Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan yang Berbeda — Part 2
Dua jam kemudian, syuting berpindah ke adegan berikutnya.
Kali ini blocking kamera mengharuskan Raka memeluk Alya dari belakang. Tidak ada yang aneh, murni tuntutan naskah. Para kru sudah terbiasa dengan rutinitas adegan romantis semacam itu.
Sutradara memberi arahan terakhir. "Kalian berdiri nempel di sini. Raka, tangan lu lebih erat dikit meluknya ya."
Alya mengangguk kaku. Raka mengambil posisi di belakang Alya.
"Action!"
Kamera mulai merekam.
Dari pinggir lapangan, Arka kembali melihat adegan itu.
Wajahnya tetap terlihat tenang. Namun kali ini, ia tidak langsung mengalihkan pandangannya. Rahangnya mengetat.
Ada sesuatu dalam dirinya yang terasa mengganjal.
Bukan marah. Bukan benci. Bahkan ia sendiri benci mengakui apa nama perasaan norak ini.
Mungkin itu hanya sekadar rasa tidak nyaman yang sangat irasional melihat seseorang berani menyentuh dan memeluk Alya sedekat itu di depan matanya.
Arka memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam.
Ini pekerjaan. Lu kenapa sih, Arka? batinnya merutuki diri sendiri.
Ia memaksakan sebuah senyum sinis mentertawakan dirinya sendiri. "Ngapain juga gue mikirin ini serius-serius."
Rendy menoleh karena mendengar gumaman itu. "Ngomong apa lu barusan?"
"Enggak ada."
"Lu ngomong sendiri?"
"Udah, sana lu balik perpus."
Rendy hanya tertawa mengejek.
Begitu scene tersebut dinyatakan selesai dan sempurna, Alya langsung pamit keluar dari jangkauan kamera.
Tanpa ragu, ia sengaja melangkah menghampiri Arka yang berdiri di pinggir lapangan.
"Hai. Kamu dari tadi ngelihatin terus," sapa Alya membuka percakapan.
Arka menatapnya lurus. "Iya."
"Kenapa? Tumben awet nontonnya."
"Lagi belajar ngelihat orang syuting."
"Cuma itu?"
Arka mengangguk. "Iya."
Alya menyilangkan tangan di depan dada, sedikit menantang. "Enggak ada komentar apa-apa gitu buat adeganku yang barusan?"
"Bagus."
"Apanya yang bagus?"
"Aktingnya bagus."
Alya menatap wajah datar Arka, mencari kejujuran di sana. "Akting siapa yang kamu maksud?"
Arka menunjuk ke arah set dengan dagunya. "Akting kalian berdua."
Alya terdiam sejenak. "Kalian berdua?"
"Iya."
"Termasuk Raka juga?" kejar Alya.
Arka mengangguk tanpa ragu. "Raka aktingnya bagus dan meyakinkan."
Alya menatap pria itu lekat-lekat selama beberapa detik. Rasa frustrasi mendadak muncul karena ketenangan Arka yang seolah tak tertembus.
Tanpa sempat disaring oleh otaknya, sebuah pertanyaan impulsif meluncur begitu saja dari bibirnya.
"Kamu... beneran enggak cemburu lihatnya?"
Detik itu juga, waktu terasa berhenti.
Arka langsung mengangkat sebelah alisnya perlahan. "Cemburu?"
Tubuh Alya seketika membeku. Matanya membulat sempurna. Ia sendiri baru sadar betapa fatal dan memalukannya pertanyaan yang baru saja ia lontarkan. Wajahnya langsung terasa panas.
"Eh—bukan! Maksudku bukan gitu!" Alya gelagapan, tangannya mengibas panik di udara.
Arka menundukkan wajahnya sedikit agar sejajar dengan Alya, sebuah senyum miring yang sangat menyebalkan sekaligus menawan terbit di bibirnya.
"Maksudnya bukan gitu gimana, Mbak Alya?" goda Arka, suaranya sedikit lebih rendah.
Alya membuang muka, merutuki mulutnya sendiri. "Ya... aku cuma... penasaran aja reaksi orang biasa kalau lihat syuting."
"Penasaran apa ngarep?"
Alya mendengus kesal, memukul pelan lengan Arka. "Aku enggak aneh-aneh! Udahlah, lupain!"
Arka tertawa pelan. Tawanya membuat dada Alya semakin bergemuruh tak karuan.
"Oke, oke, dilupakan," jawab Arka mengalah, meski senyum usilnya belum hilang.
Arka memperbaiki letak tasnya. "Aku mau cabut balik sekarang ya."
Namun sebelum Arka benar-benar membalikkan badan, Alya kembali memanggilnya dengan nada pelan.
"Arka."
"Ya?"
Alya menatapnya serius. "Waktu kamu lihat aku bareng Raka tadi..." Ia menggantung kalimatnya. "Tatapan matamu tadi beda dari biasanya."
Arka terdiam. Ketenangannya sedikit goyah. "Beda gimana?"
"Aku... enggak tahu." Alya menggelengkan kepala pelan, mundur satu langkah. "Mungkin aku yang cuma kepedean dan salah lihat."
Alya langsung berbalik pergi meninggalkan Arka sebelum pria itu sempat merespons apa pun.
Arka berdiri terpaku di tempatnya.
Untuk pertama kalinya, logika sempurnanya gagal bekerja. Ia justru memikirkan pertanyaan Alya dalam-dalam.
Tatapan gue emang beda banget tadi?
Ia mencoba mengingat kembali bagaimana dirinya bereaksi saat Raka memeluk Alya. Perasaan tidak nyaman itu memang ada. Mengakar.
Arka mengusap tengkuknya dengan frustrasi. Tidak ada jawaban yang logis yang bisa memuaskan logikanya.
Sore hari, seluruh jadwal syuting akhirnya rampung.
Arka sudah berjalan cukup jauh menuju gerbang depan kampus untuk memesan ojek online, ketika ponselnya kembali bergetar.
Satu pesan dari Alya.
Alya: Kamu udah pulang, Ka?
Arka: Belum, ini baru jalan ke gerbang depan.
Alya: Tunggu di situ sebentar.
Arka menghentikan langkah kakinya.
Arka: Kenapa?
Tidak ada balasan teks.
Namun hanya berselang lima menit kemudian, sosok Alya muncul setengah berlari dari belokan gedung fakultas. Ia masih mengenakan kemeja santai sisa kostum karakternya, dipadukan dengan masker hitam andalannya.
"Kamu beneran belum pulang?" sapa Alya terengah-engah.
Arka menggeleng. "Kan kamu yang nyuruh nunggu."
Alya berdiri menyejajarkan langkah di sampingnya.
"Aku nyusulin ke sini cuma mau bilang... terima kasih udah datang lihat aku hari ini."
"Enggak masalah."
"Dan..." Alya menunduk menatap sepatunya yang melangkah. "Maaf kalau ucapanku pas di lapangan tadi bikin kamu ngerasa aneh atau enggak nyaman."
Arka menoleh menatap ujung kepala Alya, keningnya berkerut. "Enggak ada yang bikin enggak nyaman kok."
Alya mendongak menatapnya ragu. "Yakin?"
"Yakin."
Alya tersenyum sangat manis. Bebannya terasa terangkat. "Bagus deh kalau gitu."
Mereka berdua berjalan bersisian menuju gerbang kampus di bawah langit yang mulai berwarna keemasan.
Tidak ada lagi yang membahas soal Raka Adinata atau kecemburuan. Mereka saling melempar obrolan ringan yang aman.
Namun, di dalam hati mereka masing-masing, peperangan baru saja dimulai. Rentetan pertanyaan yang sama mulai berkecamuk tanpa henti.
Arka terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri: Kenapa tadi gue bener-bener enggak suka ngelihat Alya dipegang sama cowok lain?
Sedangkan Alya memikirkan hal yang sama dari sudut pandang yang berbeda: Kalau memang di antara kami tidak ada rasa apa-apa... lalu kenapa tatapan Arka tadi terasa begitu posesif?
Mereka berdua sama-sama belum memiliki jawaban pastinya. Dan mungkin, mereka memang sama-sama terlalu gengsi untuk menemukannya sekarang.
Di ujung jalan raya seberang gerbang kampus... sebuah mobil MPV abu-abu dengan kaca film gelap berhenti menepi.
Kaca jendela kursi penumpang belakang diturunkan sekitar tiga sentimeter. Celah yang sangat cukup untuk menyelinapkan sebuah lensa kamera telephoto berukuran besar.
Kamera itu terangkat mantap.
Kali ini, bukan kamera ponsel buram milik mahasiswa iseng. Melainkan perlengkapan profesional milik seorang jurnalis paparazzi terlatih.
Lensa itu mengunci targetnya. Alya Renata dan Arka Pratama yang sedang tertawa bersama di depan gerbang.
Cekrek. Cekrek. Cekrek.
Berbeda dari foto amatir sebelumnya, rentetan foto yang diambil sore ini jauh lebih tajam, lebih jelas, dan tidak menyisakan ruang untuk alibi 'cuma teman' jika diolah dengan narasi yang tepat.
Dan tanpa mereka berdua sadari... wajah Arka telah berhasil didokumentasikan dengan resolusi High Definition. Membuka jalan bagi media untuk melacak wajah itu langsung ke data silsilah keluarga konglomerat Skysea Group.
Bersambung...
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!