Semua orang bilang Laras sial.
Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.
Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…
*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Surat Bernama Yolanda
Beberapa hari kemudian, aku kembali membawa rantang ke peternakan.
Luka di belakang kepalaku sudah kering. Arya masih melarangku berjalan terlalu lama di bawah matahari, jadi dia menyuruh salah satu pekerja menjemput dengan motor kantor. Raka dan Bayu berada di sekolah, sedangkan Sasa kutitipkan kepada Bu RT sampai aku pulang.
Pagi itu Rejo Makmur sedang mengirim beberapa ekor sapi ke luar kota. Arya berdiri di area bongkar muat bersama Bang Gino, memeriksa surat jalan, kondisi kendaraan, dan catatan kesehatan ternak. Dia melihatku turun, mengangkat satu tangan sebagai tanda sudah tahu aku datang, lalu kembali bekerja.
Aku masuk ke ruang istirahat dan meletakkan rantang di meja.
Ruangan itu lebih berantakan daripada biasanya. Map pengiriman menumpuk, dua cangkir kopi kosong tertinggal sejak subuh, dan jaket kerja Arya tergantung miring. Aku membuang tisu kotor, membawa cangkir ke wastafel, lalu merapikan kertas agar tidak terkena kuah makan siang.
Seorang pekerja muda masuk membawa stempel kantor. Dia meminta maaf melihatku sedang membereskan meja, lalu menjelaskan bahwa Arya belum sempat duduk sejak pukul empat pagi.
“Pak Arya bilang kiriman tidak boleh jalan sebelum semua sapi diperiksa lagi,” katanya. “Beliau juga menyuruh kami menyiapkan kursi yang ada sandarannya untuk Bu Laras.”
Aku melihat kursi baru di dekat jendela. Di dudukannya ada bantal tipis, pasti karena Arya masih menganggap luka kepalaku bisa kambuh hanya dengan berdiri terlalu lama.
“Terima kasih. Stempelnya taruh di sisi kiri supaya tidak kena makanan.”
Pekerja itu menuruti dan keluar. Aku membuka rantang, menata lauk, lalu menulis catatan kecil agar Arya tidak lupa minum obat lambung setelah makan. Kegiatan biasa itu membuat ruang kantor terasa seperti salah satu sudut hidup kami, bukan wilayah asing milik suamiku.
Mungkin karena itulah penemuan berikutnya terasa seperti seseorang tiba-tiba menggeser lantai di bawah kakiku.
Sebuah amplop terjatuh dari sela map.
Kertasnya sudah menguning di bagian tepi. Lipatan penutupnya terbuka, tanda pernah dibaca berkali-kali. Di sisi depan hanya tertulis nama Arya tanpa alamat. Ketika mengangkatnya, selembar surat meluncur keluar.
Aku seharusnya langsung memasukkannya kembali.
Namun satu nama di bawah halaman menangkap mataku.
Yolanda.
Tulisan tangannya rapi dan halus. Aku tidak membaca seluruh isi, hanya beberapa baris yang terlihat saat kertas terbuka.
Aku masih menunggumu.
Kembalilah ke pasukan.
Jangan biarkan semua yang kita lalui berakhir di desa itu.
Jari-jariku mendadak dingin.
Ada tanggal lama di pojok atas, sebelum aku datang ke Rejosari. Hal itu seharusnya menenangkanku. Surat tersebut bukan balasan atas pernikahan kami dan bukan sesuatu yang baru disembunyikan minggu ini.
Namun pada lipatan kertas terlihat bekas kusam karena sering disentuh. Kalau surat itu tidak berarti, mengapa Arya menyimpannya dekat meja? Mengapa bukan di laci bersama dokumen militer lain? Mengapa aku tak pernah mendengar namanya saat dia menceritakan Yudha dan tim lama?
Aku benci pikiran-pikiran yang tumbuh tanpa fakta. Aku lebih benci kenyataan bahwa satu-satunya orang yang bisa memberikan fakta tidak pernah membuka topik tersebut.
Aku membaca ulang tiga baris tersebut untuk memastikan tidak salah. Kata-katanya bisa berarti permintaan seorang rekan agar Arya kembali bertugas. Namun kalimat pertama terasa terlalu pribadi, terlalu dekat untuk ditulis oleh perempuan yang tak pernah sekalipun disebut suamiku.
Yolanda.
Namanya seperti bunyi kaca tipis di dalam kepala.
Aku mengingat para tamu di pesta pernikahan. Ada beberapa orang yang berbicara tentang masa lalu Arya, tentang tim, tugas, dan orang-orang yang tidak hadir. Seorang perwira pernah bertanya apakah “dia” sudah tahu Arya menikah. Saat itu aku tidak memikirkan siapa yang dimaksud.
Sekarang aku memegang kemungkinan jawabannya.
Pintu ruang istirahat terbuka.
Arya masuk sambil melepas sarung tangan kerja. “Kamu datang lebih cepat.”
Tatapannya jatuh pada surat di tanganku.
Langkahnya berhenti.
Perubahan itu begitu kecil, tetapi aku mengenalnya. Bahunya menegang. Jari yang memegang sarung tangan mengencang. Wajahnya tidak tampak marah, justru seperti seseorang yang terlambat mencegah sesuatu terbuka.
“Siapa Yolanda?” tanyaku.
Arya menutup pintu di belakangnya. “Dari mana kamu menemukan itu?”
“Jatuh dari map di meja.”
Dia mendekat dan mengulurkan tangan. “Berikan kepadaku.”
Aku tidak langsung menyerahkan. “Siapa dia?”
“Orang dari masa lalu.”
“Itu tidak menjawab.”
“Dia...” Arya berhenti. “Sulit dijelaskan.”
Aku tertawa pendek tanpa rasa lucu. “Aneh. Menjelaskan operasi bocor, teman yang meninggal, dan kemungkinan dipanggil kembali ternyata bisa. Menjelaskan seorang perempuan justru sulit.”
“Aku tidak berniat menyembunyikannya selamanya.”
“Tapi Mas menyembunyikannya sampai aku menemukan sendiri.”
“Surat itu lama.”
“Perasaannya juga lama?”
Arya mengerutkan kening. “Perasaan siapa?”
“Yolanda. Atau Mas Arya.”
“Tidak ada hubungan seperti yang kamu pikirkan.”
“Kalau begitu seharusnya mudah dijelaskan.”
Dia mengambil napas, lalu membuangnya lagi. Tampaknya ada kalimat yang tidak bisa dia ucapkan tanpa membuka luka lain. Aku memahami bahwa masa lalu miliknya. Tetapi setelah menikah, akibat dari masa lalu itu sudah memasuki rumah kami.
“Aku tidak menuntut Mas menceritakan setiap tugas,” kataku. “Aku hanya ingin tahu apakah ada seseorang yang masih menunggu suamiku.”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Dia menatap surat itu, bukan mataku. “Yolanda bagian dari keluarga tim.”
“Keluarga siapa?”
“Nanti aku jelaskan.”
“Kenapa nanti?”
“Karena ini bukan tempatnya.”
Di luar, suara sapi dan pekerja terdengar melewati dinding. Dia benar bahwa kantor peternakan bukan tempat terbaik membicarakan rahasia lama. Namun caranya menghindari nama itu membuat ketenangan yang kubangun sejak menikah retak sedikit demi sedikit.
“Apakah dia menunggumu?” tanyaku.
Arya tidak menjawab.
“Apakah dia memintamu meninggalkan desa dan kembali bersamanya?”
“Dia meminta aku kembali ke pasukan.”
“Kata bersamanya tidak ada dalam pertanyaanku.”
Rahang Arya menegang. Untuk pertama kalinya sejak menikah, diamnya tidak terasa menenangkan. Diam itu menjadi pintu tertutup yang sengaja diletakkan di antara kami.
Aku menaruh surat di atas meja.
“Makanannya ada di rantang,” kataku. “Makan selagi hangat.”
“Laras, tunggu.”
Aku mengambil tas dan berjalan keluar. Arya menyusul sampai halaman kantor, masih memegang surat yang sudah dilipat kembali.
Beberapa pekerja pura-pura sibuk ketika kami lewat. Aku tidak mau membuat pertengkaran menjadi tontonan, jadi aku meminta pengemudi motor mengantarku pulang.
“Laras,” panggil Arya sekali lagi.
Aku menoleh sedikit, tetapi tidak sepenuhnya.
Dia berdiri di depan pintu kantor dengan amplop tergenggam. Mulutnya terbuka seolah penjelasan sudah sampai di ujung lidah.
Namun tak satu kata pun keluar.
Di situlah rasa takut berubah menjadi kecewa. Bukan karena surat seorang perempuan, melainkan karena Arya memilih membiarkanku pulang membawa pertanyaan sendirian.
Aku naik ke motor dan sama sekali tidak menoleh lagi.