Elyra Azzahra mencintai Leonard Attahaya tanpa mengetahui siapa sosok Leonard sebenarnya.
Saat kebenarannya terungkap nyatanya perbedaan kasta dan jurang sosial menjadi titik kehancuran keyakinan Elyra akan cinta, namun dia tetap memilih bertahan.
Namun, harapan itu kembali runtuh ketika Leonard ternyata telah dijodohkan. Dalam kehilangan, Leonard memberontak, dan rela mengorbankan segalanya demi Elyra. Bagi Elyra dunia adalah cinta dan cinta bukan berarti dunia.
Mampukah Elyra bertahan demi cinta? atau justru menyerah dengan dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Bertemu Lagi
Leon memperhatikan kembali dengan saksama, helaan napasnya membuat semuanya terasa semakin berat. Rasa sakit kini menjalar di bagian perutnya, Leon masuk ke dalam kediaman itu lagi hingga beberapa dokter tiba dan mengobati lukanya.
Satu minggu setelah kejadian itu, Leon meminta maaf secara langsung pada David. Sulit dipercaya memang, seorang Leon meminta maaf dengan gengsi setinggi itu, namun itulah kenyataannya.
"Jadi, kamu menyesal?" tanya David lagi yang kini duduk di ruang tamu kediaman Leon yang baru.
"Tidak, hanya saja apa yang aku ucapkan sebenarnya memang benar. Aku menginginkan Elyra, lebih dari rasa inginku pada apa pun juga yang pernah aku lihat," ucap Leon yang memang tak mengerti dengan perasaannya sendiri.
"Kenapa harus Elyra?" tanya David. Leon memperlihatkan luka di perutnya.
"Dia yang membantuku. Aku memang merasa berhutang budi, tapi aku juga merasa bila aku ingin melindunginya lebih dari apa pun yang ingin ku lindungi selama ini. Namanya membuatku terusik setiap waktu, aku tidak pernah merasa segundah ini."
David tertawa mendengar pengakuan Leon, dia menepuk bahu Leon dengan kasar.
"Kamu beneran jatuh cinta ya, Leon. Tapi sayang, dia masih sekolah dan masih belia. Sanggup menunggunya hingga cukup usia nikah, Bro?"
David menggelengkan kepalanya. Leon sendiri sudah mencari tahu tentang identitas Elyra dan awalnya terkejut, namun dia tak peduli dengan usia gadis itu sekarang.
"Entahlah, mungkin takdir memintaku agar menjadi lebih baik selama aku menunggu gadis itu dewasa."
Leon pasrah saja, toh dia sudah terlalu jahat dan memang dikenal tak punya hati selama ini.
"Elyra memang istimewa, kejar dia dengan cara yang baik, Bro," ucap David sebelum dirinya bangkit dari duduk.
"Itu surat rumah ini, kamu tidak punya hak memiliki aset atau tanah di Indonesia, Bro. Jadi itu surat sewa rumah selama 25 tahun ke depan."
Leon mengangguk, dan akhirnya mereka kembali berbaikan setelah kesalahpahaman sebelumnya.
.
.
.
"Onty, yuhu, morning!" terdengar suara teriakan seorang perempuan di depan kediaman Nuah pagi itu.
"Eh Lyra, masih pagi sudah mau ajak anak-anak pergi ya?" Nuah pagi itu memang memiliki agenda padat, namun Raisa dan Raina, kedua putrinya, merengek ingin pergi ke bazar di hari Minggu.
"Iya, Ty. Mana bidadariku?" Elyra mengintip ke dalam rumah dan tampak Raisa yang sudah siap berlari bersama Raina.
"Eh, ajak juga tuh tetangga baru, Onty. Dia kayaknya belum tahu banyak tentang tempat ini dan kelihatan kikuk."
Nuah menunjuk seorang pria yang pagi itu sedang duduk di depan rumah bersama seseorang yang dikenal Elyra.
"Oke."
Elyra bersama dua bocah itu berlari kecil hingga sampai di depan kediaman megah yang lain.
"Permisi, oy Kang Dadang! Morning, gak ikut jogging?" tanya Elyra berbasa-basi.
"Gak, Ly. Akan sibuk pagi ini. Eh ya, ajak Leon nih, katanya dia belum tahu daerah ini."
David menunjuk ke arah Leon. Dan kenapa panggilannya Dadang? Karena namanya David Anggara, jadi agar lebih ngena ke Indonesia jadilah panggilannya Dadang.
"Eh, wah ternyata gak nyangka ketemu lagi."
Elyra melambaikan tangannya pada Leon dan menghampiri pria itu.
"Udah sembuh kah, mau ikut jalan?" tanya Elyra menatap area luka yang tertutup kemeja di tubuh Leon.
"Elyra, anggap saja sembuh. Sekalian aku punya hutang yang harus dibayar," jawab Leon.
Elyra tertawa dan menatap David.
"Yaudah ayo! Kang Dadang, Lyra culik temannya dulu ya, heheh..."
Elyra bersama Leon, Raisa, dan Raina berjalan santai menuju sebuah bazar di pusat kota daerah itu.
"Aku gak nyangka ternyata kamu orang komplek sana ya, udah lama?" tanya Elyra.
Leon menggelengkan kepalanya.
"Baru beberapa hari lalu," jawab Leon.
Kini mereka sampai di bazar dengan berbagai pernak-pernik unik, buku, dan juga baju murah yang terhampar di sepanjang jalan.
"Punya uang cash kan?" tanya Lyra berhati-hati pada Leon.
"Ada, jadi sebuah kebiasaan membawa cash sekarang."
Leon terkekeh. Elyra tertawa mendengarnya dan mulai mengikuti Raisa dan Raina berbelanja.
"Kak Lyra, aku pengen nyari jimat."
Raisa dengan wajah seriusnya meminta bantuan.
"Jimat apa?" tanya Elyra bingung.
Raina yang tampan sudah tahu apa yang diinginkan adiknya hanya dapat menepuk jidat.
"Jimat pengusir adik. Aku gak mau mamah sama papah punya anak lagi. Aku gak mau punya adik, dan aku juga gak suka kalau nanti kamarku ada yang menghancurkan," ucap Raisa kesal.
Elyra tertawa mendengar celotehan bocah itu.
"Hahah, siapa yang bilang jimat jenis itu ada di dunia, hem? Kak Lyra kasih tahu ya, jimat kayak gitu harus dicari setiap habis salat, bukan di sini. Benda itu gak akan mengubah nasib seseorang loh, tapi usaha dan doa yang bisa mengubah nasib. Emangnya susah banget ya kalau punya adik? Kan, coba saja dulu sebelum masa cemen."
Elyra jongkok di hadapan Raisa, menjelaskan dengan hati-hati namun dengan candaan yang membuat Raisa tak merasa bahwa ketakutannya itu bukanlah sesuatu yang buruk.
"Tapi nanti mamah sama papah sayangnya sama adik aja," kesal Raisa.
Elyra mencubit hidung Raisa dan menggenggam tangan bocah itu.
"Gak dong. Emang sayang bisa dibagi dan dibedakan jumlahnya? Enggak dong. Kalau sudah sayang berarti sayang, dan itu bukan jumlah yang bisa dibandingkan. Mamah sama papah Raisa itu gak akan membedakan sayang pada siapa pun, apalagi anaknya."
Raisa menunduk pasrah mendengarnya.
"Padahal aku ke sini mau cari itu," Raisa tampak kecewa.
Elyra menatap Leon dengan ekor matanya, dan alangkah terkejutnya Lyra saat mata berwarna biru itu tengah menatapnya dengan saksama, bahkan mendengarkan.
"Kamu sepertinya sudah siap ya jadi seorang ibu," ucap Leon.
Elyra tertawa dan kembali menggandeng tangan Raisa dan Raina.
"Siap saja, asal ekonominya sudah siap. Tapi ibu apa dulu nih? Kalau ibu kandung kayaknya masih belum mampu," kekeh Elyra dengan candaannya.
"Kak Lyra, pengen permen kapas, Yo!" ajak Raisa lagi.
Elyra mengangguk dan mereka berjalan menuju penjual permen kapas.
"Eh, Lyra," seorang wanita berusia sekitar 43 tahunan menyapa saat mereka bertemu di depan penjual permen kapas.
"Bu, assalamualaikum. Hei cantik, mau beli permen kapas juga ya?"
Elyra memberi salam dan mengecup punggung tangan wanita itu, kemudian menunduk dan menyapa bocah yang pergi bersama wanita tersebut dengan suara yang dibuat menyerupai anak kecil.
"Iya, Kak. Kakak sekarang sudah nikah ya? Kok cepat banget?"
Tanya bocah itu menatap Leon, lalu ke arah Raisa dan Raina.
"Nikah? Enggak kok. Ini Raisa, Raina, dan ini Leon. Mereka teman-teman kakak," ucap Elyra lagi.
Wanita yang merupakan guru Elyra di sekolah itu memperhatikan Leon dari ujung kaki hingga kepala.
Mata wanita itu menyipit saat melihat bagaimana Leon memperhatikan Elyra. Itu bukan tatapan yang biasa. Sebagai perempuan, dia tahu betul tatapan damba yang terlihat nyata di mata Leon pada Elyra.
🤣