Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04: Perempuan dari Masa Lalu
____🌺
Restoran di kawasan Jakarta Selatan itu belum terlalu ramai saat Adrian melangkah masuk. Ia membetulkan posisi dasinya, melirik jam tangan yang menunjukkan pukul tujuh malam, lalu berjalan menuju ruang makan privat di sudut ruangan.
Malam ini, Adrian dijadwalkan menghadiri makan malam bisnis dengan jajaran direksi PT Nusantara Mitra. Proyek investasi senilai belasan miliar rupiah sedang dipertaruhkan, dan Adrian membutuhkan kesepakatan ini untuk memulihkan posisinya di perusahaan keluarga Mahendra.
Seorang pelayan membukakan pintu ruangan kaca kedap suara tersebut. Adrian melangkah masuk dengan senyum profesional yang sudah ia siapkan. Namun, senyum itu langsung hilang dalam sekejap.
Di dalam ruangan berkapasitas delapan orang itu, baru ada satu orang yang duduk di dekat jendela. Perempuan berkemeja putih dengan rambut bergelombang yang dibiarkan terurai.
Perempuan itu menoleh, lalu tersenyum tipis. "Selamat malam, Mas Adrian."
Handphone di genggaman Adrian hampir saja terlepas. Pria itu berdiri membeku di ambang pintu, menatap perempuan di hadapannya dengan mata melebar.
"Selena?" suara Adrian tertahan di tenggorokan. "Kenapa kamu ada di sini?"
Selena berdiri dari kursinya. Ia merapikan rok hitamnya yang menyingkap bagian paha, lalu berjalan pelan mendekati Adrian. Langkah kakinya berbunyi nyaring di atas lantai kayu.
"Kenapa? Kamu kaget?" Selena berhenti tepat dua langkah di depan Adrian. "Aku di sini sebagai perwakilan dari PT Nusantara Mitra. Aku ditunjuk jadi kepala tim, untuk proyek kerja sama kita."
Adrian melangkah mundur satu pijakan, melirik ke luar pintu yang masih terbuka sedikit. "Mana Pak Handoko? Katanya dia yang mau datang sendiri malam ini."
"Pak Handoko ada urusan mendadak di Surabaya. Dia menyerahkan semua keputusan proyek ini ke aku," jawab Selena tenang.
Ia mengisyaratkan tangan ke arah meja. "Duduklah, Mas. Tidak enak kalau dilihat staf restoran."
Adrian menelan ludah. Ia memutus pandangan, lalu berjalan menuju kursi yang berseberangan dengan Selena. Ia menarik kursi itu dan duduk dengan kaku. Tangannya ditaruh di atas paha, mengepal rapat.
"Kenapa kamu tidak bilang dari awal kalau kamu kerja di sana?" tanya Adrian. Suaranya ditekan sehalus mungkin agar tidak terdengar panik. "Kamu sengaja, kan?"
Selena tertawa pelan. Ia menarik cangkir teh hangatnya, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali ke piring kecil dengan bunyi denting halus.
"Kalau aku bilang dari awal, kamu pasti minta ganti orang, kan? Atau kamu malah bakal batalkan rapatnya?" Selena menatap lurus ke mata Adrian. "Aku kenal kamu bukan baru sehari dua hari, Mas."
"Kita di sini untuk urusan pekerjaan, Selena. Tolong profesional," kata Adrian tegas. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan berkas dokumen proposal, dan meletakkannya di atas meja. "Kita bahas proposalnya sekarang, setelah itu aku harus pulang."
Selena tidak menyentuh berkas itu sama sekali. Ia justru menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap Adrian dengan senyum miring.
"Pulang ke mana? Ke rumah istri kamu?" tanya Selena santai.
Adrian mengepalkan tangannya lebih erat. "Selena, stop."
"Kenapa? Kamu takut?" Selena memajukan badannya ke depan meja, menopang dagunya dengan satu tangan. "Dua tahun lalu, kamu tinggalkan aku begitu saja, demi menikah sama Nayara. Kamu blokir nomor hp-ku, kamu suruh orang buat awasi aku biar tidak mendekat ke keluarga kamu. Dan sekarang, waktu kita ketemu lagi, kamu pura-pura tidak kenal?"
"Situasi waktu itu beda!" potong Adrian. Ia menengok ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada pelayan yang masuk. "Aku sudah bilang dari awal, pernikahan aku dan Nayara itu urusan keluarga. Ibu aku yang minta."
"Ibu kamu yang minta, atau kamu yang takut kehilangan jabatan di perusahaan?" cecar Selena cepat. Matanya menatap tajam. "Kamu menumbalkan hubungan kita demi posisi direktur itu, Mas. Kamu janji mau memperjuangkan aku, tapi begitu ibu kamu bawa Nayara, kamu langsung buang aku begitu saja."
Adrian mengembuskan napas berat dari hidung. Ia melepaskan kancing jasnya yang terasa mulai menyempit dan menyekat pernapasannya.
"Aku akui aku salah waktu itu. Tapi itu sudah berlalu dua tahun, Selena. Aku sudah punya kehidupan sendiri, dan kamu harusnya juga begitu," ucap Adrian dengan nada memohon. "Jangan ganggu rumah tanggaku lagi. Soal pesan kamu semalam ... Nayara hampir lihat."
Bukannya merasa bersalah, Selena justru tersenyum lebar. Ia mengambil gelas air putih di sampingnya.
"Bagus dong kalau dia lihat," ujar Selena singkat sebelum minum.
"Selena!" Adrian menaikkan suaranya satu nada, lalu cepat-cepat mencibirnya, kembali, "Kamu jangan gila! Jangan bikin masalah!"
"Yang bikin masalah itu kamu, Mas, bukan aku," jawab Selena. Suaranya mendadak berubah dingin. "Siapa yang datang ke apartemen aku dua bulan lalu, waktu kamu berantem sama istri kamu? Siapa yang cari aku sambil mabuk, dan bilang kalau kamu menyesal sudah menikah sama dia?"
Kata-kata Selena membuat Adrian bungkam seketika. Lidahnya mendadak terasa kelu. Pria itu mengalihkan pandangannya ke jendela luar, menghindari tatapan mata Selena yang menghujatnya.
"Kamu pikir aku mau terima saja dibuang dua kali?" lanjut Selena. "Kamu yang mengetuk pintuku lagi, Mas. Kamu yang memulainya duluan. Jadi jangan bersikap seolah-olah aku yang mengejar-ngejar kamu di sini."
Adrian mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tengkuknya terasa sangat pegal. Kejadian dua bulan lalu adalah kesalahan terbesar yang sangat ia sesali.
Malam itu, bisnisnya sedang jatuh, dan ia bertengkar hebat dengan ibunya di rumah. Saat Nayara mencoba menenangkannya, Adrian justru merasa semakin tertekan dan memilih pergi melarikan diri, ke tempat Selena.
"Malam itu aku tidak sadar, Selena. Aku lagi emosi dan mabuk," kata Adrian pelan, suaranya terdengar lemah. "Aku minta maaf, kalau bikin kamu salah paham."
"Salah paham?" Selena tertawa sinis. "Kamu tidur di kasurku semalaman, dan kamu bilang itu cuma salah paham?"
"Cukup, Selena!" Adrian menyambar berkas proposal di meja, lalu berdiri dari kursinya. "Kalau kamu tidak mau membahas pekerjaan malam ini, aku pergi. Soal kerja sama perusahaan, aku bakal minta Kevin yang urus selanjutnya."
Adrian memutar badan, hendak melangkah menuju pintu keluar ruangan.
Namun, sebelum ia sempat mengambil dua langkah, Selena berdiri dengan cepat. Tangan perempuan itu terulur melewati meja dan menggenggam pergelangan tangan kanan Adrian dengan sangat erat. Jari-jarinya yang ber menikur merah, mencengkeram kulit tangan Adrian hingga meninggalkan bekas tekanan.
Adrian terhenti. Ia menoleh, berniat menghempaskan tangan Selena dari kulitnya. "Lepasin, Selena. Nanti ada orang yang lihat!"
Selena tidak melepaskannya. Ia justru menarik lengan Adrian, memaksa pria itu mendekat ke arahnya. Selena berdiri sangat dekat hingga Adrian bisa mencium aroma parfum mawar yang sangat familiar di hidungnya.
Selena menatap lurus ke dalam manik mata Adrian. Tatapannya tidak lagi marah, melainkan dingin dan penuh rahasia.
"Kamu boleh lari malam ini, Mas. Kamu boleh pura-pura jadi suami setia di depan Nayara," bisik Selena pelan, tepat di depan wajah Adrian.
"Selena, lepas—"
Cengkeraman tangan Selena semakin kuat di pergelangan tangan Adrian, mencegah pria itu bergerak.
Selena maju satu langkah lagi, mencondongkan badannya hingga bibirnya hampir menyentuh daun telinga Adrian.
"Kamu belum tahu semuanya, Mas. Tentang malam kita waktu itu," berbisik Selena sangat pelan, namun setiap kata-katanya terdengar begitu jelas dan tajam.
emang lu doang yang bisa 🤣🤣