NovelToon NovelToon
Penguasa Danau Keabadian

Penguasa Danau Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.

Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.

Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.

Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!

Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.

Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 — Mutiara Biru Hutan Kabut Merah

​Liu Yuran berjalan menyusuri selasar dekat paviliun para tetua ketika sayup-sayup sebuah percakapan mencuri perhatiannya.

​“Sudahkah laporan investigasi mengenai murid luar bernama Wang Dahu itu selesai?”

​“Sudah, Tetua. Pemuda itu tercatat murni berasal dari Desa Cangmu. Ayahnya seorang penduduk desa bernama Wang Shun. Berdasarkan keterangan warga setempat, ia dulunya merupakan seorang pemuda gemuk yang sama sekali tidak memiliki bakat berkultivasi.”

​Langkah kaki Liu Yuran seketika membatu di tempat.

​“Apakah kau yakin dengan informasi itu?” tanya suara tetua kedua penasaran.

​“Tidak ada keraguan. Identitas dan garis keturunannya cocok. Transformasi fisik dan penampilan luarnya memang sangat drastis.”

​Deg!

​Jantung Liu Yuran berdegup kencang di dalam rongga dadanya.

​Desa Cangmu... Wang Shun... Wang Dahu...

​Ketiga kepingan fakta itu mustahil sekadar sebuah kebetulan yang malang.

​Seketika, bayangan masa lalu menyeruak kembali di benaknya. Sosok pemuda tambun berantakan yang pernah berlutut memohon perhatiannya di sudut desa.

​Ia teringat jepit rambut murahan yang diinjak-injaknya, kalimat-kalimat pedas dan merendahkan yang dilontarkannya, serta ekspresi hancur di wajah pemuda itu saat disaksikan banyak orang.

​Ternyata...

​Wang Dahu yang berdiri di hadapannya hari ini adalah orang yang sama persis dengan pemuda buangan yang dulu ia caci maki!

​Liu Yuran mengepalkan kedua tangannya hingga kukunya menancap di telapak tangan.

​Ia masih merekam dengan jelas bagaimana dahulu pemuda itu memandangnya penuh harap. Namun, saat mereka bersirobok lagi di perpustakaan sekte, tatapan memuja itu sudah lenyap tak berbekas.

​Yang tersisa dari diri Wang Dahu hanyalah ketenangan, kedewasaan, dan sikap ramah sekadarnya layaknya seorang kenalan asing.

​Apakah dia masih menyimpan dendam atas kejadian hari itu...?

​Pertanyaan itu bergemuruh di kepalanya, namun tak ada seorang pun yang bisa memberikan jawaban.

​Sementara itu, Wang Dahu berdiri tegak di hadapan papan pengumuman Balai Tugas Sekte.

​Matanya meneliti lembaran-lembaran misi yang tertempel rapi, hingga pandangannya berhenti pada selembar kertas berukuran sedang.

 ​Misi: Mengumpulkan Rumput Kabut Merah di kedalaman Hutan Kabut Merah.

 ​Imbalan: Sejumlah batu spiritual dan poin kontribusi sekte.

​Selain rumput obat tersebut, beberapa jenis monster beast di dalam hutan itu dikenal memiliki daging yang kaya akan energi spiritual—sangat potensial untuk dijual atau dikonsumsi guna memperkuat ketahanan fisik.

​Wang Dahu mengangguk kecil. Tempat ini tampak ideal.

​Ia merobek lembaran misi itu dan menyerahkannya kepada petugas pencatat.

​“Apakah kau akan menjalankan misi ini sendirian?” tanya petugas loket meliriknya.

“Ya, benar.”

​Petugas itu melirik sekilas ke arah lencana identitas Dahu. “Kultivasi Pengumpulan Qi tingkat puncak? Hutan Kabut Merah terkenal berbahaya bagi pemula. Sebaiknya kau bergabung dengan kelompok murid lain.”

​Wang Dahu tersenyum sopan. “Terima kasih atas sarannya, Senior. Aku akan waspada.”

​Melihat ketenangan di wajah Dahu, petugas itu tidak memaksanya lebih jauh dan langsung mengesahkan dokumen misinya.

​Tak butuh waktu lama bagi Dahu untuk keluar meninggalkan gerbang sekte.

​Hutan Kabut Merah terletak sekitar beberapa puluh kilometer dari markas besar Sekte Awan Surgawi.

​Begitu ia melangkahkan kaki melewati batas perbatasan, kabut pekat berwarna kemerahan langsung menyelimuti pandangannya. Kanopi pepohonan purba yang rapat memblokir sinar matahari, menciptakan suasana remang-remang yang diiringi lolongan monster dari kejauhan.

​Wang Dahu melangkah sabar. Ia tidak terburu-buru memburu tanaman obat.

​Target pertamanya adalah berburu.

​Tak lama berselang, seekor Serigala Bertaring Abu-abu melompat keluar dari balik semak belukar. Sepasang matanya menatap lapar, langsung menerjang ke arah Dahu.

​Dahu memiringkan tubuhnya tipis. Sabetan cakar serigala itu melintas kosong di udara. Memanfaatkan momentum putaran lawan, Dahu melayangkan hantaman telapak tangan berlapis Qi ke sisi leher sang monster.

​DUK!

​Serigala itu terpental keras menghantam batang pohon. Sebelum ia sempat memulihkan diri, tendangan telak Dahu menyambar telak bagian kepalanya.

​Pertempuran selesai dalam hitungan detik.

​Dahu berjongkok memeriksa bangkai monster itu. “Dagingnya masih segar dan padat.” Ia melambaikan tangan, memasukkan bangkai itu ke dalam cincin penyimpanan hadiah sekte, lalu mengambil inti spiritualnya. Setidaknya perbekalannya tidak akan sia-sia.

​Di ruang batinnya, si iblis tertawa mengejek. “Kau ini datang ambil misi berburu bahan obat atau mau buka warung makan panggang, hah?”

“Daging beast mengandung energi spiritual murni. Sayang kalau disia-siakan.”

“Hmph! Alasan klasik.”

​Dahu melanjutkan penjelajahan. Dalam beberapa jam berikutnya, ia berhasil menumbangkan dua monster jenis lain serta memanen sejumlah Rumput Kabut Merah yang tumbuh subur di sekitar bebatuan lembap.

​Namun, rezeki yang sesungguhnya baru menjumpainya saat ia merangsek lebih dalam ke jantung hutan.

​Di dekat sebuah aliran anak sungai berbatu, Dahu mendapati sesosok monster beast berbentuk kadal raksasa berbalut sisik biru gelap legam.

​Ukurannya menyamai seekor kerbau dewasa, dengan sepasang mata memancarkan pendar kuning keemasan yang mengintimidasi.

​Monster jenis apa itu...? batin Dahu menyipit.

​Si iblis yang biasanya santai mendadak memperingatkan dengan nada serius. “Waspadalah! Itu Kadal Sisik Biru purba. Ketahanan fisik dan kekuatan ledakannya luar biasa!”

​Tanpa aba-aba, kadal itu menyemburkan teror dan menerjang brutal.

​Dahu melompat gesit ke samping, namun kibasan ekor monster itu menghantam tanah dengan daya hancur masif.

​BAM! Tanah tercabik-cabik.

​Dahu terus melompat menghindari terjangan lanjutan, menganalisis pola gerakan musuh. Sisik di sekujur tubuh kadal itu terlalu keras untuk ditembus serangan serampangan. Namun ia menangkap satu kelemahan: setiap kali kadal itu membuka rahangnya untuk menyerang, bagian bawah lehernya melunak sesaat.

​Ia memancing monster itu merapat ke tepi sungai.

​Saat kadal itu menerjang kalap, Dahu sengaja berlindung di balik batu karang besar. Kepala monster itu menghantam batu hingga retak.

​Sekarang!

​Dahu melesat dari balik batu, memusatkan seluruh tenaga Qi ke telapak tangannya, dan menghantam telak bagian bawah rahang sang kadal.

​BAM!

​Monster itu melengking kesakitan. Dahu tidak memberinya ruang napas; ia menghujani titik kelemahan itu bertubi-tubi hingga akhirnya tubuh sang kadal roboh tak bernyawa.

​Dahu menghela napas panjang. Musuh yang alot.

​Saat ia membelah rongga dada monster tersebut untuk mengambil inti spiritualnya, sebuah benda bulat seukuran ibu jari mendadak tergelincir jatuh ke telapak tangannya.

​Benda itu berupa kristal bulat bening berwarna biru terang, dengan pusaran cahaya energi yang berputar-putar di dalamnya.

​Dahu mengernyit. Benda apa ini?

​Untuk beberapa detik, si iblis di dalam batinnya tertegun bisu. Lalu, suaranya meledak dalam nada takjub bercampur syok berat.

​“Tunggu... Jangan sentuh benda itu dengan sembarangan menyalurkan energi!”

​Dahu menghentikan gerakannya. “Kau tahu benda ini?”

​“Mustahil...” gumam si iblis tak percaya, mengamati mutiara itu lewat persepsi batinnya. “Itu adalah Mutiara Esensi Biru! Inti kondensasi energi spiritual murni yang hanya terbentuk dalam tubuh beast langka yang hidup ribuan tahun di area dengan konsentrasi Qi ekstrem!”

​Dahu mengangkat mutiara itu lebih dekat. “Apakah benda ini bisa dipakai untuk berkultivasi?”

​“Tentu saja bodoh! Kualitasnya ribuan kali lipat lebih murni dibanding inti biasa! Jika dimurnikan dengan benar, energi di dalamnya bisa meroketkan ranah kultivasimu seketika!”

​Senyum lebar merekah di bibir Dahu. “Kalau begitu, hari ini aku sedang mujur.”

​Si iblis mendengus. “Mujur kepalamu! Ini rezeki nomplok tingkat dewa yang bahkan diincar para kultivator tingkat tinggi di Dunia Atas!”

​Dahu segera mencari ceruk gua kecil di balik air terjun sungai terdekat sebagai tempat berlindung yang aman.

​Ia menata hasil buruannya, lalu duduk bersila dengan Mutiara Esensi Biru digenggam di depan dadanya. Berdasarkan panduan singkat dari si iblis, ia mulai mengalirkan sirkulasi napas untuk memurnikan energi mutiara tersebut.

​Fushhh—!

​Pendaran cahaya biru terang seketika meledak menerangi isi gua.

​Arus energi spiritual yang pekat dan murni mengalir masuk ke dalam tubuh Dahu secara membabi buta. Seluruh jalurnya meridiannya bergetar dahsyat.

​Energi itu begitu masif hingga mendesak batas kemampuan tubuhnya.

​DUG!

​Gelombang tekanan energi meledak keluar dari pori-porinya.

​Di ruang kesadaran, permukaan rune pada gerbang hitam mendadak menyala terang. Si iblis terbelalak. Jangan-jangan...

​Arus energi biru terus mengamuk meroketkan batas ranah Dahu:

​Pembukaan Meridian tingkat kedua!

​Pembukaan Meridian tingkat ketiga!

​Pembukaan Meridian tingkat keempat!

​Hanya dalam hitungan menit, kultivasi Wang Dahu melompat secara brutal hingga menembus tingkat keempat Pembukaan Meridian!

​Begitu pendaran biru itu meredup sepenuhnya, Mutiara Esensi Biru di tangan Dahu telah menyusut menjadi serpihan debu tak berharga.

​Dahu membuka kedua matanya perlahan. Ia merasakan kapasitas tenaga di dalam tubuhnya meningkat drastis ke level yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

​Namun, bukan cuma itu kejutan malam ini.

​Si iblis mencoba menyelidiki ulang kondisi meridian Dahu, namun ia kembali mendapati tabir penyamaran misterius itu menghalangi indranya. Tekanan aneh itu bahkan kini terasa semakin pekat dan solid.

​“Empat tingkat dalam sekali sedot...” gumam si iblis pusing. “Bocah ini benar-benar monster jadi-jadian.”

​Dahu tersenyum tipis. “Sepertinya batu mutiara tadi memang berkhasiat.”

​“Berkhasiat kau bilang?! Kau baru saja melompati empat dinding batas dalam satu malam!”

​Menjelang sore hari berikutnya, Dahu keluar dari persembunyian gua.

​Ia membawa serta kantong berisi Rumput Kabut Merah, inti monster, serta cadangan daging buruan berkualitas tinggi.

​Namun tepat saat ia hendak melangkah keluar meninggalkan area sungai, langkah kakinya mendadak membeku.

​Dari balik lebatnya pepohonan di kejauhan, terdengar suara geraman berat yang menggetarkan tanah.

​Getarannya...

​Bahkan si iblis yang tadinya mengomel mendadak terdiam seribu bahasa. Sesaat kemudian, suara iblis itu berbisik tegang, “Dahu... jangan buat gerakan ceroboh.”

​Dahu mendongak, memicingkan mata menatap jauh ke dalam pekatnya kabut hutan.

​Di balik tirai kabut merah yang pekat, sepasang mata raksasa perlahan terbuka, memancarkan aura menakutkan yang membuat udara di sekitar mendadak membeku.

1
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjuttt
Muhamad U Fadillah Udwm: jangan sampe tengah jalan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!