Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Kambing hitam
"Argghh! Kepalaku"
Kliping koran di tangannya terlepas dan jatuh melayang di atas lantai marmer di samping sebuah foto kecil berukuran 3x4 yang ikut keluar dari dalam amplop tersebut, foto wajah seorang pria tersenyum hangat, yang tak lain adalah Ardiansyah.
Raya terhuyung dan menyandar pada kaki meja konsol di lorong depan, napasnya memburu histeris. Ingatannya belum kembali sepenuhnya, tetapi nama itu, berita itu, dan rasa sakit hebat di kepalanya memberikan satu pesan yang sangat jelas:
Ada rahasia berdarah yang sangat besar yang sedang disembunyikan oleh Aris darinya.
Di saat yang bersamaan, deru mesin mobil sports Aris terdengar memasuki halaman depan mansion.
Aris pulang lebih awal dari rapat kantornya karena perasaan tidak tenang yang terus-menerus mengganggu pikirannya sejak pagi. Bayangan wajah Raya dan pertanyaan tentang masa lalunya dua malam lalu membuat Aris memutuskan untuk bekerja dari rumah hari ini.
Aris membuka pintu depan mansion seraya melonggarkan ikatan dasinya. "Raya? Aku pulang—"
Ucapan Aris terhenti seketika di tenggorokannya.
Di lorong tengah, ia melihat Raya terduduk di atas lantai marmer. Tubuh wanita itu gemetar hebat, kedua tangannya memegangi kepala, dan air mata mengalir deras membasahi pipinya yang pucat pasi.
Dan tepat di depan kaki Raya... berserakan potongan koran bekas dan sebuah foto kecil.
Wajah Aris seketika memutih bagai kertas. Seluruh darah di tubuhnya serasa membeku.
"RAYA!" jerit Aris panik luar biasa. Ia menjatuhkan tas kerjanya begitu saja ke lantai dan berlari kencang menghampiri Raya.
Sebelum Aris sempat menyentuhnya, Raya mendongak. Matanya yang merah dan basah oleh air mata menatap Aris bukan lagi dengan tatapan hangat dan penuh percaya seperti tadi pagi, melainkan dengan campuran antara kebingungan, ketakutan, dan keraguan yang mendalam.
"Aris..." suara Raya terdengar sangat parau dan pecah. Tangannya yang gemetar menunjuk ke arah potongan koran di atas lantai. "Siapa... siapa Ardiansyah?"
Pertanyaan itu terdengar seperti suara eksekusi mati bagi Aris.
Dunia di sekitar Aris serasa runtuh dalam satu detik. Amplop rahasia yang seharusnya tidak pernah sampai ke rumah ini telah membocorkan celah pertama dari kuburan rahasia yang ia gali sendiri.
Aris berlutut di depan Raya dengan napas memburu dan mata yang membelalak lebar. Tangannya meraih potongan koran itu dengan cepat, dan meremasnya hingga hancur di dalam genggamannya, mencoba menghapus kenyataan pahit itu dari pandangan Raya.
"Dari mana kamu dapat ini, Raya?! Dari mana?!" bentak Aris tanpa sadar, suaranya terdengar panik dan hilang kendali.
Melihat Aris membentak dan tampak begitu panik, ketakutan Raya makin menjadi-jadi. Ia memundurkan tubuhnya dan menjauhi Aris, menyenggol vas bunga di meja konsol hingga bergoyang.
"Kenapa kamu panik, Aris?!" jerit Raya histeris, air matanya pun keluar semakin deras. "Kertas itu... berita itu tentang kecelakaan mobil! Ada nama seorang pria bernama Ardiansyah yang meninggal... dan ada nama anak kecil serta istrinya! Kenapa saat aku membaca nama itu... dadaku terasa sangat sakit?! Siapa Ardiansyah, Aris?!"
Aris membeku di tempatnya berlutut. Melihat ketakutan Raya terhadap dirinya, Aris sadar ia telah melakukan kesalahan besar dengan menunjukkan kepanikan.
Aris menarik napas panjang seraya memejamkan matanya erat-erat, dan mencoba menekan badai ketakutan di dalam dadanya. Ia tidak boleh hancur sekarang. Jika ia mengaku sekarang, Raya akan mengalami trauma berat dan kondisi psikologisnya yang baru pulih bisa rusak total.
Aris menurunkan pandangannya, dan merayap mendekati Raya dengan perlahan. Ia mengulurkan kedua tangannya dengan sangat hati-hati, dan berusaha meraih bahu Raya yang gemetar.
"Raya... tenanglah, Sayang... Tolong dengarkan aku," panggil Aris dengan suara yang dipaksa sehalus dan seiba mungkin, meski jemarinya gemetar parah.
"Jangan sentuh aku sebelum kamu jelaskan!" tangis Raya terisak-isak, dadanya kembang kempis dan memburu.
Aris menggigit bibir dalamnya hingga meraskan asin darah, lalu menatap mata Raya dengan sorot mata yang penuh kebohongan baru, sebuah kebohongan darurat untuk menyelamatkan istana pasirnya yang hampir runtuh.
"Ardiansyah... adalah pria yang menabrak kita, Raya," bohong Aris dengan raut wajah penuh kesedihan mendalam buatan.
Raya tertegun. Isakannya pun terhenti sejenak. "Pria... yang menabrak kita?"
Aris mengangguk pelan, air mata palsu yang dipicu oleh rasa bersalah aslinya menetes di pipinya. "Iya. Dia pengemudi mobil lain di kecelakaan malam itu. Dia yang mengendarai mobil dengan ugal-ugalan di bawah hujan deras dan menghantam mobil kita dari samping. Pria itu... meninggal di tempat dalam kecelakaan yang dikarenakannya sendiri."
Raya menatap Aris dengan mata membelalak, dan mencoba mencerna cerita baru itu di dalam kepalanya yang masih dilanda pusing hebat.
"Lalu... kenapa namanya membuat dadaku sakit?" tanya Raya lirih, suaranya dipenuhi keputusasaan.
"Karena pria itulah yang hampir membunuhmu dan Cyla!" sahut Aris dengan nada penuh penekanan, seraya menggenggam kedua bahu Raya dengan erat namun terasa lembut. "Pria itulah yang membuatmu kehilangan ingatan dan menderita seperti ini! Trauma benturan itu meninggalkan bekas luka emosional yang sangat dalam di otakmu, Raya. Makanya saat kamu membaca nama pengemudi yang menghancurkan hidup kita itu, tubuhmu secara alami menolaknya dan merasa sakit!"
Raya menunduk, dan menutup wajahnya dengan kedua tangan, ia menangis terisak-isak di dalam pelukan kebohongan Aris yang makin pekat.
"Begitu... jadi dialah yang membuat kita seperti ini...?" bisik Raya pasrah di antara isak tangisnya.
Aris merengkuh tubuh Raya ke dalam pelukannya, dan menekan kepala wanita itu di dadanya agar Raya tidak bisa melihat raut wajahnya yang penuh dengan keputusasaan dan kehancuran jiwa.
Di atas bahu Raya yang terisak, mata Aris terbuka lebar menatap kosong ke arah dinding. Ia baru saja melakukan manipulasi yang sangat kejam, memfitnah korbannya sendiri, Ardiansyah, sebagai pelaku utama dari dosa yang sebenarnya ia perbuat.
"Maafkan aku, Ardiansyah... Maafkan aku, Raya..." batin Aris dalam kegelapan jiwanya yang tak tertolong lagi.
Bersambung...