Bagaimana hidup Naura yang harus di jodoh kan dengan orang yang sudah mati. selang sehari saat dia meraya kan ulang tahun ke 18.
Naura Isabella adalah seorang murid di SMA Nusa bangsa dengan jalur prestasi.
Di pagi yang mendung itu. Orang tua Naura Tiba tiba menyuruh putri semata wayang mereka untuk tidak ke sekolah.
Dan membawa Naura ke rumah mewah.
Naura yang sudah berdandan cantik layak nya pengantin sangat lah heran. Dia melihat ke kanan dan ke kiri. Banyak orang menangis. Dia bingung kenapa dia malah di dandani seperti seorang pengantin.
Dengan di gandeng oleh kedua orang tua nya. Naura berusaha bersabar dan tidak banyak bertanya.
Orang tua nya menjelas kan jika dia harus ikut karnaval agar bisa mendapat kan uang untuk makan besok. Itu ucapan singkat ke dua orang tua Naura.
Naura tiba di sebuah altar dan sudah ada pendeta di sana. Naura melihat ke sekeliling dan mata Naura terpaku pada mayat pria yang seumuran dengannya dengan wajah yang sangat pucat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2.
Naura masih saja membungkam mulutnya, sesekali dia juga melirik ke arah kedua orang tuanya.
Wajah orang tuanya terlihat sedih dan juga pasrah, bahkan tangan kedua orang tuanya seperti memberikan sebuah kode untuk saling menguatkan.
Apalagi ibunya yang terlihat diam dengan tatapan mata sendu kala melihatnya, sebenarnya Naura kasihan.
Tapi dia yang masih jengkel, karena pertama kalinya dalam hidupnya dibentak oleh ayahnya, makanya sekarang dia memilih untuk acuh.
Tak berselang lama sebuah mobil yang sangat mewah berhenti tepat di depan salon Liem Bridal.
Mobil itu terlihat akan menjemput Naura dan juga kedua orang tuanya.
Naura memilih untuk pasrah dan segera masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil baik Naura maupun ke dua orang tuanya sama sama diam, perjalanan membutuhkan waktu selama 20 menit itu.
Tak berselang lama mobil yang di tumpangi oleh Naura berhenti dihalaman sebuah rumah yang sangat mewah.
******
Di pagi yang mendung itu. Orang tua Naura Tiba tiba menyuruh putri semata wayang mereka untuk tidak berangkat ke sekolah.
Ratih dan juga Santo membawa Naura untuk pergi ke sebuah rumah mewah.
Naura yang sudah berdandan cantik layaknya seorang pengantin hanya bisa melihat ke arah kanan dan juga kiri.
Tapi ada sesuatu hal yang membuat Naura heran, karena di rumah mewah itu banyak sekali orang menangis. Dia bingung kenapa dia malah di dandani seperti seorang pengantin.
Dengan di gandeng oleh kedua orang tuanya. Naura berusaha bersabar dan tidak banyak bertanya.
Naura dan kedua orang tuanya, terus berjalan, dengan mengabaikan tatapan para tamu yang menatapnya dengan tatapan aneh.
Orang tuanya tadi menjelaskan jika dia harus ikut karnaval agar bisa mendapatkan uang untuk makan besok. Itu ucapan singkat ke dua orang tua Naura sebelum dia sampai di rumah mewah ini.
Langkah kaki Naura terhenti, saat dirinya tiba disebuah altar dan sudah ada pendeta China yang berdiri disana. Seorang pendeta yang berpenampilan seperti yang ada difilm film china.
Naura melihat ke sekeliling, dan akhirnya mata Naura terpaku pada mayat pria yang seumuran dengannya. Dengan wajah yang sangat pucat.
Naura bisa menebak jika pria itu sudah meninggal. Tapi ada hal yang membuat Naura aneh, kenapa Carnaval di adakan dirumah orang yang sudah meninggal? Kenapa bajuku dan baju pria itu sama? kenapa lagi ada pendeta China di sini?
Naura pun dipaksa oleh kedua orang tuanya naik ke atas altar.
"Kamu harus balas Budi ke pada kami Naura, yang sedari kecil sudah membesarkan mu dengan susah payah. Sekarang menikahlah dengan pria yang bernama Liam itu," tutur ayah Naura dengan wajah dingin dan tak bisa untuk di bantah.
"Tapi ayah, . . . Dia bukan manusia, dia sudah meninggal" kilah Naura sembari menepuk nepuk pipi nya untuk menyakinkan bahwa ini semua hanya sebuah mimpi.
Karena seingat Naura, kemarin dia masih menjadi seorang murid sekolah dan masih berkumpul dengan teman teman seumurannya untuk belajar.
Tapi kenapa dengan hari ini? Hidupnya bisa berubah secepat ini, tapi sayangnya yang terjadi sekarang ini bukanlah sebuah mimpi semata, ini nyata. Karena Naura merasakan sakit di pipi nya, saat dia menepuk pipinya itu.
Beberapa hari sebelumnya.
Di malam yang gelap. Seorang pria pulang kerja dengan motor bebek buntutnya dalam keadaan lesu dan juga sedih.
"Tumben Pak jam 8 malam baru pulang?" tanya istri dari pria itu, lalu sang istri terlihat menarik tangan kanan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya itu.
"Buk ... Kita harus melakukannya besok," ucap pria itu dengan suara frustasi dengan wajah yang di tekuk.
"Pak, kenapa harus secepat ini? Wanita itu malah berbalik tanya pada suaminya dengan air mata yang luruh, bahkan tubuhnya juga terlihat lunglai terduduk dilantai rumahnya.
"Maafin Bapak ya Buk, karena kesalahan bapak di masa lalu. Jadinya membuat kita harus kehilangan anak kita," ujar pria itu sembari mengusap air mata yang jatuh dari ke dua pipinya. Tidak di pungkiri jika pria itu juga menangis.
Seketika kesedihan mereka berubah menjadi senyuman. Setelah mendengar sebuah tawa dari anak semata wayang mereka. Naura lah yang tertawa ter bahak bahak saat menonton televisi kesukaannya. Karena di televisi sekarang sedang menayangkan film kartun kesukaannya yaitu Tom and Jerry.
"Semoga saja nanti hidup Naura akan lebih baik dan juga bahagia ya pak walaupun tanpa kita," ujar Ratih dengan perasaan yang masih tidak rela.
Lalu Ratih terlihat memeluk erat suaminya. Agar dapat menenangkan gejolak hati nya yang memang sedang tidak baik baik saja.
Sampai malam pun tiba, tapi Ratih belum bisa untuk memejamkan mata nya. Dia masih terjaga dan menangis semalaman. Suaminya Santo yang terlihat tidur pun sebenarnya seperti dirinya.
Santo sebenarnya menangis dalam diam dan pura pura tidur. Karena bagaimana pun semua ini adalah kesalahannya.
****
*
Dirumah mewah keluarga Bouven.
"Tapi Pak, . . . Dia bukan manusia, dia sudah meninggal." Kilah Naura sembari menepuk nepuk pipinya untuk menyakinkan bahwa ini semua hanya sebuah mimpi. Karena seingat Naura kemarin dia masih seorang murid sekolah dan masih berkumpul dengan teman teman seumurannya di sekolah untuk belajar.
Sekarang kenapa begini? Tapi sayang ini bukan lah mimpi. Karena Naura merasakan sakit di kedua pipinya.
"Ayo Naura dekati pendeta china itu!" ucap Santo sembari menggandeng tangan putri semata wayangnya dengan erat.
Berharap putrinya itu tidak akan berani untuk kabur meninggalkan acara pernikahan ini.
Naura hanya diam tanpa menjawab apa yang Bapaknya itu katakan. Dia mematung dengan pandangan kosong.
Sungguh dia sekarang ini sedang kalut dengan pikirannya sendiri.
Lalu pendeta itu menyerahkan sebuah kertas yang berisi janji suci untuk dirinya agar bisa mengikat Liam menjadi suaminya, Liam adalah seorang anak laki laki yang terbujur kaku di dalam peti mati.
Santo terus memaksa anaknya untuk membaca kertas yang berisi tulisan ikatan janji suci itu. Sebuah janji suci ikatan pernikahan dalam adat China.
Wajah Naura terlihat panik dan juga gugup. Kala pandangan mata orang orang sekarang ini malah fokus menatap ke arah dirinya.
Naura dengan patuh membaca kertas itu tanpa memikirkan konsekuensi yang nanti akan di hadapinya.
Setelah ikatan janji pernikahan itu terucap, Naura pun turun dari altar khas orang China pada umumnya dan disambut oleh pasangan pasutri denga wajah sembab.
Naura yang memang memiliki kecerdasan berlebih pun langsung bisa menebak. Pasangan pasutri Itu pasti adalah kedua orang tua Liam.
Liam ... Laki laki yang terbujur kaku, dan di paksa untuk menikah dengan dirinya.
"Makasih ya Pak .. Buk kalian sudah menepati janji kalian untuk membawa putri kalian ke sini," ujar Wanita dengan kulit seputih salju dan wajah khas seperti orang China.
Wanita itu masih kelihatan muda dan juga cantik, walaupun sudah mempunyai anak yang seumuran dengannya.