Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup Zoey berubah menjadi mimpi buruk.
Di depan ratusan tamu undangan, sahabat yang paling ia percaya mengaku tengah mengandung anak calon suaminya.
Tak ingin keluarganya dipermalukan, Zoey melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Ia menarik tangan seorang pria asing yang kebetulan hadir sebagai tamu.
“Aku akan menikah dengannya.”
Pria itu adalah Damian, konglomerat tampan berusia tiga puluh delapan tahun yang dikenal dingin, berwibawa dan sulit didekati. Demi alasan masing-masing, mereka sepakat menjalani pernikahan tanpa cinta.
Namun, sesaat setelah resmi menjadi suami istri, Zoey dibuat syok oleh kenyataan yang sengaja tidak diberitahukan Damian. Pria itu adalah seorang duda dengan anak kembar berusia enam belas tahun.
Mampukah Zoey menaklukkan sang duda yang menutup hatinya sekaligus memenangkan hati kedua kembar nakalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Victoria justru melangkah maju, memperhatikan Zoey dari ujung kepala hingga ujung hak sepatunya dengan tatapan menilai.
“Pasti dia babysitter baru, kan? Malas sekali. Papa ganti babysitter lagi. Yang kemarin saja tidak kembali lagi sampai sekarang,” kata Victoria tanpa beban, meniup balon permen karetnya hingga pecah.
Victor mengangguk setuju.
“Semoga kali ini nggak cerewet dan nggak cengeng. Hei, Babysitter, tolong buatkan aku doble mie instan pakai telur. Cepat.”
Mulut Zoey perlahan terbuka, megap-megap seperti ikan kekurangan oksigen.
“Babysitter?! Dan mie instan?!” batinnya.
Zoey bahkan belum sempat mencerna kenyataan horor bahwa kedua anak suaminya ternyata bukan balita lucu. Melainkan dua remaja super dengan tinggi badan yang sukses membuatnya merasa seperti liliput.
“Aku pasti sedang bermimpi. Ya, mimpi buruk!” gumam Zoey.
Damian meletakkan cangkir kopinya dengan tenang di atas nakas, menikmati wajah pucat pasi istrinya.
“Dia bukan babysitter kalian,” ucap Damian memecah keheningan.
Victor dan Victoria mengernyit bersamaan. “Kalau bukan babysitter atau pembantu, lalu apa?”
Damian menoleh ke arah Zoey yang masih mematung layaknya patung selamat datang.
Lalu, dengan nada datar tak berdosa seolah sedang memperkenalkan properti baru, pria itu berkata, “Perkenalkan. Ini Zoey. Istri baru Papa. Panggil dia Mama.”
Wajah Victor berubah pias seketika. Matanya melotot.
“What?” pekiknya.
Sementara Victoria yang biasanya terlihat cuek, saking syoknya sampai menarik earphone dari telinganya dengan kasar hingga kabelnya putus.
“Tunggu! Papa, menikah lagi?! Sama perempuan yang wajahnya sepantaran dengan anak kuliahan ini?!" jerit Victoria tak percaya.
Zoey sendiri kakinya sudah lemas. Ia memandang Damian dengan sorot mata penuh pengkhianatan.
“Ya Tuhan, aku pikir aku hanya harus menjadi ibu sambung bagi balita yang masih pakai popok. Kenyataannya, aku malah harus menghadapi dua remaja berandalan yang usianya mungkin cuma beda empat tahun dariku?! Aku bahkan belum legal untuk mengadopsi mereka!” umpat Zoey dalam hati.
Entah mengapa, sejak pernikahan kilat tadi, Zoey mulai sadar bahwa ucapan Damian tentang jangan menyesali pilihanmu sama sekali bukan basa-basi.
Melihat wajah garang kedua remaja di hadapannya, Zoey hanya tersenyum tipis.
“Aku tidak akan pernah memanggilnya Mama. Usianya bahkan terlihat seperti kakak tingkatku yang telat lulus skripsi. Menggelikan,” ucap Victoria sinis.
Victor yang menjulang tinggi bak tiang listrik di samping adik kembarnya mendengus kasar.
“Victoria benar.” Remaja pria itu menoleh menatap ayahnya dengan raut tak percaya. “Papa benar-benar sudah gila? Menikah dengan wanita seusia kami? Apa-apaan ini, Pa? Jangan bilang Papa sedang krisis paruh baya dan berhalusinasi ingin mengadopsi mahasiswi?”
Damian tidak langsung menjawab. Pria berwajah datar itu hanya meniup uap dari cangkirnya, lalu menyesap kopi hitamnya dengan ketenangan tingkat dewa.
“Papa bahkan tidak meminta pendapat kami!Apa kami memang tidak penting lagi? Atau Papa memungutnya dari giveaway internet?” lanjut Victor.
“Sayang sekali, Papa sudah mengambil keputusan,” ucap Damian sembari meletakkan cangkirnya perlahan ke atas meja.
“Keputusan yang sangat buruk!” seru Victoria sinis.
Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mengunyah permen karetnya dengan kesal.
“Papa boleh menikah dengan siapa pun. Terserah. Tapi jangan pernah berharap kami menerimanya.”
Tatapan tajam Victoria kembali mengarah kepada Zoey yang sejak tadi diam.
“Dengar ya, Nona Babysitter. Aku tidak akan pernah menganggapmu bagian dari keluarga ini. Jangan harap kau bisa sok mengaturku.”
Zoey tetap bergeming. Jika berada di posisi dua raksasa puber ini, mungkin reaksinya tak akan jauh berbeda.
Tanpa menunggu jawaban atau pembelaan, kedua remaja itu berbalik serempak dan menaiki tangga.
Zoey refleks menoleh kepada Damian. Ia mengira pria itu akan langsung berdiri, berlari mengejar anak-anaknya yang sedang tantrum, atau setidaknya berteriak menenangkan mereka layaknya ayah normal.
Namun, yang dilakukan Damian justru membuat rahang Zoey nyaris jatuh.
Pria itu tetap duduk santai di sofa. Mengangkat kembali cangkir kopinya. Lalu meminumnya dengan hikmat seolah tidak terjadi perang dunia ketiga barusan.
“Kau tidak mengejar mereka?" tanya Zoey tak percaya, menunjuk ke arah tangga.
“Tidak,” jawab Damian singkat.
“Tapi mereka marah besar, Damian! Mereka membenciku!”
Damian mengangguk pelan, tanpa beban.
“Memang.”
“Lalu?!” Zoey memekik tertahan, mulai frustrasi dengan tingkat kepekaan suaminya yang setara dengan batu bata.
“Biarkan saja. Mereka akan turun kembali saat perutnya lapar,” jawab Damian datar.
Zoey berkedip beberapa kali. “Hanya itu? Astaga... Aku mulai tak yakin kau ini ayah kandung mereka.”
Damian menatap Zoey dengan sorot mata lurus dan dingin.
“Kau meragukan ku?”
Zoey menelan ludahnya, lalu menggeleng pelan seraya mengembuskan napas panjang. Dalam hati ia menyimpulkan satu fakta. Suaminya ini luar biasa dingin.
Bahkan kepada anak-anaknya sendiri, ia lebih mirip kulkas dua pintu.
Zoey menyandarkan punggungnya ke sofa. Ia melirik pintu utama yang masih terbuka sedikit.
“Masih ada kesempatan untuk kabur. Masih ada kesempatan membatalkan semuanya sebelum aku mati muda menghadapi keluarga ini,” batinnya.
Namun, tiba-tiba bayangan wajah Arga dan Alana yang menjijikkan melintas di kepalanya. Jika ia mundur, kedua pengkhianat itu pasti akan menertawakan kehancurannya besok pagi.
“Tidak. Aku tidak akan membiarkan mereka menang. Kalau aku harus menaklukkan pria es ini, lalu menjinakkan kedua anak kembarnya yang mirip Godzilla itu, maka aku akan melakukannya!” tekad Zoey dalam hatinya.
Sabar ya Zoey menghadapi suami dan anak laki2 nya😄
Anak & ibu sambung kompak sekali pagi ini.
Ayo Zoey buat Victoria menyerah juga dgn kamu😁
apa rasa berantem Ama duplikat nya sendiri?🫣🤣🤣
cemburu sama ank sendiri 🫣