windu pamungkas adalah seorang pria yang menanggung kutukan akibat kesalahan leluhur nya.
dalam perjalan nya, dia akan menghadapi beberapa tokoh hebat di dunia persilatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopugho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Klabang Geni
Tanpa berkata apa-apa windu pamungkas melangkah tenang menghampiri kudanya. Dan dia terdiam sejenak. sambil memandang mayat yang banyak berserakan di tempat ini. Lalu, kepalanya berpaling pada kotak yang berada dalam genggamannya.
"Biarlah akan kukembalikan kotak ini ke kerajaan. Mungkin besar artinya bagi mereka. Kalau tidak salah, pastilah ini lambang kerajaan itu. Kalau hilang, berarti hilang pula kepercayaan rakyat terhadap junjungannya, "gumam windu pelan.
Tanpa sepengetahuan windu, diam-diam ada sepasang mata mengawasi tindakannya. Dan sebelum Windu menghampiri kudanya, orang yang mengawasi itu berkelebat cepat meninggalkan tempatnya.
***
Seorang pemuda gagah memakai ikat kepala kuning dan berbaju ungu tengah menunggang kudanya memasuki sebuah desa. Di punggungnya tersandang sebilah pedang berhulu kepala tengkorak. Ketika melewati persimpangan jalan, dia menoleh ke kiri dan kanan. Dan ketika merasa yakin kalau keadaan di sekelilingnya aman, kudanya dibelokkan ke kiri dan terus dipacu kencang. Lalu, kudanya dihentikan di dekat sebuah pondok kecil, persis di bawah sebatang pohon beringin besar.
"Buka pintu..," ujar pemuda berbaju ungu itu pelan.
"Siapa di luar?" tanya sebuah suara dari dalam.
"Anak Dewa!"
Kireeet! Sebentar kemudian pintu berderak pelan ketika terkuak. Dari dalam, menyembul sebuah kepala botak dengan kumis tebal. Dipandangnya sekilas ke arah pemuda berbaju ungu itu. Lalu kepalanya menganggguk kecil.
“Berita apa yang kau bawa "Tanya si Botak.
"Itu bukan urusanmu! Katakan, kalau aku membawa berita yang diinginkan Gusti Ayu!" sahut pemuda itu tegas.
"Hm..."
Si Botak mendengus dingin. Wajahnya tampak tidak senang. Dan matanya melotot garang.
"Masuk dan tunggu di sini! Akan kukabarkan pada Gusti Ayu apakah kau boleh menemuinya atau tidak. Kalau kau berdusta, maka lehermu akan copot dari tempatnya!" ancam si Botak, begitu pemuda itu masuk ke dalam. Lalu ditutupnya pintu gubuk ini.
Pemuda itu melirik sekilas. Pondok ini memiliki dua ruangan yang disekat bilik bambu. Dan dihubungkan oleh sebuah pintu kecil. Sementara, si Botak telah menghilang ke dalam ruangan yang satu lagi. Pemuda itu menungggu beberapa saat. Dan tak lama kemudian, si Botak kembali.
"Syukur, Gusti Ayu menyuruhmu masuk!" ujar si Botak, nampak kesal. Lalu dikeluarkannya sehelai kain hitam. "Tapi, matamu harus ditutup. Tidak seorang pun diperkenankan mengetahui tempat ini!"
Si Botak segera menutup mata pemuda itu, dan menuntunnya ke dalam. Pemuda berbaju ungu itu diam saja. Dia tidak mampu melihat, apa yang menyebabkan tiba-tiba saja terdapat ruangan yang terus menjurus ke bawah. Beberapa belas anak tangga dituruninya, sebelum mereka tiba di ruangan lain. Lalu, perasaannya mengatakan kalau tengah melalui sebuah lorong yang sempit dan berliku. Beberapa kali tubuhnya membentur dinding tanah yang agak dingin. Lalu ketika menghirup udara segar, dia merasa yakin kalau saat ini berada di tempat terbuka.
Si Botak terus mengajaknya ke satu bangunan yang memiliki beberapa buah undakan anak tangga. Telinganya mendengar beberapa percakapan yang menandakan kalau di tempat ini terdapat banyak orang. Lalu, tiba-tiba saja terdengar si Botak berseru hormat.
"Gusti Ayu, hamba membawa pemuda ini...."
"Buka matanya!"
"Baik, Gusti Ayu!"
Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian memandang ke sekeliling. Yang pertama dilihat adalah seorang wanita setengah baya berwajah cantik. Pakaiannya mewah, lengkap dengan perhiasan yang bernilai amat tinggi. Dan duduk pada sebuah kursi besar yang agak lebar. Di kanan-kirinya berdiri tegak dua orang laki-laki bertubuh tegap yang masing-masing bersenjata sebilah pedang. Lalu, terlihat berkumpul beberapa orang tokoh silat bersenjata lengkap. Dia menghitung dalam hati. Dan ternyata semuanya berjumlah sepuluh orang. Pemuda itu tersenyum seraya menjura hormat.
"Gusti Ayu... Terimalah hormat hamba, Anak Dewa putra Ki Tunggul Bayu Saksana..."
"Kuterima hormatmu. Nah! Katakan, apa yang kau bawa untukku?" Tanya wanita itu.
Pemuda berbaju ungu itu yang bernama Anak Dewa menoleh pada yang lainnya dengan sikap curiga.
"Mereka adalah pembantu setiaku. Dan apa yang menjadi rahasiaku, juga rahasia mereka. Katakanlah, Tidak usah ragu!" lanjut wanita itu seperti tahu apa yang dipikirkan pemuda ini.
"Baiklah kalau demikian. Hamba ingin memberitahukan soal mustika kerajaan itu...."
"Hm.... Lanjutkan!"
"Beberapa prajurit kerajaan yang dipimpin Ki Jengger Manuk berhasil merebutnya dari tangan Ki Walatikta, saat dia tidak ada di tempat. Namun Ki Walatikta bertindak cepat. Dia mengejar rombongan Ki Jengger Manuk. Kalau saja saat itu tidak ada pengacau, maka mustika itu telah diperoleh kembali oleh mereka.? "
"Pengacau? Siapa orang itu"!" Tanya wanita setengah baya yang dipanggil Gusti Ayu itu seraya mengerutkan dahi.
"Windu Pamungkas, Pendekar yang baru saja diangkat menjadi ketua aliran putih pada waktu pertemuan di perguruan camar es, Gusti Ayu!" sahut Anak Dewa.
"Hm, Muridnya pedang malaikat, Ya, pernah kudengar nama itu. Lalu, apa yang terjadi dengan Ki Walatikta?"
"Dia tewas?"
"Kurang ajar!" dengus wanita itu dengan wajah garang.
"Dua orang anak buahnya yang berhasil lolos, telah memberitahukan hal ini pada ayahanda. Lalu, beliau menyuruhku untuk mengabarkan persoalan ini pada Gusti Ayu," lanjut Anak Dewa.
Beberapa saat lamanya wanita setengah baya itu terdiam. Wajahnya jelas menyiratkan kekesalan. Matanya segera memandang pada orang-orang yang berada di ruangan itu.
"Siapakah di antara kalian yang mampu membawa mustika itu dengan merebutnya dari murid nya pedang malaikat itu?" Tanya Gusti Ayu, pelan.
"Gusti Ayu, kenapa mesti sungkan, Aku mampu merebutnya dari tangan pemuda itu!" sahut salah seorang yang berusia sekitar empat puluh tahun. Dia bersenjata golok terselip di pinggangnya.
Wanita setengah baya itu tersenyum kecil.
"Klabang Geni, benarkah kata-katamu itu?" Tanya Gusti Ayu.
"Gusti Ayu tinggal perintahkan, maka hari ini juga aku akan berangkat untuk menghabisi keparat itu!" sahut laki-laki yang dipanggil Klabang Geni, mantap.
"Bagus! Nah! Kau boleh pergi sekarang juga Bawa mustika itu padaku sekarang juga!"
"Baik, Gusti Ayu!" sahut Klabang Geni cepat, segera dia berdiri dan menjura hormat sebelum berlalu dari ruangan ini.
Wanita setengah baya itu menghela napas pendek dengan wajah sedikit lega. Ada senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Seluruh tokoh silat di ruangan ini tahu kalau windu pamungkas memiliki kepandaian yang konon kata nya melebihi ki buru reksa dan pedang malaikat guru nya sendiri. Dan belakangan ini, namanya amat menggemparkan kalangan persilatan. Namun, Klabang Geni bukanlah anak kemarin sore. Selain ilmu silatnya hebat, dia pun memiliki golok pusaka yang kemampuannya telah dibuktikan berkali-kali dalam menghadapi lawan lawannya. Tidak ada seorang pun yang pernah hidup jika berhadapan dengannya!
***
Klabang Geni menunggu di persimpangan jalan yang biasa dilalui orang-orang bila hendak menuju ke kotaraja dari arah utara. Dengan berlindung di bawah topi caping agak lebar, dia berdiri tegak di bawah sebuah pohon yang agak rindang. Menurut kabar dari Anak Dewa, orang yang bernama windu pamungkas akan muncul menjelang tengah hari ini. Dan baru saja Klabang Geni menoleh ke arah selatan, dari kejauhan terlihat seorang penunggang kuda yang berlari kencang menuju ke arahnya. Baru ketika penunggang kuda hitam yang ternyata seorang pemuda berbaju rompi Kuning gading itu semakin dekat, Klabang Geni melenting ringan dan mendarat di tengah jalan.
"Berhenti...!"
Pemuda berbaju rompi Kuning gading itu menghentikan kudanya dengan tiba-tiba ketika Klabang Geni menghadang perjalanannya. Seketika, kuda hitam itu mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi.