NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Dewi

Sistem Penakluk Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:282
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MASAKAN RUMAH YANG CANGGUNG

Sore harinya, langit di atas lorong kontrakan perlahan meredup berganti warna tembaga. Enzo baru saja melangkah pulang dengan bahu yang agak merosot, membawa kelelahan usai menghabiskan hari sebagai kuli panggul sembako di pasar induk. Uang lima puluh ribu rupiah hasil keringatnya hari ini mendekam kusam di dalam saku celana jinsnya.

Ia berdiri di depan pintu kamarnya, merogoh saku hendak mengambil kunci. Di dalam pikirannya, Enzo sudah merencanakan makan malam paling hemat untuk mengisi perutnya yang berguncang lapar: menyeduh mi instan kuah dan memakan sisa nasi dingin kemarin.

"Enzo?" panggil sebuah suara lembut dari arah samping lorong.

Enzo menoleh dan menemukan Tante Rika sedang berdiri di dekat pintu pagar rumah mewahnya. Wanita paruh baya itu mengenakan gaun rumah berbahan kain katun yang rapi, dengan rambut yang disanggul sederhana di tengkuknya. Di kedua tangannya, ia memegang sebuah nampan kayu berisi mangkuk besar yang tertutup kain bersih serta dua piring nasi hangat.

"Tante Rika?" tegur Enzo terkejut seraya mengurungkan niatnya memutar kunci pintu. "Ada apa, Tante?"

Tante Rika tersenyum canggung, melangkah mendekat ke arah teras sempit kontrakan Enzo. "Ini... Tante tadi masak agak banyak buat makan malam. Tapi ternyata Bapak kirim pesan kalau ada jamuan makan malam sama rekan kerjanya di luar, jadi nggak pulang makan," jawab Tante Rika seraya melirik mangkuk di atas nampannya dengan mata agak bersalah. "Kalau Tante makan sendiri, pasti nggak bakal habis dan terbuang. Kamu... sudah makan malam?"

Enzo memandangi uap hangat yang samar-samar keluar dari celah kain penutup mangkuk itu. Aroma gurih kuah sup ayam kampung dengan rempah segar langsung menyapu hidungnya yang lapar, membuat perutnya refleks berbunyi pelan.

"Wah, saya belum makan sih, Tante. Tapi jadi kerepotan begini..." desah Enzo seraya mengusap tengkuknya dengan perasaan serba salah.

"Nggak kerepotan sama sekali, Enzo," potong Tante Rika cepat dengan mata berbinar berharap. "Malah Tante yang berterima kasih kalau kamu mau bantu menghabiskan. Kalau kamu nggak keberatan, makan di meja makan rumah Tante saja? Di luar agak dingin, lagipula tempatnya lebih leluasa."

Permintaan itu membuat Enzo tertegun sejenak. Makan di dalam rumah mewah seorang istri pejabat lokal tentu terasa sangat canggung bagi pemuda pekerja lepas seperti dirinya. Namun, menolak niat tulus wanita paruh baya yang semalam baru saja ia bantu rasanya juga kurang sopan.

"Baiklah kalau begitu, Tante. Kalau nggak merepotkan," sahut Enzo akhirnya seraya menyunggingkan senyum tipis.

Beberapa menit kemudian, Enzo sudah duduk canggung di salah satu kursi kayu jati berukir di meja makan granit rumah Tante Rika. Tempat ini adalah meja makan yang sama dengan yang ia lihat semalam, namun kini suasananya terasa sangat berbeda. Di atas permukaan granit yang mengilap, terhidang semangkuk besar sup ayam kampung hangat, tempe goreng renyah, sambal terasi segar, dan seperangkat piring porselen putih yang sangat bersih.

Enzo melirik penampilannya sendiri—kaus polos kusam dan celana jins yang agak kotor di bagian lutut. Kontras yang sangat tajam antara dirinya dan kemewahan ruang makan itu membuat gerakan tubuhnya menjadi serba kaku.

"Ayo dimakan, Enzo. Jangan sungkan-sungkan," ajak Tante Rika seraya menggeser mangkuk sup mendekat ke arah piring Enzo.

Tante Rika lalu menyendokkan nasi hangat ke piring Enzo dengan porsi yang cukup padat, disusul potongan daging ayam kampung yang empuk serta siraman kuah bening bercampur potongan wortel dan seledri.

"Cukup, Tante, kebanyakan nanti," tahan Enzo halus seraya memegang tepi piringnya.

"Nggak apa-apa, kamu kan seharian kerja keras, pasti butuh tenaga ekstra," balas Tante Rika seraya menyunggingkan senyum hangat.

Tante Rika kemudian duduk di kursi yang berseberangan dengan Enzo. Ia mencedokkan sedikit nasi dan kuah ke piringnya sendiri, lalu mengamati Enzo yang mulai mengangkat sendoknya.

Enzo mencedokkan sup hangat itu ke mulutnya. Saat kuah gurih bercampur rempah itu menyentuh lidahnya, rasa hangat langsung menjalar ke tenggorokan dan dadanya. Rasa masakan itu bukan sekadar enak, melainkan memiliki cita rasa masakan rumah yang otentik—jenis masakan tulus yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dirasakan Enzo sejak ia merantau meninggalkan ibunya di kampung halaman.

"Bagaimana rasanya, Enzo?" tanya Tante Rika sedikit cemas seraya memperhatikan raut wajah Enzo.

"Enak banget, Tante," jawab Enzo jujur seraya menatap mata Tante Rika. "Enak dan hangat. Udah lama banget saya nggak makan masakan rumah kaya begini."

Senyum di wajah Tante Rika mendadak merekah lebar—sebuah senyum lepas yang alami dan memancarkan kebahagiaan yang tulus. Binar matanya yang biasanya redup oleh rasa sepi kini tampak hidup kembali. Bagi seorang ibu rumah tangga yang selama bertahun-tahun masakannya kerap diabaikan oleh suami yang sibuk, melihat seseorang menyantap makanannya dengan lahap adalah sebuah validasi sederhana yang amat berharga.

"Kalau kamu suka, makan yang banyak," ucap Tante Rika seraya menyodorkan piring berisi tempe goreng hangat. "Tante senang kalau ada yang menikmati masakan Tante."

Suasana di ruang makan yang semula kaku dan canggung perlahan-lahan mencair. Meskipun jeda keheningan sesekali masih terasa di antara denting sendok dan porselen, keheningan kali ini tidak lagi terasa dingin. Enzo menyantap makanannya dengan sopan, sementara Tante Rika sesekali melontarkan pertanyaan sederhana tentang pekerjaan harian Enzo tanpa berniat meremehkan.

"Kamu nggak berniat cari pekerjaan tetap di kantor atau pabrik, Enzo?" tanya Tante Rika pelan di sela-sela makannya.

"Pengennya begitu, Tante," jawab Enzo seraya meletakkan sendoknya sejenak. "Tapi ijazah saya cuma lulusan SMA, dan pengalaman kerja saya acak-acakan. Sekarang yang penting ada penghasilan harian dulu buat bayar kontrakan dan kirim sedikit buat Ibu di kampung."

"Kamu pemuda yang bertanggung jawab. Ibu kamu di kampung pasti bangga punya anak kaya kamu," puji Tante Rika seraya mengangguk-angguk paham.

"Semoga saja, Tante," sahut Enzo seraya tersenyum tipis.

Usai menyelesaikan makan malamnya hingga tak tersisa, Enzo dengan sigap berdiri dan membawa piring kotornya menuju bak cuci piring di dapur.

"Eh, Enzo, nggak usah! Biar Tante saja yang cuci!" seru Tante Rika terkejut seraya ikut bangkit dari kursinya.

"Nggak apa-apa, Tante. Masa saya sudah ditumpangi makan enak terus piringnya dibiarkan begitu saja," balas Enzo ramah seraya mulai memutar kran dan membersihkan piringnya dengan sabun.

Tante Rika berdiri di samping bak cuci piring, memperhatikan jemari Enzo yang terampil mencuci piring dengan rasa haru yang samar. Ada getaran aneh yang merayap di dadanya—rasa hangat dan dilindungi yang sudah sangat lama menguap dari dalam rumah tangga mewahnya. Pemuda di hadapannya ini tidak memiliki harta atau jabatan, tetapi kepekaan dan kejujuran sikapnya mampu mengisi sudut-sudut kosong di dalam hatinya yang haus akan perhatian tulus.

"Terima kasih banyak buat makan malamnya ya, Tante. Supnya beneran enak banget," puji Enzo setelah mengeringkan tangannya dengan serbet.

"Sama-sama, Enzo. Kalau nanti Tante masak lagi, Tante bakal panggil kamu lagi," jawab Tante Rika dengan nada suara yang amat lembut.

"Siap, Tante. Saya pamit balik ke kontrakan dulu, ya," pamit Enzo seraya mengangguk sopan.

Enzo melangkah keluar melewati pintu samping menuju lorong kontrakan. Saat kakinya menapak di atas semen terasnya yang mulai dihinggapi embun malam, ponsel tua di saku celana jinsnya mendadak bergetar panjang dua kali secara berurutan.

Enzo merogoh benda itu, membukanya di bawah temaram lampu jalan. Layar retak itu menampilkan antarmuka Sistem Penakluk Dewi yang berkilat terang.

[Pembaruan Data Keterikatan Target: Tante Rika (42 Tahun)]

[Analisis Emosional: Kebutuhan dasar target untuk dihargai dan diperhatikan sebagai sosok ibu/wanita telah terpenuhi secara parsial melalui interaksi sederhana.]

[Keterikatan Tante Rika Meningkat: 14% -> 22%]

[Status Sinyal: Terdeteksi Emosi Ketergantungan Naluriah. Target mulai menganggap keberadaan Anda sebagai Oase di tengah kehampaan hidupnya.]

Enzo menatap layar itu lama dengan kening berkerut tebal. Angka dua puluh dua persen itu naik cukup drastis hanya dari sepiring sup hangat dan obrolan di meja makan. Ada kehangatan yang tersisa di dadanya, namun di saat yang sama, rasa waspada dan tanggung jawab moral perlahan merayap naik di dalam pikirannya.

Ia menyadari bahwa Tante Rika adalah seorang wanita bersuami yang sedang berada di titik terentan dalam hidupnya. Enzo bertekad di dalam hati bahwa ia tidak boleh memanfaatkan kerentanan itu demi kepentingan pribadi atau permainan sistem semata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!