Nadeo Gibran Erlangga berniat untuk melamar Arzela Kayzel Atharva, yang selama ini dia klaim sebagai jodohnya.
Namun Nadeo terpaksa harus mengubur impiannya itu demi membalas budi pada keluarga yang sudah merawat dan membesarkannya selama ini.
Nadeo harus menikah dengan Sabrina Eleazar menggantikan sang adik yang kabur di hari pernikahannya.
Arzela hancur dan patah hati, namun ia harus tetap mengikhlaskan cinta pertamanya itu menikahi Sabrina yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
Akankah Nadeo bertahan dengan pernikahannya setelah tahu kebenaran yang selama ini tersembunyi?
Ataukah justru takdir mempersatukan Nadeo dan Arzela kembali?
Sekuel Belenggu Cinta Pria Beristri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
"Saya terima nikah dan kawinnya Sabrina Eleazar Hartono binti Rako Hartono dengan mas kawin satu set perhiasan dibayar tunai!"
Sah
Sah
Sah
Nadeo tak kuasa menahan lelehan air matanya saat kata 'sah' menggema di ruangan itu. Bukan air mata bahagia layaknya pengantin pada umumnya yang akan menangis haru setelah kata akad. Namun, tangisan perih karena keterpaksaan. Tangisan yang memaksanya harus berpisah dengan kekasih yang selama ini menjadi pemilik hatinya.
Begitu juga Sabrina, wanita yang kini sah menjadi istri Nadeo itu meneteskan air matanya. Rasa bersalah dan kecewanya bercampur menjadi satu. Di satu sisi Sabrina sangat kecewa dengan Gentala yang menjadi penyebab kekacauan ini. Di sisi lainnya, ia merasa bersalah karena harus menikah dengan kekasih sahabatnya sendiri.
"𝘔𝘢𝘢𝘧!"
Satu kata yang terucap tanpa suara, saat tatapan Nadeo bertemu dengan mata coklat gadis pemilik hatinya.
Mata coklat itu tak lagi berbinar, tatapan itu penuh luka. Luka tak kasat mata yang menghancurkan hatinya berkeping-keping.
"Sekarang, pasangkan cincin ini di jari istrimu!"
Nadeo menoleh pada Harleya yang memberikannya sepasang cincin, dan memintanya untuk memasangkan cincin itu di jari manis wanita yang kini berstatus sebagai istrinya.
Nadeo mengambil cincin itu, lalu memasangkannya di jari manis Sabrina. Namun tatapannya tidak lepas dari gadis pemilik mata coklat yang kini menundukkan wajahnya.
Nadeo mengepalkan erat tangannya saat melihat mata itu meneteskan air mata. Bahkan bahunya sedikit terguncang karena menahan isak tangis.
"Deo, ayo pasangkan!"
Suara Harleya kembali mengintruksi membuat Nadeo dengan cepat memasangkan cincin itu. Nadeo kembali mengalihkan tatapannya, namun gadisnya sudah tidak lagi di tempatnya.
"𝘒𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢?"
Arzela diam-diam keluar dari ruangan itu, ruangan yang begitu menyesakkan hatinya. Gadis cantik itu tidak tahan melihat orang yang sangat dia cintai bersanding dengan wanita lain. Walaupun keduanya sama-sama terpaksa, namun tetap saja hatinya terasa sesak, hatinya hancur.
"Hiks ... hiks ... kenapa rasanya sesakit ini?" Arzela memukul dadanya berulang-ulang berharap rasa sesaknya itu akan hilang. "Aku harus apa sekarang, apa aku sanggup tanpa Kak Deo?"
Terbiasa bersama Nadeo membuat Arzela kehilangan separuh jiwanya, separuh dunianya. Arzela mungkin masih bisa berpijak, namun ia kehilangan pegangannya.
Masih jelas dalam ingatannya, sebelum akad nikah itu terjadi, Nadeo datang menemuinya. Pria itu meraung, memeluknya erat.
𝘍𝘭𝘢𝘴𝘩𝘣𝘢𝘤𝘬
"𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘪 𝘚𝘢𝘣𝘳𝘪𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘵. 𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘤𝘢𝘱, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘯𝘪."
𝘋𝘦𝘨
𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘌𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘮𝘶𝘬 𝘳𝘦𝘥𝘢𝘮. 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘪𝘢 𝘳𝘢𝘸𝘢𝘵, 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨, 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘵𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘌𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘵𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪.
𝘕𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰, 𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘯𝘺𝘢.
"𝘔𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘱𝘢, 𝘕𝘢𝘬?"
𝘚𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘌𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘵𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘐𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯.
"𝘈𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘢𝘬𝘵𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘯𝘪. 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪 𝘋𝘢𝘥𝘥𝘺 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘣𝘶𝘥𝘪."
𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘢𝘱𝘢𝘢𝘯 𝘔𝘰𝘮𝘮𝘺 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘏𝘢𝘳𝘭𝘦𝘺𝘢, 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘵𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘌𝘳𝘭𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢.
𝘋𝘦𝘨
"𝘋𝘦𝘰 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘔𝘰𝘮𝘮𝘺---"
"𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘸𝘢𝘵𝘬𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯. 𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘮𝘱𝘢𝘴 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘬𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪."
𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘏𝘢𝘳𝘭𝘦𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘰𝘱𝘢𝘯, 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘶𝘭𝘶𝘵 𝘏𝘢𝘳𝘭𝘦𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘩𝘪𝘯𝘢𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪 𝘋𝘢𝘥𝘥𝘺𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶.
𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘦𝘮𝘣𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘱𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵, 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘪𝘢 𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘬𝘢𝘯. 𝘋𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩-𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘨𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘶𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯.
𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘴𝘶𝘳𝘪 𝘬𝘰𝘳𝘪𝘥𝘰𝘳 𝘩𝘰𝘵𝘦𝘭, 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘫𝘢𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘴𝘪 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘴𝘵𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘴𝘵𝘶𝘪 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘱𝘪𝘴𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢.
𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘭𝘢𝘮𝘢. 𝘕𝘢𝘱𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭, 𝘣𝘢𝘩𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘵𝘢𝘳. 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘥𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬𝘯𝘺𝘢.
𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘭𝘢𝘮𝘢, 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢. "𝘡𝘦𝘭𝘢, 𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬. 𝘋𝘦𝘮𝘪 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 ... 𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶."
𝘜𝘤𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘶𝘭𝘶𝘴, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘦𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘯𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶. 𝘞𝘢𝘭𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘥𝘪𝘢𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘶𝘤𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢.
"𝘚𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯𝘱𝘶𝘯, 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘯𝘢𝘱𝘢𝘴, 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱."
𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘳𝘶𝘱 𝘢𝘳𝘰𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘯𝘺𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘦𝘨𝘶𝘯𝘥𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢. 𝘋𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢.
"𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘪 𝘚𝘢𝘣𝘳𝘪𝘯𝘢."
𝘋𝘦𝘨
𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢 𝘵𝘪𝘣𝘢-𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪. 𝘎𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘥𝘪𝘢𝘮 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳𝘯𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘭𝘦𝘭𝘦𝘩𝘢𝘯 𝘢𝘪𝘳 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘪𝘳 𝘥𝘦𝘳𝘢𝘴 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘤𝘦𝘨𝘢𝘩.
"𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯, 𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬! 𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪." 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶𝘱 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘱𝘶𝘴 𝘢𝘪𝘳 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘪𝘳 𝘥𝘪 𝘱𝘪𝘱𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘏𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘥𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘣𝘶𝘵𝘪𝘳 𝘢𝘪𝘳 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯.
𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢, 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢. 𝘕𝘢𝘥𝘦𝘰 𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢.
"𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘬𝘩𝘭𝘢𝘴 𝘒𝘢𝘬," 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘵𝘢𝘳, 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢.
𝘒𝘦𝘥𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴, 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘶𝘯𝘨, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘮𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢. 𝘋𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 ... 𝘪𝘬𝘩𝘭𝘢𝘴 𝘵𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘵𝘢.
𝘍𝘭𝘢𝘴𝘩𝘣𝘢𝘤𝘬 𝘰𝘧𝘧
Di taman tidak jauh dari hotel tempat akad nikah Nadeo dan Sabrina, Arzela meraung meluapkan rasa sesak yang bersarang di hatinya. Tidak mudah mengikhlaskan orang yang selama ini selalu berada di sampingnya menikah dengan wanita lain.
Tangisan Arzela perlahan berhenti saat merasakan usapan halus di surainya.
"Om ..." Elang berdiri tepat di belakang Arzela. Pria paruh baya itu tersenyum getir menatapnya.
"Maafkan Om, Zela. Ini semua salah Om."
Elang melihat Arzela saat keluar dari hotel, pria paruh baya itu diam-diam mengikutinya, karena tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada keponakannya itu.
Dan benar saja, Elang melihat Arzela menangis. Keponakannya yang selalu ceria itu, meneteskan air matanya.
Elang benar-benar merasa bersalah, ia juga malu pada dirinya sendiri. Hanya demi menjaga nama baik keluarga, ia harus mengorbankan cinta Nadeo dan Arzela.
...----------------...
"Mulai sekarang, aku bukan lagi bagian dari keluarga ini."
Nadeo meletakkan id card dokter-nya di atas meja, yang artinya Nadeo juga melepaskan pekerjaannya sebagai dokter di rumah sakit milik Elang. Ia benar-benar ingin terbebas dari keluarga Erlangga, dari hal sekecil apa pun.
"Nadeo, tunggu! Kamu tidak harus melakukan hal ini. Kamu tetap direktur di Erlangga Hospital."
Ucapan Elang berhasil menghentikan langkah Nadeo yang hendak keluar dari rumah keluarga Erlangga.
Nadeo menggelengkan kepalanya, bukan ia tidak menghargai orang yang selama ini merawatnya, hanya saja Nadeo benar-benar ingin terlepas dari keluarga itu.
"Maaf Dad, aku tidak bisa menerimanya. Aku takut tidak bisa membalas budi pada kalian."
Deg
"Selamat Harleya. Kamu berhasil menghancurkan hati banyak orang," gumam Elang sambil menatap nanar punggung putranya yang semakin menghilang.
"Mas, aku---"
"Sebegitu penting kah nama baik untukmu? Sampai-sampai Kamu harus mengorbankan hati yang tak bersalah."
𝘛𝘰 𝘣𝘦 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘪𝘯𝘶𝘦𝘥
gtu jwbnya kl kthuan sm istrinya....🤮🤮🤮.....
jgn cm omong doang y deo...km msti bnrn ngsih pljrn sm tu nnek shir....
thoooorrrr....lo bs yg rekan klakuan duo iblis mnjijikkan viralkan videox biar seruuuuu
krna jalang spertix tu su g py malu jd klakuan" bejadx hrs d viralkan, biar d hujat byk nitizen
bc d bab ni z lgsg muntah 🤮🤮🤮
sngat....sngaaàaatttt mnjijikkan
bner" jalaaaaangggg😠😠😠