Pertemuan di suatu peristiwa yang cukup menegangkan. membuat sang pria yang ditolong jatuh hati pada penolongnya.
Aland Rey Dewantara menklaim bahwa Sera Swan adalab miliknya.
Hai.. readers..
Karya pertama ku dan pengalaman pertamaku..
Semoga suka ya. mau tes duku nih ombaknya.. hehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunavery, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 1 : Skorsing
Di sebuah gudang tua terdengar beberapa kali suara tembakan. Terlihat beberapa orang berbaju hitam sedang mencoba adu tembak dengan geng preman yang sudah menjadi target lama penangkapan di daerah itu.
Kegiatan yang bukan hanya meresahkan warga sekitar tetapi juga membuat dampak ekonomi daerah tersebut menurun. Sekelompok berbaju hitam itu adalah kopassus yang ditugaskan untuk menangkap geng tersebut.
Terlihat seseorang memakai masker dan topi mengejar pria yang diyakini ketua geng tersebut. Orang itu tanpa takut maju dan mendekati pria tua itu dengan sangat yakin.
“Berhenti disana atau kutembak.!”
Pria itu terus berlari dan berbelok untuk ke salah satu lorong.
“Athena mengejar Kepala..!” lapor orang tersebut dan mengongkang senjata.
“Jangan sendiri! Tunggu Zeus kesana..” jawaban dari earpiece yang mereka pakai.
Duukk Duukk
Athena yang melihat sang kepala akan kabur langsung menyergap sendirian tanpa memperdulikan pesan dari teman kelompoknya.
“Angkat tanganmu Roy! Atau kupecahkan kepala mu disini..” ucap Athena.
Pria yang dipanggil Roy itu melepaskan kayu yang digunakannya untuk membuka pintu dan mengangkat tangannya.
“Okay.. aku menyerah”. Ucap Roy berbalik dan melihat Athena sedang menodongkan senjata kearahnya.
Athena mendekat dan segera mengambil borgol untuk menangkap Roy.
“Athena turun bersama Kepala” Lapornya lagi melalui earpiece miliknya.
Athena mendorong Roy untuk segera cepat turun dari tangga. Sambil dirinya berhati hati.
Namun tanpa Athena sadari dari balik pintu sebelah tangga seseorang memukul kepalanya dengan keras menggunakan balok kayu dan membuat Athena tergeletak bergulung dengan sisa anak tangga lalu tak sadarkan diri.
“Athena..posisi sekarang!” ucap Zeus.
Orang yang tak lain adalah salah satu yang memakai baju yang sama dengan Athena membuka borgol Roy.
“Pergilah! Dan hutangku padamu selesai! Jika lain kali aku melihatmu lagi, tidak segan aku menangkapmu!”. Ucapnya.
Roy tersenyum bangga. “Sebaiknya kau bergabung dengan geng ku dan akan kutempatkan kau sebagai tangan kananku.. Dobby.. atau bisa kupanggil dengan Ares”.
“Pergilah brengxxk!!!” ucapnya geram dan melihat Roy berlari dan melompat melalui jendela belakang gedung.
Orang itu menekan sedikit tombol ditelinganya dan menjawab untuk Athena. “Di lantai 2 dekat tangga, Athena terluka”.
“Ares bawa Athena segera ke mobil. Kita mundur karena Roy terlihat kabur dari lantai atas.”
“Baik”
Percakapan tersebut berakhir dan sebelum mengangkat tubuh Athena. Pria yang dipanggil Ares tersebut mengeluarkan pisau dan sedikit menyayat lengannya.
Tanpa disadarinya Athena sadar dengan sangat lemah lalu melihat Ares menyayat lengannya sendiri dan membantunya bangun sebelum kesadarannya kembali hilang.
****
Biippp biipp..
Bunyi dari alat pendeteksi jantung terdengar nyaring di ruangan serba putih itu. Di atas kasur Athena terbaring dengan balutan perban dikepala.
Pria itu menggenggam tangan Athena dengan cemas setelah tahu bahwa rekannya tetap maju menghadapi musuhnya sendirian.
Sang Athena perlahan membuka matanya dan melihat dengan samar sekitarnya. Dan tatapannya teralih ke samping kepada pria yang terlihat raut wajahnya khawatir.
“Sean.. apa yang terjadi?” tanya Athena.
“Kamu mengalami gegar otak ringan akibat pukulan dibagian kepala.. untung hanya itu, aku sangat khawatir saat Dobby mengabarkan kamu tidak sadarkan diri. Sebentar aku panggilkan dokternya.”
Sean masuk bersma dokter dan segera memeriksa keadaan Athena.
“Ibu Sera sudah melewati masa kritisnya dan observasi lanjutan akan dilaksanakan seminggu ini untuk melihat apakah tidak ada yang fatal lebih dari ini. Saya permisi.!” Ucap dokter itu.
Sera nama asli dari Athena tersenyum samar dan menatap lurus ke depan. Mencoba mengingat hal terakhir saat dirinya tak sadarkan diri.
“Kenapa aku tidak bisa mengingat kejadian itu?” tanyanya pada Sean.
Sean mengambil dan memberikannya pada Sera. “Amnesia jangka pendek. Kamu mengalami shock dan ingatannya akan kembali nanti. Jadi benar kamu tidak mengingat apa yang terjadi terakhir kali.” Sera menggeleng lemah.
“Baiklah. Aku bertanggung jawab penuh atas anggota ku.”
“Maksud kamu?”
“Ini bukan salahmu Sera. Kita kehilangan Roy kemarin dan Jenderal sangat marah karena kamu dianggap terlalu gegabah saat itu.”
“Ah.. aku merasa pusing.!”
“Baiklah baiklah . Aku tidak akan memaksamu dan kamu jangan memaksakan diri untuk mengingat kejadian itu.”
“Tapi aku harus bisa menjelaskan kepada Jenderal, atau aku akan selesai.” Ucap Sera.
Sera mengalami amnesia hanya pada saat peristiwa terakhir yang membuatnya tak sadarkan diri namun Sera tak lupa bahwa 6 bulan terakhir ini dia selalu melakukan hal ceroboh dan kemarin adalah kesempatan terakhirnya untuk menunjukkan performa terbaiknya namun Sera menggagalkan misi mereka.
“Aku akan membantumu berbicara dengan Jenderal.”
“Tidak perlu Sean. Aku tidak ingin kamu juga menerima konsekuensinya.”
*****
1 Minggu Kemudian
Sera sudah berada di mobil. Sean-lah yang menemaninya di rumah sakit selama 1 minggu ini. Karena selama masa tugas seorang prajurit dilarang keras untuk memberikan kabar pada keluarga. Dan Sera pun tak ingin Ibunya cemas.
Tujuan mereka menemui Jenderal. Sera sudah sangat yakin akan konsekuensi yang akan diterimanya. Selama di rumah sakit Sera berusaha mengingat kejadian itu namun kepala terus berdenyut dan akhirnya menyerah hingga ingatan itu kembali dengan sendirinya.
“Saya sudah mendengar dari Sean. Bahwa kamu melakukannya dan menghadapi Roy sendirian! Dan saat ini kamu tahu apa yang terjadi?"
Sang jenderal duduk dengan menatap Sera mengintimidasi. Seharusnya misi yang mereka jalani hari itu berjalan dengan baik. Sera seharusnya tidak ikut dalam misi tersebut, namun Sean meyakinkan bahwa Sera akan membantu dan hasilnya gagal.
“Siap saya tahu!” ucap Sera dengan tegas dan hormat.
“Kamu saya skorsing dan tidak boleh memasuki daerah militer. kamu dibebas tugaskan selama 1 tahun. Silahkan pergi!” Tegas sang Jenderal bernama Benny.
“Siap terima kasih” ucap Sera lalu berbalik berjalan keluar.
Sudah ada Sean dan beberapa teman kelompoknya menunggu hasil dari keputusan sang Jenderal.
“Skorsing Ser?” Tanya gadis disamping Sean.
“Setahun guys”. Jawabnya lemah
“GILAAA! Lama banget. Lo dikeluarin apa gimana tuh.” Sambung Jay
Sera mengangkat bahu dan mulai mencopot atribut prajuritnya dan menyerahkannya pada Sean. Lalu Sera berjalan mendekati Dobby yang melihatnya dengan ekspresi sulit diartikan.
“Apa lo gak lihat apa yang terjadi saat nemuin gue kemarin Dob?” tanya Sera.
Dobby yang hanya diam dan mendengarkan menggeleng lemah, “Gue naik ke atas saat denger lo lagi sama Roy dan pas gue sampe, lo udah tergeletak berdarah di lantai dan Roy kabur ke arah jendela belakang.” Jawabnya.
Sera merasa ada yang janggal namun ingatannya belum kembali dan hanya pasrah dengan keadaannya sekarang.
“Thanks Sean udah anterin aku. Jangan kangen sama aku yah. Kabarin aja kalo mau main .. hehehe” ucap Sera melepas seatbeltnya.
“Tentu Athena. Aku bakal kangen. Aku akan ajak anak anak main kapan kapan kerumah kamu. Get Well Soon Dear”.
Sean sangat perduli terhadap Sera. Mereka adalah rekan 1 angkatan dan Sean sangat menyayangi Sera layaknya saudara. Karena Sera sangat mirip dengan adiknya yang sama sama bercita cita ingin menjadi Tentara namun Tuhan berkehendak lain, adik Sean meninggal akibat kecelakaan.
*****
Sera bangun setelah semalaman tidur begitu pulas dan jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Perutnya meronta meminta makanan. Setelah dinyatakan sembuh dan kenyataan bahwa dia harus di skors membuat Sera mendadak bingung apa yang harus dilakukannya selama setahun kedepan.
Suara kata sandi yang di tekan memberitahukan bahwa ada seseorang yang datang. Itu ibunya, Nadin. Seanlah pasti yang memberi tahu Nadin hal ini.
“How are you dear?” tanya Nadin sambil meletakkan banyak paper bag ke atas meja dapur.
“Aku gak papa ma. Semua sudah di tes dan hasilnya aku aman dan tidak ada luka apapun lagi.”
“Kenapa gak pulang ke rumah?” nadin memeluk anak satu satunya itu sambil mengelus rambutnya.
Sera melepas pelukannya dan mencium tangan Nadin, “Aku lebih nyaman disini ma. Lagian tanpa aku beritahu pun mama bisa tahu aku sudah di apartemen”.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan setahun ke depan? Apa mereka hanya alibi saja menskors kamu . Apa kamu dipecat?” Nadin berujar sambil mengambil botol kaca berisi susu segar alami yang selalu diberikannya kepada Sera saat berkunjung.
Sera menerimanya dan meminum susu tersebut hingga tak bersisa. “Entahlah! Mungkin aku ingin menghabiskan uang mama dan menikmati hidup layaknya warga sipil. Hhaa” jawabnya.
“Kunjungi ayahmu. Bukankah kalian sudah 3 tahun tak bertemu?”
“Masuk ke dalam list rencanaku ma” ujarnya lalu berlalu menuju kamar.
“Mama akan menginap semalam disini. Ada pertemuan di hotel dekat sini dan mama sekalian mau mengajak kamu kesana ya.”
Sera menarik nafas. “Oh come on ma... its my first day”
“Mama mau keluar dulu. Sore mama pulang kamu sudah harus siap. Istirahatlah sayang” Nadin keluar dengan cepat sebelum mendapat amukan dari Sera yang sangat enggan namun inilah waktu yang bisa diberikannya kepada Nadin.
****
Sera berjalan berdampingan dengan mamanya. Sudah sangat lama dirinya tak pernah hadir dalam pesta. Karena terakhir kali dirinya menghadiri pesta semua menjadi hal yang mengerikan. Sera hampir kehilangan sang ayah dalam acara tersebut.
“Kamu boleh berkeliling sebentar atau duduk disana dulu ya, Mama mau menemui rekan kerja mama disana sebentar dan akan mengenalkannya kepada kamu nanti.”
Sera yang menggunakan gaun dengan tali segaris itu cukup risih karena sebagian belahan dadanya terlihat dan Sera tahu banyak yang mencuri pandang ke arahnya dengan tatapan kurang ajar.
Salahkan sang mama yang memberikan ukuran baju lebih kecil dari yang seharusnya. Sera yang terbiasa menggunakan setelan jeans dan kaos terasa cukup sesak menggunakan gaun tersebut.
Kerongkongannya sangat haus dan menghampiri stand minuman. Dilihatnya sebuah cairan putih dengan gelas menyerupai segitiga terbalik lengkap dengan lemon dipinggirannya. Sera tau itu adalah minuman beralkohol. Rasa penasarannya ingin mencoba sedikit dan saat akan meminumnya seseorang mengambil gelas itu.
“Bukankah seorang prajurit dilarang untuk meminum alkohol.” Ucapnya berbisik sambil tersenyum kearah Sera.
Sera menatap pria itu dan membalas dengan berbisik juga, “Tidak akan ada yang tahu kalau lo gak bocorin ke markas” jawab Sera.
Pria itu tertawa pelan menatap Sera dengan tatapan mengagumi. “Setahun bukanlah waktu yang sebentar loh Ra. Jadi ibu persit aja yuk banyak juga kegiatannya.”
Sera tertawa mendengar ucapan pria itu, “Gak enak Mas jadi ibu persit. Mainnya voli mulu.” Candanya.
Pria itu menanggapinya dengan tersenyum, “Apa lo udah beneran baik baik aja, Ra?”
“Gue baik kok Mas, Gimana Mas Raga sendiri? Kok bisa ada disini? Setahu gue ini acara untuk pengusaha aja ya..?”
“Besok ballroomnya ini mau dipake sama kesatuan jadi yah gue ngecek tempat dulu Ra. Beruntung banget gue ketemu lo. Kenapa telfon gue gak dijawab?”
Yah, Raga mendapat kabar dari Jay, sepupunya kalo Sera mengalami kejadian yang buruk dan mengakibatkannya di skors. Saat itu juga Raga mencoba menghubungi Sera namun panggilan dan pesannya tak ada satupun dibalas.
“Gue sumpel juga tuh si Jay lama lama. Apalah pake lapor segala sama lo.”
“Gak papa lah Ra, gue juga khawatir sama lo..”
Sera tahu bahwa Raga memiliki perasaan padanya namun bagi Sera, Raga hanyalah temannya dan tidak lebih dari itu.
Dari arah kejauhan tepatnya di salah satu meja seorang Pria tersenyum bahagia melihat ke arah Sera. Pria itu meneguk habis minuman yang dipegangnya
“Kamar Suite 550.” Gumamnya.
seharusnya,
"Berhenti disana atau kami tembak?"
kamu harus tau arti sinopsis dan prolog. dan itu pengenalan tokoh lebih baik dibedakan bab lainnya, biar enggak campur begini.