Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Dua Dunia
Arya kembali ke rumah sakit dengan penampilan yang hancur. Kemejanya kusut, matanya merah dan bengkak, serta langkahnya tak lagi tegap. Ia mengabaikan tatapan iba dari para perawat saat ia melangkah masuk ke ruang isolasi ICU. Setelah melewati prosedur sterilisasi, ia akhirnya duduk di kursi kecil di samping tempat tidur Ria.
Suara mesin ventilator yang memompa udara ke paru-paru Ria terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur waktu. Arya meraih tangan Ria—tangan yang kini dipenuhi selang infus dan sensor medis. Ia menempelkan tangan dingin itu ke pipinya, membiarkan air matanya membasahi kulit istrinya.
"Ria... aku pulang," bisiknya lirih, suaranya parau karena terlalu banyak menangis. "Aku sudah membaca semuanya. Semua suratmu, buku harianmu... aku sudah tahu betapa jahatnya aku padamu. Aku menyesal, Ria, sungguh."
Arya menarik napas panjang yang terasa sesak. Ia mulai berbicara, menceritakan segala hal yang selama dua tahun ini ia kunci rapat. Ia menceritakan betapa ia sebenarnya mengagumi ketenangan Ria, selalu tersenyum melihat Ria dari jarak yang jauh, namun egonya yang tinggi membuatnya merasa harus tetap terlihat berkuasa dengan cara menindas. Arya tak ingin kelemahannya menjadi faktor ketidakpatuhan Ria.
"Aku selalu takut, Ria. Takut kalau aku menunjukkan sedikit saja kelembutan, aku akan terlihat lemah di depanmu. Ternyata, akulah yang paling lemah di sini. Kau yang menahan sakit sendirian, kau yang memaafkan tanpa diminta, kaulah yang paling kuat."
Arya mengecup setiap ujung jari Ria yang memar. Ia teringat bagaimana Ria bercerita tentang ayahnya yang kejam, tentang rasa lapar yang menghimpit, dan tentang es krim yang jatuh di lantai. Setiap ingatan itu kini menjadi cambuk bagi nurani Arya.
"Bangunlah, Ria... kumohon. Jangan biarkan memori terakhirmu tentang dunia ini adalah rasa sakit. Jangan biarkan orang terakhir yang kau lihat adalah suamimu yang kasar," ratapnya. "Aku ingin membawamu ke tempat yang tidak pernah ada tangisan. Aku ingin membelikan mu es krim setiap hari, ribuan es krim, sampai kau bosan. Aku ingin menjadi tempatmu pulang, bukan penjara tempatmu bersembunyi."
Tiba-tiba, layar monitor jantung di samping tempat tidur mengeluarkan bunyi yang tidak beraturan. Garis-garis hijau itu melonjak naik turun dengan liar. Tit... Tit-tit-tit...
"Ria? Ria, dengarkan aku! Ria aku mohon, jangan begini, Ria." Arya panik. Ia berdiri dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ria. "Jangan pergi! Kau dengar? Aku memerintahmu untuk tetap di sini! Tidak, jangan... jangan turuti perintahku yang ini. Aku memohon, Ria... kumohon tetaplah bernapas. Tetaplah berjuang untuk hidup, kau boleh membenciku, memakiku, asal jangan pergi, Ria, aku mohon."
Tim medis segera berhamburan masuk setelah mendengar alarm darurat. Arya ditarik paksa keluar dari ruangan oleh para perawat.
"Tuan, silakan tunggu di luar! Pasien mengalami gagal napas!" teriak seorang perawat.
Arya terdorong keluar, punggungnya menghantam kaca jendela ICU. Dari balik kaca itu, ia melihat dokter melakukan kompresi dada pada tubuh Ria yang rapuh. Setiap sentakan itu seolah-olah juga menghantam jantung Arya. Ia melihat tubuh istrinya yang kecil itu memantul di atas ranjang akibat tekanan tangan dokter.
"Ria... jangan... bertahanlah." Arya luruh ke lantai koridor. Ia menutupi telinganya, tak sanggup mendengar suara alat pacu jantung yang kini berbunyi panjang dan datar. Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii...
Seluruh dunia Arya mendadak menjadi putih. Di titik terendah ini, ia menyadari bahwa penyesalan terdalam bukanlah saat kita kehilangan seseorang, melainkan saat kita menyadari bahwa orang tersebut pergi tanpa pernah tahu betapa berharganya mereka bagi kita. Arya menyesali cintanya pergi sebelum ia mengetahuinya.
Suara melengking panjang dari monitor jantung itu terasa seperti pisau yang menyayat gendang telinga Arya. Tiiiiiiiiii... Garis di layar itu menjadi datar, sebuah garis horisontal yang menandakan bahwa kehidupan telah memutuskan untuk berhenti berjuang.
"Ria! RIA!" Arya menggedor kaca ICU dengan tinjunya, suaranya parah hingga tenggorokannya terasa berdarah. "Jangan tinggalkan aku! Belum sekarang! Belum!"
Di dalam sana, suasana begitu kacau namun teratur. Dokter Gunawan memberikan instruksi dengan suara cepat. Seorang perawat memberikan alat kejut jantung (defibrillator).
"Isi 200 joule! Clear!"
DUG! Tubuh Ria terangkat, namun garis itu tetap datar.
_Perjalanan di Padang Sunyi_
Di saat yang sama, di tempat yang tidak tersentuh oleh aroma antiseptik atau suara mesin, Ria merasa dirinya berdiri di sebuah padang rumput yang sangat luas dan disinari cahaya fajar yang lembut—fajar yang jauh lebih indah daripada yang ia lihat di bukit bersama Arya.
Nyeri di tulangnya hilang. Rasa sesak di dadanya menguap. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ria merasa ringan. Ia melihat sosok wanita cantik berpakaian putih yang menatapnya dengan senyum teduh dari kejauhan. Ibunya.
"Kemarilah, Ria... sudah cukup sakitnya, Nak," panggil suara itu, merdu seperti nyanyian yang selama ini ia rindukan dalam mimpinya.
Ria melangkah maju. Ia ingin berlari menuju kehangatan itu. Ia ingin meninggalkan semua memar di tangannya, semua makian ayahnya, dan semua pengabaian Arya. Di sini, tidak ada yang akan menyebutnya pembawa sial.
Namun, sebuah suara lain terdengar. Suara yang sangat jauh, teredam, namun penuh dengan keputusasaan yang amat sangat.
"...aku memohon, Ria... kumohon tetaplah bernapas."
Ria berhenti. Ia menoleh ke belakang. Di tengah kegelapan yang ia tinggalkan, ia melihat bayangan seorang pria yang bersimpuh di lantai, hancur berkeping-keping. Itu adalah Arya. Arya yang sedang menangisinya. Arya yang baru saja memberinya rasa manis es krim dan kecupan di kening.
Ria menatap ibunya, lalu menatap kembali ke arah kegelapan itu. Ibunya mengulurkan tangan, menawarkan kedamaian abadi. Namun, isakan Arya seolah menjadi tali yang mengikat pergelangan kakinya, memohon agar ia tidak pergi dengan membawa beban kesedihan pria itu.
"Ria, jika kau pulang bersamaku, kau tidak akan pernah sakit lagi, Nak," bisik sang Ibu.
Ria meneteskan air mata—air mata terakhirnya. "Tapi dia baru saja belajar mencintaiku, Ibu. Jika aku pergi sekarang, dia akan mati dalam penyesalan yang membunuhnya setiap hari."
"Apakah kau yakin itu adalah cinta, Nak?"
Ria terdiam, ia tak bisa menjawab pertanyaan Ibunya. Ria hanya mendengar jeritan pilu dari suara yang amat ia kenali. Ria sangat paham dengan rasa sakit yang bergulung di kegelapan itu, rasa sakit akan ketakutan kehilangan orang yang di cintai.
"Aku mencintainya, Bu." Ria tersenyum yakin.
......................
"Isi 300 joule! Sekali lagi! Clear!" teriak dr. Gunawan di ruang ICU.
DUG!
Di layar monitor, garis datar itu bergetar sedikit. Sebuah lonjakan kecil muncul. Tit... satu detakan lemah. Lalu sunyi lagi. Arya yang melihat itu dari balik kaca menahan napas, kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri.
Tit... tit...
Detakan itu kembali, meskipun lambat dan rapuh. dr. Gunawan menurunkan alat kejut jantungnya, napasnya tersengal. "Dia kembali... dia kembali, Arya."
Arya jatuh terduduk di lantai, seluruh kekuatannya menghilang. Ia menangis sejadi-jadinya, menutupi wajahnya dengan tangan yang gemetar. Ria kembali dari ambang maut, namun ia tahu ini bukan akhir dari perjuangan. Ria memilih untuk kembali ke tubuhnya yang hancur hanya untuk memberi Arya kesempatan menebus kesalahan—sebuah pengorbanan yang lebih besar daripada sekadar kematian.