NovelToon NovelToon
Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Dokter
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.

​Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.

​Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detak Keras Putih Abu-Abu

KRIIINGGG!!!!

​Bunyi alarm pagi ini sudah berdering untuk ketiga kalinya. Namun, tak ada pergerakan berarti dari gadis yang masih memeluk gulingnya dengan erat itu.

​Piyama warna broken white bermotif siluet kelinci dan beruang sudah terangkat setengah, selimutnya pasrah terjatuh di lantai, sementara beberapa boneka kesayangannya sudah terjun bebas sejak semalam.

​"Aira! Ayo bangun! Sudah tiga kali alarm kamu bunyi. Mau Mama ambilkan toa masjid buat bangunin kamu?!" teriak sang Mama, Bu Windy sambil menggedor pintu kamar.

​Bukannya bangun, Aira justru mengubah posisi tidurnya menghadap kiblat demi melanjutkan mimpi indahnya. Baginya, teriakan sang Mama ataupun alarm tak lebih dari sekadar angin lalu. Bahkan gempa bumi sekalipun mungkin tak akan sanggup mengusik tidurnya.

​"Mama hitung sampai tiga! Kalau belum bangun juga, semua buku dan alat tulis di kamarmu Mama loakkan siang ini! Termasuk notebook baru yang baru kamu beli kemarin!" ancam Bu Windy, tak kehabisan akal.

​Ancaman itu berhasil. Koleksi alat tulis di meja belajar dan novel maupun buku nonfiksi tebal lainnya adalah harta karun terbesar bagi Aira. Sambil menguap dan mengucek mata, gadis itu terpaksa turun dari kasur dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul.

​Ia membuka pintu kamar dengan wajah bantal. "Mama... ini masih subuh, kenapa sudah teriak-teriak?"

​Bu Windy geleng-geleng kepala melihat penampilan anak gadisnya. Rambut pendek di atas bahunya mencuat berantakan ke segala arah.

​"Subuh di bagian negara mana, Aira? Lihat, sudah jam setengah tujuh! Sekolahmu masuk tiga puluh menit lagi, dan telingamu malah ditutup bantal!" omel Bu Windy tanpa jeda.

​Aira menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Masih ada waktu setengah jam buat siap-siap, Ma."

​"Kamu ini anak perempuan, tapi kelakuan persis seperti abangmu. Sudah, sana mandi cepat!"

​"Tentu saja mirip, Ma. Kami kan saudara kandung," jawab Aira sambil menyengir kuda, lalu bergegas masuk ke kamar mandi sebelum omelan Mama jilid dua dimulai.

​Kemarahan Bu Windy seketika mereda. Senyum di pipi chubby anak gadisnya itu selalu punya cara untuk melunakkan hatinya.

​Ardelia Aira Safira. Nama itu bukan sekadar untaian kata indah, melainkan pengingat dari kisah hidup masa lalu. Bu Windy membesarkan ketiga anaknya seorang diri sejak sang suami pergi.

​Kini, Aira baru menduduki bangku kelas 12 SMA. Karena terlambat bangun seperti biasanya, pagi ini berubah menjadi ajang maraton. Ia menyambar sepatu dan kotak bekal, lalu memasukkannya asal ke dalam tas.

​"Kamu yakin bisa mengejar waktu? Sepuluh menit lagi bel masuk, Nak," tanya Bu Windy cemas saat menemani Aira ke teras rumah.

​Aira justru tersenyum santai. "Mama tenang saja. Satpam sekolah dan Aira itu sudah seperti teman karib. Tinggal sogok sebungkus rokok, pintu gerbang pasti terbuka lebar."

​Aira mengulum permen karet, lalu menyalami punggung tangan Mamanya.

​"Kamu sudah kelas 12, ingat sebentar lagi lulus. Jangan keseringan begadang lagi," pesan Bu Windy lembut.

​"Iya, Ma, siap laksanakan! Aira berangkat dulu, ya!"

​Bu Windy menatap kepergian anaknya dengan pandangan mendalam. Kehadiran anak perempuan itu dahulu sempat ditolak oleh mantan suaminya. Namun bagi Bu Windy, Aira adalah sumber kekuatan utama yang membuatnya mampu bertahan hingga detik ini.

◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈

​Setelah berhasil bernegosiasi dengan satpam sekolah, Aira akhirnya bisa bernapas lega di dalam kelas. Namun, saat belajar fokusnya hari ini mudah buyar. Pikirannya mendadak melayang pada kejadian belasan tahun lalu.

​Saat usianya masih lima tahun, ia menyaksikan sendiri bagaimana sang papa sering melakukan KDRT pada Mamanya sebelum akhirnya berselingkuh dan pergi menelantarkan mereka. Sejak saat itu, sang Abang yang menggantikan peran pelindung bagi Aira.

​Terkadang, Aira merasa dirinya adalah anak pembawa sial yang menghancurkan keutuhan keluarga. Lamunan kelam itu membuatnya mengabaikan penjelasan guru di depan kelas.

​"Yang di belakang, sedang lihat apa di bawah?" suara Bu Sulis, guru matematika, memecah lamunan.

​Tia, teman sebangku Aira, menyenggol lengannya panik. "Aira, Bu Sulis memanggilmu," bisik Tia dengan wajah pucat. Bu Sulis terkenal sebagai guru killer yang gemar memberikan tugas menumpuk.

​"AIRA! BERDIRI SEKARANG JUGA!" Bentakan Bu Sulis yang disertai hantaman penggaris kayu pada papan tulis membuat seisi kelas mendadak hening dicekam ketakutan.

​Aira tersentak. Ia langsung menegakkan tubuh. "Iya, Bu?"

​"Saya sedang menerangkan di depan, kenapa kamu malah menunduk dan tidak memperhatikan?!" tanya Bu Sulis dengan mata memelotot.

​Aira memutar otak, mencoba mencari pembelaan. "Kata pepatah, melihat ke atas itu agar termotivasi, dan melihat ke bawah itu agar selalu bersyukur. Jadi, Aira tadi sedang bersyukur, Bu. Makanya melihat ke bawah."

​Seisi kelas seketika pecah oleh tawa riuh para siswa. Bu Sulis sampai kehabisan kata-kata. Guru matematika itu hanya bisa menarik napas dalam-dalam, mencoba mengontrol emosinya menghadapi murid ajaib seperti Aira.

◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈

​Bel istirahat berdering. Saat sebagian besar murid berhamburan ke kantin, Aira memilih tetap di kelas demi menikmati bekal buatan Mamanya. Namun, suara dari pengeras suara sekolah mendadak memotong aktivitasnya.

​"Diumumkan kepada seluruh siswa-siswi kelas 10 hingga 12 untuk segera berkumpul di aula sekolah."

​Aira menghela napas. Ia menutup kotak bekalnya dan melangkah menuju aula. Namun, baru saja menginjakkan kaki di koridor luar aula, desas-desus tak sedap langsung menusuk telinganya.

​"Eh, lihat. Itu si cewek yang ditinggal bapaknya, kan?"

​"Iya, kudengar bapaknya selingkuh sama perempuan lain. Kasihan ya, broken home dari kecil."

​Aira meremas ujung roknya. Dadanya bergemuruh menahan amarah, namun ia mencoba abai dan terus berjalan.

​"Wah, ada anak pembawa sial di sini, ya ampun gimana kabar Mama kamu Aira sehatkah? Untung aja nggak bunuh diri ya nyusul papa kamu sudah mati." hadang sebuah suara yang sangat Aira kenali.

​Vina, siswi dari kelas sebelah, berdiri angkuh bersama dua temannya. Vina adalah tetangga dekat rumah Aira sebelum akhirnya ia pindah ke rumah yang sekarang, itulah mengapa dia tahu persis rahasia kelam keluarga Aira. Vina selalu iri karena meski hidup tanpa ayah, Aira selalu hidup nyaman dan berhasil meraih juara kelas sejak SD hingga SMA.

​"Kenapa diam saja? Lawan dong, anak pembawa sial," ledek Vina lagi, memancing perhatian murid-murid lain di sekitar aula.

​"Sebelum bicara, lebih baik berkaca dulu," balas Aira dengan wajah sedatar mungkin.

​"Oh, bisa ngomong juga ternyata?" Vina tertawa meremehkan.

​Aira menatap Vina tajam. Batas kesabarannya sudah habis. "Mulutmu tolong dijaga, ya! Kamu tidak sadar kalau ibumu sendiri yang merebut suami orang? Dan kamu tahu ayah siapa yang direbut? Ayah dari sahabatku sendiri! Kamu berkoar-koar seolah keluargaku yang paling bermasalah, padahal ibumu sendiri yang pelacur!"

​"Sialan kau!" jerit Vina murka. Tangannya bergerak cepat hendak menjambak rambut Aira.

​Aira mencoba menghindar, namun gerakannya tidak seimbang hingga tubuhnya terhuyung ke belakang. Beruntung, sebuah lengan kekar dengan sigap menahan punggungnya dari belakang, mencegahnya jatuh menghantam lantai.

​"Aira!" teriak Dinda, kakak ipar Aira, yang tiba-tiba muncul di koridor.

​Aira segera memosisikan diri untuk berdiri tegap. Saat menoleh, ia menyadari bahwa pria yang baru saja menolongnya adalah seorang dokter muda berjas putih yang datang bersama rombongan rumah sakit.

​"Kamu tidak apa-apa?" tanya Dinda panik, menghampiri adik iparnya. Aira hanya menggeleng lemah. Keributan itu akhirnya memancing kedatangan Kepala Sekolah.

​"Aira! Vina! Ikut saya ke kantor sekarang!" perintah Kepala Sekolah tegas. Vina melenggang tanpa rasa bersalah, sementara Aira berjalan di belakangnya dengan tatapan kosong.

​Kepala Sekolah menoleh pada rombongan medis. "Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Saya tinggal sebentar, Dokter, Suster."

​Dinda mengangguk cemas. Dokter muda yang berdiri di samping Dinda menyadari perubahan raut wajah rekannya itu.

​"Kamu kenal dengan siswi tadi?" tanya sang dokter sambil mempersiapkan alat pemeriksaan.

​"Dia Aira, adik ipar saya, Dok," jawab Dinda lirih seraya membolak-balik lembar absen siswa.

​"Setelah tugas pemeriksaan ini selesai, kamu bisa langsung menemuinya di ruang Bimbingan Konseling," ujar sang dokter dengan nada tenang yang menyejukkan. Dinda tersenyum tipis, merasa sedikit lega.

◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈◇◈

​Enam jam berlalu, pemeriksaan kesehatan wajib bagi seluruh siswa siswi akhirnya selesai.

​"Kamu keluar duluan saja ke ruang Bimbingan Konseling, biar sisa alat-alat ini saya yang rapikan dengan suster," ucap dokter muda itu pada Dinda.

​"Tapi, Dok..." Dinda merasa tidak enak hati.

​"Tidak apa-apa. Kamu pasti khawatir dengan adikmu. Pergilah," potong sang dokter ramah.

​Dinda mengucapkan terima kasih, lalu bergegas menuju kantor guru. Namun di dekat taman sekolah yang sepi, ia melihat Aira sedang duduk menyendiri sambil menunduk dalam.

​"Aira... kamu di sini?" Dinda mendekat dan duduk di sampingnya. Aira mendongak, menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan.

​"Maaf ya, Kakak baru bisa menemuimu sekarang," lanjut Dinda.

​"Nggak apa-apa, Kak. Bang Reyhan sedang di dalam ruang Kepala Sekolah," sahut Aira dengan suara parau.

​Dinda terkejut. "Mas Reyhan datang ke sekolah?" Aira mengangguk pelan.

​"Kenapa bisa sampai bertengkar hebat begitu dengan Vina?" tanya Dinda lembut, mencoba menggali masalah yang selama ini dipendam sang adik.

​Air mata yang sejak tadi ditahan Aira akhirnya luruh juga. "Selama ini Vina selalu memakai masalah keluarga Aira sebagai senjata untuk merundung Aira di sekolah, Kak. Aira selalu diam. Tapi hari ini... dia menghina Mama. Aira tidak bisa terima."

​Aira meremas jemarinya sendiri. "Aira marah pada Papa. Kenapa ya meski dia sudah pergi jauh dari hidup kami, kesalahannya di masa lalu masih saja membayangi dan merusak hidup Aira?"

​Dinda langsung menarik Aira ke dalam pelukannya. Ia mengusap punggung gadis itu, membiarkannya menumpahkan seluruh beban batinnya.

​"Aira, Dinda," panggil sebuah suara bariton dari arah belakang.

​Reyhan berdiri di sana dengan guratan lelah di wajahnya. Pria itu langsung berlutut di depan adik dan istrinya, lalu mengusap lembut rambut Aira.

​"Kita pulang sekarang, ya. Masalah di sekolah sudah Abang urus," ucap Reyhan menenangkan.

​"Sepeda motor Aira bagaimana, Bang?" tanya Aira di sela tangisnya.

​"Biar nanti diambil orang suruhan Abang. Kita pulang naik mobil bersama Kak Dinda."

​Saat mereka hendak berjalan menuju parkiran, sebuah suara menghentikan langkah mereka. "Dinda."

​Mereka menoleh serentak. Dokter muda yang bertugas tadi berjalan menghampiri mereka.

​"Dok, saya izin pulang duluan tidak apa-apa?" tanya Dinda memastikan.

​"Tentu, silakan. Sisa urusan di sini biar saya yang tangani," jawab dokter muda itu ramah. Pandangannya kemudian beralih pada gadis SMA di samping Dinda. "Nama kamu Aira, kan?"

​Aira yang masih menyeka sisa air matanya langsung menunduk malu. "Iya, Dok. Mohon maaf atas keributan tadi."

​Dokter muda itu tersenyum tipis, lalu merogoh sesuatu dari dalam tas medisnya. Sebuah botol kecil berisi vitamin disodorkan ke depan Aira.

​"Tidak apa-apa. Kamu sehat, hanya butuh istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran. Ini vitamin khusus untukmu. Jangan bilang-bilang ke murid yang lain, ya. Semangat belajarnya," ucap sang dokter dengan binar mata hangat.

​Aira menerima botol tersebut dengan perasaan campur aduk. "Terima kasih banyak, Dok."

​Dokter muda itu mengangguk berpamitan, lalu melangkah pergi. Meninggalkan Aira yang diam-diam terpaku menatap punggung tegap sang penolong.

Bersambung__

_____

1
Best
jangan lupa mampir balik😁
id IG: sabia.sky: ditunggu✨
total 1 replies
Best
semangat up kak..
Best
lanjut Thor.. ✨
Best
maksa ya aira🤣
Best
kalau aku sih jadi Aira udah aku gampar mulutnya
Best
negosiasi kaya jualan aja ya aira
Best
parah nih Aira. kasian mamanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!