NovelToon NovelToon
AKU ADALAH SUBJEK PENELITIAN

AKU ADALAH SUBJEK PENELITIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dosen / Anak Genius
Popularitas:70
Nilai: 5
Nama Author: Sara Zefa

Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.

Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.

Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.

Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?

Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

YANG TIDAK MENINGGALKAN KU

Tiga hari kemudian.... Anaxa perlahan membuka matanya. Pandangannya masih buram, tetapi dia segera menyadari dirinya berada di kamar rumah sakit.

Dia mencoba menggerakkan tubuhnya, lalu meringis menahan nyeri. Pandangannya turun. Kaki kanannya sudah terpasang gips dan ditopang agar tidak banyak bergerak, sementara bagian pinggul kanannya juga sudah ditangani.

“...Apa yang terjadi?” tenggorokan Anaxa terasa serak. Dirinya mencoba melihat ke sekeliling, namun rasa pusing yang hebat langsung menyerang. Refleks tangannya terangkat untuk memegangi dahinya, dan Anaxa tersadar bahwa tangan kanannya tertancap infus.

"Ah..." Anaxa memejamkan matanya. Berusaha mengingat kejadian sebelumnya.

Bukti yang dibakar

Aglaea

Ancaman

Data dirinya

Subjek 07

Dirinya terakhir kali memikirkan itu semua. Bahkan saat sedang mengendarai sepeda...

"Hahaha...." Anaxa mulai mentertawakan keadaan nya yang miris. Dalam pikirannya dia berkata "Apakah setelah aku kecelakaan dan tidak berhasil mencabut laporan terhadap Aglaea, aku... menjadi subjek yang gagal?"

Anaxa tetap tertawa selama beberapa saat. Namun perlahan, tawa itu berubah menjadi tangisan yang memilukan. Air mata mulai mengalir. Anaxa mulai terisak-isak.

Ternyata suara tangisan Anaxa menarik perhatian Alya, Dimas, dan Keenan yang baru memasuki ruang inap Anaxa setelah menjenguk Ribka.

"Anaxa?!" Alya memanggil namanya. Dengan cepat melangkah ke dekat Anaxa. Gadis itu sedikit panik melihat kondisi Anaxa.

"Ada apa Anaxa? It's okay, kamu aman sekarang." Ucap Alya yang mengira tangisan Anaxa akibat dirinya yang kecelakaan.

Keenan dan Dimas turut memperhatikan kondisi Anaxa. "King? Kamu gak papa kan?"

Bukan nya malah merasa tenang, sorot mata Anaxa malah memandang mereka dengan ketakutan. "Kenapa... Kalian ada disini? Pergi dariku hahhh..." Tangis Anaxa makin histeris

"Anaxa???" Alya memanggil namanya

"Pergi aghh hahh... Aku cuma bikin kalian dalam bahaya. Tolong. Pergi..." Anaxa mulai refleks meremat kuat rambutnya.

Dimas yang merasa tindakan Anaxa tidak wajar, memutuskan pergi untuk mencari bantuan tenaga medis

Alya berusaha untuk memenangkan Anaxa dan melepaskan rematan kuat ke rambutnya. Dan beberapa saat kemudian, ruangan dipenuhi isak tangis Anaxa.

Keenan menatap Anaxa dengan penuh rasa khawatir. Hatinya sakit melihat temannya sehancur ini "King..."

Sorot mata Anaxa kini menatap ke Keenan. Dengan masih bercucuran air mata, Anaxa berkata. "Kenapa... Bukannya harusnya kamu membenciku? Hahh...."

Keenan yang mendengar ucapan itu hanya menggelengkan kepala. Kemudian melemparkan senyum lemah. "Aku gak sampai hati membenci teman sendiri." Dan kalimat tersebut sukses membuat Anaxa menangis lebih keras.

Beberapa saat kemudian, pintu rawat ini terbuka dan perawat serta Dimas datang menghampiri. "Tolong berikan waktu ke pasien untuk sendiri. Seperti pasien mengalami gangguan psikis pasca kecelakaan."

Ketiga teman Anaxa setuju untuk menunggu diluar sementara perawat mulai menangani Anaxa. Alya dan Keenan sangat mencemaskan kondisi Anaxa. Sementara Dimas malah memikirkan ucapan pria itu setelah siuman. "Kenapa dia menyuruh kita untuk pergi?" ucap Dimas dalam hati.

Dimas kini menatap Alya. Memikirkan langkah berikutnya, dan kemudian Dimas melontarkan pertanyaan kepada gadis itu

"Alya?"

"Ya?" Ucap gadis itu sambil menoleh

"Apakah kamu tahu sesuatu yang membuat Anaxa jadi ketakutan dan menyuruh kita pergi?" Dan mata Alya membesar

"Bagaimana kamu tahu hal itu?" tanya Alya

"Jadi king Anaxa kena terror?" Keenan ikut me nimbrung dan menatap bingung ke Alya.

Karena sudah ketangkap basah, akhirnya Alya menganggukkan kepala. "Iya. Sebelumnya Anaxa cerita ke aku kalau dirinya di terror amplop coklat misterius. Isinya 200 laporan observasi terhadap rutinitas dan perilaku Anaxa..." Dan ucapan Alya terpotong

"HAH?! 200 lembar observasi? Kok bisa?!"

"Berisik Keenan! Ini rumah sakit" Ucap Dimas

Dan Alya melanjutkan kalimat nya "Iya, 200 lembar. Isinya kira-kira subjek A melakukan ini, subjek A melakukan itu, subjek A merasakan kemudian memikirkan itu..."

"Cius tuh?" Tanya Keenan lagi dan dibalas anggukkan dari Alya.

"Apakah... Ini berkaitan dengan gosip kampus hari ini? Bu Aglaea yang melakukan eksperimen psikologi ilegal?" Tanya Dimas setelah mengingat kejadian di kampus

"Jangan-jangan itu Anaxa?" Keenan membelalak kan mata

"Aku gak tau. Belum sempat ditelusuri lebih lanjut." Ucap Alya menutup perkataan.

Dan berikutnya perawat pun keluar dari ruang rawat inap Anaxa. Mereka bertiga langsung berdiri dari duduk dan bertanya "Bagaimana kondisi Anaxa?"

"Sekarang kondisi pasien sudah jauh lebih baik. Hindari membahas sesuatu yang dapat membebani psikisnya."

Mereka bertiga pun menganggukkan kepala, kemudian kembali memasuki ruang rawat inap Anaxa dan melangkah ke dekatnya.

Tetapi Anaxa malah memandang mereka dengan tatapan kosong. Alya menyadari perubahan drastis Anaxa. Pria itu seolah-olah kehilangan semangat hidupnya dalam waktu yang relatif dekat.

"Anaxa..."

Pria itu menoleh ke arah Alya. Tersenyum kecut. Kemudian berkata "Kenapa gak pergi lagi meninggalkan aku? Setidaknya kamu sudah aman tidak berada di dekatmu."

"Anaxa..."

"Apakah amplop coklat tersebut yang bikin kamu takut terhadap keberadaan kita di dekatmu?" Ucapan Dimas langsung membuat Anaxa terkejut

"Bagaimana... Kalian bisa tau..."

Anaxa terdiam. Kembali menatap Alya. Kemudian menghela napas berat.

"Alya..."

"Maaf Anaxa. Bukan bermaksud membeber kan, cuma Dimas... Udah keburu menebak-nebak" Alya tersenyum kikuk.

"Gak papa..." Anaxa menghela napas lagi

"King! Yang jadi subjek penelitian ilegal bu Aglaea, itu kamu kah?" Pertanyaan dari Keenan membuat Dimas dan Alya terkejut karena terlalu brutal

"Keenan!" Dimas ingin memarahi Keenan. Tetapi ucapan Anaxa menghentikannya. "Iya... Dan bu Aglaea bilang kalau akan seret kalian semua lebih dalam. Ini semua karena aku..."

"Bukan salah kamu kok. Kamu cuma korban dari penelitian ilegal itu" Ucap Dimas berusaha menenangkan Anaxa

"Tetapi amplop coklat itu juga aku dapatkan di depan pintu kos kalian... Saat nonton film sampai pagi..."

Dan ucapan Anaxa sukses membuat Dimas dan Keenan terdiam.

Namun Alya malah merusak suasana dengan perkataannya yang sangat mengagetkan

"Tapi pas Anaxa nginep di kos ku, amplop coklat tersebut berhenti kok?"

Seketika mereka berdua menatap Alya. Dan kemudian perkataan Keenan memecah keheningan "King... Beneran living together anjir. Siapa sangka?!"

Tak diduga, ucapan itu malah membuat Anaxa tertawa. "Dasar bodoh. Bukan seperti itu hahaha. Cuma nginap sebentar aja."

"Hei! Kita belum baikan dan kamu malah katain aku bodoh lagi?" Protes Keenan.

Anaxa berhenti ketawa. Dia menjulurkan tangan kanannya ke Keenan. "Ayo salaman. Kita baikan." Ucap Anaxa pada akhirnya.

Keenan awalnya sempat cemberut mendengar perkataan Anaxa. Tapi akhirnya Keenan menyambut uluran tangan Anaxa.

"Nice. Maaf in aku ya? Aku janji gak akan berucap se pedas itu ke kamu."

"Hmm." Keenan masih sedikit merajuk

Anaxa kembali tertawa pelan.

Alya yang melihat kondisi Anaxa jadi sedikit lebih lega. Pria itu sudah bisa tersenyum lagi.

Kemudian mata Anaxa menyorot ke arah Dimas. Dia langsung mengernyitkan kening mendapati temannya yang berdiri kamu. "Dimas. Kamu dari tadi kenapa diam aja?"

Dan ucapan Anaxa kembali menyadarkan Dimas. Temannya itu hanya melempar senyum lemah. Lalu berkata "Maaf. Sepertinya aku ada urusan. Gak bisa lama-lama disini."

"Hmm okay." Gumam Anaxa

Teman-teman yang lain melambaikan tangan ke Dimas yang beranjak pergi dari ruang inap Anaxa. Tanpa menyadari bahwa Dimas sedang patah hati. Dirinya masih tidak bisa menerima bahwa seseorang yang dia suka sejak lama ternyata memiliki hubungan yang lebih dekat ke temannya sendiri.

Dimas merasa kalah dengan Anaxa. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!