Seno adalah seorang anak petani yang berkuliah di Kota. Ketika sudah di semester akhir, ia menerima kabar buruk. Kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan bus.
Sebagai satu-satunya laki-laki di keluarganya, Seno lebih memilih menghentikan pendidikannya untuk mencari nafkah. Ia masih memiliki dua orang adik yang bersekolah dan membutuhkan biaya banyak.
Karena dirinya tidak memiliki ijasah, Seno tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi. Mengandalkan ijasah SMA-nya pun tidak jauh berbeda. Maka dari itu, Seno lebih memilih mengelola lahan yang ditinggalkan mendiang kedua orang tuanya.
Ketika Seno mulai menggarap ladang mereka, sebuah kejutan menantinya.
----
“Apa ini satu buah wortel dihargai tujuh puluh ribu.” Ucap seorang warganet.
“Mahal sekali, melon saja harga lima puluh ribu per gramnya. Ini bukan niat jualan namanya tapi merampok.” Ucap warganet yang lainnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyoka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PH 2 Stamina +2
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Seno langsung melaksanakan misinya itu. Jika dirinya menunggu terlalu lama, maka waktunya akan habis ia pakai untuk bengong. Oleh karena itu, Seno buru-buru menyelesaikan misi dari sistem ini.
Seno menhabiskan empat puluh menit waktunya untuk mencabuti semua tanaman dan rerumputan yang ada di kebunnya. Ia memasukkan semua itu kedalam kantong sampah dan menaruhnya di luar area kebun.
Seno tidak mau nantinya sistem menganggap Seno belum menyelesaikan pekerjaannya karena masih ada tumpukan kantong sampah di kebunnya. Setelah kebunnya bersih dari sampah dan tanaman mati, Seno kemudian menggemburkan tanah yang ada di sana.
Meski sekarang pun tanah dikebunnya masih gembur, tetapi untuk bisa ditanami tanaman baru, Seno masih perlu melakukannya lagi. Juga, sistem belum memberinya pemberitahuan mengenai terselesaikannya misinya. Jadi ia harus melakukan semuanya.
Seno berusaha meneyelesaikan semua itu secepat mungkin. Waktunya semakin lama semakin berkurang. Stamina dari Seno tidaklah terlalu tinggi. Ia bukan tipe orang yang suka olahraga. Yang ia tahu adalah bagaimana caranya belajar untuk bisa mendapatkan nilai bagus.
Orang tuanya memang melarang mereka membantu di kebun. Menurut mereka, ini adalah pekerjaan mereka, tanggung jawab mereka. Sementara itu, tanggung jawab Seno dan adik-adiknya hanyalah belajar untuk mencari sebanyak-banyaknya ilmu.
Jadi, meski pernah membantu orang tuanya dikebun, Seno hanya akan membantu sebisanya. Jika lelah ia akan berhenti dan pekerjaannya itu akan dilanjut oleh petani yang bekerja dikebun orang tuanya.
Jadi, pekerjaan fisik seperti ini sangat menguras stamina Seno. Meski begitu, Seno harus bisa menyelesaikan misi ini tepat waktu. Jika ia gagal, maka poin tanam yang sebelumnya sudah ia dapatkan dari kotak petani pemula akan habis.
Pada akhirnya, usaha tidak menghianati hasil. Seno berhasil menyelesaikan misinya lima menit sebelum waktunya habis. Setelah mendapatkan pemberitahuan dari sistem tentang hal itu, Seno langsung membaringkan tubuhnya.
[Ding]
[Selamat Host telah menjalankan misi pembersihan kebun]
[Selamat Host mendapatkan +2 stamina]
Seno merasakan tubuhnya menghangat. Mungkin ini karena tubuhnya menerima tambahan stamina dari sistem. Tidak lama setelah itu, Seno merasakan sedikit rasa leleahnya berkurang.
“Ini benar-benar melelahkan. Pantas saja sistem memberiku hadiah stamina. Itu karena staminaku sangatlah buruk. Untuk mengelola kebun ini dengan baik, aku memang perlu memiliki kekuatan dan stamina yang bagus.” Gumam Seno.
Sekarang karena ia sudah tidak diburu waktu, Seno memiliki kesempatan untuk mengecek panel sistem miliknya.
“Panel Sistem”
[Host : Seno Eko Mulyadi (23)]
[Kekuatan : 7 (Manusia Dewasa : 10)]
[Stamina : 5 +2 (Manusia Dewasa : 10)]
[Luas lahan : 800m2]
[Level kebun : 0 (0/100)]
[Poin tanam : 500]
[Penyimpanan Sistem : 10 slot (2/10)]
[Misi : - ]
[Toko sistem : terkunci]
“Pantas saja aku memiliki aku sangat cepat lelah. Itu semua karena stamina yang aku miliki hanya lima sebelum ini. Ternyata stamina dan kekuatan yang aku miliki masih jauh dari manusia dewasa pada umumnya.”
Seno sedikit malu mengetahui hal itu. Hal ini karena jurusan Seno yang membuatnya lebih sering berada di depan komputer. Jadi, ia jarang melakukan aktifitas fisik yang bisa menambah kekuatan dan staminanya.
Seno pun duduk dari posisi berbaringnya. “Sistem, bagaimana caranya agar aku bisa membuka toko sistem?”
[Jika kebun milik Host sudah mencapai level 1 maka Host toko sistem akan otomatis terbuka]
[Host dapat menaikkan EXP dan mengumpulkan poin tanam dengan memanen banyak tanaman]
Mendengar penjelasan sistem tersebut, Seno sedikit banyak memahami apa yang harus dilakukannya. Ia perlu menanam bisa panen dan mendapatkan EXP serta poin tanam. Dari namanya Seno bisa menebak bahwa poin tanam dipergunakan untuk membeli barang yang ada di toko sistem.
Seno pensaran ingin mencoba menanam di kebunnya yang sudah tertaut dengan sistem. Tetapi, dirinya tidak memiliki benih tanaman sekarang. Tunggu dulu, bukankah sebelum ini sistem sudah memberikannya hadiah benih wortel dari hadiah kotak petani pemula?
Seno akan memakai benih itu sekarang. Ia hanya mendapatkan sepuluh butir benih wortel. Tetapi ia tidak mempermasalahkan hal itu. Wortel bisa ditanam langsung tanpa penyemaian terlebih dahulu.
Jadi, untuk sekarang Seno bisa menanam sepuluh butir wortel ini terlebih dahulu. Setelah itu, Seno akan pergi ke kota untuk membeli beberapa benih sayuran lainnya. Besok barulah ia akan menyemai benih yang ia beli dan nanti di tanam di kebunnya yang ini.
Tanpa menunggu lama lagi, Seno mengembalikan terpal yang sebelumnya ia ambil. Sekarang ia mengambil seember air untuk nanti dipergunakan menyiram wortel yang ia tanam.
Langsung saja Seno memilih petak lahan yang terdekat dengannya. Ia menggali lubang kecil dengan ujung jarinya sedalam dua centi meter. Kemudian Seno memasukkan benih wortel yang ia dapatkan dari sistem.
Seno ingat, selain benih wortel, dirinya juga mendapatkan sepuluh kantong pupuk dari sistem. Nama yang diberikan oleh sistem terhadap barang yang diberikan cukup aneh menurut Seno. Bukan pupuk biasa dan wortel penuh vitamin A. Dari namanya saja, Seno yakin dua barang tersebut cukup spesial.
Ketika mengambil bukan pupuk biasa dari penyimpanan sistem, Seno cukup kaget. Pasalnya, pupuk tersebut dibungkus dengan kemasan tidak lebih besar dari kemasan makanan ringan yang disukai anak-anak.
Jika Seno memperkirakan, beratnya kurang dari seratus gram. Mungkin pupuk ini memang pupuk yang spesial. Langsung saja Seno menuangkan semua isi dari bukan pupuk biasa itu untuk menutupi lubang yang ia buat sebelumnya.
Kemudian, ia menutupi tipis pupuk tersebut dengan tanah. Tidak lupa Seno memberikan air secara hati-hati ke benih wortel yang baru saja ia tanam. Jika ia tidak hati-hati, bisa jadi benih wortel yang baru saja ia tanam akan terbawa oleh air yang ia siramkan.
Seno kemudian mengulangi hal itu pada sembilan benih wortel dan sembilan kantong bukan pupuk biasa. Laki-laki itu tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan kegiatan tersebut.
“Semuanya sudah selesai. Sekarang saatnya aku membeli benih sayuran ke kota. Aku harap tokonya masih buka ketika aku sampai di sana nanti.” Gumam Seno.
Ketika Seno baru berdiri dari posisi jongkoknya, sebuah pemberitahuan dari sistem terdengar di telinganya.
[Ding]
[Sistem mendeteksi bahwa Host telah melakukan penanaman benih khusus]
[Host sebagai calon petani terhebat, harus memiliki target untuk dicapai]
[Ding]
[Misi telah dibuat]
[Host panen 50 buah wortel dengan penuh vitamin A]
[Waktu : 5 hari]
[Hadiah : +100 benih Wortel dengan penuh vitamin A]
[Hukuman : - 25000 poin tanam]
[Host lakukan semua misi dengan sungguh-sungguh agar bisa segera menjadi petani terhebat di dunia ini]
“Misi baru lagi? Panen lima ratus wortel dalam lima hari? Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya? Masa taman dari wortel sendiri saja lebih dari dua bulan."
"Jadi bagaimana bisa semua selesai dalam waktu lima hari? Sekarang saja aku tidak memiliki benih sebanyak itu.”
[Bersabarlah Host dan capai level satu untuk bisa membeli benih di toko sistem]
[Jangan menyerah Host masih ada kejutan utntuk Host agar bisa menyelesaikan misi ini]
“Hah.” Seno menarik nafas panjang. “Baiklah jika memang begitu. Sekarang aku perlu membersihkan diri dan segera pergi ke kota. Aku harus segera mencapai level satu agar bisa menyelesaikan misi ini”
Seno membutuhkan waktu satu jam untuk bisa sampai di kota. Itu karena rumahnya terletak cukup jauh dari kota. Itu saja laki-laki itu tempuh dengan memacu motornya dengan kecepatan maksimal yang bisa ditempuh.
Beruntung toko yang menjual benih sayuran belum tutup. Jadi Seno bisa membeli beberapa benih sayuran berbagai jenis. Ia membeli wortel terbaik yang ada di sana, sebagai pembanding wortel yang diberikan oleh sistem padanya.
Selain itu, Seno membeli timun, terong, bayam dan beberapa jenis selada. Untuk sekarang Seno rasa itu saja sudah cukup. Lahan di kebun yang ada di belakang rumahnya tidak terlalu luas. Jadi ia tidak akan membeli terlalu banyak benih sayuran.
Mungkin nanti ketika dirinya mulai mengelola kebun sayur peninggalan orang tuanya di tempat lain, baru Seno akan membeli banyak sayuran. Tetapi, kebun itu sudah dikelola oleh pekerja mendiang orang tuanya.
Jadi, sudah pasti keadaan kebun di sana baik-baik saja tidak seperti kebun yang ada di belakang rumah mereka. Mungkin setelah Seno sudah memenuhi semua petak lahan di kebun belakang rumahnya dengan sayuran, barulah dirinya akan mengecek kebun peninggalan orang tuanya yang lainnya.
“Seno.”
Ketika Seno keluar dari toko benih tanaman, ia mendengar seseorang memanggil namanya. Hal itu membuat laki-laki itu menghentikan langkahnya. Ia kemudian mengedarkan pandangannya mencari tahu siapa yang sudah memanggil namanya itu.
Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Seno melihat sosok perempuan memakai dres selutut berwarna tosca. Rambut perempuan itu diikat tinggi sehingga menunjukkan leher jenjangnya. Sebuah senyum simpul terlihat menghiasi wajahnya.
Seno sendiri tidak menyangka bisa bertemu dengan sosok perempuan itu di sini. Teman masa sekolahnya yang sudah lama tidak Seno lihat. Dia adalah teman sekolah Seno sejak di bangku SMP.
Entah kenapa mereka selalu satu kelas dari SMP hingga SMA. Sayangnya keduanya menempuh pendidikan lanjutan di kota yang berbeda. Hal itu membuat lama kelamaan interaksi diantara keduanya berkurang.
Terakhir kali mereka bertemu adalah satu tahun setelah mereka lulus SMA. Setelah itu ia kehilangan kabar dari temannya ini. Seno cukup senang bisa bertemu dengan temannya ini.