NovelToon NovelToon
Menikahi Perwira yang Salah, Ternyata Dia Tuan Muda Konglomerat

Menikahi Perwira yang Salah, Ternyata Dia Tuan Muda Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas / Menikahi tentara
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.

Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.

Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.

Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...

_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3: Dua Garis Merah di Tengah Reruntuhan

Sebulan kemudian, pertanyaan tentang gelang berukir nama Rangga tenggelam di bawah dua garis merah.

Kirana duduk di lantai toilet apotek dengan testpack di tangan. Udara berbau disinfektan. Dengung mesin pendingin terdengar dari balik pintu, bercampur ketukan pelanggan lain yang mulai tidak sabar.

"Mbak, masih lama?"

Kirana membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Dua garis itu tidak berubah meski ia mengedip berkali-kali. Satu garis mungkin bisa disebut salah lihat. Dua garis tidak memberinya tempat untuk lari.

Telapak tangannya menjadi dingin.

Sudah lebih dari enam minggu sejak malam di vila. Dalam waktu itu, permohonan cerai Bagas telah melewati persidangan tanpa perlawanan dari Kirana. Putusan dibacakan singkat. Akta cerai dikirim ke rumah bersama map cokelat yang bahkan belum sanggup ia buka lagi.

Ia pikir rasa mual datang dari stres. Ia menganggap kantuk panjang sebagai akibat kurang tidur. Ketika haidnya terlambat, ia masih memaksa diri percaya tubuhnya hanya sedang kacau.

Kini kebohongan itu berakhir di lantai keramik yang dingin.

"Mbak?"

"Sebentar," jawab Kirana akhirnya.

Suaranya terdengar seperti milik orang lain.

Ia membungkus testpack dengan tisu, memasukkannya ke dalam tas, lalu mencuci muka. Perempuan dalam cermin masih mengenakan blus rapi dan lipstik lembut. Dari luar, tidak ada yang akan menduga bahwa ia baru saja kehilangan sisa kendali atas hidupnya.

Begitu keluar dari toilet, ponselnya bergetar.

Nomor tak dikenal.

"Bu Kirana? Kami dari pihak kreditur Prawira Niaga. Kami perlu konfirmasi mengenai aset keluarga yang belum tercatat."

Kirana memejamkan mata. "Saya bukan pengurus perusahaan. Hubungi kuasa hukum kami."

"Nomor kuasa hukum tidak aktif. Kalau Ibu menyembunyikan aset..."

Kirana memutus sambungan.

Telepon kedua langsung masuk. Lalu ketiga.

Ia mematikan ponsel dan berjalan keluar apotek sambil menahan mual. Di seberang jalan, sebuah layar elektronik menampilkan berita bisnis. Foto lama Suryo Prawira muncul di samping judul tentang utang, transaksi afiliasi, dan penyitaan aset.

Nama ayahnya yang sudah meninggal kini diperlakukan seperti barang busuk yang boleh dilempar siapa saja.

Semuanya bermula dari sebuah dokumen yang bocor ke akun gosip bisnis. Beberapa jam kemudian, potongannya menyebar ke grup WhatsApp pemasok dan keluarga besar. Infotainment menghubungkan skandal perusahaan dengan pernikahan singkat Kirana. Para kreditur datang bersamaan. Rekening dibekukan. Pemasok menghentikan pengiriman. Pengadilan menyetujui penyitaan beberapa aset untuk menjamin proses utang.

Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa Melati-lah yang mengirim berkas pertama.

Ia melakukannya dari nomor prabayar, lalu duduk di samping Rangga sambil pura-pura terkejut membaca berita. Sekali lagi, tangan yang mendorong Kirana ke jurang bersembunyi di balik wajah seorang kakak yang prihatin.

***

Pita penyitaan merah putih melintang di pintu rumah Prawira ketika Kirana tiba.

Hujan Surabaya baru saja berhenti. Halaman yang biasanya dipenuhi mobil tamu kini becek oleh sepatu petugas dan para penagih. Sebuah stiker resmi menempel pada pagar. Dari baliknya, dua tetangga berpura-pura menyiram tanaman sambil memperhatikan setiap gerakan Kirana.

"Itu anaknya Bu Ratna, kan?"

"Yang baru jadi janda itu? Katanya belum sebulan menikah."

"Aku dengar dia hamil."

Langkah Kirana berhenti.

Ia menoleh begitu cepat hingga kedua perempuan itu buru-buru menunduk. Belum ada yang tahu hasil testpack di tasnya. Gosip tersebut hanya tebakan kejam, tetapi tetap terasa seperti tangan yang merobek rahasianya.

Janda muda. Hamil. Keluarga bangkrut karena skandal.

Tiga cap yang dapat membuat semua pintu tertutup sebelum ia sempat mengetuk.

"Rana!"

Ratna keluar dari pintu samping sambil membawa dua koper. "Kenapa kamu datang ke sini? Mama sudah bilang tunggu di rumah kontrakan."

"Aku mau membantu."

"Tidak ada lagi yang bisa dibantu. Petugas memberi kita waktu mengambil barang pribadi. Sisanya harus ditinggal."

Seorang petugas keluar membawa daftar inventaris dan bingkai foto keluarga. "Bu Ratna, foto ini boleh dibawa. Laptop di ruang kerja harus tetap di tempat karena tercatat sebagai barang perusahaan."

Ratna menerima bingkai itu dengan kedua tangan. Dalam foto tersebut, Suryo masih sehat, Kirana masih memakai seragam kampus, dan Melati berdiri di sisi paling luar dengan senyum manis. Kaca bingkainya retak tepat melintasi wajah Suryo.

"Setidaknya izinkan kami mengambil album lama," pinta Kirana.

Petugas memeriksa daftar, lalu mengangguk. "Barang yang murni pribadi boleh. Ibu tanda tangani berita acaranya dulu."

Kirana menandatangani lembar penyerahan di atas kap mobil. Tinta bolpoin melebar terkena satu tetes air dari rambutnya. Dulu ia menandatangani kartu undangan dan pesanan butik. Hari ini tanda tangannya hanya memastikan bahwa ia tidak berhak memasuki rumah sendiri tanpa izin.

Ratna mencoba mengangkat koper terbesar. Kirana refleks meraihnya, tetapi gelombang mual kembali naik. Ia menutup mulut dan membungkuk di dekat pagar.

"Rana?"

"Aku tidak apa-apa."

Ratna melepaskan koper. Tatapannya turun ke tangan Kirana yang masih menekan perut, lalu ke wajah pucat putrinya.

"Haidmu terakhir kapan?"

Pertanyaan itu menghancurkan pertahanan yang tersisa.

Kirana membuka tas dan menyerahkan testpack berbalut tisu. Ratna tidak langsung mengambilnya. Setelah melihat dua garis merah, bahunya turun perlahan.

"Punya Bagas?"

Kirana tertawa pendek, pahit. "Memangnya ada laki-laki lain dalam hidupku?"

"Jangan bicara di sini."

Ratna menggenggam pergelangan tangannya dan membawa Kirana menjauh dari tatapan tetangga. Koper-koper itu ditinggalkan sejenak di bawah teras, sementara ibu dan anak masuk ke mobil sewaan yang parkir di ujung jalan.

Begitu pintu tertutup, Kirana akhirnya menangis.

"Aku sudah bercerai, Ma. Rumah kita disita. Semua orang membicarakan Papa seolah dia penjahat. Sekarang aku harus bagaimana dengan anak ini?"

Ratna menarik putrinya ke dalam pelukan. "Kita periksa ke dokter dulu. Setelah itu kita pikirkan satu per satu."

"Kalau Bagas tidak mau mengakuinya?"

"Dia tidak terlihat seperti laki-laki yang lari dari tanggung jawab."

"Mama baru bertemu dia beberapa kali."

"Dan dalam beberapa kali itu, dia berdiri menutupimu dari kamera, tetap menikahimu ketika semua orang ingin menyelamatkan nama sendiri, lalu mengikuti proses cerai karena kamu yang meminta." Ratna mengusap rambut Kirana. "Mama tidak bilang dia pasti baik. Mama bilang kamu harus menemuinya dan menuntut jawaban langsung."

Kirana menahan napas yang bergetar. Bayangan terakhir Bagas muncul di kepalanya, mata dingin seorang laki-laki yang ia hina agar pergi.

***

Malam itu, rumah kontrakan mereka hanya diterangi lampu meja kecil.

Tempat itu memiliki satu kamar, dinding lembap, dan suara motor dari gang yang tidak pernah benar-benar berhenti. Koper dari rumah lama memenuhi sudut ruang. Di atas meja, Ratna menaruh sebuah kotak kayu yang catnya sudah mengelupas.

"Ini belum tercatat sebagai aset perusahaan," katanya.

Ia membuka kotak tersebut. Di dalamnya ada beberapa ikat uang tunai, dua gelang emas, seuntai kalung, dan map plastik bening.

"Mama menyimpannya sejak usaha papamu mulai bermasalah."

"Kita harus menyerahkan yang berkaitan dengan perusahaan."

"Ini milik pribadi Mama. Semua ada bukti pembeliannya." Ratna mengeluarkan sebuah sertifikat. "Dan rumah warisan ini sudah atas namamu sejak lama. Tidak pernah dijaminkan untuk utang perusahaan."

Kirana memandangi namanya pada sertifikat, lalu mendorongnya kembali. "Simpan untuk Mama."

"Ambil."

"Aku tidak bisa meninggalkan Mama tanpa uang."

"Mama masih punya cukup untuk bertahan." Ratna memasukkan uang, perhiasan, dan sertifikat ke tas kecil. "Kamu sedang hamil. Kamu butuh ongkos, pemeriksaan, dan tempat tinggal. Jangan sok kuat saat ada dua nyawa yang harus kamu lindungi."

"Dua?"

"Kamu dan anakmu." Ratna menyentuh pipinya. "Mama belum tahu kalau nanti ternyata kembar."

Kalimat itu seharusnya terdengar ringan. Justru karena itulah tangis Kirana jatuh lagi.

Ratna kemudian mengambil amplop tua dari dasar kotak. Kertasnya menguning, sedangkan cincin giok di dalamnya masih memantulkan warna hijau gelap.

"Ini surat perjodohan dari Mbah Kartono dan keluarga Adiningrat. Simpan juga."

"Untuk apa? Aku tidak akan menagih Rangga setelah semua ini."

"Bukan untuk menagih siapa pun. Ini bukti siapa dirimu dan apa yang sebenarnya dijanjikan keluarga." Ratna menutup jemari Kirana di atas amplop. "Jangan beri tahu orang lain. Bahkan Bagas. Setidaknya belum."

Kirana teringat gelang bayi di dalam kopernya. Dua benda dari masa lalu kini berada di tangannya, surat perjodohan yang menyebut keluarga Rangga dan gelang Bagas yang justru memuat nama Rangga.

"Mama, bagaimana kalau semua ini saling berhubungan?"

"Cari jawabannya setelah kamu aman. Prioritasmu sekarang anak itu."

Ratna menatap Kirana lurus-lurus. "Pergi ke Magelang. Cari Bagas. Minta dia mengakui anaknya dan membicarakan rujuk atau akad ulang secara benar. Jangan mengemis cinta. Tuntut tanggung jawab."

"Kalau dia menolak?"

"Kamu tetap punya sertifikat, uang, dan Mama." Ratna mengusap air mata di pipi putrinya. "Percaya ucapan laki-laki secukupnya. Lihat tindakannya. Apa pun yang terjadi, simpan pegangan untuk dirimu dan anakmu."

Kirana memandang testpack di atas meja. Dua garis merah itu tidak lagi tampak seperti jalan buntu. Garis-garis tersebut menjadi penunjuk arah yang tidak memberinya pilihan selain maju.

Ia memasukkan uang, sertifikat, surat lama, cincin giok, dan gelang berukir nama Rangga ke dalam koper. Semua diselipkannya di bawah lapisan pakaian.

"Aku akan berangkat besok malam."

Ratna mengangguk meski matanya kembali berkaca-kaca. "Jangan pulang sebelum urusanmu jelas."

Keesokan malamnya, Kirana menarik koper melewati pagar rumah lama. Stiker penyitaan bergoyang diterpa angin, menutupi sebagian nama Prawira pada plakat kuningan.

Ia berhenti sekali untuk memandang rumah tempat ia dibesarkan.

Lalu Kirana berbalik dan berjalan ke dalam malam, menuju Magelang dan seorang mantan suami yang pernah ia usir dengan kata-kata paling kejam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!