NovelToon NovelToon
Dark Chocolate

Dark Chocolate

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Perjodohan / Romantis / Cintamanis / Patahhati
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Chayahuda

Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.

#cintabutuhperjuangan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERHATIAN

Waktu berjalan cukup cepat. Menjelang sore, sebagian besar karyawan mulai meninggalkan kantor. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kaca perlahan berubah menjadi keemasan, menciptakan bayangan panjang di lantai ruangan.

Elma masih berada di mejanya. Ia sedang menyelesaikan beberapa dokumen yang harus diserahkan keesokan harinya. Sesekali, ia memeriksa ponsel yang terletak di samping laptop. Ada beberapa pesan masuk dari rekan kerja, pemberitahuan surel, dan satu pesan dari bagian administrasi yang mengingatkannya mengenai jadwal pertemuan minggu depan. Ia membuka kalender digitalnya. Tanggal esok hari diberi tanda khusus. Ulang Tahun Pernikahan Alexander dan Viviene Sinclair.

Elma menatap tulisan itu beberapa saat.

Ia hampir melupakan bahwa besok malam keluarga Sinclair akan mengadakan perayaan ulang tahun pernikahan orang tua Maxime. Sebuah acara keluarga yang tentu akan dihadiri oleh sejumlah kerabat, rekan bisnis, dan orang-orang terdekat keluarga Sinclair. Bukan sekadar pesta biasa, keluarga Sinclair memiliki pengaruh yang begitu luas. Setiap acara yang mereka selenggarakan hampir selalu menjadi perhatian kalangan bisnis dan sosialita. Nama keluarga tersebut sudah lama dikenal sebagai salah satu keluarga terpandang dengan jaringan bisnis yang tersebar di berbagai sektor. Sebagai istri Maxime, Elma tentu memiliki kewajiban untuk hadir.

Ponselnya tiba-tiba bergetar. Nama Maxime muncul di layar. Elma menatapnya sejenak sebelum mengangkat panggilan.

"Halo."

"Sudah selesai bekerja?"Suara Maxime terdengar dari seberang sambungan.

Elma kembali memeriksa dokumen di layar laptopnya.

"Sebentar lagi. Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan."

"Jangan terlalu malam."

"Aku tidak akan pulang terlalu malam."

Ada jeda singkat sebelum Maxime kembali berbicara.

"Aku menghubungimu untuk mengingatkan tentang acara besok malam."

Elma tersenyum kecil.

"Aku tidak lupa."

"Bagus. Aku tidak ingin harus mengingatkanmu dua kali."

"Memangnya aku pernah melupakan acara keluargamu?"

"Beberapa waktu terakhir kau cukup sibuk."

Elma terdiam sejenak, ia tahu Maxime tidak sedang menyindirnya. Pria itu hanya menyampaikan kenyataan bahwa pekerjaannya belakangan ini memang menyita banyak waktu.

"Kasus Evelyn sudah selesai," Jelas Elma.

"Sudah?" Maxime balik bertanya.

"Ya. Pihak agensi tiba-tiba membatalkan seluruh tuntutan mereka."

"Begitu?"

Ada sesuatu dalam nada suara Maxime yang membuat Elma sedikit memperhatikan percakapan tersebut.

"Ya. Mereka mengirimkan surat resmi pagi ini. Semuanya selesai tanpa ada tuntutan lanjutan."

Maxime tidak langsung menjawab.

"Kalau begitu, kau bisa lebih tenang sekarang."

Elma mengangguk kecil meskipun pria itu tidak bisa melihatnya.

"Seharusnya begitu."

"Ada masalah?"

"Tidak. Hanya saja, keputusan mereka cukup mendadak. Padahal sebelumnya mereka begitu bersikeras ingin melanjutkan perkara ini."

"Namun, mereka sudah membatalkannya, bukan?"

"Benar."

"Kalau begitu, jangan terlalu memikirkannya. Selama semua prosedur sudah diselesaikan dengan benar, kau tidak perlu membebani dirimu dengan sesuatu yang berada di luar kendalimu."

Elma terdiam. Nasihat itu terdengar sederhana, tetapi ada benarnya.

"Aku tahu."

"Bagus."

Maxime kemudian melanjutkan.

"Besok aku akan menjemputmu pukul enam sore. Pastikan kau sudah selesai bersiap."

Elma mengangkat alis.

"Kau akan menjemputku?"

"Tentu."

"Aku bisa datang sendiri. Kau mungkin memiliki beberapa urusan sebelum acara dimulai."

"Aku sudah mengatur jadwalku."

"Tetap saja, tidak perlu merepotkan diri."

"Elma."

Nada suara Maxime sedikit berubah.

"Aku tidak sedang merasa direpotkan."

Elma terdiam. Maxime melanjutkan dengan suara yang lebih tenang.

"Kita akan menghadiri acara itu bersama. Ayah dan Ibu tentu mengharapkan kehadiran kita berdua. Jadi, aku akan menjemputmu dan kita berangkat bersama."

Elma menatap layar laptopnya tanpa benar-benar membaca tulisan yang ada di sana. Ada sesuatu yang terasa berbeda dari cara Maxime berbicara akhir-akhir ini. Pria itu tidak lagi selalu memberikan perintah singkat seperti biasanya. Ia mulai menjelaskan sesuatu, mempertimbangkan pendapat Elma, dan sesekali menunjukkan perhatian melalui hal-hal kecil. Meskipun perubahan tersebut belum cukup untuk menghapus seluruh kekecewaan yang pernah Elma rasakan, ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

"Baiklah," jawab Elma akhirnya.

"Pukul enam?" Sambungnya.

"Ya."

"Jangan terlambat."

"Aku tidak akan terlambat."

Elma tersenyum tipis. "Aku akan menunggumu."

Untuk beberapa saat, keduanya terdiam. Tidak ada yang segera mengakhiri percakapan.

Maxime kemudian bertanya, "Kau sudah makan?"

Elma sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.

"Belum. Aku masih menyelesaikan pekerjaan."

"Sudah sore."

"Aku tahu."

"Jangan menunda makan hanya karena pekerjaan. Selesaikan sisanya, lalu pulang."

Elma menghela napas kecil.

"Kau terdengar seperti sedang mengawasi jadwal makanku."

"Aku hanya mengingatkan."

"Aku bisa mengurus diriku sendiri, Maxime."

"Aku tahu. Tetapi bukan berarti aku tidak boleh mengkhawatirkanmu."

Kalimat itu membuat Elma terdiam beberapa detik. Ia tidak segera menjawab. Ada perasaan asing yang muncul ketika mendengar Maxime mengatakan sesuatu dengan begitu lugas.

Sementara itu, Maxime tidak mendesaknya untuk memberikan tanggapan.

"Baiklah," ucap Elma akhirnya. "Aku akan makan setelah selesai."

"Bagus. Sampai besok."

"Sampai besok."

Panggilan terputus.

Elma meletakkan ponselnya di atas meja, lalu kembali menatap layar laptop. Namun, kali ini pikirannya sedikit berbeda. Ia masih mengingat percakapan mereka. Elma mengembuskan napas pelan. Hubungan mereka memang belum sepenuhnya membaik, tetapi ia mulai menyadari bahwa Maxime sedang berusaha melakukan sesuatu. Entah apakah usaha itu akan cukup untuk memperbaiki hubungan mereka, Elma belum tahu. Ia tidak ingin terburu-buru memberikan penilaian. Baginya, perubahan seseorang tidak cukup dibuktikan melalui beberapa kalimat manis. Ia ingin melihat konsistensi, bukan sekadar janji.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Elma merapikan meja dan memasukkan beberapa dokumen ke dalam tas. Ia memastikan laptop sudah dimatikan sebelum meninggalkan ruangan. Karin yang kebetulan masih berada di kantor menoleh ketika melihatnya.

"Sudah mau pulang?"

"Ya. Pekerjaanku sudah selesai."

"Bagus. Akhirnya kau mengikuti saran bos kita."

Elma tertawa kecil. "Aku tidak ingin mendapatkan teguran lagi besok."

Karin memperhatikan tas yang dibawa Elma.

"Besok kau datang ke kantor?"

"Mungkin hanya sebentar. Aku perlu memeriksa beberapa dokumen."

"Kukira kau akan mengambil cuti."

"Tidak. Aku hanya ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum acara malam."

Karin tiba-tiba teringat sesuatu. "Ngomong-ngomong, bukankah besok ada acara keluarga Sinclair?"

Elma mengangguk.

"Ulang tahun pernikahan orang tua Maxime."

"Wah, pasti meriah. Kudengar keluarga Sinclair selalu mengadakan acara besar."

"Sepertinya begitu."

"Kau sudah menyiapkan pakaian?"

"Belum. Aku akan memikirkannya nanti."

Karin menggeleng. "Elma, itu bukan pesta biasa. Kau harus tampil dengan pantas. Kau akan datang bersama Maxime, bukan?"

"Ya. Dia akan menjemputku."

Karin tersenyum penuh arti. "Sepertinya hubungan kalian mulai membaik."

Elma menatapnya. "Kenapa kau berpikir begitu?"

"Karena dia mulai menghubungimu, mengingatkan acara, bahkan menawarkan untuk menjemputmu. Bukankah itu cukup menunjukkan bahwa dia sedang berusaha?"

Elma tidak langsung menjawab. Ia memang menyadari perubahan sikap Maxime. Namun, ia belum ingin membicarakan terlalu jauh mengenai hubungan mereka. "Entahlah, Karin. Aku hanya berharap semuanya bisa berjalan lebih baik."

Karin mengangguk memahami. "Pelan-pelan saja. Tidak semua masalah harus selesai dalam satu hari."

Elma tersenyum. "Kau mulai terdengar seperti penasihat kehidupan."

"Karena aku sudah terlalu sering mendengar keluhanmu."

Elma tertawa sebelum berpamitan.

"Kalau begitu, aku pulang dulu. Sampai besok."

"Hati-hati di jalan."

Elma melangkah meninggalkan kantor dengan perasaan yang sedikit lebih ringan. Hari itu, ia berhasil menutup satu perkara besar yang selama beberapa waktu terakhir menyita pikirannya. Atasannya memberikan apresiasi, Karin ikut merasa lega, dan Maxime bahkan menghubunginya untuk memastikan bahwa ia tidak melupakan acara keluarga esok malam.

Semuanya tampak berjalan baik, setidaknya untuk hari ini.

☆

1
Heni Utami
bagus , sayangnya ngegantung belum selesai,
Chayahuda: Makasi,,,
Ceritanya masih berlanjut kok,,,
Sabar ya,,,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!