Alih-alih melewati jalan utama desa yang ramai dan penuh cemoohan, Nyonya Lin memimpin jalan menembus rumpun semak tinggi di belakang bukit, menyusuri sebuah jalan setapak kuno yang jarang diinjak kaki manusia selama bertahun-tahun.
Jalur itu memang tampak sempit, diapit oleh dinding tebing batu yang ditumbuhi lumut liar dan akar-akar pohon merambat yang menggantung rendah.
Meski jalurnya sedikit lebih jauh dan melelahkan bagi fisik mereka yang kurang gizi, langkah kaki Wanru terasa sangat ringan. Di dalam kepalanya, roda gigi kalkulasi bisnis dan harapan baru terus berputar kencang.
"Pasar Kota Kecamatan Sungai Besi... Tunggu aku. Hari ini, aku akan membuktikan bahwa seorang CEO modern tidak akan pernah bisa dijatuhkan hanya oleh kemiskinan dan sekelompok preman desa," batin Wanru, menyusuri jalan tikus pegunungan bersama sang ibu di bawah teriknya matahari pagi Dinasti Liang.
Jalan setapak kuno di balik bukit belakang Desa Hutan Batu terbukti jauh lebih terjal daripada yang dibayangkan.
Akar-akar pohon beringin tua melintang di atas tanah liat yang mengeras, membentuk jaring-jaring alami yang siap menjegal siapa saja yang melangkah tanpa kewaspadaan.
Di sisi kanan, dinding tebing batu kapur yang menjulang tinggi memantulkan udara lembab, sementara di sisi kiri, jurang landai yang dipenuhi semak belukar lebat menganga sunyi.
Nyonya Lin memimpin perjalanan dengan napas yang mulai memburu. Langkah kaki wanita paruh baya itu tampak berat, namun sorot matanya menyiratkan keteguhan yang luar biasa demi melindungi putrinya.
Di belakangnya, Lin Wanru berjalan tegap sambil memegang erat tali kantong kain usang yang berisi jamur tiram, akar manis, dan tanaman pegagan.
"Ibu, istirahatlah sejenak," pinta Wanru saat melihat peluh bercucuran deras di dahi ibunya. "Kita sudah berjalan hampir satu jam penuh. Jantung Ibu bisa terbebani kalau dipaksa terus menanjak."
Nyonya Lin menghentikan langkahnya di dekat sebuah batu besar berbentuk meja pipih. Ia membungkuk, dan menumpukan kedua tangannya di atas lutut sambil menarik napas dalam-dalam. Wajahnya tampak pucat, namun ia menggeleng dengan pelan.
"Ibu tidak apa-apa, Wan-er..." ucap Nyonya Lin dengan suara terengah-engah. "Kita tidak boleh membuang waktu. Kalau Paman Dehai sudah mendatangi gubuk dan tahu kita tidak ada di sana, dia pasti akan mengamuk dan melampiaskan kemarahannya pada Bao-er. Kita harus cepat sampai di pasar sebelum matahari mencapai puncak."
Wanru mengangguk dalam diam. Kekhawatiran ibunya beralasan. Ia lalu mengeluarkan sebotol kecil air dari lipatan kainnya, sisa air sumur yang dibawanya tadi pagi dan menyerahkannya kepada Nyonya Lin.
Sambil menunggu ibunya memulihkan tenaga, mata Wanru menyapu pemandangan di sekitar mereka.
Berbeda dengan Desa Hutan Batu yang gersang, kumuh, dan dipenuhi suasana pesimis, jalur pegunungan ini memiliki ekosistem liar yang sangat murni.
Di celah-celah bebatuan basah, tumbuh subur berbagai jenis lumut kerak langka dan pakis purba yang di era modern hanya bisa ditemukan di dalam buku botani konservasi.
"Alam di era dinasti ini benar-benar belum terjamah oleh polusi industri," batin Wanru menganalisis secara ilmiah. "Kandungan mineral tanahnya luar biasa tinggi. Jika aku memiliki modal dan waktu, tempat ini bisa diubah menjadi kawasan budidaya tanaman obat organik bernilai ekspor tinggi."
Namun, lamunan ilmiah itu harus segera disudahi. Setelah Nyonya Lin merasa tenaganya sedikit pulih, keduanya kembali melanjutkan perjalanan menembus rimbunnya dedaunan liar.
Setelah berjalan menyusuri tebing batu, jalur sempit itu perlahan-lahan melandai. Kerapatan pohon-pohon hutan mulai berkurang, digantikan oleh pemandangan yang membuat langkah kaki Lin Wanru terhenti seketika.
Di hadapan mereka, terbentang sebuah lembah luas yang dialiri oleh sungai berair jernih bernama Sungai Besi.
Di sebrang sungai, tampak sebuah gerbang kayu besar bercorak kuno dengan atap melengkung khas arsitektur Tiongkok klasik, dikelilingi oleh tembok tanah liat yang mengelilingi sebuah permukiman padat.
Itulah Kota Kecamatan Sungai Besi.
Bagi seorang dari dunia modern yang terbiasa melihat gedung-gedung pencakar langit berlapis kaca, jalan tol bertingkat, dan pusat perbelanjaan futuristik, pemandangan kota kuno di hadapannya ini bukanlah sebuah kemajuan teknologi.
Namun, di mata seorang sejarawan atau antropolog, ini adalah sebuah mahakarya sosiologis yang hidup dan bernapas.
"Luar biasa..." gumam Wanru tanpa sadar, matanya membelalak kagum.
Dari kejauhan, asap tipis mengepul dari ratusan cerobong dapur rumah penduduk. Suara hiruk-pikuk mulai terdengar sayup-sayup terbawa angin.
Derap kaki kuda pengangkut barang, suara roda gerobak kayu yang berdecit nyaring di atas jalan batu, teriakan para pedagang asongan, hingga tawa anak-anak kecil yang berlarian di pinggir sungai.
Ini adalah dunia nyata Dinasti Liang, bukan sekadar ilustrasi di dalam buku sejarah atau latar belakang CGI dalam drama televisi kolosal. Ini adalah denyut nadi perekonomian rakyat kecil yang berjuang hidup di bawah sistem feodal, lengkap dengan segala dinamika sosial, keringat, dan perjuangan kelasnya.
"Kita sudah dekat, Wan-er," kata Nyonya Lin sambil merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. "Lewati jembatan kayu di depan itu, dan kita akan langsung masuk ke gerbang utara pasar kecamatan."
Begitu mereka melintasi jembatan kayu yang membentang di atas Sungai Besi dan melewati gerbang kota, suasana mendadak berubah menjadi lautan manusia yang begitu padat dan riuh rendah.
Bruk!
Bersambung...