mengira tanda tangan di atas meterai itu adalah tiket emas menuju karier impiannya. Namun, ia salah besar. Akibat kurang teliti membaca pasal demi pasal, Silla justru terjebak kontrak kerja mutlak dari Sagara , sang CEO tampan sekaligus mantan pacar yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya.
bagi Silla, menghadapi Sagara bukan sekadar urusan profesional. Sagara adalah mantan kekasihnya-pria yang pernah mengisi hatinya, sebelum hubungan mereka berakhir dengan penuh gengsi.
Sebagai sekretaris, Silla yang memiliki sumbu pendek dan gampang emosi dipaksa harus selalu sigap melayani kebutuhan Sagara. Celakanya, Sagara tahu persis di mana tombol "emosi" Silla berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lorong
Sila melangkah menyusuri koridor rumah sakit jiwa dengan cangkiran yang tak lagi ringan. Langkah kakinya yang biasa menyentak tegas, kini terdengar ragu dan terseret. Bau karbol yang menyengat bercampur udara dingin lorong itu seolah mencekik tenggorokannya.
Sila, gadis yang di mata semua orang dikenal sebagai sosok yang paling ceria, selalu tertawa keras, dan paling berani menghadapi apa pun, perlahan merasakan seluruh pertahanannya terkikis.
Ia menatap lurus ke arah sana dengan jendela kaca kecil, ibunya berada. Wanita yang dulu begitu anggun, kini harus terasing dari dunia luar. Pikiran ibunya hancur, jiwanya meranggas pergi sejak belasan tahun lalu—tepat saat ia sedang mengandung adik silla. Saat di mana rahimnya membesar penuh harapan, justru menjadi momen paling terpuruk di hidupnya. akal sehatnya meninggalkan luka yang membuat sang ibu memilih hidup dalam dunianya sendiri.
Sila menarik napas dalam-dalam, mencoba memanggil kembali keberaniannya yang biasa. Ia membuka pintu perlahan.
Langkah kakinya yang biasa tegap kini terasa begitu berat . Sila, gadis yang biasanya dikenal paling berani, keras kepala, dan selalu ceria di kantor, seketika runtuh saat melihat sosok di balik jeruji besi kamar rawat.
Di sudut ruangan, seorang wanita paruh baya sedang duduk meringkuk sambil menimang sebuah bantal kumal, mengira itu adalah bayinya. Wanita itu adalah ibunya.
"Ibu..." bisik Sila. suaranya bergetar, kontras dengan suaranya yang biasa lantang.
Di sudut kamar, wanita itu sedang duduk di lantai, menatap kosong ke dinding seolah sedang berbicara dengan bayangan. Rambutnya yang acak-acakan dan tatapan matanya yang redup membuat dada Sila seperti dihantam godam besar.
Sila mendekat, lalu berlutut di depan ibunya. Ia menyentuh tangan wanita itu yang terasa dingin. "Ibu, ini Sila..."
Pertahanan Sila jebol. Air matanya luruh tanpa suara. Sila mendekat, mencoba memanggil, namun sang ibu justru menjerit ketakutan dan bersembunyi di bawah ranjang. Kenyataan bahwa ibunya hancur karena cinta masalalu selalu menjadi momok paling menakutkan bagi Sila. Bahunya terguncang hebat ,seluruh keceriaan dan topeng ketangguhan yang ia pakai sehari-hari runtuh tak bersisa di lantai rumah sakit itu.
Sila berlutut pelan. Tangisnya sudah habis sejak di tadi .Ia menjulurkan tangan, mencoba menyentuh ujung jemari ibunya yang bersembunyi rapat di kegelapan kolong tempat tidur besi.
"Ibu..." suara Sila pecah, bukan lagi suara gadis periang yang biasa membahana di setiap sudut rumah. "Ini Sila, Bu. Sila datang. Ayo keluar... di sini dingin, Bu."
Bukannya menyambut, tubuh di bawah kolong itu bergetar hebat. Sang Ibu merangkak semakin dalam, memeluk lututnya sendiri erat-erat, lalu menjerit—teriakan parau seorang perempuan yang jiwanya tertinggal di suatu sore berkabut bertahun-tahun lalu.
"Jangan ambil lagi! Jangan bawa dia lagi ke sana! Airnya dingin! Biru! Dia tidur di sana, dia tidur di pasir! Pergi! Pergi kamu!" teriak Ibu histeris, mencakar lantai semen dengan jemarinya yang kotor.
Sila menahan dadanya yang terasa dihantam palu. Napasnya sesak. Ia memajukan badannya, mengabaikan rasa takut dan nyeri di ulu hatinya.
"Sila di sini, Bu... Sila bukan dia. Sila anak Ibu. Yang waktu itu... Sila yang masih hidup, Bu. Lihat Sila," lirih Sila, air matanya jatuh menetes ke lantai.
Ibu mengintip dari balik kegelapan kolong. Matanya kosong, merah, dan liar—tapi penuh genangan duka yang tak pernah surut.
"Bukan... kamu bukan dia," bisik Ibu, suaranya parau, gemetar menahan takut. "Bayi kecilku tertinggal di di sana.Di buih-buih putih itu... Aku memegang tangannya, tapi ombak itu lebih kuat. Bayi itu... bayi yang belum sempat kuberi nama itu... hilang. Dan kamu... kenapa kamu besar sendirian tanpa pernah mati bersamanya?"
Kalimat itu menancap dalam. Sila menutup mulutnya, menahan isakan yang hampir merobek tenggorokannya. Selama ini ia memakai topeng tawa, melucu kencang-kencang, bicara blak-blakan tanpa jeda, karena ia takut jika ia diam sedetik saja, ia akan mendengar sunyi yang membunuh kewarasannya seperti yang dialami ibunya.
"Ibu..." Sila merapatkan wajahnya ke lantai, mencoba meraih bayangan wajah ibunya yang pucat. "Maafin Sila yang suka tertawa keras-keras ya, Bu... Sila cuma pura-pura kuat. Sila capek. Sila juga kedinginan di luar sana tanpa Ibu."
Ibu terdiam sesaat. Napasnya memburu. Jemarinya yang gemetar terjulur perlahan dari kolong, menyentuh pipi Sila—bukan untuk mengelus, melainkan memastikan apakah gadis di depannya ini nyata atau hanya halusinasi dari luka yang terus menganga.
"Dingin..." gumam Ibu lirih. "Tanganmu dingin sekali, Nak... seperti hari itu."
Sila menggenggam tangan ibunya erat-erat, membiarkan jemari keriput itu
mencengkeramnya dengan sisa-sisa kewarasan yang hampir sepenuhnya larut ditelan kenangan buruk di pantai itu. Di ruangan sunyi berbau obat itu, si gadis ceria yang rapuh dan ibunya yang kehilangan akal sehat, saling berpegangan—sama-sama tenggelam dalam lautan duka yang tak pernah surut.
ibunya mulai berteriak kembali—bukan suara manusia normal, melainkan lolongan pilu yang mencabik-cabik udara.
"Jangan ambil dia lagi! Airnya dingin! Lepaskan anakku! Jangan bawa dia ke tengah laut!" teriak sang Ibu histeris, mencakar-cakar lantai putih itu dengan jemarinya yang luka.
Sila ikut terduduk di lantai keramik yang keras. Pertahanan terakhirnya runtuh. Air matanya tumpah tanpa suara, membasahi pipinya yang tadi pagi masih dipulas senyum buatan.
"Bu... ini Sila. Sila di sini. Bayinya... bayinya sudah tidak ada, Bu. Ini Sila, anak perempuan Ibu yang paling nyinyir ini..." bisik Sila pecah, dadanya sesak seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu mendadak menguap.
Ibunya menatap Sila tetapi tatapan itu menembus melewatinya. Tatapan kosong milik seorang perempuan yang terjebak abadi di sore nahas itu—di mana dunia merenggut nyawa bayi yang belum sempat diberi nama, dan merenggut akal sehat sang ibu bersamanya.
"Kamu bukan ...." bisik ibunya gemetar ketakutan, meringkuk semakin dalam ke sudut kolong. "Dia masih bayi... dia tenggelam bersama ombak itu... baju kecilnya basah... basah sekali..."
Sila menutup mulutnya sendiri, menahan isakan yang hampir membuat tenggorokannya robek. "Bu...aku sila anak ibu..."
Tidak lama kemudian, ketenangan rapuh itu benar-benar habis. Sang Ibu kembali mengamuk lebih liar, merangkak keluar masuk kolong sambil mencengkram rambutnya sendiri dan berteriak memanggil nama bayi yang sudah hilang bertahun-tahun lalu.
"PULANGKAN BAYIKU! DIA DINGIN! DI BAWAH PASIR ITU DINGIN!" teriaknya memecah sunyi bangsal.
Langkah kaki tegap bergegas mendekat. Dua orang suster berseragam putih muncul dengan cepat. Salah seorang dari mereka memegang bahu Sila dengan lembut namun tegas untuk menariknya mundur, sementara suster satunya lagi telah memegang jarum suntik berisi obat penenang.
"Mbak, mundur dulu biar kami tangani," ucap suster itu dengan nada terlatih tenang.
"Jangan disakiti, Sus... pelan-pelan..." lirih Sila, suaranya habis, hanya tersisa sisa isakan yang menyakitkan di ujung lidahnya.
Cairan bening itu ditekan masuk ke lengan sang Ibu. Dalam hitungan detik, jeritan histeris itu melemah. Tubuh yang tadinya meronta kaku perlahan terkulai lemas ke pelukan perawat. Mata ibunya tertutup perlahan, membawanya ke alam tidur artifisial yang lebih tenang daripada isi kepalanya sendiri.
Sila berdiri sendirian di tengah ruangan yang kembali sunyi. Ia merangkul tubuhnya sendiri yang gemetar hebat, menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu, lalu memaksakan satu senyum kecil yang sia-sia ke udara kosong—berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia baik-baik saja, padahal ia tahu, ia baru saja ikut mati bersama ibunya di pantai itu.
Dengan hati yang berkeping-keping, Sila akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan menyesakan itu. Ia berjalan keluar menuju area depan dengan pandangan kosong dan air mata itu terus keluar mengalir di pipinya.
"Sila?" sebuah suara bariton menginterupsi langkahnya.
Sila mendongak dan tertegun. Di hadapannya berdiri sagara—CEO di kantornya, pria super rese yang setiap hari hobi membuat Sila naik darah dengan tenggat waktu yang tidak masuk akal.
Melihat mata Sila yang sembab dan tubuhnya yang gemetar, ekspresi menyebalkan di wajah sagara langsung sirna. Berganti dengan sorot mata penuh kekhawatiran yang sudah lama tidak Sila lihat. Tanpa memedulikan gengsi atau status mereka sebagai atasan dan bawahan,Sagara melangkah maju. Ia menarik Sila ke dalam pelukannya, mendekap gadis itu dengan erat seolah berusaha menyatukan kembali kepingan hati Sila yang hancur.
Sagara menepuk-nepuk punggung Sila dengan lembut, membisikkan kata-kata penenang yang hangat di telinganya. Entah mengapa, di dalam pelukan pria yang biasanya ia jauhi ini, Sila merasa aman untuk menumpahkan seluruh rapuhnya.
Setelah tangis Sila agak mereda, Sagara menuntunnya dengan lembut menuju mobil. Selama perjalanan pulang di dalam mobil sagara, hening menyelimuti mereka. Tidak ada lagi sindiran atau sikap rese dari sgara, yang ada hanyalah keheningan yang menenangkan dan genggaman tangan sagara yang sesekali menguat di atas jemari Sila, memastikan bahwa gadis itu tidak lagi sendirian menghadapi badai di kepalanya.
Tembok keceriaan yang selama ini ia bangun kokoh di depan teman-temannya roboh tanpa sisa. Topeng gadis pemberani yang selalu ia kenakan copot. Bahu Sila terguncang hebat. Air mata yang selama bertahun-tahun ia tahan di hadapan dunia, tumpah ruah di hari itu.