Alena berdiri dengan gugup di depan cermin rias yang memantulkan wajahnya yang begitu cantik memukau. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya menambah kecantikan gadis itu. Hari itu adalah hari pernikahannya dengan Reno, pria yang sudah 3 tahun menjalin cinta dengannya.
Namun, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia itu hancur karena satu telepon dari calon suaminya.
“Alena… aku tidak bisa datang. Selena pingsan dalam perjalanan ke hotel. Kita tunda pernikahannya ya”
Wajah Alena mengeras, bukan satu dua kali hal ini terjadi, dia hafal betul seperti apa kakaknya itu. Bahkan kedua orang tuanya juga selalu memihak pada Selena.
Dengan wajah tegas, Alena berdiri di depan semua orang.
"Saya, Alena Bagaskara, menyatakan pernikahan antara saya dan Reno Sebastian dibatalkan!"
Aula pernikahan menjadi riuh, namun Alena tak peduli. Dia melangkah keluar bahkan mengabaikan ancaman dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
.
“Pekerjaan apa?"
Selena tersenyum tipis mendengar pertanyaan dari seberang sana. Bang Leo, seseorang yang memiliki banyak koneksi di dunia media sosial, seseorang yang tahu bagaimana membuat sebuah berita kecil berubah menjadi bahan pembicaraan banyak orang.
"Aku ingin kamu menyebarkan cerita tentang Alena," jawabnya dingin.
"Adikmu?”
"Aku tidak pernah menganggapnya sebagai adikku. Pokoknya buat saja namanya dibicarakan di mana-mana. Katakan dia menjalin hubungan dengan beberapa pria sekaligus. Lalu kerahkan orang-orangmu untuk membanjiri kolom komentar dengan komentar buruk!"
Pria itu tertawa kecil. "Gosip memang mudah menyebar, tapi agar dipercaya butuh bukti nyata. Memangnya kamu punya?”
"Foto bisa disunting," jawab Selena tersenyum miring. “Video bisa diedit? Kamu pasti lebih paham caranya membuat sesuatu tampak seolah benar-benar terjadi."
Leo tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Selena. "Memang bukan hal yang sulit untukku,” ucapnya. “Masalahnya, apa kamu berani membayarku mahal?"
“Kamu meremehkanku?" Selena merasa kesal mendengar pertanyaan dari Leo.
"Sama sekali tidak. Tapi adikmu sudah menjadi tangan kanan Tuan Wijaya Kusuma? Itu artinya ini bukan pekerjaan yang mudah. Jika ketahuan nyawaku menjadi taruhannya. Kalau bayaranmu hanya seperti biasanya aku memilih mundur. Lebih baik tidur santai di rumah tidak membuat masalah."
Di seberang telepon pria itu sambil menyeringai licik. “Kapan lagi aku bisa menguras kantongmu," gumamnya dalam hati.
"Aku adalah Nona pertama keluarga Bagaskara,”sahut Selena dengan pongahnya. “Soal bayaran sama sekali bukan masalah. Berapapun yang kau minta, aku sanggup membayarnya. Yang penting hasilnya memuaskan."
"Baiklah. Transfer dua ratus lima puluh juta sekarang juga sebagai uang muka. Maka kamu akan segera mendengar beritanya besok pagi."
“Dua ratus lima puluh juta kamu bilang hanya sebagai uang muka? Kamu gila ya? Kamu ingin merampok?" Selena membelalakkan mata tak percaya. “Yang harus kamu lakukan hanya menyebar video dan kata-kata. Bagaimana bisa semahal itu?"
“Aku tidak sedang tawar-menawar," sahut Leo cepat. “Dua ratus lima lima puluh juta uang muka dan dua ratus lima puluh juta jika pekerjaan selesai. Ya atau tidak terserah kamu. Aku juga tidak rugi."
Tutt!
Panggilan terputus secara sepihak membuat Selena merasa geram. Sementara di seberang sana Leo sedang tertawa menyeringai.
"Dasar nona kaya sombong. Katanya uang gak jadi masalah. Baru dengar lima ratus juta saja sudah keder. Cuih! Setidaknya kalau dia berani membayar lima ratus juta itu baru sepadan.”
Di dalam kamarnya Selena menggeram marah karena Leo memutus sambungan begitu saja. "Kurang ajar!” makinya tertahan. "Lima ratus juta? Itu berarti aku menguras hampir semua tabunganku. Tapi aku memang tidak punya cara lain. Dia satu-satunya orang yang bisa aku percaya.”
Akhirnya dengan menahan kesal Selena kembali menghubungi Leo. Kesepakatan pun terjadi, dan sambungan telepon terputus setelah Selena mengirimkan dua ratus lima puluh juta ke rekening pria itu.
Senyum puas merekah di wajah Selena, meskipun di balik senyum pulas itu dia menyimpan rasa kesal. “Alena…” geramnya pelan. "Aku tidak akan membiarkan uangku terbuang sia-sia. Kamu harus hancur!”
*
Keesokan paginya, Alena tetap bekerja seperti biasannya. Pukul setengah tujuh, mobilnya sudah terparkir di area parkir khusus, dan ia turun membawa tas serta tablet kerja dengan tenang. Namun baru beberapa langkah melangkah menuju gedung, ia mulai merasakan sesuatu yang tak biasa.
Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya tiba-tiba memperlambat langkah. Ada yang menoleh berbisik, lalu buru-buru memalingkan wajah begitu matanya bertemu pandang. Ada pula yang menatapnya dari atas ke bawah dengan senyum yang terasa menyindir.
Alena mengerutkan kening, namun mencoba mengabaikannya. Mungkin mereka sedang membicarakan urusan lain, begitu pikirnya. Namun, semakin jauh ia melangkah, tatapan dan bisikan itu justru semakin sering ia temui.
Menjelang siang, saat ia masuk ke ruang pantry untuk menyiapkan kopi bagi Nathan, dua orang yang ada di sana yang awalnya sedang bercanda seketika diam melihat kedatangannya.
“Ada apa sih?” tanya Alena penasaran.
Namun kedua orang itu hanya menggelengkan kepala dan mengatakan ‘tidak ada apa-apa’. Padahal jelas sebelumnya ia mendengar secara samar namanya disebut. Tetapi kemudian gadis itu memilih tidak menghiraukannya. Kalau memang mereka tidak mau bicara ya sudah. Ia segera membuat kopi dengan tenang, meski hatinya perlahan terasa tak nyaman.
Alena keluar dari pantry setelah selesai membuat kopi. Namun baru saja beberapa langkah dari area itu, sebuah suara menahannya.
"Alena."
Alena berhenti dan menoleh. Terlihat olehnya Fiona, seorang manajer senior yang terkenal ambisius. Alena mengenali sosok itu karena mereka sering berada dalam ruangan yang sama dalam beberapa pertemuan penting perusahaan. Hanya satu yang Alena tidak tahu, Fiona diam-diam menyukai Nathan sejak lama.
Fiona berdiri bersandar pada dinding sambil menyilangkan tangan di dada, menatapnya dengan sorot mata tajam yang sulit diartikan.
"Ya, Bu Fiona?" tanya Alena tenang.
Fiona tersenyum tipis. Namun, sama sekali tak nampak keramahan dalam senyum itu.
"Hebat juga kamu," ucap Fiona bernada sindiran. "Pantas saja baru sehari melamar langsung diterima sebagai asisten direktur. Ternyata begitu ya kelakuanmu?" ucap Fiona sambil tertawa mengejek.
"Maksud Bu Fiona apa?" tanya Alena masih dengan nampan berisi cangkir di tangannya. Gadis itu memang benar-benar tidak mengerti.
"Dasar cewek gatel," jawab Fiona cepat sambil menatapnya tajam. "Pura-pura cupu aslinya suhu. Kamu pikir semua orang bodoh sepertimu? Akhirnya terbongkar juga kebusukanmu?"
Fiona terus saja mengeluarkan kata-kata yang tajam dan menyakitkan. Namun,, Alena hanya diam. Hingga akhirnya Fiona terlihat lelah barulah Alena membuka mulutnya.
"Saya tidak tahu apa yang dimaksud oleh Bu Fiona. Bu Fiona terus saja menyindir tapi tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi itu sama sekali bukan urusan saya. Jika tak ada yang ingin ibu jelaskan, Saya permisi. Saya digaji di perusahaan ini bukan untuk mendengar Bu Fiona bicara tidak jelas."
Tanpa menunggu balasan, Alena membalikkan badannya dan melangkah pergi, meninggalkan Fiona yang hanya bisa menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Sementara Alena berjalan menjauh dengan langkah tenang meskipun sebenarnya hatinya bertanya-tanya. Gadis yang sama sekali belum tahu bahwa sejak pagi namanya telah menyebar luas di media sosial, disertai foto-foto hasil rekayasa dan cerita yang telah dibelokkan.
si bos cemburu tuh.... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣