NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Raven Ayu

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, Laras dicampakkan dalam semalam setelah putri kandung mereka, Tiara, ditemukan lewat tes DNA. Ketika Tiara menolak menikahi “duda tua beranak tiga dari kampung”, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi menjaga nama baik.
Di desa asing itu, Laras menghadapi seorang lelaki dingin bernama Arya dan tiga anak yatim yang kurus serta waspada. Semua orang mengira ia telah menikah turun derajat dan hanya bisa pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu bahwa Arya sebenarnya adalah mantan perwira Kopassus yang disegani para jenderal sekaligus konglomerat yang menyamar sebagai peternak sapi. Pria yang katanya dingin itu justru memanjakan Laras setiap hari lewat tindakannya, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik hidupnya. Ia membesarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius, membuat orang-orang yang pernah meremehkannya menelan hinaan mereka sendiri, dan bangkit dari “ibu tiri kampungan” menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Namun Tiara belum menyerah merebut apa yang dianggap seharusnya menjadi miliknya. Di saat yang sama, rahasia asal-usul ketiga anak itu mulai terungkap: mereka membawa darah keluarga konglomerat Adiwangsa.
"Kamu menikahiku karena terpaksa," kata Arya. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23: Surat Bernama Yolanda

Beberapa hari kemudian, aku kembali membawa rantang ke peternakan.

Luka di belakang kepalaku sudah kering. Arya masih melarangku berjalan terlalu lama di bawah matahari, jadi dia menyuruh salah satu pekerja menjemput dengan motor kantor. Raka dan Bayu berada di sekolah, sedangkan Sasa kutitipkan kepada Bu RT sampai aku pulang.

Pagi itu Rejo Makmur sedang mengirim beberapa ekor sapi ke luar kota. Arya berdiri di area bongkar muat bersama Bang Gino, memeriksa surat jalan, kondisi kendaraan, dan catatan kesehatan ternak. Dia melihatku turun, mengangkat satu tangan sebagai tanda sudah tahu aku datang, lalu kembali bekerja.

Aku masuk ke ruang istirahat dan meletakkan rantang di meja.

Ruangan itu lebih berantakan daripada biasanya. Map pengiriman menumpuk, dua cangkir kopi kosong tertinggal sejak subuh, dan jaket kerja Arya tergantung miring. Aku membuang tisu kotor, membawa cangkir ke wastafel, lalu merapikan kertas agar tidak terkena kuah makan siang.

Seorang pekerja muda masuk membawa stempel kantor. Dia meminta maaf melihatku sedang membereskan meja, lalu menjelaskan bahwa Arya belum sempat duduk sejak pukul empat pagi.

“Pak Arya bilang kiriman tidak boleh jalan sebelum semua sapi diperiksa lagi,” katanya. “Beliau juga menyuruh kami menyiapkan kursi yang ada sandarannya untuk Bu Laras.”

Aku melihat kursi baru di dekat jendela. Di dudukannya ada bantal tipis, pasti karena Arya masih menganggap luka kepalaku bisa kambuh hanya dengan berdiri terlalu lama.

“Terima kasih. Stempelnya taruh di sisi kiri supaya tidak kena makanan.”

Pekerja itu menuruti dan keluar. Aku membuka rantang, menata lauk, lalu menulis catatan kecil agar Arya tidak lupa minum obat lambung setelah makan. Kegiatan biasa itu membuat ruang kantor terasa seperti salah satu sudut hidup kami, bukan wilayah asing milik suamiku.

Mungkin karena itulah penemuan berikutnya terasa seperti seseorang tiba-tiba menggeser lantai di bawah kakiku.

Sebuah amplop terjatuh dari sela map.

Kertasnya sudah menguning di bagian tepi. Lipatan penutupnya terbuka, tanda pernah dibaca berkali-kali. Di sisi depan hanya tertulis nama Arya tanpa alamat. Ketika mengangkatnya, selembar surat meluncur keluar.

Aku seharusnya langsung memasukkannya kembali.

Namun satu nama di bawah halaman menangkap mataku.

Yolanda.

Tulisan tangannya rapi dan halus. Aku tidak membaca seluruh isi, hanya beberapa baris yang terlihat saat kertas terbuka.

Aku masih menunggumu.

Kembalilah ke pasukan.

Jangan biarkan semua yang kita lalui berakhir di desa itu.

Jari-jariku mendadak dingin.

Ada tanggal lama di pojok atas, sebelum aku datang ke Rejosari. Hal itu seharusnya menenangkanku. Surat tersebut bukan balasan atas pernikahan kami dan bukan sesuatu yang baru disembunyikan minggu ini.

Namun pada lipatan kertas terlihat bekas kusam karena sering disentuh. Kalau surat itu tidak berarti, mengapa Arya menyimpannya dekat meja? Mengapa bukan di laci bersama dokumen militer lain? Mengapa aku tak pernah mendengar namanya saat dia menceritakan Yudha dan tim lama?

Aku benci pikiran-pikiran yang tumbuh tanpa fakta. Aku lebih benci kenyataan bahwa satu-satunya orang yang bisa memberikan fakta tidak pernah membuka topik tersebut.

Aku membaca ulang tiga baris tersebut untuk memastikan tidak salah. Kata-katanya bisa berarti permintaan seorang rekan agar Arya kembali bertugas. Namun kalimat pertama terasa terlalu pribadi, terlalu dekat untuk ditulis oleh perempuan yang tak pernah sekalipun disebut suamiku.

Yolanda.

Namanya seperti bunyi kaca tipis di dalam kepala.

Aku mengingat para tamu di pesta pernikahan. Ada beberapa orang yang berbicara tentang masa lalu Arya, tentang tim, tugas, dan orang-orang yang tidak hadir. Seorang perwira pernah bertanya apakah “dia” sudah tahu Arya menikah. Saat itu aku tidak memikirkan siapa yang dimaksud.

Sekarang aku memegang kemungkinan jawabannya.

Pintu ruang istirahat terbuka.

Arya masuk sambil melepas sarung tangan kerja. “Kamu datang lebih cepat.”

Tatapannya jatuh pada surat di tanganku.

Langkahnya berhenti.

Perubahan itu begitu kecil, tetapi aku mengenalnya. Bahunya menegang. Jari yang memegang sarung tangan mengencang. Wajahnya tidak tampak marah, justru seperti seseorang yang terlambat mencegah sesuatu terbuka.

“Siapa Yolanda?” tanyaku.

Arya menutup pintu di belakangnya. “Dari mana kamu menemukan itu?”

“Jatuh dari map di meja.”

Dia mendekat dan mengulurkan tangan. “Berikan kepadaku.”

Aku tidak langsung menyerahkan. “Siapa dia?”

“Orang dari masa lalu.”

“Itu tidak menjawab.”

“Dia...” Arya berhenti. “Sulit dijelaskan.”

Aku tertawa pendek tanpa rasa lucu. “Aneh. Menjelaskan operasi bocor, teman yang meninggal, dan kemungkinan dipanggil kembali ternyata bisa. Menjelaskan seorang perempuan justru sulit.”

“Aku tidak berniat menyembunyikannya selamanya.”

“Tapi Mas menyembunyikannya sampai aku menemukan sendiri.”

“Surat itu lama.”

“Perasaannya juga lama?”

Arya mengerutkan kening. “Perasaan siapa?”

“Yolanda. Atau Mas Arya.”

“Tidak ada hubungan seperti yang kamu pikirkan.”

“Kalau begitu seharusnya mudah dijelaskan.”

Dia mengambil napas, lalu membuangnya lagi. Tampaknya ada kalimat yang tidak bisa dia ucapkan tanpa membuka luka lain. Aku memahami bahwa masa lalu miliknya. Tetapi setelah menikah, akibat dari masa lalu itu sudah memasuki rumah kami.

“Aku tidak menuntut Mas menceritakan setiap tugas,” kataku. “Aku hanya ingin tahu apakah ada seseorang yang masih menunggu suamiku.”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Dia menatap surat itu, bukan mataku. “Yolanda bagian dari keluarga tim.”

“Keluarga siapa?”

“Nanti aku jelaskan.”

“Kenapa nanti?”

“Karena ini bukan tempatnya.”

Di luar, suara sapi dan pekerja terdengar melewati dinding. Dia benar bahwa kantor peternakan bukan tempat terbaik membicarakan rahasia lama. Namun caranya menghindari nama itu membuat ketenangan yang kubangun sejak menikah retak sedikit demi sedikit.

“Apakah dia menunggumu?” tanyaku.

Arya tidak menjawab.

“Apakah dia memintamu meninggalkan desa dan kembali bersamanya?”

“Dia meminta aku kembali ke pasukan.”

“Kata bersamanya tidak ada dalam pertanyaanku.”

Rahang Arya menegang. Untuk pertama kalinya sejak menikah, diamnya tidak terasa menenangkan. Diam itu menjadi pintu tertutup yang sengaja diletakkan di antara kami.

Aku menaruh surat di atas meja.

“Makanannya ada di rantang,” kataku. “Makan selagi hangat.”

“Laras, tunggu.”

Aku mengambil tas dan berjalan keluar. Arya menyusul sampai halaman kantor, masih memegang surat yang sudah dilipat kembali.

Beberapa pekerja pura-pura sibuk ketika kami lewat. Aku tidak mau membuat pertengkaran menjadi tontonan, jadi aku meminta pengemudi motor mengantarku pulang.

“Laras,” panggil Arya sekali lagi.

Aku menoleh sedikit, tetapi tidak sepenuhnya.

Dia berdiri di depan pintu kantor dengan amplop tergenggam. Mulutnya terbuka seolah penjelasan sudah sampai di ujung lidah.

Namun tak satu kata pun keluar.

Di situlah rasa takut berubah menjadi kecewa. Bukan karena surat seorang perempuan, melainkan karena Arya memilih membiarkanku pulang membawa pertanyaan sendirian.

Aku naik ke motor dan sama sekali tidak menoleh lagi.

1
мєσωzα
kenapa gak langsung dipecat aja si inah itu?
Sri Supriatin
lanjuut thor...eeh sy bc marathon kok .. kayanya sdh end🤭🤭🤣🤣
Sri Supriatin
gas keun pa Arya😍😍😍😍
Sri Supriatin
6 bulan lho ....anak2kurus n bi Inah kayaaa....ampun lebih galak dr mak tiri atau mertua tocik
Sri Supriatin
mampir ah, certanya end, jd ngk nunggu up🤭🤭biar marathon bc👍👍👍
Sri Hartini
wah2 akhirnya jd nyonya Arya
Sri Hartini
nah bik inah ketahuan bohongnya
Sri Hartini
pamanya terlalu sibuk di peyernakan jd nggak peduli sama ponakan
Sri Hartini
om nya kurang perhatian pdhal ponakannya kurus2
Sri Hartini
padahal bi inah msh sodara kok tega ya
Sri Hartini
arya kenapa diem klau ponakannya kurus
Sri Hartini
lamjut
Sri Hartini
lanjut ceritanya seru
Sri Hartini
ceritanya bagus
Anik Setyowati
iya kadang q bingung critanya,bener sih nggak monoton critanya nggak itu itu aja critanya,tp kapan crita kuliahnya,
Anik Setyowati
semua wanitanya iri sama Laras,tapi tidak membuat dirinya berusaha menjadi seorang wanita yg dibarengi dengan perbuatan yg baik,meningkatkan kecerdasanya, meningkatkan perekonomianya dengan jalan yg halal dan kerja keras,tapi mendahulukan prasangka buruk iri dengki,dan akhlak tercelah,nggak bisa mengontrol emosi yg malah akan menghancurkan hidup dan kebahagiaannya
Anik Setyowati
kenapa pernikahan denandra dan Almira tidak disetujui,sedangkan damar dan Vera disetujui,apakah karna Vera anak orang terpandang dan Almira anak orang biasa orang desa,padahal Vera tidak ada kelebihannya, ahklaqnya buruk
Anik Setyowati
orang seperti ini nggak pantas jadi guru,jual gorengan aja setiap hari berinteraksi sama gorengan, nggak ada orang iri sama gorengan
Anik Setyowati
Bu Ratih takut kecerdasannya tersaingi anak bocil,kasihan deh otaknya tumpul bukan tumpul ilmu tp tumpul mengelolah emosi kejiwaanya nol kosong nol,tua ilmu kedewasaannya nggak ada,yg ada ambisi dan kesombongan
Anik Setyowati
kalau Arya jadi mantu bik Inah boh aboh kasihan 3 anak krucil itu pasti di sia siakan,belum jadi aja 3 Mak itu sudah nggak terawat apalagi jadi,sungguh ancur dunia persilatan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!