Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.
Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.
Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.
Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33
Part 33
Dari kamarnya, Cio berjalan ke arah ruang keluarga di mana papanya saat ini tengah membaca koran pagi. Dengan perasaan tanpa minat, Cio duduk di sofa yang sama dengan papanya namun posisinya berhadapan dengan pria paru baya itu.
"Ada apa?" tanya pria itu tanpa mau menatap ke arah Cio yang terlihat malas berbicara.
"Aku mau kuliah lagi di kampusku yang kemarin." Cio berujar serius sembari terus menatap ke arah papanya yang mulai meresponnya terlihat dari caranya melipat korannya lalu menatap ke arahnya.
"Sebenarnya kampus itu cukup bagus, apalagi Papa juga salah satu pemilik di sana. Tapi kalau kamu kembali ke sana, kamu pasti akan menemui gadis itu kan?"
"Aku tidak akan menemuinya apalagi menyapanya." Cio menjawab mantap, meski di dalam hati ia hanya ingin bisa melihat Amanda lagi, semua itu sudah cukup untuk Cio.
"Oh iya?" Papanya itu bertanya seolah ingin meremehkan janji putranya.
"Iya, Pa. Papa sendiri yang bilang kalau Papa juga salah satu pemilik kampus itu kan? Suruh orang-orang kenalan Papa untuk mengawasi ku." Cio menyahut malas, merasa sudah cukup muak berhadapan dengan papanya yang selalu saja mengancam sebagai senjata andalannya.
"Baiklah. Tapi kalau Papa tahu kamu mengingkari janjimu sendiri, gadis itu tidak akan selamat." Pria itu menunjukkan telunjuknya, mewanti-wanti putranya akan janji yang baru dia buat.
"Iya." Cio menjawab malas sembari mendirikan tubuhnya lalu berjalan ke arah kamarnya. Di dalam hati, Cio tak benar-benar bisa akan melupakan Amanda. Gadis itu sudah cukup membuat hatinya tertatih hanya padanya, dan Cio tidak ingin kehilangan Amanda untuk selamanya. Cio pikir akan memberitahukan hal ini secara diam-diam ke Amanda, dengan begitu hubungannya dengan gadis itu tak perlu merenggang. Cio harap Amanda akan mau mengerti, sampai Cio mendapatkan jalan keluar terbaiknya.
***
Jam tujuh pagi, waktu biasa Amanda gunakan untuk berangkat kuliah. Seperti biasa, ia akan berjalan sampai ke halte bis untuk mendapatkan tumpangan. Namun sebelum kakinya sampai ke tujuannya, suara klakson mobil terdengar dibarengi mobil BMW yang berjalan lirih di sampingnya.
Amanda yang tahu pemilik mobil itu hanya terdiam, menghentikan langkah kakinya sembari menatap ke arah kaca mobil yang mulai turun, memperlihatkan empunya di sana.
"Farel. Ada apa?"
"Ayo masuk!" pintanya yang langsung Amanda gelengi, merasa tidak perlu masuk ke dalam mobil temannya itu.
"Kenapa? Gratis kok." Farel bertanya tak habis pikir dengan sedikit candaan yang membuat Amanda tertawa kecil.
"Bukan begitu. Aku akan naik bis, jadi tidak perlu ikut denganmu," jawab Amanda yang sebenarnya cukup aneh untuk Farel dengar alasannya.
"Kita akan ke kampus yang sama kan? Jadi ayo masuk, aku pasti akan mengantarkanmu dengan selamat."
"Tapi ...." Amanda menghentikan ucapannya, karena alasan utamanya naik bis itu hanya Cio. Amanda sangat berharap bila ia akan bertemu lagi dengan lelaki itu di bis dan waktu yang sama seperti dulu.
"Jangan banyak alasan. Ayo masuk saja!" Farel terus mendesak Amanda, membuat gadis itu kebingungan harus menerima tawarannya atau tidak. Sampai saat Amanda tak banyak pilihan lain selain mengangguk setuju lalu membuka pintu mobil itu dan masuk ke dalamnya.
"Kamu tidak harus seperti ini," ujar Amanda lirih, namun Farel justru tersenyum sembari siap-siap melajukan mobilnya kembali.
"Memangnya kenapa? Dulu kita sering melakukannya kan? Berangkat dan pulang bersama. Apa kamu sudah melupakannya? Padahal aku selalu mengingatnya." Farel terdengar merajuk yang ditanggapi senyum tipis oleh Amanda.
"Tentu saja aku masih mengingatnya. Hanya saja aku merasa lebih nyaman berangkat dengan bis sekarang," jawab Amanda seadanya.
"Tidak boleh merasa nyaman naik kendaraan umum. Di sana banyak orang-orang jahat yang berkeliaran, yang memiliki motiv tidak baik. Mulai sekarang, kamu akan berangkat kuliah bersamaku." Farel menjawab seenaknya, namun tentu saja semua itu langsung Amanda tolak, merasa tidak setuju dengan apa yang baru Farel katakan.
"Aku tidak mau, Rel." Amanda menjawab cepat, merasa harus segera menolak keinginan lelaki itu.
"Aku tidak menerima penolakan. Kamu harus mau aku jemput, kalau perlu aku akan menunggumu tepat di depan rumahmu setiap pagi."
"Tidak perlu sampai seperti itu." Amanda mengeluh pasrah merasa tidak bisa membantah bila Farel sudah berkata keinginannya.
"Kalau begitu kamu harus mau berangkat bersamaku."
"Ya sudah, iya. Aku akan berangkat bersamamu," jawab Amanda terdengar tak berdaya, merasa terpaksa mengikuti keinginan teman baiknya itu. Sedangkan Farel hanya tersenyum, merasa puas dengan jawaban Amanda kali ini. Dengan perasaan yang lebih bersemangat, Farel terus fokus melajukan mobilnya sampai ke tujuannya.
Setelah sampai dan berhenti di parkiran kampus, tatapan Amanda dibuat tertatih pada satu titik di mana banyak para gadis yang bergerombol dengan sesekali menjerit histeris entah karena apa. Mereka terlihat begitu takjub pada seseorang yang mereka kelilingi.
"Itu ada apa ya, Rel? Kok mereka bergerombol dan berteriak-teriak tidak jelas." Amanda bertanya tak mengerti ke arah Farel yang sudah mematikan mesin mobilnya.
"Aku tidak tahu, mungkin sesuatu hal yang tidak penting. Lebih baik kita keluar saja, lalu ke kelas, bagaimana?" Amanda hanya mengangguk kaku saat Farel mengatakan itu. Lalu keduanya turun dari mobil, namun tatapan Amanda masih tertuju ke arah kerumunan. Sampai saat ada seseorang yang berjalan membelah gerombolan mereka, membuat Amanda tertegun di tempatnya.
"Cio," gumam Amanda tak percaya bisa melihat lelaki itu lagi, meski penampilannya kini jauh berbeda dari terakhir kali mereka berjumpa. Namun tak akan membuat Amanda bisa melupakan lelaki itu, lelaki konyol yang selalu mengganggunya dengan kalimat-kalimat ngawurnya.
"Ayo, Amanda. Kita ke kelas!" ajak Farel sembari menarik tangan Amanda, membuat tatapan Cio juga tertuju ke arahnya.
"Eh ...." Amanda yang kebingungan itu hanya bergumam lirih, merasa tidak tahu harus menjawab apa untuk ajakan Farel saat ini. Jujur saja, Amanda merasa ingin menyapa dan berbicara kepada Cio, menanyakan kabar lelaki itu dan kenapa tidak masuk kuliah selama seminggu ini. Namun niat Amanda seakan menghilang saat Cio begitu dingin menatapnya lalu pergi begitu saja tanpa ada sepatah kata pun sebelumnya, membuat Amanda tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada lelaki itu.