NovelToon NovelToon
Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Nyimas zaharah

Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.

Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Pengungsian

...بسم الله الر حمن الر حيم ...

.... ...

.... ...

...Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu....

...Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, maka hilanglah cintaku padamu. ...

...-Imam An Nawawi-...

***

Satu jam sudah setelah adanya peringatan bencana, Mahija yang berada di pemukiman rumah warga melewati lumpur-lumpur yang dibawa oleh banjir air laut yang menyapu sampai ke daratan. Sepatunya yang tadinya bersol putih menjadi coklat penuh lumpur,  celana panjang jeans yang ia gunakan juga sudah mulai berubah warna menjadi kecoklatan.

Langkahnya tetap gagah dikala mengecek setiap bangunan yang ia lewati, menyingkirkan kayu-kayu yang terbawa arus banjir.  Melihat ke arah belakang pemukiman,  sebuah sekolah yang masih kokoh dan bersih hanya sebagian halaman sekolah nya saja yang sedikit basah.  Kembali ia menelusuri setiap wilayah, melewati mushola yang masih bersih tanpa sedikit pun tersentuh oleh air.  Ia sungguh takjub pada kekuasaan Allah sehingga rumah ibadah saja tidak tersentuh sedikit pun, ia masuk ke lingkungan mushola mengecek keran air apakah dapat digunakan atau tidak. 

"Alhamdulillah" ucapnya setelah mendapati air mengalir dengan deras nya. 

Setelah beberapa jam mengecek area sekitar yang mungkin akan menjadi tempat pengungsian terdekat bagi desa-desa tetangga yang mungkin saja terkena dampak dari tsunami kecil.

Mahija kembali bergabung dengan para warga, memberikan pemberitahuan agar para warga tidak terlalu khawatir saat ini dan lebih tenang pastinya.

"Saat ini desa kita hanya terdampak bencana kecil berkat tembok pembatas dan tanggul pasir yang di susun di atas pembatas debit gelombang sedikit berkurang hingga menjadikannya sebuah banjir kecil bagi desa kita.  Untuk para anak-anak dan ibu-ibu bisa untuk menetap dahulu disini dalam beberapa jam ke depan sebelum jalanan desa dibersihkan, untuk bapak-bapak dan pemuda-pemudi mohon kerjasamanya dalam membersihkan area desa kita.  Jika ada pertanyaan mohon segera ditanyakan, ada yang tidak mengerti? " ucap Mahija setelah menjelaskan situasi terkini.

Para warga hanya menggelengkan kepalanya, menandakan tidak ada nya pertanyaan lanjutan.

"Baiklah, kalau sudah mengerti.  Mohon segera berkumpul dibawah bagi bapak-bapak dan pemuda-pemudi, seperti yang sudah saya jelaskan tadi " ujar Mahija yang kembali turun ke desa.

Seperti yang diperintah kan nya, anggota Mahija dan sebagian warga membersihkan kayu, ranting, pelepah kelapa yang terbawa arus.  Mahija dengan lihainya menyeret dan menarik pelepah batang pohon kelapa ke sisi tempat pembuangan sampah.  Ia tidak menyadari bajunya kini sudah penuh dengan bercak lumpur, lengannya sudah hampir kering dengan lumpur. 

Seorang wanita dengan gamis coklatnya membantu menyingkirkan sisa-sisa lumpur yang menumpuk pada satu titik dengan sapu dan pengki,  sesekali membawa sampah kayu dan kerikil ke tempat pembuangan sampah. Mahija menatap wanita itu,  Mahika Avisa Zalana. 

Mahija langsung membantu Mahika yang sibuk tanpa menyadari hijabnya sedikit naik, tidak sepenuhnya menutupi dadanya.

"Hijab kamu.. "

Mahika sempat kebingungan apa yang diucapkan pria di depannya ini, tapi akhirnya ia sadar dan kembali memperbaiki hijabnya. Ia kembali membereskan sisa-sisa kayu kecil yang masih berada di pinggir pekarangan rumah warga.

"Kamu naik saja, semuanya sudah selesai bersihkan pakaianmu yang sudah penuh dengan lumpur.  " perintah Mahija yang melihat gamis Mahika sudah kotor.

"Ini hanya lumpur bukan dosa, lumpur bisa di bersihkan dengan mudah kalau dosa belum tentu akan dihapuskan " ujar Mahika menjauh dari Mahija. 

Mahija hanya tersenyum pada Mahika "Saya mau kamu jadi istri saya,  mohon terima lamaran saya " ucapnya lagi.

Deg

Mahika dibuat tertegun mendengar ucapan dari pria yang berada di belakangnya, suara lantang dan tegas membuat jantungnya seperti akan meledak saat ini.  Seperti ada butiran-butiran salju akan turun dari langit di negara beriklim tropis ini,  wajahnya bersemu merah ketika para warga dan teman pria itu fokus ke arah mereka berdua. 

Para warga sama kagetnya saat mendengar ucapan dari Mahija yang tiba-tiba saja melamar Mahika, bapak-bapak yang mendengar pun hanya tersenyum. 

"Komandan gak liat situasi ya,  padahal habis bencana loh. Bisa-bisanya ngelamar anak orang dengan menggunakan pakaian berlumpur gitu " bisik Yusuf kepada kedua teman karibnya Hansen dan Jaka.

"Namanya komandan kita, sat set sat set " ujar Jaka yang menjawab ucapan Yusuf.

"CIEEE KOMANDAAN" cuitan para anggota Mahija langsung bersorak-sorai mendukung Mahija.

Mahika memejamkan matanya dan mencoba menahan malu, ia segera ingin menghilang saja dari muka bumi saat ini.  Pipinya yang berubah menjadi merah tomat, mencoba berbalik dan mendekat ke arah Mahija.

Mahija tersenyum saat Mahika mendekat ke arahnya,  pipi Mahika yang merah tomat terlihat oleh Mahija yang semakin gemas padanya.

"Maaf lamaran anda saya tolak" ucap Mahika tegas dan langsung berbalik melangkah kembali menjauhi Mahija. 

Melihat situasi yang ada didepan mata mereka para warga hanya diam berpura-pura tidak terjadi apa-apa, begitu pula anggota Mahija yang masih syok jawaban dari wanita yang dilamar Mahija. Mereka tidak menduga komandan mereka yang ganteng dan perfect itu bisa ditolak juga oleh wanita.

"Komandan yang ganteng, agamanya bagus, pangkatnya letnan satu dan tajir saja ditolak apalagi kita yang butiran debu ya" ujar Hansen menunduk kan kepala.  Jaka dan Yusuf merangkul bahu Hansen bersamaan.

"SAD BOY!! " serempak mereka bertiga saling merangkul setelah melihat kejadian didepan mereka.

"Saya mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, maka hilanglah cintaku padamu. Saya bukan mencintaimu karna kecantikanmu,karna kecantikan pastinya akan memudar tapi tidak dengan hatimu" ucap Mahija sebelum Mahika benar-benar pergi dari tempat mereka berada.

Kembali Mahika dibuat tertegun mendengar ucapan dari pria itu, hanya diam menahan degup jantung yang semakin kencang.  Jantung nya saat ini tidak bisa diajak kerjasama, aliran darah seperti mengalir dengan cepat ke seluruh tubuhnya yang membeku saat ini.  Baru kali ini ada pria yang langsung melamarnya tanpa mengajak nya untuk berpacaran, terlebih lagi baru pertama kali ia bertemu. 

Mahika hanya diam dan berjalan kembali tanpa sepatah kata pun,  seorang pria yang di tolak lamarannya saat bencana mungkin akan disematkan pada Mahija. Kepala desa mendekati Mahija yang masih berdiri di tempatnya, memberikan semangat padanya dan sebuah nasehat agar ia tidak berputus asa.

Mahika kembali ke rumahnya dengan membawa tasnya kembali, melihat ke halaman rumahnya yang berantakan.  Rumput di penuhi oleh lumpur dan dinding rumah yang berwarna putih juga, kayu-kayu kecil masuk ke pekarangan rumahnya. 

Mahika menghidupkan keran air dan menyiram seluruh halaman rumahnya agar lumpur sedikit berkurang dan lebih mudah membersihkannya.  Jantung nya saat ini masih belum bisa diajak berkompromi, masih terkejut mendengar ucapan dari pria tadi. Pintu pagar terbuka, 3 orang pria masuk ke pekarangan rumahnya dengan membawa sapu dan kain pel serta sebuah tong untuk mengangkut sampah-sampah. 

Salah satu dari mereka adalah pria yang melamarnya tadi, Mahika hanya diam dan begitu juga pria itu. Teman pria itu memberitahu bahwa mereka akan membantu membersihkan dan besok akan  mengecat ulang dinding rumah Mahika. Mahika hanya diam mendengar penjelasan dari teman pria itu,  mereka akhirnya membersihkan halaman rumahnya hingga pukul 2 siang. 

Beberapa prajurit akhirnya datang dengan mobil truk TNI, terdengar suara riuh di ujung sana yang menurunkan beberapa perlengkapan.  Seperti dugaan Mahija, desa ini akan menjadi tempat pengungsian sementara dari desa-desa tetangga yang terkena dampak bencana.

Krrrukkk krrrrrkkk

Suara yang berasal dari perut anggota Mahija, tentu saja sudah kelaparan karna tadi tidak sempat untuk makan siang sebelum adanya bencana yang datang. Mahika yang mendengar bunyi suara itu pun akhirnya menyuruh anggota Mahija untuk duduk di terasnya yang sudah bersih, ia masuk dan mengambil makanan dari dalam rumah. 

"Alhamdulillah, rumah masih aman dan tidak ada yang kotor terkena lumpur " gumam Mahika yang melihat ke setiap sudut rumahnya.

"Ini, maaf cuma masak ini tadi pagi" Mahika yang menghidangkan nasi, sayur kangkung tumis dan tempe sambal udang. 

Nasi yang masih panas dan sayur dengan lauk pauk yang sederhana namun nikmat, mengugah selera anggota Mahija yang tengah kelaparan karna sudah bekerja seharian. Mahija hanya melihat kedua anggota nya itu makan dengan lahap sembari bercanda, ia hanya meneguk segelas air putih untuk menghilangkan dahaga di lehernya.

"Ndan, makan ndan enak ini.. Maknyuss" ucap Jaka yang penuh dengan makanan di mulutnya.

"Mmm...  Uenaak ndan..  " ujar Yusuf. "Tidak seperti masakan Prada. Rijal.  Masakannya membunuh ku " jujur Yusuf di ikuti gelak tawa Jaka yang membenarkan fakta itu.

"Sudah kalian makan saja, saya nanti bisa" Mahija kembali diam. 

Setelah selesai, mereka langsung pamit pada Mahika untuk kembali membantu warga di pengungsian.  Mahika hanya mengangguk dan kembali masuk ke dalam rumah.

"Ndan..  Ini semua perlengkapannya"

"Baiklah, susun disebelah sana nanti kita berkumpul"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!